
171
“Mereka itu sebenarnya berantem nggak sih, Ma?” tanya Mauza kepada mamanya yang tengah menyetir mobil sendiri. “Aku lihat mereka tadi mesra-mesra aja.”
“Pasti iya. Kalau nggak ada apa-apa, Umar nggak mungkin sarapan di rumah kita dua hari berturut-turut. Tapi mudah-mudahan mereka udah baik-baik aja sekarang,” Vita menanggapi.
Keduanya memang sengaja datang ke sana untuk memastikan keadaan Umar dan Alma yang diperkirakan sedang dalam masalah. Namun Vita bersyukur, karena kelihatannya mereka sudah akur.
“Tapi bukan Umar namanya kalau nggak suka bikin masalah,” kata Mauza tak habis pikir dengan kembarannya. Sudah diberi istri yang cantik, shalihah, kaya, pintar, tapi masih saja nggak bersyukur karena terus saja mencari keributan.
“Itulah yang membuat kami khawatir.”
“Sejauh ini Alma nggak cerita apa-apa kan, Ma?”
“Nggak,” jawab Vita, “Alma ini tipe-tipe perempuan kayak Mama, nggak ngadi-ngadi.”
Mauza tergelak, “Nggak ngadi-ngadi katanya, gaul banget, Cuy!”
“Iya, dong. Harus!” kekeh Vita. Wanita itu tak mau kalah gaul dengan anak-anaknya. Dia tetap tampil dan berjiwa muda meskipun usianya sudah di atas empat puluhan.
Vita membawa mobilnya ke daerah Bekasi Timur untuk menuju ke sekolah anak yang beberapa hari ini sudah rampung dibangun. Menyusul suami-suami mereka yang akan melakukan peresmian. Di sana sudah ada Zara juga yang telah menunggu.
“Coba kalau Umar mau, bisa kita ajak barengan,” Mauza bergumam.
“Males katanya. Dia mah nggak hobi acara begituan. Libur pun ngabisin waktu buat main game. Ya udahlah, biarin aja. Mungkin pengantin baru juga, jadi masih senang berduaan.”
Mauza tersenyum. Mengingat dirinya sendiri dan Sammy yang juga demikian saat mereka masih baru-baru menikah.
Sementara itu di tempat yang mereka tinggalkan, sepasang suami istri masih berselisih paham. Alma masih tidak mengerti permintaan Umar barusan yang amat mengejutkannya. Bukannya memperbaiki masalah kemarin yang belum di usut tuntas, Umar malah meminta haknya yang belum Alma berikan. Tidak tahu diri sekali Ya Tuhan, geram sekali Alma dibuatnya.
__ADS_1
“Kita selesaikan masalah kita di ranjang,” kata Umar tanpa beban sedikit pun. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Apa dia memang sudah gila?
“Nggak mikir, ya?” tiga kata itu membuat Umar lantas geram. Tetapi pria itu berusaha menahannya lantaran tak ingin, Alma semakin marah padanya.
“Al, plis ....” Umar menarik tangannya dan memeluknya paksa. Menebalkan muka saat ini adalah langkah yang paling baik. Andai Alma mengatakannya sinting pun, Umar sudah tidak peduli asalkan ia mendapatkan maaf darinya. “Ok, kalau kamu nggak bersedia sekarang. Tapi jangan marah-marah lagi, ya?”
“Nggak segampang itu, Abang harus aku kasih hukuman dulu.”
“Hukuman apa?” tanya Umar segera. Panik.
“Cuci piring, bersihin kolam renang, kamar mandi, sekaligus nyapu lantai.”
“Apa kau gila? Aku ini laki-laki, dan kamu suruh aku mengerjakan semua tugas perempuan?!” pria itu mulai naik pitam.
“Apa Abang bilang? Pekerjaan perempuan?” Alma mengernyit. “Sepertinya ada yang perlu diluruskan.” Alma menjelaskan, “Mencuci, memasak, membersihkan rumah dan lain sebagainya itu bukan pekerjaan perempuan, Bang. Tapi itu pekerjaan suami. Namun kita sebagai seorang istri dianjurkan, agar tetap melakukannya untuk suami. Sebagai bentuk rasa kasih sayangnya.”
Umar terdiam.
“Iya, iya, iya! Aku mau kerjain semuanya,” ucap Umar pada akhirnya karena dia tak sanggup lagi menunda hasrat yang sudah lama menggelegak. Ya ... meskipun sebenarnya dia sangat tidak ikhlas melakukan semua pekerjaan itu?!
Pria itu pun mengangkut semua makanan yang ada di meja, lantas membersihkannya. Kemudian mencuci piring yang kotor, menyapu, kemudian membersihkan semua kamar mandi.
Alma tersenyum melihat bagaimana Umar bekerja keras untuk menyelesaikan semua tugasnya itu. Keringatnya bercucuran. Napasnya ngos-ngosan. Sedangkan kaus putihnya sudah kena ciprat banyak noda. Dia sudah mirip seperti seorang kuli sekarang. Kuli tampan, hihihi.
“Semoga kamu puas ya, Al,” katanya pada saat melihat wanita itu memperhatikannya secara dekat. Lihatlah, gayanya sudah seperti majikan saja.
“Cuma gitu aja ngeluh,” balas Alma. “Jadi laki-laki itu harus tangguh. Harus bisa apa saja. Tenaga kuat, badan gede kalau tidak dimanfaatkan untuk apa?”
“Aku menyimpan tenagaku untuk memuaskan mu nanti malam. Untuk membuatmu terus berteriak, ahhh sudah Bang, sudah, ampunnn! Uhh! Nggak kuaatt!”
__ADS_1
“Izh!” Alma menimpuk punggung Umar dengan sandal jepitnya. Sebal karena setiap kali bicara dengan Umar, pasti ujung-ujungnya suka ngelantur. Nggak mikir ada orang lain jiga di rumah ini.
“Kalau Mauza ngelihat, aku pasti udah di olok,” gumam Umar pada saat melepas bajunya yang terkena noda makanan. Serta-merta dia merendamnya di ember, sebelum akhirnya dia menuju ke kolam renang. Ya, ini adalah pekerjaan terakhirnya.
Pria itu pun mengambil penyaring kolam untuk menyaring semua sampah dan kotoran yang mengambang di atas air sampai bersih.
“Itu di pojokan masih ada,” wanita itu menunjukkan dedaunan kering yang tertinggal.
“Tapi abis ini udah, ya!” Umar mengharap. “Capek.”
“Hmmm.”
“Eh, Al, kamu bisa lihatin mataku, nggak?” pria itu berulang kali mengerjap kan matanya.
“Kenapa?” Alma bertanya.
“Kemasukan debu.”
Alma pun mendekat, dia meneliti sebelah mata Umar yang katanya terkena debu.
“Ini di sebelah bawah.” Umar memasang wajah yang sangat meyakinkan.
“Mana? Nggak ada.”
“Ini sebelah bawah, masa nggak lihat?”
“Nggak kelihatan,” Alma masih belum melihatnya. Dia memang terlalu polos untuk dibohongi. “Gini aja, Abang kedipin matanya di air. Lakuin berulang kali sampai debunya ilang,” kata gadis itu sangat serius menyuruh Umar untuk memasukkan wajahnya ke sana.
Tanpa ia ketahui bahwa Umar hanya sedang mengerjainya. Hingga pada saat gadis itu lengah, Umar menariknya dan membawanya ke dalam kolam. Sontak Alma memekik. Andai tidak ada Bi Yati di rumah ini, pasti Umar sudah mengajak istrinya memadu kasih di sana.
__ADS_1
Bersambung.