
“Kita nginep lagi, By?” tanya Zara kepada suaminya pada saat mereka bicara berdua di luar rumah mertuanya, malam hari.
“Aku kangen rumah,” sambungnya.
“Daripada bolak-balik, capek mending kita nginep lagi,” Rayyan membalas.
“Serius keluarga Sammy mau dateng?”
“Kalau Papa udah bilang begitu, ya pasti serius.”
Zara setengah tak percaya bahwa Sammy bisa sesungguh itu ingin meminang Mauza. Tetapi harapannya, semoga Sammy sudah berubah jauh lebih baik dari sebelumnya yang dia kenal.
Siapa yang tak mengenal Sammy di kantor?
Si playboy ulung yang suka menggoda perempuan mana saja yang dia anggap cantik. Dan kesemuanya dia beri harapan palsu.
“Hape aku mana?” Zara terus-menerus meminta ponselnya karena semenjak tadi Ray sembunyikan dengan berbagai alasan.
“Ada di atas, aku simpan. Jangan main hape terus, ya. Nanti mata kamu bisa rusak.”
“Kalau cuma buat lihat notif sebentar mah, nggak akan bikin mata rusak.” Zara menengadahkan satu telapak tangannya untuk meminta, “sini, mana hapenya aku mau lihat sekarang!”
“Iya nanti di atas,” jawab Rayyan langsung mengalihkan pembicaraan ke topik lain agar Zara tak terus-terusan mengingat ponselnya.
Namun sesampainya di atas, Ray tak kunjung memberikannya sehingga Zara tidur dalam keadaan cemberut.
Zara pun heran, kenapa Rayyan terus menyembunyikan ponselnya? Bagaimana jika ada notifikasi penting dan dia tak mengetahuinya?
Oh God ... kepala Zara dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.
“Ponsel kamu rusak, jadi barusan aku antar ke teknisi,” ujar Rayyan saat dia baru pulang entah dari mana keesokan harinya.
“Semalem kamu bilang di atas, sekarang kamu bilang rusak. Kamu nggak ngasih kesempatan aku buat ngeliat sebentar pun. Nggak jelas,” balas perempuan itu semakin bertambah jengkel. “Lagian mana ada counter ponsel buka pagi-pagi begini.”
“Ada, punya temen jadi aku bisa datang kapan aja.”
Zara sedikit menyentak, “By, plis! Aku bukan anak kecil yang gampang dibohongin. Sebenarnya ada apa, sih?”
__ADS_1
“Serius ponselmu ngebleng. Katanya ngebug. Tapi nanti dua hari lagi udah bisa dibawa pulang, kok.” Ray terus berusaha meyakinkan meski tak mudah bagi Zara mempercayai alasannya yang tak masuk akal itu. Ray akui tak pandai mengeluarkan kata-kata bohong sehingga dia begitu kentara.
“Kenapa harus dua hari lagi? Kalau counter itu punya temenmu, pasti dia akan menggarap milikmu secepatnya.”
“Nggak bisa gitu, Ra. Kan ada yang datang lebih dulu.”
“Ah, payah.”
Bugh!
Zara menutup pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya dari dalam. Meninggalkan Ray yang berdiri dalam keadaan kepala pening.
Mauza yang kebetulan melintas lantas bertanya dengan suara lirih, “Marah ya?”
Rayyan mengangguk. “Dah dari semalam.”
“TV di dalam kamar udah Kakak cabut?”
“Udah.”
“Yakin?”
“Udah nggak papa, Kak. Kita melakukan yang terbaik buat dia. Nanti Kak Zara juga bakalan ngerti kalau udah tahu kenapa kita melakukannya.”
“Apa yang bisa kita lakukan setelah ini?”
“Datengin orangnya langsung, lah.”
Rayyan berdecak, “Males!”
Mauza mencibirnya, “Gitu-gitu juga Kakak pernah cinta!”
“Nggak,” sanggah Rayyan. Mauza belum paham, semua laki-laki tidak harus mempunyai rasa cinta dulu untuk bisa berhubungan s*ksual. Tetapi tidak pungkiri, rasa sayang pada mantan istrinya dulu memang pernah ada karena lamanya kebersamaan mereka.
“Nggak boleh ngomong gitu lagi, Dek. Takutnya kakak iparmu dengar, nanti malah jadi salah paham.”
“Iya, iya ... maaf keceplosan.” Mauza menyesali bibirnya sendiri yang kadang suka bocor kayak ember dekolit.
__ADS_1
Keduanya menunggu di sofa depan kamar untuk berjaga-jaga, sebab tak mungkin meninggalkan Zara dalam keadaan marah. Keluarga pun sudah mengetahuinya sehingga mereka diam dan menyerahkan sepenuhnya kepada sang anak. Yakin, mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Semakin rame beritanya, Kak,” kata Mauza menunjukkan ponselnya kepada Rayyan. “Onti juga ngabarin, rumahnya udah ditungguin wartawan dari semalem. Jadi untuk sementara waktu, kalian jangan pulang ke rumah sana dulu, ya.”
Rayyan menghela napasnya yang terasa sempit. Pria itu bahkan terpaksa membatalkan jadwalnya selama beberapa hari ke depan, karena baginya, Zara lebih penting.
Tiga hari lalu, Mauza memang sudah membereskan masalahnya dengan seorang owner yang meminta pihak Zara agar segera mengembalikan uangnya. Dengan alasan, tak puas dengan jasa endors nya yang di nilai asal-asalan dan terlambat.
Mauza mengatakan bahwa dia meminta maaf yang sebesar-besarnya dan berjanji untuk segera menyelesaikan masalah ini.
Selain itu, Mauza juga mohon pemakluman karena akhir-akhir ini, Zara sering telat dari tenggat waktu yang sudah ditentukan sesuai kesepakatan antara dirinya dan pihak owner. Dikarenakan riwayat pendarahan yang pernah dialaminya, maka Zara akan lebih memprioritaskan kesehatannya daripada kepentingan lain.
Hari itu masalah langsung mereda. Banyak warganet yang justru mendoakan agar Zara dan bayinya selalu diberikan kesehatan sampai masa bersalin.
Kendatipun masih tetap ada beberapa orang yang tak suka dan mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah alasan untuk ngeles, Zara dan Mauza tak ambil pusing karena demikian sudah biasa terjadi.
Namun, masalah lain malah justru muncul ketika Mauza dan Zara menganggap semuanya sudah benar-benar selesai.
Beredar tangkapan lovastory milik seorang perempuan dengan nama akun H_midah, yang di duga menyindir pedas atas kehamilan istri baru mantan suaminya. Gosip itu begitu mencuat di permukaan.
Hijabnya bukan untuk Tuhan, tapi untuk manusia. Agar dia senantiasa disukai, dipuja, dan dimiliki oleh seorang yang dicintainya. Boleh saja. Tapi dimataku, itu semua adalah kemunafikan.
Atau keduanya memang sama-sama muna?
Yakin baru empat bulan sudah sebesar itu? Kanker atau miom?
Dasar perempuan banyak drama. Dari dulu juga begitu. Pelakor.
Kami baik-baik saja kalau kamu tak pernah ada.
Lova story tersebut memang sudah dihapus beberapa saat setelah terunggah di laman media sosialnya. Namun jari netizen lebih cepat daripada jari Hamidah sendiri, sehingga postingan itu sudah terlanjur disebar oleh akun-akun yang biasa membagikan berita gunjingan.
Zara tidak boleh stres, kata dr. Junita saat wanita itu hampir kehilangan anak-anaknya. Demikianlah yang menjadi pertimbangan oleh Rayyan dan Mauza, sehingga mereka menghindarkan Zara dari berita mengenainya. Sampai masalah ini benar-benar mereda.
Namun semua itu terlambat. Sebab pada saat Ray membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan, ternyata Zara sudah bisa menyalakan televisi. Kedua bola mata wanita itu terlihat sembab. Tak salah lagi, pasti dia sudah melihat semuanya.
“Jadi ini alasannya?” tanya Zara begitu Ray masuk. Pria itu tak mengatakan apapun selain memberikannya sebuah pelukan erat dan mengusap perutnya.
__ADS_1
“Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa,” ujar Ray setelah jeda keheningan panjang di antara mereka.
Bersambung.