Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Hancur


__ADS_3

195


Hari-hari baru dirasakan oleh Mauza. Dia merasa lebih dimanjakan oleh semua orang di rumah ini, tak terkecuali. Bahkan ia dilarang melakukan kegiatan apapun karena hampir semua kebutuhannya di layani, terkecuali makan dan tidur.


“Ahaha ... dah kayak Tuan Putri aja aku,” kata wanita itu sangat senang hingga membuatnya lupa bagaimana caranya bersyukur. “Tapi kalau nggak ngapa-ngapain bosen juga, ya?”


Mauza ingin mempunyai kegiatan lagi seperti dulu. Tapi sepertinya itu adalah hal yang paling mustahil, karena sudah pasti Sammy tidak akan mengabulkan keinginannya. Terlebih dengan kondisinya saat ini.


“Kita susul Ayah kamu yuk, Dek.” Mauza mengajak janinnya bicara seolah dia bisa mendengarnya.


Siang itu, Mauza pun pergi menyusul Sammy ke kantornya. Sejam yang lalu, mereka saling berkirim pesan, Sammy mengatakan bahwa hari ini dia akan full di indoor. Ia tengah sibuk mengedit foto dan video produk baru yang sebentar lagi akan diluncurkan.


“Produk apa?” tanya Mauza di sambungan telepon saat ini.


“Ya biasa. Barang-barang cewek. Kerudung, mukenah, tas, dompet. Tapi temanya batik,” jawab Sammy.


“Wow, Indonesia banget. Jadi penapsaran.”


“Belum selesai dikerjain, jadi belum bisa di unggah ke medsos. Apa kamu pengen lihat banget?”


“Nggak banget sih, tapi pengen aja.”


“Ya udah nanti jam istirahat aku jemput.”


“Kebetulan aku udah ada di depan ruangan kamu,” balas Mauza.


Eh? Sammy yang ada di dalam sontak menatap ke pintu. Handle pintu ruangan itu memutar dan detik berikutnya terbuka, memperlihatkan sosok perempuan yang saat ini tengah menghubunginya.


“Kok kamu udah ada di sini?” Sammy meletakkan ponselnya dan buru-buru menghampiri Mauza untuk merebut barang yang ada di tangannya.


“Iya, dong. Aku kan kangen! Kaget ya?” Mauza menghambur memeluknya dan membuat dua teman Sammy lainnya yang ada di sana memalingkan muka melihat pemandangan itu. Jiwa kejomloan mereka langsung meronta-ronta.


“Jangan mesum di tempat kerja, Oy!” seru Damar.


“Nggak mesum, aku cuma mau ngobrol doang,” balas Sammy. “Lagian juga sama bini sendiri, bukan bini orang. Jadi sah-sah aja,” sambungnya.


“Kerjaan masih banyak, Sam. Ingat deadline nya hari ini,” Damar mengingatkan.


“Iya paham, tenang aja. Aku dah hampir selesai, kok.”

__ADS_1


“Aku ganggu, ya?” Mauza memberengut.


“Nggak, nggak ganggu, mereka aja yang syirik liat kita berduaan. Setan emang nggak suka sama pasangan yang udah resmi menikah.”


“Cih!” Damar melempar buku kosong ke kaki Sammy. “Cari selamat dengan cara fitnah orang. Basi!”


“Jangan dengerin apa kata mereka, Sayang. Duduk aja di sini. Kamu cuma mau lihat aku kerja kan?”


“Hoek! Kaprut! Geli gue.” satu teman lainnya hampir muntah mendengar Sammy sebucin itu dengan istrinya. Menggelikan.


“Sam?” Mauza benar-benar tidak enak duduk di sana. Ya, Sammy mungkin tidak terganggu dengan kedatangannya, tetapi temannya banyak yang berteriak.


“Aku kan udah bilang, jangan dengerin mereka. Biarin aja,” Sammy mengerti apa yang sedang Mauza rasakan. “Anjing menggonggong biarlah menggonggong. Namanya juga anjing.”


“Hih, konyol!” timpal Damar. Kirain anjing menggonggong kafilah berlalu, pikirnya. Sembarangan aja. “Wong edan!”


Mauza mengangguk dan menuruti perintah sang suami. Dia setia menunggu di sana sampai jam istirahat dan Sammy menyantap makanan yang dibawakannya.


Hingga pada saat sore menjelang, Sammy akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Foto dan video produk baru berhasil dibuat dan di unggah melalui akun Zara.co. dan membuat pemiliknya puas dengan hasil karya mereka.


Zara: good job Sammy. Kalian keren. Thank you.


“Yuk, kita pulang!” Sammy menuntun tangan Mauza untuk keluar dari ruangan itu. Menuju ke lift.


“Ini mobilnya Mas Andre.” Mauza melihat kendaraan itu ada di sebelah mobil mereka. “Berarti orangnya belum pulang dong.”


“Kalau belum pulang emangnya mau diapain?” tanya Sammy.


“Ya diajak pulang bareng lah.”


“Males banget! Ngomong juga enggak.”


Mauza tertawa, “Hanya Zunaira seorang yang bisa mencairkan gunung esnya.”


Minggu berikutnya berlalu semenjak Mauza pergi menyusul Sammy ke kantor.


Tepat hari ini, usia kandungan Mauza sudah menginjak usia tujuh Minggu dan sudah waktunya dia kembali ke dr. Farel untuk mengetahui, sampai di mana perkembangan janinnya. Sebab pada saat pertama kali pemeriksaan, mereka belum menunjukkan pertumbuhan si janin, dikarenakan usianya yang masih terlalu muda.


“Tapi selama dua Minggu ini ada keluhan nggak, Bu?” tanya dr. Farel kepada mereka berdua yang sudah ada di depannya.

__ADS_1


“Nggak ada, cuma mual aja, Dok. Tapi udah nggak sesering sebelum dokter kasih obat, sih?”


“Oh iya, baik ... baik ... kita langsung periksa saja, ya?”


Mauza di bantu oleh suster baring di brankar untuk dilakukan pemeriksaan lewat bagian bawahnya, karena dengan pemeriksaan itulah, mereka bisa mengetahui hasil yang lebih akurat. Setelah ditutup selimut, alat itu mulai dimasukkan.


“Aw!” Mauza sedikit memekik pada saat alat itu masuk ke dalamnya oleh suster. Sedangkan Sammy hanya bisa meringis, ngilu melihatnya. Sebesar itu ternyata pengorbanan perempuan untuk melahirkan generasi-generasi penerusnya.


“Ini emang agak kurang nyaman sih, Bu. Tahan, ya? Cuma sebentar aja, kok,” kata Suster menenangkan. “Sudah, Dok!”


“Oke, Sus. Terima kasih.” dr. Farel pun mendekat dan mulai memeriksakannya.


Namun anehnya, saat alatnya mulai digerakkan, raut wajah Dr. Farel tak menunjukkan kepuasan. “Apa minggu ini Ibu Mauza pernah mengalami flek atau sakit perut?” tanyanya.


“Nggak, Dok. Emang kadang kerasa sedikit kram, sih. Tapi itu wajar kan? Aku nggak kenapa-kenapa,” jawab Mauza.


“Janinnya masih belum tumbuh. Masih sama seperti pemeriksaan dua Minggu lalu,” ujarnya membuat Sammy dan Mauza menegang seketika.


Ya Tuhan ... apalagi ini?


“Kenapa bisa?” tanya Mauza dengan suara gemetar sudah hampir menangis.


“Emm ...” dr. Farel cukup kebingungan untuk menjelaskannya, “banyak faktor-faktor yang menyebabkannya. Bisa saja karena stres-”


“Saya nggak stres,” sela Mauza, “saya happy-happy aja selama ini, Dok. Happy karena ini anak pertama kita, ini hadiah kesabaran kita setelah nunggu hampir setengah tahun.”


“Sst ... Za, Za ... sabar, Za. Kontrol emosi kamu.” Sammy menenangkan istrinya yang tengah hancur lebur. Padahal dirinya pun butuh ditenangkan. Bahkan tangan yang digunakan untuk mengusap kepala Mauza pun kini terasa gemetaran. Kakinya tak lagi terasa menjejak ke tanah.


“Nggak... nggak! Aku nggak mau denger berita begini! Aku ini sehat, lho, Dok. Aku ini nggak sakit. Aku nggak pernah ngerasain mules atau apa. Ini pasti salah!” Mauza membenahi pakaiannya untuk segera bangkit dan membuat dr. Farel serta suster yang mendampinginya kebingungan.


“Begini saja, Bu. Pertahankan saja dulu janin Ibu sampai Minggu depan, baru nanti setelah itu kita periksa lagi. Barang kali diagnosa saya kali ini memang salah. Atau kalau tidak, Ibu Mauza dan Pak Sammy bisa pindah ke dokter lain.”


Mauza tak mau lagi mendengar ucapan dr. Farel. Wanita itu langsung keluar dengan mata yang basah. Ingin sekali dia menjerit sekeras-kerasnya. Ini nggak adil baginya.


Sammy menangkup pipi Mauza, “Kita cari dokter lain, ya?”


Mauza tak membenamkan tubuhnya dalam-dalam ke pelukan Sammy. “Cobaan apalagi ini, Sam. Aku nggak mau kehilangan dia, aku dah banyak berharap sama dia ....”


Sebentar kemudian tubuh Mauza ambruk. Tak sadarkan diri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2