Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Langit Kembali Bersinar


__ADS_3

Melihat Zara setengah bulat seperti ini, Ray jadi lupa kapan terakhir kali mereka bercinta. Sebab beberapa minggu terakhir, mereka terlalu sibuk untuk mengurus masalah orang lain hingga hampir merenggut kebahagiaan mereka sendiri.


Entah ke mana Zara yang biasanya menyakatnya. Menghalanginya mandi, duduk atau tidur di atasnya, membangunkannya malam-malam, atau bahkan membuatnya pergi kesiangan.


Sesekali dia pun mengerjainya balik. Membuat handuknya hilang ketika Zara mandi, menutup lemarinya ketika akan mencari pakaian, dan yang lebih ekstrem lagi membuat Zara susah berjalan. Terus-terang, Ray rindu semua kenakalan-kenakalan itu.


“Mau sampai kapan kamu mau di dalam selimut?” tanya Ray setelah beberapa lama membiarkan Zara bersembunyi. “Nggak kangen?”


“Nggak,” elaknya cepat.


“Udah boleh parkir belum sih?” tanya Ray sontak membuat Zara menyembulkan wajahnya dari sana, “pengunjung Mall mau masuk.”


“Nggak bisa ngitung hari, ya?” balas Zara karena baru terhitung empat hari dia melakukan bedrest.


“Bahkan sebelum ini kita sudah lama libur karena kamu mabuk,” kata Ray serupa pria yang hampir putus asa. Kemudian melangkah keluar masih dengan memakai pakaian utuh.


“Sayang, kamu mau ke mana?” Kedua bola mata Zara langsung melebar melihat hal tersebut. Pikirannya langsung dipenuhi dengan bayangan-bayangan buruk dengan apa yang akan Rayyan lakukan di sana.


Ingat, Ray adalah seorang Ustaz. Pengajar agama yang indentik dengan poligami. Bagaimana jika dia menikah lagi apabila dia tak terpuaskan oleh istrinya di rumah?


Atau jangan-jangan, Ray selalu sibuk dan pulang malam karena memang sudah punya istri lebih dari satu? Seperti yang pernah dilakukan Papa mertua misalnya?


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa?!!”


Teriakan Zara membuat Rayyan mengurungkan langkahnya dan kembali membuka pintu. “Ada apa?” tanyanya panik.


“Awas kalau kamu nikah lagi!” ancamnya tiba-tiba.


“Siapa yang mau nikah lagi? Orang mau ngambil minum.”


“Cepet balik, nanti aku kasih parkir.”


“Nggak dikasih juga nggak papa.”


“Ray?!” serunya, “jangan-jangan ....”


“Apaan sih, Yank ....” Overthinking an sekali, batinnya. “Tadi bilang apa? Udah boleh parkir?”


“Ya udah sini, tapi pakai jalan lain, ya!”

__ADS_1


“Boleh ....” Ini bisa membuatku lebih baik.


Keduanya pun melakukan apa yang harus mereka lakukan. Hem, apa ya?


♧♧♧


Memang tak mudah melupakan seseorang seperti apa yang Zunaira lakukan di sepanjang harinya. Namun tanpa dia sadari hari sudah banyak berganti dan dia sudah berhasil melewati masa-masa itu.


Semua pekerjaannya sudah bisa Zunaira kuasai. Gadis itu semakin pandai dan bijak mengelola keuangan perusahaan. Penampilannya semakin modis, cantik dan lebih dewasa. Patah hati kemarin, sedikit banyak, telah banyak mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Begitu juga dengan Mauza. Setelah lama bergaul dengan kakak iparnya, dia jadi tahu apa yang namanya make up, perawatan, jaga berat badan dan tentunya soal fashion.


Siapa yang dapat mengenal tampilan Mauza yang sekarang?


Tidak. Dia adalah Mauza yang cantik, wangi, pintar, dan selalu ceria.


“Sejak kapan adik gue yang satu ini pakai lipstik, Cuy?” ujar Umar menyinggungnya saat Mauza akan pergi, “dah beda sekarang. Semakin seksih hehehe.”


“Mau tahu aja, apa mau tempe banget?” Mauza menanggapi.


“Dah banyak duit sekarang, ya? Bagilah sikit kembaranmu ini.”


“Ya God? Cilok udah jadi ampas masih kamu ungkit-ungkit, Za. Pinjam sepuluh ribu doang aja kamu inget sampai ubanan.”


“Utang tetap utang. Harus kamu bayar.”


Eh yang bener ini? Niat minta duit malah ke palak duluan. Dengan sangat tidak ikhlas, Umar mengeluarkan lembaran uang sepuluh ribuannya untuk Mauza.


“Nah, gitu dong. Makanya jadi saudara jangan pelit-pelit. Punya duit banyak nggak pernah bagi-bagi. Gini kan, akibatnya kalau jadi orang perhitungan.”


“Soalnya aku nggak mau boros-boros, Za. Aku mau kawin tahun ini juga,” ungkapnya membuat Mauza melebarkan mata.


“Serius?” tanyanya tak percaya.


“Ini pertama kali dan gue ngomong sama elu doang.”


“Yang bener? Sama siapa?”


“Sama janda. Boleh nggak ya, sama Papa?”

__ADS_1


“Astaghfirullahaladzim.” Mauza langsung menggelengkan kepalanya. “Kek nggak ada perawan lagi aja. Nggak bakat jadi buaya kamu, Mar. Jadi pinguin aja lah.”


“Nyesel gue ngomong sama elu.” Umar kelihatan sebal sekali di ejek demikian oleh saudara kembarnya.


“Papaaa!” teriak Mauza membuat Umar sedikit panik.


“Za, lu ngapain teriak-teriak? Jangan macem-macem ya! Apalagi sampai ngadu-”


“Papaaa! Umar mau nikah sama janda kata-hmmmhh....” mulut Mauza langsung terbungkam oleh kedua tangan Umar sebelum dia selesai mengucapkan semua aduannya. Namun pada saat Umar lengah, Mauza bisa meloloskan diri.


Umar yang pada saat itu takut Mauza membocorkan rahasianya, dia langsung berlari untuk mengejar. Jadilah mereka kejar-kejaran, bahkan Mauza sampai menaiki kursi-kursi demi menghindari kejaran Umar.


“Ya Allah ...” ujar Vita dan Yudha ketika mereka menghampiri kegaduhan anak-anaknya.


“Papa katanya-”


“Mauza!” potong Umar, “awas ya kalau kamu ngadu!”


“Ada apa sih kalian?” tanya Yudha melihat mereka yang masih saja saling kejar-kejaran. Bahkan saat ini, Mauza berada di belakangnya menempel layaknya seekor cicak demi mendapatkan perlindungan darinya.


“Pa, Papa tahu nggak? Aku punya rahasia.” Mauza terus saja meledek sehingga Umar semakin berang.


“Mauza, plis ... kamu boleh minta apa aja asal jangan ngaduin ke Papa sama Mama.”


“Apa tuh, kok main rahasia-rahasiaan,” sahut Vita menahan tawa melihat interaksi kedua anaknya. Yang terlihat dari matanya, Mauza dan Umar tetaplah bayi-bayi kecil mereka. Si kembar yang selalu berebut mainan, yang selalu menyusu bersamaan, yang selalu dia pakaikan baju kembaran. Betapa kenangan itu melukis indah dalam ingatannya, sepanjang masa. Oh waktu? Kenapa cepat sekali kau berlalu?


“Nggak papa, Ma! Nggak ada rahasia, kok,” jawab Umar tak mau mengungkapkannya sekarang karena dia masih belum siap.


Kejadian itu baru berhenti manakala mendengar beberapa orang mengucap salam.


“Waalaikumsalam,” jawab semuanya menoleh bersamaan.


“Kok kayak suara Kak Ray sama Kakak Ipar,” kata Mauza.


Kemunculan Ray dan Zara di ruang tengah membenarkan ucapan Mauza barusan. Mereka datang dengan membawa banyak oleh-oleh. Dari mana?


Bersambung.


Besok lagi ya. Janji besok tetep up walaupun idul Adha. Gak Ketang se bab.🤭

__ADS_1


__ADS_2