
Bab 12
“Gimana aku harus bersikap ya, Grace. Akhir-akhir ini, mau nggak mau kami jadi sering ketemu. Kamu tahu sendiri, media malah jadi sering ngundang aku sama dia karena lagi ramai banget diperbincangkan,” kata Zara menceritakan kegundahannya disela-sela dirinya menjalani pemotretan untuk mengiklankan sebuah produk, “Hamidah, calon istrinya DM aku kemarin untuk menanyakan hubungan kami.”
Grace yang tengah sibuk menghitung uang sontak menoleh, “Terus kamu jawab apa?”
“Jawab apa adanya lah, Grace. Masa aku mau ngaku-ngaku pacar dia. Aku juga masih ingin hidup, kali.”
“Ya, sudah, masa bodoh aja, Zar. Aku nggak punya solusi kalau untuk itu,” balas Grace tak mau membesar-besarkan masalah yang menurutnya, sangat umum. Masalah cinta itu soal biasa. Diapun pernah mengalaminya sendiri, bahkan berulang kali. “Move on, dong!”
“Itu dah pasti, tapi nggak gampang.”
“Lambat laun pasti bisa. Hidup ini bukan cuman soal cinta saja, Zar. Masih banyak yang harus kita perjuangkan. Jadi kita nggak boleh berhenti di sini.”
“Kalau cuma ngomong mah, enak,” cebik Zara tak terlalu menyukai jawaban Grace barusan.
“Ya iyalah, malas banget kalau harus ngalamin lagi. Sorry mayori, nggak enak.”
Zara mengalihkan soal, “Ke mana lagi jadwal aku hari ini?”
“Kita ada pertemuan sama pihak management untuk memperpanjang kontrak kerja kamu lagi.”
“Sebenarnya aku capek, Grace. Aku ingin berhenti dan hidup normal seperti manusia lain yang punya privasi dalam hidupnya. Tapi gimana masa depan aku nanti. Aku belum punya banyak simpanan.”
“Harusnya kamu dapat hak dari peninggalan harta papi kamu.”
“Nggak segampang itu, perusahaan dan semua aset sudah ada di tangan mami sama Om Ruben.”
“Tapi kamu satu-satunya ahli waris Om Purnawirawan, Zara. Kamu pikir mereka itu siapa? Ruben, Mike, mereka itu orang lain.”
“Aku sekolah di dunia lakon, bukan perkantoran. Mungkin ini yang membuat aku dibodohi sama mereka. Aku buta sama dunia bisnis.”
__ADS_1
“Ngenes banget sih nasib kamu. Punya banyak harta tapi nggak bisa menikmati. Jadi orang kok bodoh banget. Dasar bodoh!” umpat Grace semacam orang yang tengah dendam kesumat. “Yuk cepat selesaikan pekerjaanmu, biar kita bisa cepat pindah ke tempat lain.” Kerja bersama Grace memang harus serba cepat dan profesional. Kadang saking seriusnya, bisa membuat Zara lupa makan dan minum.
"Sebaiknya kamu cepat cari suami biar ada yang menafkahi," saran Grace ditanggapi Zara dengan serius.
"Nggak segampang itu. Kalau cepat-cepat, aku takut salah pilih. Menikah itu bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya."
Kegiatan hari itu selesai—sesuai dengan agendanya kemarin, keesokan harinya mereka pun datang ke Hotel yang dijanjikan untuk melakukan pertemuan dengan pihak management. Dan di saat itulah awal mula semua tuduhan keji itu terjadi. Yakni kasus prostitusi yang menjatuhkan namanya hingga berada dititik terendah. Semua orang membencinya. Bahkan dua puluh ribu orang di negara ini, sudah membuat petisi agar dirinya di boikot dari semua acara televisi lantaran dianggap terlalu sering menuai kontroversi. Sebab beritanya sangat meresahkan dunia pertelevisian Indonesia yang dapat membawa dampak buruk warga negaranya—terutama bagi anak-anak.
Bukan hanya dikecam karena kasus ini. Di saat yang bersamaan, Zara juga kehilangan banyak job dan pembatalan kontrak—baik brand ambasador mau pun kerja sama dengan berbagai pihak.
Zara kebingungan. Semua orang menjauhinya. Dia mencari-cari teman selain Grace pada saat itu untuk ia ajak bicara. Zara pikir, Rayyan adalah sosok yang tepat baginya untuk menemukan solusi. Namun pada kenyataannya, pria itu malah ikut menghakiminya juga seperti yang lain. Dan yang lebih menyakitkan, dia mengatakan bahwa tidak mau mengenalnya lagi, apalagi menyebut namanya.
(flashback selesai)
🌺🌺🌺
Zara menaruh bukunya kembali ke dalam laci kamar setelah kedalamannya dirapikan dan diganti seprai yang baru. Hanya Grace yang masih setia di sana, membantu menyiapkan obat sekaligus makanannya.
“Ini obat untuk hari ini ya, Bi. Kasih tahu dia supaya lebih banyak minum dan makan buah,” pesannya kepada Bi Yati yang baru saja meletakkan tas Zara di atas ranjang, “kalau Non Zaranya nggak mau, cepat hubungi saya,” katanya lagi layaknya seperti seorang ibu.
Grace sontak melotot, “Mana ada Mas Grace? Cantik-cantik begini Anda mau panggil Mas.”
“Sadar diri, dong, Grace. Kamu itu laki-laki,” sahut Zara menyalahkannya balik, “jangan aneh-aneh, deh, kamu.” Kali ini Zara mengalihkan pandangannya ke Bibi Yati, “Kalau nggak mau dipanggil Mas, panggil Pak aja nggak papa.”
“Sembarangan!” ketus Grace semakin jengkel dibuatnya.
“Selama aku di RS, Mami nggak ke sini, Bi?” tanya Zara kepada beliau yang baru saja berhenti menertawakan mereka berdua.
“Nggak, Non. Nggak ada tamu yang datang kecuali wartawan kurang kerjaan. Kalau ada Ibu, kan, suka nelepon dulu minta dibukain pintu.”
“Tega, ya,” sahut Grace, “ibu macam apa dia. Nggak tahu kebenarannya tapi ikut-ikutan membenci.”
__ADS_1
Zara menunduk. Dia mencoba untuk mengikhlaskan semua yang terjadi pada dirinya.
“Dah, kamu sabar aja. Pasti nanti semua kebenarannya akan terungkap,” lanjut Grace.
“Semua sudah terjadi seperti keinginanku dulu. Sekarang aku terkenal. Tapi bukan dengan cara seperti ini, Grace. Justru ini adalah kehancuranku.”
Grace menggenggam tangannya, “Hanya sementara, Zar. Sabarlah sedikit. Mungkin ini tahapan yang harus kamu lewati.”
“Gimana dengan kamu, Grace ....”
“Kamu nggak usah mikirin aku. Tenang, aku nggak punya banyak cicilan,” kekeh Grace berusaha membesarkan hati Zara meski ia sendiri ia tidak tahu kemungkinan ke depannya. Ia hanya yakin, manusia selalu mempunyai 1001 cara untuk bangkit, asal mereka mau berusaha dan berpikir. “Jangan khawatir, Zar. Kalau kamu merasa nggak beruntung dunia entertainment, kita bisa masuk ke bidang lain. Fashion misalnya,” Grace tersenyum, "nggak ada salahnya kita mencoba."
Zara menatap Grace selama beberapa lama serupa orang yang tengah memikirkan sesuatu. Gadis itu melepas pertautan mata mereka pada saat mendengar suara bel rumah berdenting.
Bi Yati berjalan cepat ke depan setelah beliau menyahut; memberitahukan Sang Kurir bahwa dia akan segera keluar. Lantas beberapa saat kemudian, beliau kembali dengan membawa selembar paket berbentuk seperti dokumen.
“Dari siapa, Bi?” Grace bertanya.
“Nama pengirimnya Hamidah Binti Mohd Noor.”
“Tolong bukakan sekalian, Bi,” titah Zara. Setelah dibuka, terdapat dua lembar kertas tebal yang mereka kira adalah kartu undangan.
Grace langsung mengambilnya dari tangan Bi Yati. Dia langsung membacanya meski tulisan itu terpampang jelas. “Pernikahan Ustaz Rayyan sama Hamidah. Minggu depan di Masjid al Furqon Jakarta timur.”
Zara tersenyum getir, “Rayyan bilang kita nggak pernah saling mengenal. Jadi untuk apa aku datang?”
“Lagian ngapain juga ini orang ngundang kita. Nggak penting banget,” balas Grace tak kalah BT nya terhadap orang ini, "eh, tapi omong-omong kenapa Si Hamidah ngundang aku juga? Memangnya dia kenal aku?"
"Berarti diam-diam selama ini dia ngepoin hidup aku dan orang-orang di sekelilingku."
"Mungkin."
__ADS_1
Bersambung.