
100.
Suasana panas tak menyurutkan semangat para pejuang rupiah yang berada di bawah tamparan sinar matahari langsung.
Puluhan orang, kini sedang terlibat dalam proses syuting video iklan produk fashion muslim. Endorse dari suatu brand besar milik salah seorang entrepreneur di negara ini yang mempercayakan pasangan Zara dan Rayyan untuk memperkenalkan produknya. Menjelang perayaan hari besar Agama Islam.
Ini kali pertama Rayyan melakukan syuting off air yang menurutnya cukup aneh. Di mana, dia harus berakting atau berpura-pura untuk menyenangkan orang lain. Ray pikir keahliannya berlakon tak terlalu buruk meski terasa begitu melelahkan. Dia baru mengalaminya langsung, ternyata proses syuting itu sangatlah panjang dan rumit.
“Kalau capek istirahat aja dulu, jangan dipaksa,” ujarnya kepada Zara yang baru saja menjatuhkan tubuhnya ke kursi yang tersedia, “atau mau minum?”
“Es batu,” Zara meminta hal lain.
“Es batu terus,” sungutnya. Tapi anehnya, Zara tak pernah mengalami yang namanya sakit gigi atau akibat yang timbul dari ngemut es batu secara sering itu. Justru dia terlihat lebih baik jika sudah menemukannya.
Tak jauh dari mereka, Sammy menyodorkan minum kepada Mauza, “Minum dulu, tar bisa kering gigimu.”
Mauza menoleh, “Nggak ah, takut diracuni.”
“Apa untungnya gue ngeracunin elu. Yang ada bisa gagal rencana gue mau nikahin adek lu,” jawab Sammy masih mengulurkan botol minum dingin tersebut. “Ayo terima. Mumpung gue belum berubah pikiran.”
Mauza tetap memalingkan wajahnya.
“Ya Allah, sesama haus aja masih gengsi. Masih nggak percaya ini gue racunin? Ini masih disegel kali, Miawza!” Sammy memplesetkan namanya dengan panggilan kucing, “kalaupun gue ada maksud, pasti gue akan baik-baikin lu biar hubungan gue sama adik lu disetujui.”
“Jadi itu maksudmu ngasih ini ke aku?” tanya Mauza ketus.
“Ya nggak gitu juga. Buruk amat pikiran lu, ama gue Miaw. Dijahatin salah, dinaikin juga salah. Eh, ralat: dibaikin. Jadi maumu sebenernya apa sih?” Sammy kecewa sekali niat baiknya malah ditolak mentah-mentah. Entah kenapa juga dia ingin sekali Mauza menerima pemberiannya. Aneh bukan?
“Nggak usah, makasih.” Mauza meninggalkan Sammy berniat menuju ke arah selatan di mana kakaknya juga sedang sama-sama beristirahat di tengah-tengah proses syutingnya.
Namun baru saja beberapa kali melangkah, terlihat motor melaju kencang dari arah samping disertai teriakan sang pengemudi, “Awas! Awasss! Rem lagi blong! Rem bluongg!”
Sammy refleks maju untuk menubruk tubuh Mauza dan mendorongnya secepat mungkin untuk menghindari tabrakan dari motor rusak itu. Alhasil, tubuh keduanya pun terjatuh dan berguling-guling bersama di paving blok dengan posisi terakhir Mauza yang ada di atasnya.
Pekikan yang terdengar pun, menyita perhatian banyak orang yang ada di sana sehingga mereka sontak mendekat.
__ADS_1
“Sammy!”
Mauza segera menarik diri dari pelukan Sammy yang masih terasa erat di punggungnya. Lantas mengguncang tubuh pria itu yang tak lagi bergerak saat ini. Sammy tak sadarkan diri dan mengalami sedikit luka di kepalanya karena membentur benda keras. Berkebalikan dengannya yang justru baik-baik saja.
“Mauza, By! Mauza!” pekik Zara melempar es batu dan bersiap melarikan diri. Beruntung, Ray sigap menangkapnya layaknya menangkap seekor kucing, mencegah wanita itu agar tak sampai berlarian.
Eh, malah gendong-gendongan begitu, pikir mereka yang pada saat itu melihatnya.
“Nggal usah lari-lari. Kalau begini caranya, nanti kamu yang malah masuk UGD,” tegas Ray menurunkan Zara yang meringis menyadari kesalahannya.
“Maaf ... suka lupa kalau lagi bawa bayi.”
Keduanya mendekati sang adik dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mauza pun menjelaskan bahwa Sammy telah menolongnya dari kecelakaan hingga dia harus yang harus mengalami luka-luka.
“Tapi kamu nggak papa kan?” Zara meneliti bagian tubuh adik iparnya dari atas sampai bawah.
“Aku nggak papa, Kak. Cuma pegal aja di bagian ini,” Mauza menunjuk pinggang dan bahunya yang tadi terbentur paving blok.
“Syukurlah.”
“Gimana pun, Sammy udah nolongin aku. Aku harus ketemu dan minta maaf karena udah nuduh dia yang engga-engga.”
Selama proses syuting kembali berlangsung, Mauza mencuri-curi waktu untuk menemui Sammy. Di suatu klinik, dia bertanya kepada suster yang sedang bertugas, di mana pria itu sedang di tangani.
“Di sebelah sini ruangannya, Kak,” kata Suster mengantarkannya.
Di sana Mauza menarik kursi. Ternyata Sammy sudah siuman. Perban kecil membalut sebelah kiri jidatnya. Cowok Korea yang kena benturan, pikir Mauza sedikit menarik senyum.
“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Sammy menunjuk jidatnya, “suka ya, lihat aku kayak gini?”
Mauza mengerjapkan mata saat mendengar Sammy tak lagi berbicara menggunakan Lo gue dengannya. Dan ini terdengar lebih enak di telinganya.
“Siapa yang ngetawain kamu? Kepedean,” elak Mauza padahal senyumnya tadi begitu kentara di mata Sammy.
“Makasih udah nolongin aku,” ujar Mauza setelah beberapa saat, “maaf udah bersikap kurang baik. Nggak tahu kenapa aku sebel aja hawanya kalau liat kamu. Slengean.”
__ADS_1
“Sebel seneng betul,” celetuk Sammy.
“Sorry mayori, jangan sampe.” Mauza beranjak dari duduknya, “Udahlah, cepet membaik aja. Aku harus balik ke tempat semula, takut dicariin. Sekali lagi, makasih karena udah mau repot-repot nolongin aku. Harusnya sih nggak usah orang aku nggak minta.”
“Masa mau berbuat baik harus izin dulu?” kata Sammy menanggapi.
Namun Mauza berusaha abai meski dalam hatinya sangat bersyukur karena dia bisa selamat karena pertolongan pria ini. “Pamit dulu, ya ....”
“Tunggu!” cegah Sammy menarik tangannya dan membuat Mauza fokus ke arah itu. Mengerti apa yang tidak Mauza sukai, Sammy gegas melepaskan tangannya, “Sorry, aku hanya mau ikut.”
“Tapi kamu masih harus-”
“Aku nggak suka tiduran terlalu lama,” Sammy memotong ucapannya. “Kita ke sana sama-sama.”
Keduanya keluar dari klinik tersebut setelah membayar biaya administrasi dan menukar resep. Di perjalanan, diam-diam keduanya saling mencuri pandang.
Ada getaran berbeda saat Mauza berada di dekatnya. Pun sama dengan apa yang sedang Sammy rasakan.
Sammy menyadari ada perasaan yang mulai memudar darinya kepada Zunaira. Obsesi untuk mengejar wanita itu pun perlahan berkurang. Entah apa penyebabnya, tetapi yang jelas, Mauza mempunyai sisi lain yang lebih menarik setelah beberapa lama dia kenali.
“Jangan lupa obatnya nanti di minum!” Mauza mengingatkan Sammy sebelum keduanya berpisah.
“Ciye ... yang udah semakin perhatian!” seru Sammy saat Mauza mulai menjauh darinya.
Gadis itu merona tanpa Sammy ketahui.
Ada untungnya juga dia kecelakaan, pikir Sammy. Karena dengan begini, keduanya bisa mempunyai hubungan yang lebih dekat.
Sekelebatan bayangan, Sammy teringat bagaimana kecelakaan itu terjadi.
Sebuah sepeda motor melesat cepat dari arah samping karena mengalami rem blong. Kemudian demi menyelamatkannya, Sammy menubruk tubuh Mauza. Mereka berpelukan dan berguling-gulingan bersama sebelum ia akhirnya tak sadarkan diri.
Ada fantasi liar yang tertinggal dan berkelana di pikiran nakalnya. “Besar juga, hehehe.”
Bersambung.
__ADS_1