
Bab 49
“Jangan yang ini, Sam. Aku kurang suka. Yang lain aja,” ujar Zara kepada Sammy ketika dia memilih hasil pemotretannya hari ini.
“Padahal ini bagus,” menurut Sammy mengenai foto yang Zara tunjuk barusan, “kenapa? Kurang PD?”
“Iya, soalnya pipinya kelihatan melar. Aku lagi gemuk banget sekarang. Perlu diet sepertinya.”
“Kayak gitu aja bagus.” Lagi, Sammy berpendapat.
Zara menautkan alis. Tak percaya. “Masa, sih?”
“Dih, nggak percaya. Coba deh tanya sama temen-temen yang lain.”
“Kalau di dunia nyata mah aman-aman aja, Sam. Tapi kalau di layar televisi pasti kelihatan lebih gemuk.” Zara memeragakan pipinya yang sengaja dibesarkan.
“Emang ada niatan buat syuting on air atau stripping lagi, misalnya?”
Zara meringis, “Nggak ada, sih. Udah nggak mau terlalu sibuk lagi sekarang. Habis waktu doang tapi nggak menghasilkan apa-apa kecuali capek and stres.”
“Gini-gini doang aja kalau menguntungkan lumayan, Zar. Lagian kamu, mah udah enak sekarang. Tinggal fokus cari suami aja lagi. Biar hidup kamu tambah sempurna. Gantian dinafkahin sama husband, kamu yang di rumah ngurus anak. Dijamin hidupmu pasti bakal aman damai sentosa,” ujar Sammy menurut pandangannya sendiri, “atau mau aku cariin?”
“Bukan cuma kamu doang yang ngomong gitu, Sam. Tapi banyak.”
“Terus mau nungguin apa, coba?”
“Nggak tahu lah,” Zara mengedikkan bahu, “masih bingung.”
“Mang nggak pengen?”
“Dih, ke manalah arah bicaramu itu. Awas ada yang denger, entar dikira kita lagi omong mes*m.”
“Yaelah, hidupmu kok, kaku amat. Nggak bisa becanda dikit apa?”
“Bukan gitu, secara penampilan aku dah berubah sekarang. Nanti kalau aku ketahuan omong 'titik-titik', entar yang disalahin bukan orangnya, tapi agama sama kerudung yang aku pake.”
“Relate banget, sih. Dulu, sekelebatan aku juga pernah lihat komentar yang hujat kamu. Sorry, ya. Aku nggak ada maksud buat bikin kamu sedih.”
“Tenang aja, aku dah kebal,” kata Zara menanggapi.
“Mereka nggak tanggung-tanggung ngatain kamu inilah, itulah, sampai bawa-bawa nama masa lalu ortu kamu.”
“Memang gitu,” Zara membenarkan, “eh, nggak sadar obrolan kita jadi ke mana-mana.”
“Iya, ngadi-ngadi nih, obrolan kita. Dah mirip emak-emak rumpi.”
“Okay, kita kembali ke topik yang pertama.”
Zara kembali mengarakan matanya ke kamera, “kamu pilih aja, deh yang menurutmu bagus. Aku pusing.”
“Kalau menurutku, mending ini aja. Ini lebih bagus, resolusinya lebih jelas dan angel yang di dapat juga pas. Soal pipi gemuk nanti bisa di edit sedikit.”
__ADS_1
“Ngubah tampilan yang lain nggak nanti?” tanya Zara takut wajahnya berubah aneh.
“Aku usahakan, enggak.”
Zara dan teamnya membubarkan diri dari studio setelah pemotretan selesai. Zara sendiri langsung tancap gas ke rumah karena tengah merasakan lelah luar biasa.
•••
“Kak, bantuin Mike ngerjain PR lagi, yuk!” ajak Mike begitu kakaknya tiba di rumah.
“Kakak masih capek, Mike. Baru pulang. Sama Mba Devi aja, sana!”
“Plis, dong, Kak. Sebentar doang.”
“Mau sebentar mau lama, yang namanya capek tetep capek. Kakak mau langsung mandi, istirahat.”
Namun Mike tak menghiraukan. Dia membuntuti kakaknya masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya PR tidak terlalu penting. Dia hanya ingin mencari perhatian kakaknya dan semua orang rumah. Sebab selama beberapa pekan ini, keluarganya selalu sibuk dan dia merasa terabaikan.
Oh, Ya Tuhan ... apa mereka lupa dengan anak paling ganteng yang satu ini? Gerutu Mike tanpa suara.
“Kamu ngapain ikut-ikutan?”
“Mau tidur bareng Kakak.”
“Kakak ini di kamar mau ganti baju, mau mandi mau apa aja, loh.”
“Itu baju apa yang ada di bawahmu, Mike?”
“Tahu!” Mike mengedikkan bahu.
“Pasti kerjaan Mami lagi. Rencana apalagi ini, Mike?”
“Rencana busuk!” jawab Mike bersungut-sungut.
Nyata, beberapa menit setelahnya, Miranda masuk ke dalam kamar membawa lagi dress lain yang entah didapatkannya dari mana.
“Ini untuk apa, Mami?” Zara bertanya.
“Ini Mami pilihin buat kamu. Terserah kamu mau yang mana, ambil aja.”
“Untuk?” Zara minta penjelasan lebih.
“Nanti ada acara makan malam di sini. Ibu Vita mau ke sini sama keluarganya.”
“Kok Mami nggak bilang-bilang dulu sama aku?” tanya Zara segera sangat heran dengan pemberitahuan dadakan ini.
“Kenapa harus bilang-bilang dulu? Mami mau ngobrol-ngobrol sama keluarganya, nggak boleh?”
“Tapi ada anaknya juga, kan?”
__ADS_1
“Ya iyalah, masa enggak. Namanya juga keluarga.”
“Tuh, kan?” Zara menunjukkan jarinya kepada Ibu Suri.
“Jelas harus diam-diam dulu, dong. Kalau enggak kamu bisa sengaja pulangnya di telat-telatin.”
“Rencana apalagi yang mau Mami buat?”
“Rencana lamaran kalianlah. Katanya kamu dah dikasih cincin, kemarin. Apa dong artinya kalau begitu.”
“Apa?” Zara kebingungan. Entah kenapa dia merasa dijebak. “Aku nggak minta.”
“Tapi kamu nggak nolak, toh?”
“Ya, gimana nggak nerima. Aku nggak tahu cara balikin nya. Lah, orangnya yang ngasih langsung pergi setelah ngasih.”
“Sama aja, itu, Sayang.”
“Sama aja gimana? Ini namanya pemaksaan, loh, Mam. Nanti kalau aku nggak bahagia sama dia gimana? Kalau aku cerai lagi gimana? Ntar Mami juga yang nyesel. Aku sih, enggak.”
“Kamu itu emang harusnya dipaksa.”
“Mam, plis....” desis Zara dengan kepala yang semakin berdenyut tak karuan.
“Apalagi sayang? Mandi sana ganti baju terus make up. Nanti orangnya habis isya dah nyampe di sini.”
“Aku....” Zara tidak tahu harus bicara seperti apalagi.
“Usia kamu tahun ini udah mau masuk 32 tahun, Zara. Udah memasuki usia yang kritis bagi perempuan yang masih lajang....”
Sudah pasti Ibu Suri akan memberikannya petuah.
“Nggak mau kamu punya anak waktu masih muda? Belum tentu nanti kamu bisa langsung hamil kalau sudah menikah. Nggak enak, loh. Udah tua tapi anaknya masih kecil-kecil. Soalnya tanggungjawab yang belum diselesaikan masih banyak, sedangkan badan udah nggak mampu. Mami pun sudah tua begini. Pikirin jauhlah ke sana.”
“Kenapa harus sama Rayyan, Mam?”
“Memangnya ada orang lain lagi?” tanya Miranda, “kamu udah nggak punya pilihan sekarang.”
“Maksud Mami?” tanya Zara merasa janggal dengan kalimat terakhir wanita di depannya barusan.
“Laki-laki yang kamu tunggu, udah diambil temanmu. Jadi nggak usah terlalu banyak berharap,” tanpa menunggu respon, Miranda kembali berujar, “tahu, kan, siapa yang Mami maksud?”
Fa-Fasad?
Dan teman siapa yang Mami maksud?
Cici?
Zara bertanya-tanya dalam diam.
bersambung
__ADS_1