Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Semakin Mencintaimu


__ADS_3

184


Alma menarik kado yang sengaja dipersiapkannya itu dari tangan Umar, lalu memasukkannya ke kantong sakunya sendiri. “Belum saatnya!” begitu katanya sebelum Alma akhirnya beranjak keluar lebih dulu.


“Apa itu, Al?” seru Umar berlari mengikutinya.


“Apa aja,” jawab Alma.


“Nggak mau ngasih aku sedikit clue?”


“Nggak ada bocoran apapun untukmu, Bang.”


“Kejam,” ucap Umar tak senang. “Jadi kapan kamu mau kasih kado itu?”


“Memangnya ada, orang yang ngasih kado sebelum dia tiup lilin?”


Umar membuntuti Alma ke dapur. Memperhatikan bagaimana istrinya itu bergerak lincah menyiapkan makanannya, membawakannya lagi ke meja seperti semula. Seharusnya dia marah setelah bagaimana pria ini memperlakukannya, tetapi tidak bagi Alma. Perempuan itu tetap berbuat baik. Bahkan bersedia menungguinya sambil berselancar.


Tak enak menikmati makanan itu sendiri, Umar pun berinisiatif untuk menyuapi Alma. Awalnya Alma memang menolak, namun pada akhirnya, Alma pun menerima apa saja yang dilakukan Umar padanya. Umar tidak pernah lupa rumus rumit wanita yang sebenarnya ... suka dipaksa-paksa.


“Aku udah selesai, mana kue ultahku? Aku mau tiup lilin. Begitu kan maumu?” ucap Umar ingin mood istrinya kembali membaik.


“Percuma, Bang. Rencana surprise aku udah gagal. Jadi buat apa?” Alma masih kecewa dengan sikap Umar padanya beberapa jam lalu hanya karena dia mematikan lampu. Padahal sudah Alma jelaskan, ia hanya ingin memberikannya kejutan.


Tentu tidak akan mudah seorang wanita melupakan sesuatu yang sedemikian menyakitkan baginya. Sebab mereka adalah makhluk yang sangat perasa. Biasanya, hal-hal seperti ini juga yang akan diungkit-ungkit nya nanti saat mereka tengah bertengkar. Dan itu umum terjadi.


“Kan sama aja, Alma sayang!”


“Beda lah! Abang ini lama-lama bikin dongkol.”


“Aku nggak bikin tongkol.”


“Ihh!” Alma terlanjur sebal hingga ia memalingkan muka. Gemes sekali Alma dengan wajah itu, rasanya pengen nyakar suaminya sampai puas. Hihhh. Jadi orang kok nggak punya perasaan banget!


Ya Allah, jangan sampai Kau laknat aku karena sudah puas memaki suamiku di hati, batin Alma. Habis mau gimana lagi, suaminya ngeselin. Capek-capek masak malah ditinggal tidur.


“Ayolah, ambil kuenya,” lirih Umar memeluknya dari belakang.


Tanpa Alma sadari, Umar sedang merogoh sakunya pelan-pelan untuk mengambil kado yang dia sembunyikan. Bukan Umar namanya kalau tidak secerdik ini bertingkah. Dia bukanlah tipe pria yang suka menunggu sebelum benar-benar berusaha.


Alma pun gegas ke belakang untuk mengambil lagi kue buatannya itu yang sudah dia taruh di kulkas. Tadinya mau ditaruh di muka Umar, tapi Alma tidak mau dikatain istri yang durhaka. Takut dikutuk jadi perkedel tempe.


Serta merta dia membawa korek api agar tak harus balik dua kali. Namun, Alma di buat tercengang pada saat dia kembali. Sebab dia mendapati kado itu .... Ya, kado itu sudah berada di tangan Umar dan sedang dilihatnya dengan mata yang nyaris basah.

__ADS_1


“Yaah, Abang udah tahu duluan,” kata Alma agak kecewa karena lagi-lagi surprise nya gagal. Sepertinya dia memang tidak bakat nge prank orang.


“Bang!”


Alma menatap pria itu yang hanya mampu terdiam membisu. Sebabnya dia paham, benda apa yang menjadi kado untuknya. Karena itulah yang menjadi harapannya selama ini. Garis dua berwarna merah terang.


“Selamat, kita akan jadi orang tua, Bang. Jadi ayah yang baik, ya!” ucap Alma menghambur memeluk Umar yang masih mematung. Sama seperti boneka manekin yang biasa dipajang di etalase toko pakaian. Bedanya, patung ini bisa gerak-gerak, bahkan bisa menghasilkan anak.


♧♧♧


“Abang ....” panggil Alma karena Umar mendadak jadi pria yang kalem, semenjak ia mengetahui kehamilannya.


“Jaga kandungan mu baik-baik, Alma. Aku nggak mau dengar ada apa-apa terjadi padamu yang bisa berimbas fatal padanya. Sebab aku nggak bisa berada di sisimu selama 24 jam. Adakalanya aku pergi,” kata Umar berpesan.


“Iya, Bang. Makasih dah diperhatiin.” Tanpa diberitahu pun, tentu saja Alma akan selalu menjaganya karena ini kewajibannya, buah cinta mereka. Namun, bukan berarti dia akan menanggapinya dengan cara seperti itu. Sebab apa yang Umar katakan barusan adalah sebagai bentuk upaya pria itu memperhatikannya.


“Ceritakan! Kapan kamu mengetahui itu,” perintah Umar.


“Udah dari dua hari yang lalu.”


“Bisa-bisanya kamu nggak mau memberitahuku, Alma ....” Umar setengah kesal. Bahkan hampir meradang. Tetapi ia tidak ingin ribut lagi sekarang setelah baru beberapa saat mereka berbaikan. Pun ia juga sudah berjanji untuk tidak marah-marah lagi kendatipun sudah berulangkali diingkarinya. Payah memang.


“Namanya juga kado. Masa mau ngasih tahu duluan.”


“Siapa lagi yang kamu kasih tahu?” tanya Umar.


“Nggak ada lagi selain Abang sama Bi Yati,” jawab Alma.


“Apa yang kamu rasain sekarang?”


“Nggak ngerasa apa-apa. Masih biasa.”


“Mual nggak?”


Alma menggelengkan kepala.


Umar mengarahkan pandangannya ke perut Alma yang masih datar. Tatapannya yang awalnya tajam kini kian melunak. “Aku janji akan jadi suami dan ayah yang baik.”


“Kalau bohong aku sunat!”


“Berani-beraninya kamu bilang begitu!” Umar menyerang Alma tanpa ampun. Untuk sekian kalinya, pergelutan mereka berakhir panas.


Pada keesokan harinya, Alma di antar kan pulang ke rumah Umi Zul untuk menyampaikan berita baik ini. Dan respon mereka sangat bahagia. Terlebih anak ini akan jadi cucu pertama bagi mereka.

__ADS_1


“Jadi adik Ais ini mau jadi seorang ibu?” tanya Ais mencium sang adik.


“Iya, dong. Ais nya kapan?”


“Doain, ya! Semoga disegerakan,” jawab Ais tetap berprasangka baik.


“Sama siapa?”


“Sama perempuan lah. Masa sama laki-laki?”


“Mana? Udah ada belum calonnya?” pertanyaan Alma kian menuntut.


“Ntar, nunggu hilal,” jawab Ais terdengar santai. Percaya, bahwa Tuhan telah menciptakan makhluknya dengan berpasang-pasangan. Jadi, ia tak perlu takut soal jodoh.


Agak lama mereka di sana untuk sekadar berkunjung dan menyampaikan kabar bahagianya. Tak hanya itu, mereka juga mendapatkan beberapa wejangan dari Abi dan Ummi, tentang apa saja kewajiban mereka sebagai orang tua baru.


Bertolak dari sana, Umar menuju ke rumah Papa yang kebetulan ada di rumah, karena hari ini adalah tanggal merah. Ada Mauza dan Sammy juga yang hendak pergi entah ke mana. Sebab dilihatnya, dua koper besar sudah masuk ke bagasi mobil.


“Ada yang mau liburan kayaknya,” sindir Umar pada saat mereka menemui kedua saudaranya itu di ruang tamu.


Mauza lantas memberi kembarannya pertanyaan, “Ngapa? Kamu mau ikut?”


Perempuan itu sedang sibuk menyematkan jarum pentul di kerudungnya yang mencong sana-mencong sini, tak karu-karuan.


Ribet, kalau kata Sammy. Pasalnya, dia sudah terlanjur bad mood menunggu sang istri selama hampir sejam lamanya untuk berdandan dan membungkus kepalanya yang peang itu.


“Pengen sih, tapi belum bisa,” jawab Umar.


“Kenapa, Mar? Kamu nggak bisa ya? Ah, iya. Kamu kan suka mabuk perjalanan. Nggak bisa pergi jauh-jauh, hihihi.”


“Bukan cuma aku, tapi Alma juga.”


Alma menginjak kaki Umar untuk memberinya kode. Tapi sayang tak ada gunanya dia melakukan hal itu, sebab kata-kata tersebut sudah terlanjur keluar dari mulut suaminya.


“Oh ....” raut wajah Mauza sontak berubah aneh. Sangat terlihat kentara meskipun dia buru-buru menetralkan raut wajahnya lagi.


Sammy paham apa yang sedang terjadi. Dia mengusap pundak sang istri yang dia ketahui sedang berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja.


“Selamat, ya! Sebentar lagi kalian mau jadi orang tua. Aku ikut senang.” Mauza tersenyum semringah. Lantas memeluk Umar dan menepuk-nepuk punggung kembarannya itu.


Aneh, bukankah dirinya sendiri yang butuh dikuatkan? Tetapi kenapa dia justru memeluk kembarannya? Sammy mengerjap-ngerjapkan matanya yang nyaris basah. Sikap perempuan ini berbanding terbalik dengan apa yang tengah dia alami. Mauza benar-benar wanita hebat yang pernah dia miliki. “Aku semakin mencintaimu.”


“Makasih, Za. Semoga kamu juga cepet nyusul,” balas Alma menahan rasa tak enak hatinya di depan perempuan yang kurang beruntung tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2