
Bab 32.
“Fasad ....” sapa Zara begitu pria itu membuka unitnya. Dia mengikuti Fasad kembali ke dalam, sampai akhirnya berhenti di ruangan yang bisa di alihfungsikan menjadi apa saja. Ruang tamu, ruang makan sekaligus ruang keluarga. Mengingat betapa kecil unit ini di banding luas rumahnya sendiri.
“Aku harap kamu sudah lebih baik dari sebelumnya,” ujar Zara setelah mereka duduk bersisian, kemudian dia menambahkan, “lebih baik dari segi perasaan.”
“Ya, aku udah lebih baik,” Fasad membenarkan, pun dengan wajahnya kali ini yang terlihat tak segarang kemarin, “tapi bukan untuk mengubah keputusan.”
“Keputusan apa?” tanya Zara belum mengerti bahasan ini, “jangan ngomong yang aneh-aneh, aku cuma mau ngajak kamu pulang. Emangnya nggak kasihan, istrinya ditinggal sendiri?” Zara tersenyum dan menggenggam tangannya, kemudian berbicara dengan suara lebih pelan, “kita mulai lagi dari awal....”
“Zara ....” Fasad melepaskan tangannya dari cekalan Zara dan hampir berujar, namun disela kembali oleh Zara disertai gelengan kepala, “Fasad. Hati-hati kalau ngomong. Jangan sampai kamu mengucapkan—”
“Dengerin dulu aku ngomong,” potong Fasad.
“Aku nggak bisa diginiin sama kamu ....”
“Lebih baik kita hancur sekarang daripada nanti setelah kita punya tanggung jawab lain yang jatuhnya lebih berat lagi.”
“Plis jangan ngomong gitu, kita pulang, ya? Katanya mau bisnis bareng—ayo, kita bahagiain Ibu ....” Zara mengalihkan pembicaraan karena tak sanggup mendengarkan apa pun yang mengarah ke perpisahan.
“Zara ... nggak semua hal yang kamu inginkan di dunia ini bisa kamu dapatkan.”
“Aku belum bahagia seperti orang lain yang mempunyai kehidupan utuh,” balasnya. Dan aku ingin mewujudkannya bersamamu, lanjut Zara tak bisa mengungkapkan jika rasa sayang itu sedikit demi sedikit sudah mulai tumbuh untuknya.
“Ini hanya soal waktu, kamu harus sabar.”
“Kamu sendiri sabar apa nggak?” Zara menampik ucapan tersebut, “kamu memintaku untuk sabar, sementara kamu sendiri kenapa seperti ini? Hanya karena ada masalah kemarin, kamu langsung menyerah. Kalau kamu cinta sama aku, nggak ada salahnya kamu perjuangkan.”
“Demi masa depanmu.”
__ADS_1
“Masa depan apa? Masa depan seperti apa yang kamu maksud?” tanya Zara tak mengerti, “aku dah nggak punya masa depan lagi semenjak namaku hancur. Jadi apalagi yang kamu beratkan?”
“Semua orang yang menyayangi kamu, terutama keluargamu akan malu mempunyai menantu sepertiku.”
“Jangan dengar omongan Mami, Fasad. Cukup dengar aku aja, karena aku nggak malu punya suami seperti kamu. Justru aku sudah punya niat mengumumkannya di media tentang pernikahan kita. Kalau perlu sekarang juga.” Zara mendadak cepat mengambil ponselnya dari dalam tas untuk mengunggah foto pernikahan mereka. Namun setelah HP itu berada di tangannya, Fasad sontak merebutnya dengan paksa.
“Kamu nggak perlu melakukan ini!” sentaknya keras.
“Aku ingin membuktikannya kalau aku sungguh-sungguh.”
“Biar mereka tahu kamu masih gadis.”
“Untuk apa? Apa untungnya pengakuan seperti itu? Masih gadis atau sudah janda aku akan tetap bekas di mata orang-orang.” Zara berusaha merebut kembali ponselnya, meski kesulitan. “Kenapa kamu jadi begini? Mana Fasad dulu yang selalu percaya diri?”
“Gimana mau percaya diri ...” kata Fasad tertunduk lesu, “aku nggak punya harga diri lagi sekarang. Aku cuma orang miskin yang menikahi gadis kaya hanya demi uang. Ah, sudahlah! Aku ini cuma mau numpang tenar, nggak lebih baik dari mereka yang suka pansos sama kamu.”
“Fix kamu pendendam. Gimana pun Mami aku, beliau tetap orang tuaku, mertua kamu juga. Aku tahu ini menyakitkan ... tapi apa hanya karena itu kita jadi pisah? Harusnya kamu buktikan kalau kamu layak jadi suamiku, Sad. Plis jangan menyerah ... kita hanya butuh satu langkah lagi karena kemarin, beliau sudah merestui kita.”
“Jangan bilang kamu mau balik lagi seperti dulu,” tudingnya cepat yang langsung ditanggapi jawaban mengesalkan.
“Anggap saja begitu.”
“Bohong!” seru Zara menyentak ke pendengaran, “kamu akan sulit punya teman dan pasangan yang baik kalau kamu terus melawan garis takdir.”
“Hanya aku yang tahu, gimana aku bisa menjadi nyaman. Karena selama ini aku memang seperti terjebak di dalam tubuh yang salah,” dustanya agar Zara semakin geli dengan pengakuannya. Dengan begitu, Zara bisa cepat pergi dari sini dan segera menyelesaikan hubungan mereka.
“Ciptaan Tuhan nggak pernah salah, manusianya sendiri yang kurang benar,” sahutnya setelah Fasad selesai bicara, “Fasad, plis ....”
“Aku nggak mau dipaksa-paksa. Ayolah, segera ajukan gugatanmu ke pengadilan. Lebih cepat lebih baik untuk kita berdua. Supaya kamu juga bisa lebih cepat mendapatkan suami lagi.”
__ADS_1
“Kamu pikir aku kucing betina? Yang dengan mudahnya bisa kawin lagi sama kucing jantan lain begitu hubungan lamanya selesai?” tanya Zara menajam, “camkan! Aku bukan tipe perempuan seperti itu.”
“Terserah kamu saja. Dengar baik-baik dan pasang telingamu, Zara. Aku orang yang teguh pendirian. Aku nggak bisa hidup berdampingan sama kamu dan aku nggak cocok menikah sama kamu. Stop tanya-tanya lagi dan jangan buat aku lebih banyak beralasan.”
“Fasad ....” tangis yang sedari tadi tertahan kini akhirnya pecah. Zara tersedu di lututnya, “Plis jangan tinggalin aku. Aku nggak punya siapa pun sebaik dan setulus kamu, Sad ....”
Fasad membungkam.
“Kita dekat bukan cuma satu atau dua bulan, tapi empat tahun. Banyak hal yang udah kita lakuin sama-sama, siang dan malam, dari satu tempat ke tempat lainnya, susah senang kita lewatin berdua.”
Fasad mengangkat tubuh Zara ke pelukannya, “Masih banyak yang harus aku benahi dalam diriku, Zar. Kamu butuh pembimbing, bukan orang sepertiku yang malah bisa menambah kesusahanmu. Banyak di luar sana orang yang mau melamarmu dan pilihlah yang menurutmu paling pantas.”
“Aku mau nungguin kamu berproses. Kita berjuang sama-sama dan kita ke Psikiater, ya.” Zara menganggukkan kepala, meminta Fasad untuk mengikutinya. Tetapi jawabannya sungguh mengecewakan, Fasad tetap menolak.
“Jangan memaksa. Berapa kali aku bilang, nggak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan,” Fasad menjauhkan tubuhnya dari Zara dan tetap memberikannya kepastian, “pulanglah, nggak ada lagi yang perlu kita bahas. Semua sudah jelas, hubungan kita hanya bisa sampai di sini. Jangan khawatir, kita masih tetap bisa berteman meski nggak seintens dulu. Dan satu lagi, jangan ragu untuk meminta tolong kalau kamu butuh bantuan.”
Zara semakin tak bisa membendung tangisannya, “Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu selama ini?”
“Aku ikhlas melakukannya,” Fasad tersenyum, “justru aku yang berterima kasih,” batinnya melanjutkan. Sebab selain sejumlah materi, Zara juga telah memberikannya banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga.
“Berapa yang kamu inginkan dariku, Fasad? Setidaknya untuk simpanan selama kamu belum bisa mendapatkan pekerjaan baru.”
“Nggak perlu, aku nggak butuh uang.”
“Lalu apa?” sahutnya segera. Lama tak terdengar jawaban digunakan Zara untuk berpikir dan menentukan sendiri balasan apa yang pantas diberikan untuknya. “Apa tubuh ini cukup untuk membayar semuanya?” lantas dengan kerelaan ia mulai melepaskan kancing-kancing bajunya hingga menyisakan pakaian inti, “Kalau iya, aku rela menyerahkannya untukmu karena kamu layak mendapatkannya.”
Zara mendekat dan sepenuhnya memasrahkan diri, “Seperti yang aku bilang tadi, nggak ada istilah keperawanan atau semacamnya. Perempuan yang sudah menikah, akan tetap menjadi janda walau dia belum pernah tersentuh.”
Mata Fasad menggenang dan kesulitan menelan saliva. Ada bagian lain dari tubuhnya yang hidup setelah lama mati.
__ADS_1
Bersambung....
Pemilik nickname Disyah/yang merasa memberikan banyak sekali vote, sila chat author, ya, untuk pengambilan hadiahnya.