Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Romansa Pernikahan 4


__ADS_3

♡♡♡


Di tempat lain, seorang lelaki bertopi dan bermasker yang hampir menutupi wajah sedang menaiki angkutan umum secara acak untuk menjauh dari kota Jakarta.


Dia menghindari menumpangi kendaraan yang mengharuskannya menggunakan kartu akses, karena dapat membuat mereka mengetahui keberadaannya. Sebab kartu indentitas apapun sangat gampang sekali dilacak oleh tim kepolisian.


Tidak main-main. Polisi sudah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mencari keberadaannya. Ia sangat paham, Miranda Haucun bukanlah orang sembarangan.


Baik, kita perjelas lagi, orang itu adalah Fasad: tersangka yang memukul kepala Rayyan di Hotel GH. Orang yang dianggap berbahaya dan harus segera diamankan.


Fasad pun membuka dompetnya yang tersisa lembaran uang merah senilai satu jutaan. Itu pun bukan uangnya sendiri karena selama ini ia bergantung hidup pada Cici.


Di saat-saat seperti ini, Fasad baru menyadari betapa besar pengorbanan Cici untuknya. Di mana ada wanita yang rela dipeloroti dan diperlakukan buruk seperti itu?


Dasar wanita bodoh, batinnya kesal. Dan yang lebih mengesalkan lagi, wanita itu tak pernah melawannya. Aneh sekali, bukan?!


Fasad turun di sebuah perempatan yang ia ketahui ada di daerah Bekasi Timur. Dia melangkah lagi menuju ke angkot selanjutnya.


“Uang segini jelas nggak akan cukup untuk menyambung hidup selama beberapa hari ke depan,” gumamnya, “aku harus apa? Sedangkan aku juga pasti tersangka buron sekarang.”


Fasad mengumpat segala rupa dan menendang kosong. Dia menyesali tindakan bodohnya tadi pagi. Andai ia tak lepas kendali, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Sekarang, kepada siapa ia harus minta tolong?


Sedangkan Cici sudah diperiksa oleh polisi. Bukan tidak mungkin, wanita itu juga sudah disetel untuk bekerja sama dengan mereka. Mencari keberadaannya.


Sial! Sial! Sial!


Fasad kembali menaiki angkutan dan mencari penginapan murah agar ia bisa bermalam di sana.


Jika Zara dan Rayyan tengah berbahagia melakukan malam pertamanya, dia malah tengah mengalami malam terburuknya.

__ADS_1


♡♡♡


“Jam dua belas.” Ray bergumam di sela-sela napasnya yang memburu. Tentu saja setelah dia berhasil membuat Zara juga mendapatkan hak sepertinya.


“Ra!” Pria itu mengguncang bahu polos di sampingnya untuk memastikan karena ia tak lagi mendengar suaranya. “Are you okay?”


“Nggak,” jawabnya terus-terang. Tapi dalam hati ia merasa bahagia serta merasakan sensasi kupu-kupu. Yang baru saja lepas dari tubuhnya membuat dia melayang tinggi. Terjawab sudah rasa penasarannya selama ini; seperti apa rasanya bercinta? Ah, ternyata sangat menyenangkan dan tak pernah bisa ia lupakan.


“Semoga aku nggak mengecewakanmu,” Ray berkata lagi.


Zara tak menjawab, ia fokus merapatkan selimut pada saat keringat sudah mulai mengering dan hawa dingin AC kembali terasa menyeruak di kulitnya. Namun dengan sangat berhati-hati karena ada rasa perih seperti terbakar di bawah sana.


“Maaf, ya.” Ray memberikan bahunya agar Zara menggunakannya sebagai bantalan.


Perlakuan romantis ini tak cukup sampai di sini, karena selanjutnya Ray melakukan hal yang lebih mengejutkan, yakni sesuatu yang tak pernah Zara dengar dari dirinya. Ya, Rayyan bernyanyi dengan suara sedikit berbisik di telinganya.


“Whenever I'm alone with you


Whenever I'm alone with you


You make me feel like I am fun again


However far away


I will always love you


However long I stay


I will always love you

__ADS_1


Whatever words I say


I will always love you


I will always love you....”


Zara tertawa sekaligus tak terduga karena ternyata, Rayyan bisa menghafal lagu yang pernah dinyanyikan oleh wanita berkebangsaan Inggris, Adele Laurie Blue Adkins. Padahal, ia tahu kesehariannya dulu tak pernah jauh dari hal-hal keagamaan.


Zara merasa Ray sedikit aneh karena bernyanyi di tengah malam seperti ini. Tetapi tanpa sadar, wanita itu juga mengikutinya sampai selesai.


“Aku nggak tahu harus bilang apa,” kata Ray setelah itu, “rasanya aku nggak pantas mendapatkan semua hadiah ini. Kamu membuatku merasa sangat beruntung dan lebih berharga.”


Zara menoleh untuk bisa melihat bagaimana wajah suaminya sekarang yang terlihat sendu sekaligus bahagia.


“Kamu bukan orang pertama dalam hidupku, aku minta maaf, Ra. Aku dulu sangat buruk.”


“Kamu tuh omong apa, sih?” tanya Zara yang sebenarnya ia tahu ini adalah ungkapan penyesalan, “udahlah ... nggak usah dipikirin. Toh, aku juga nggak pernah merasa lebih tinggi. Aku menerima semua masa lalumu karena aku juga berharap sebaliknya.”


“Nggak, Ra. Kamu itu terlalu istimewa untukku yang ....”


Zara meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Rayyan agar pria itu lekas terdiam. “Aku juga pernah nakal pada masanya dan aku rasa ... nggak akan pernah ada orang yang sempurna di dunia ini. Semua orang yang paling alim pun punya dosa, hanya caranya saja yang berbeda,” papar Zara tak mau menyombongkan diri. Sebab setahunya, muslimah yang baik pun tak pernah merasa dirinya lebih baik.


“Justru Allah lebih mencintai pendosa yang bertaubat daripada orang yang mengaku dirinya shaleh tapi sombong.”


“Kamu benar, tapi selama kita hidup, kesempatan untuk menjadi baik itu akan tetap ada.”


Sesaat setelah Zara berkata demikian, dia merasa ada tangan yang mulai merayap naik dari perutnya menuju ke dadanya, lalu berhenti dan menetap di sana.


“Permisi?” Rayyan mengetuknya seperti tengah membuka pintu, “apa ada orang di dalam?”

__ADS_1


“Ada, Kang. Silakan masuk,” jawab Zara. Dia menertawakan bagaimana cara pria ini merayu untuk mengulangi aktivitas mereka lagi.


Merasa mendapat sinyal penerimaan dari Tuan Rumah, Ray pun membuka pintu sendiri. Dia sudah sangat hafal bagaimana dan seperti apa letak di dalamnya.


__ADS_2