Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Umar Kepergok


__ADS_3

133


Tak lebih dari tiga hari Mauza dan Sammy bermalam di suatu penginapan yang berlokasi di daerah Puncak Bogor. Daerah wisata yang sesungguhnya sudah tidak sedingin dulu.


Berdasarkan informasi yang dihimpun dan pantauan secara kasatmata, kenaikan suhu kawasan Puncak disebabkan oleh tidak terkendalinya pembangunan ribuan tempat penginapan. Yang juga berdampak terhadap lingkungan sekitarnya.


Tetapi mau bagaimana lagi? Mereka butuh dan hanya tempat ini saja yang bisa mereka datangi karena berbagai alasan.


Pagi ini Mauza bersiap-siap untuk kembali ke kota Jakarta. Memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam koper dan menatanya kembali seperti semula agar semua barang oleh-oleh pun bisa masuk ke dalam sana.


“Tiga hari kok cepet banget ya,” Sammy bergumam yang ditanggapi langsung oleh istrinya.


“Bukannya bantuin malah ngitungin hari ....”


“Iya, nanti juga aku bantuin.”


“Bantuin doa kalau udah selesai.”


Sammy nyengir. Tebakan Mauza sangat tepat sekali dengan apa yang ada dalam pikirannya. Inilah yang dinamakan jodoh whehehehe.


Tak ingin Mauza bertambah marah, Sammy pun datang untuk membantunya. Namun bukannya senang, Mauza malah semakin marah karena pakaian yang dilipat tak sesuai dengan ekspektasi wanita itu.


“Udah deh, aku aja Sam. Kayaknya kamu nggak bakat beresin ginian.”


“Iya, lelaki itu bakatnya cuma gagahin istrinya di kasur, sama nyari duit. Itu pun kalau dapat,” balas Sammy. Dia termenung sesaat dan memandangi alam yang terbentang sebelum dia bertanya sesuatu. “Za?”


“Ada apa, Sam ...?”


“Kamu tahu kan, kalau mobilku masih nyicil? Itu pun cuma mobil murahan yang kepentok tembok aja bisa langsung peyot,” wajah Sammy berubah sendu. Jeda beberapa detik, Sammy menambahkan, “Kerjaanku juga belum jelas. Belum tentu Kakakmu masih mau mempekerjakanku setelah proyeknya selesai. Aku laki-laki yang nggak punya pekerjaan tetap, Za.”


“Iya terus kenapa?” tanya Mauza seakan tak mempermasalahkannya.


“Nggak papa, takut aja nggak bisa menuhin tanggung jawabku jadi suami.”


“Jangan khawatirin hari yang masih jauh. Tuhan udah menjamin semuanya. Dulu ... aku juga pernah berpikir; gimana aku di masa depan nanti? Nyatanya aku baik-baik aja sekarang. Rezeki ada yang ngatur, kita hanya butuh makan sepiring. Nggak bakal kurang.”


“Tapi kebutuhan yang lainnya?” Sammy bertanya lagi.


“Kamu juga masih ada bakat. Suatu saat kameramu pasti bisa kepake lagi. Apa lagi di jaman sekarang ini, hampir semua anak muda suka sama fotografi. Kalau nanti kita punya modal, kamu bisa buka studio foto sendiri. Buka lowongan buat bikin tim.”


“Nggak semudah itu, Za,” Sammy tak yakin dengan khayalan mimpi indah di siang bolong yang menurutnya mustahil tersebut. Dia adalah orang yang belum terlalu yakin dengan keajaiban doa.


“Susah kalau kamunya sendiri juga nggak punya niat,” kata Mauza segera.


“Punya! Enak aja,” sanggah Sammy. “Kita nggak langsung pulang sekarang, kan?”


“Maumu ke mana?”


“Pengen ngambil foto di Telaga Warna.”

__ADS_1


Mauza mengerutkan dahinya, “Ngapain?”


“Anggap aja prewed. Kita belum punya foto itu. Dandan yang cantik, ya! Kalau perlu sekalian pakai kostum ala-ala Film My Heart.”


Sammy kira Mauza akan bersemangat saat dia ajak ke tempat itu, ternyata tidak Bestie.


Yang ada di pikiran Mauza saat ini hanyalah pekerjaan yang sudah cukup lama dia tinggalkan. Sehingga ia ingin cepat-cepat kembali ke kota asalnya.


Padahal Zara pun, sudah tidak pernah menanyakannya lagi. Karena dia juga tahu, Mauza baru menikah, yang di mana, pengantin baru akan membutuhkan banyak waktu untuk berdua bersama pasangannya. Seperti yang pernah dia lakukan.


“Kenapa, Za?” tanya Sammy menangkup kedua pipi Mauza sembari membelainya pelan dengan jari-jarinya. “Dari kemarin kamu kelihatannya nggak seneng aku ajak ke mana pun. Kamu kayak nggak menikmati momen. Padahal aku pengen hati kamu juga ada di sini.”


Mauza diam saja.


“Pasti ada yang kamu pikirin,” imbuh Sammy.


“Kerjaan, Sam. Kita udah terlalu lama libur,” jawab Mauza pada akhirnya.


“Za, plis.” kali ini Sammy menggenggam kedua tangan Mauza dan mengunci pandangannya. “Pikirin diri kamu juga. Dari kemarin kamu terus mikirin saudaramu sampai kita berantem di jalan. Sekarang, kamu mikirin kerjaan daripada keinginan aku, suamimu sendiri. Kamu harus ingat, setelah menikah prioritasmu udah bukan mereka lagi, apalagi pekerjaan, tapi aku.”


“Mungkin aku belum terbiasa, Sam. Aku kepikiran mereka terus.”


“Zara nggak bakal sejahat itu nyuruh kamu pulang.”


“Sam?”


Sammy menunggu Mauza kembali melanjutkan bicaranya.


“Untuk sekarang ini, aku kerjanya di Bekasi. Otomatis kamu juga akan aku bawa ke sana biar nggak bolak-balik. Tapi itupun kalau kamu mau, kalau nggak mau ... ya, mau gimana lagi? Aku harus ngalah.”


“Aku belum siap ninggalin Mama, Sam. Harusnya kita bicarakan semuanya sebelum nikah. Tapi karena mendadak, jadi sekarang aja kita bahasnya.”


Sammy tersenyum, “Nggak papa, kalau kamu lebih enak tinggal di sana aku ikuti. Yang penting kamu senang.”


“Nggak papa kalau harus sering ketemu sama dia?”


Sammy hanya mengedikkan bahu. Sebenarnya dia pun juga kurang nyaman. Tapi aku bisa apa? Batinnya berpikir. Tetapi tak masalah, sebab dia hanya bertemu di waktu pagi hari saja karena dia selalu pulang hampir malam.


“Thank u Sam....” Mauza akhirnya bisa tersenyum. Semua kekhawatirannya berganti rasa yang membuncah. Dia mengalungkan tangannya ke leher Sammy untuk dia kecup bibirnya.


Mauza tak pernah seberani ini sebelumnya. Tetapi sekarang, rasa itu muncul dengan sendirinya. Cintanya tumbuh berkali-kali lipat setelah mereka sering melebur bersama dalam satu waktu.


Andai mereka belum rapi, pasti kegiatan itu sudah berlanjut di tempat peraduan. Namun karena tak ingin ribet membersihkan diri lagi, maka terpaksa, gairah yang sudah membumbung itu harus terhenti. Meski akhirnya, mereka harus bisa menahan sakit yang bersarang di kepala.


Keduanya melakukan sarapan sebelum akhirnya check out dari Hotel tersebut. Lalu menuju ke tempat yang sebelumnya mereka rencanakan.


Di Telaga, mereka berfoto di atas air menggunakan perahu dengan membayar seseorang yang kebetulan menyediakan jasanya.


Memberi makan monyet-monyet di sekitar yang jumlahnya lumayan banyak, meluncur menggunakan flying fox, mengelilingi kebun teh, dan terakhir menikmati enaknya kopi panas di depan resort.

__ADS_1


“Ini menyenangkan sekali, Sammy,” ucap Mauza meraih tangan Sammy untuk mencari kehangatan.


“Katanya tadi nggak mau ...” Sammy mencibirnya dengan mengingatkan Mauza sebelum mereka datang.


“Jangan bikin aku malu dong, Sam.” Mauza memajukan bibirnya. “Habis ini kita ke mana lagi?”


“Mau cobain paragliding?”


“Makanan apa itu?” tanya Mauza polos.


“Bukan makanan, tapi olahraga yang terbang pake parasut. Masih belum tahu juga?”


“Oh kalau gitu sih, aku juga mau!” sahut Mauza antusias. “Kebetulan aku nggak takut sama ketinggian.”


Keduanya keluar dari area tersebut, kemudian menuju ke bukit. Mendaftar dengan membayar biaya sesuai dengan kesepakatan, lalu menunggu giliran. Tentu setelah keduanya dinyatakan memenuhi syarat untuk terbang.


Keduanya terbang secara bersamaan dengan dibantu oleh masing-masing pilot. Menikmati keindahan alam selama beberapa menit lamanya.


Tak jarang, Mauza sampai berteriak dan menangis haru, menunjukkan betapa senangnya dia bisa berada di sana.


“Ini benar-benar momen yang nggak pernah aku lupain, Sammy,” kata Mauza setelah beberapa saat mereka mendarat di lapangan. “Kamu udah bikin aku bahagia banget berapa hari ini. Makasih, Sammy ....”


“Sama-sama Mauza,” Sammy tersenyum, “semoga sebulan setelah pulang dari sini, kita bisa mendapat serta kabar baik.”


“Secepat itu?” Mauza tak percaya sebesar itu Sammy mengharapkannya.


“Iya, aku ingin segera punya anak darimu, Za.”


Tiada sesuatu yang Mauza ucapkan terkecuali mengaminkannya.


Mereka pulang menjelang sore hari sehingga harus terjebak macet selama berjam-jam. Tetapi tidak masalah ... karena hatinya sedang baik. Mereka menikmati semua momennya dengan santai sambil makan oleh-oleh khas daerah sana yang di jual oleh pedagang asongan. Salah satunya gemblong.


Tetapi suasana menyenangkan itu berubah dalam sekejap pada saat mereka tiba di rumah.


Sebab keduanya mendapati suasana tegang di ruang tamu. Umar sedang disidang oleh papanya karena anak itu kepergok kabur tengah malam seperti ini.


Lagian, udah tahu sering di intai belakangan ini, tapi masih nekat juga. Mauza jadi merasa kasihan.


Sebagai salah satu manusia yang terlahir kembar, terkadang Mauza juga bisa ikut merasakan apa yang sedang kembarannya rasakan. Meskipun tak selalu.


Alasannya, karena mereka mempunyai ikatan batin yang begitu kuat.


“Aku mau ketemu sama orang, Pa,” jawab Umar terdengar takut.


“Iya, siapa orangnya? Ada urusan apa malam-malam begini? Laki-laki atau perempuan?!” cecar Yudha sangat marah.


♧♧♧


Bersambung.

__ADS_1


Tenang, nanti akan dikupas tuntas semuanya, ya. Mudah-mudahan mau sabar menanti. Aku gak bisa nulis banyak-banyak dalam satu waktu sekaligus.


__ADS_2