
190
Entah seperti apa wajah mereka sekarang. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya. Yang jelas, hancur tak bersisa. Seandainya mereka tak ingat sedang berada di mana saat ini, mungkin mereka akan memilih untuk menangis saja.
Mungkinkah impian untuk bisa memiliki pernikahan yang sempurna, hanya akan menjadi sebuah angan-angan tanpa pernah bisa mereka wujudkan?
Demikian mereka berpikir di otaknya yang sudah terlanjur buntu. Mereka melupakan sesuatu, bahwa kuasa Tuhan itu ada.
Bahkan ada kisah dari seorang nabi yang tidak pernah kecewa berdoa kepada Rabb nya meskipun rambutnya telah memutih, tulangnya sudah melemah, istrinya pun sudah tua, mandul dan menopause.
Dalam keadaan demikian apakah kondisi itu memungkinkan untuk mereka mempunyai keturunan?
Tentu saja tidak.
Namun hanya bagi manusia. Tidak bagi Tuhan.Oleh karena sebab itulah Nabi Zakaria meminta dari sisi-Nya saja.
Sehingga terkabul lah doa yang selama ini Nabi Zakaria panjatkan. Lahirlah seorang anak dari keturunan mereka. Tuhan berikan beliau seorang putra yang bernama Yahya.
“Istilah medis, Anda mengalami semacam gejala asthenozoospermia,” kata Dokter lagi.
“Dijelaskan saja, Dok,” sahut Sammy dengan tatapan lemah. Tak senakal dan pecicilan seperti biasanya.
“Asthenozoospermia adalah kondisi ketika motilitas atau pergerakan sp**ma tidak lincah atau bahkan lambat, Pak, Bu. Mereka sulit menuju ke pusat untuk menembus sel telur. Terlebih, Ibunya juga punya PCOS,” Dokter itu memaparkan.
“Apa penyakit itu bisa disembuhkan?”
“Bisa, dengan menjalani hidup sehat dan obat-obatan tertentu. Tapi mungkin akan membutuhkan waktu yang lama, jadi baik suami atau istri harus sabar. Karena program hamil itu memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.”
“Apa yang harus kami lakukan setelah ini?” tanya Mauza.
“Yang utama tentunya hidup sehat,” jawab Dokter, “kalau mau, kita akan coba bayi tabung karena program itu tingkat keberhasilannya bisa mencapai 50%. Bagaimana?”
“Sepertinya kami harus berunding dulu, Dok,” jawab Sammy kemudian.
“Ya, silakan. Itu memang perlu. Kalian bisa kabari saya lagi kalau setuju.” Dokter Farel itu menyodorkan kartu namanya. “Tenang, biaya IVF di sini tidak semahal di rumah sakit lain. Kalian bisa mengunjungi akun kami kalau mau melihat beberapa testimoninya.”
“Terima kasih, Dok.” Sammy menjabat tangan dr. Farel.
“Jangan patah semangat. Semua bisa kalau kita mau berusaha. Lagipula kalian juga masih muda, pacaran saja dulu, jangan terlalu terbebani. Stres juga bisa menghambat kesuburan, lho.”
“Sekali lagi terima kasih sarannya, Dok.”
“Sama-sama.” Dokter Farel tersenyum.
__ADS_1
Keduanya lantas pamit undur diri meninggalkan ruangan.
♧♧♧
“Udah lama kita nggak ke rumah Bunda Utami. Kamu nggak mau ke sana?” ucap Sammy pada saat mereka memasuki mobilnya.
Satu pun dari mereka tidak ada yang berani membahas penjelasan dokter lagi, lantaran tak ingin membuka luka masing-masing yang dapat membuat mereka kembali berdarah.
“Boleh,” jawab Mauza. “Aku juga kangen sama Bunda.”
“Okay!” Sammy mencoba mendongkrak semangat mereka dengan cara berpantun, “Jalan-jalan ke pasar cuma beli kencur!”
“Cakeep!” balas Mauza tersenyum.
“Demi kamu, Abang segera meluncur.”
“Mandi kembang di tengah hutan!” Mauza jadi tertarik untuk ikutan. “Ayo, Bang. Cepetan jalan!”
“Lebih serem pantunmu ternyata!” Sammy tergelak. Ternyata istrinya jago juga.
Mobil pun meluncur ke rumah Utami. Seorang janda tua yang telah ditinggal mati suaminya, namun memilih untuk setia. Tak menikah lagi seumur hidupnya demi bisa bersama ayah Sammy lagi di kehidupan berikutnya.
“Kalian ini sudah lupa ya, sama Bunda? Hampir sebulan kalian nggak ke sini,” tegur Utami begitu menjumpai anak dan menantunya di depan pintu. “Liburan aja kalian bisa, masa jenguk orang tua yang tinggal satu-satunya ini nggak bisa?”
“Sesibuk apapun, orang tua harus tetap jadi prioritas.”
“Maaf ya, Bun,” sahut Mauza, “lain kali kami akan lebih sering ke sini.”
“Ya sudah, masuk-masuk!”
Sammy dan Mauza saling senggol. Tentu saja mereka bersalah karena sudah bersikap seabai ini dengan Bunda, orang tua dari Sammy yang tinggal satu-satunya.
Minuman hangat terhidang di atas meja sehingga menimbulkan bunyi kaca dan kayu yang saling berpetukan.
“Nggak usah repot-repot, Bun. Aku kan bisa ngmbil sendiri,” Mauza tidak enak hati dilayani seperti tamu.
“Nggak repot, Nak. Cuma teh saja.” Utami duduk setelah itu. Sementara Sammy berkeliaran. Mencari-cari barang kesayangan yang sekiranya bisa dia bawa.
“Kalian habis dari mana? Atau memang sengaja datang kemari?” tanya Utami kepada sang menantu.
“Kami habis ....”
“Dari kantor, langsung labas kemari,” sela Sammy. Pria itu menemukan gitarnya dan mulai memainkannya secara random. Mungkin karena sudah tak lama digunakan, jadi benangnya harus dia atur lagi.
__ADS_1
“Kantor mana? Bukannya kemarin kamu manajerin pembangunan sekolahnya Ustaz Ray di Bekasi?”
“O iya, Bunda belum tahu, ya? Aku dah balik lagi di kantor Zara sekarang,” jawab Sammy.
“Gimana mau tahu? Orang kalian nggak pernah ngasih Bunda kabar.”
“Iya, maaf-maaf. Janji nggak bakal ulangi lagi.” Sammy meredakan amarah Bundanya dengan cara mencium wanita tua itu. Seperti yang biasa dulu dia lakukan.
“Kamu itu pintar merayu, ya!”
“Kalau nggak pintar merayu nggak bakal dapat cewek cantik,” jawab Sammy membuat Mauza tersipu. Jarang-jarang pria itu memujanya demikian kalau sedang tidak ada maunya.
“Dasar!” kekeh Utami.
Mereka pun berbagi cerita tentang banyak hal. Tentang liburan mereka, pekerjaan, planning ke depan dan masih banyak lagi. Awalnya obrolan terdengar sangat antusias. Namun kini berubah mencekam manakala Utami mengungkapkan keluh kesahnya.
“Kalian itu seharusnya tinggal di sini, jadi rumah Bunda bisa ramai kan? Apalagi ... kalau nantinya kalian sudah ada anak,” ucapnya sendu. “Di sana Bu Vita sama Pak Yudha sudah punya banyak anak dan cucu, sementara Bunda? Bunda hanya sendiri.”
Untuk kali pertamanya, Sammy mendengatkan keluhan mendalam dari wanita ini. Padahal sebelumnya dia sudah setuju. Mungkin, Utami sudah mulai merasakan kesepiannya. Seandainya bisa memilih, Sammy akan memilih tinggal di sini. Tetapi apa boleh buat? Semua orang memberatkannya.
Tahu, ah. Sammy pusing dan malas memikirkannya.
“Tapi balik lagi ... Bunda nggak bisa maksa. Karena permintaan ini, bisa merusak rumah tangga kalian.”
Utami lantas tersenyum. “Kalian jangan terbebani ucapan Bunda barusan. Itu hanya sebuah keluhan biasa bagi seorang ibu. Bunda hanya minta kalian untuk sering datang ke sini, itu saja.”
Tak ada yang bisa Mauza dan Sammy lakukan selain memeluknya.
Sammy berkata, “Iya ... iya, kan kami udah janji tadi.”
“Gimana? Apa menantu Bunda ini belum ada tanda-tanda hamil?” tanya Utami kepada Mauza. Dan kini perubahan roman muka Mauza sudah menjadi jawaban pasti, bahwasannya pertanyaan itu belumlah terjadi.
“Sejauh ini apakah sudah pernah diperiksakan ke dokter?” Utami bertanya lagi.
“Sudah,” Sammy menjawab. Beberapa detik terdiam, dia pun melanjutkan, “Tapi aku yang paling bermasalah.”
Sammy memilih untuk berterus terang pada akhirnya. Berharap dapat menemukan solusi.
“Nggak, Sammy bohong, Bun. Orang aku juga punya masalah kok,” Mauza tidak mau Sammy hanya menyalahkan dirinya sendiri. “Bohong dia, Bun! Bukan cuma dia sendiri, orang aku juga punya masalah di ....”
“Sstt! Sudah!” sela Utami memeluk keduanya di samping kanan kiri. “Siapapun di antara kalian yang bermasalah, berjanjilah untuk tetap bersama,” katanya dengan sangat bijak. “Dengan kalian menutupi seperti ini, Bunda jadi bisa melihat seberapa besar cinta kalian.”
Sammy dan Mauza terharu, tidak menyangka bakal mendapatkan respon sebijak ini dari wanita itu.
__ADS_1