
Sebenernya, aku tuh punya novel baru di F I Z Z O dan pengen banget kalian mampir.
Di sana gratis juga, kok.
Begini, ya, sinopsisnya. Gak kalah seru daripada di siniđ
Di sini ada nggak ada lagi kah yang baru, Thor?
Sebenarnya ada lho, tinggal klik aja profil aku. Ada dua novel baru juga di sini.
Di koridor Hotel, seorang pengantin wanita berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki suaminya. Mereka adalah Greta Ilona 25 tahun dan Gavrila Xavier Alden 30 tahun. Tujuan mereka saat ini adalah ke salah satu unit kamar yang akan mereka tempati. Ya, mereka baru saja melangsungkan acara pernikahannya di Hotel ini dan hanya mengundang keluarga inti.
Namun, ada yang aneh pada saat acara pernikahan selesai. Sikap Xavier yang tadinya sedikit hangat, tiba-tiba berubah menjadi dingin padanya dengan alasan yang tidak Greta ketahui. Bahkan egoisnya, saat ini Xavier juga tak peduli dengan kepayahannya karena heels yang dia pakai. Greta dibiarkan tertinggal beberapa langkah cukup jauh.
âXavier, tunggu!â seru Greta memanggil. âXavier!â
Tak mendapat tanggapan dari pria itu, akhirnya Greta pun memutuskan untuk tak memanggilnya lagi.
Terus terang Greta pun heran. Bukan demikian perlakuan yang seharusnya dia dapatkan. Karena biasanya, pengantin pria akan memanjakan istrinya di malam pertama mereka. Tidak perlu menggendongnya sampai ke dalam kamar. Greta hanya ingin Xavier bertindak sedikit peduli. Paling tidak, dia mau membersamai jalannya yang cukup lambat karena alas kaki ini. Ya, sesederhana itu.
âAyolah, lebih cepat lagi jalanmu, Greta!â dia bergumam sendiri.
Tak ingin tertinggal lebih jauh, Greta akhirnya melepas alas kakinya agar bisa berlari mengejar Xavier.
âXavier!â panggil Greta sekali lagi dengan suara yang lebih keras. Sehingga akhirnya berhasil membuat pria itu berhenti dan menoleh.
__ADS_1
âKenapa kamu ninggalin aku?â
âJelaskan, kenapa aku harus menunggumu?â tanya Xavier. Tatap mata pria itu tampak dingin, seperti orang yang hendak menerkamnya. âKamu bisa lihat jalan, kan?â
Greta terdiam. Dia terlalu bingung mendapati jawaban semacam itu. Ini sangat aneh menurutnya. Xavier yang dia kenal adalah Xavier yang cukup hangat meskipun tidak seramah orang-orang kebanyakan.
âMalah bengong. Nunggu siapa di situ? Cepat masuk!â titah Xavier setelah membuka pintu yang ada di depannya menggunakan cardlock.
Ah, saking kacaunya, Greta sampai tak sadar mereka sudah sampai di kamar yang mereka tuju.
Tanpa banyak bertanya, Greta langsung menyelundup masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta menghapus make up yang menempel di wajahnya. Pun sembari menenangkan dirinya dari rasa kecewanya atas perlakuan kurang menyenangkan Xavier barusan. Sepertinya, Xavier sedang emosi. Greta memaklumi hal itu karena emosi bisa dipicu dari rasa lelah atau stres setelah bertemu dengan banyak orang.
Usai membersihkan diri, Greta pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja begitu. Tidak mungkin dia betah tidur dengan masih mengenakan kebaya pengantin.
Greta langsung tertuju pada Xavier yang sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi menelungkup. Melihat demikian, Greta pun duduk di sampingnya, mencoba untuk mendekatinya terlebih dahulu. Siapa tahu, kedatangannya yang sudah segar dan harum kali ini bisa membuat mood suaminya lebih baik.
Menurut pengalamannya, seorang pria akan jauh lebih tertarik jika istrinya memakai baju tidur yang sedikit terbukaâseperti mantan suaminya dulu. Maka dia pun kini melakukannya meski masih dalam kategori âsopanâ.
Kejadian itu bermula pada saat keluarga Om Gading berkunjung ke rumah mantan mertuanya di Bandung. Dalam acara pernikahan Nuna, adik iparnya yang juga merupakan sepupu dari Xavier.
Pada saat itu,
Xavier baru saja memarkirkan mobilnya di seberang jalan. Tetapi karena kurangnya hati-hati saat menyeberang, membuat Xavier hampir saja tertabrak mobil pick up besar. Beruntung pada saat itu, ada Carol yang menyelamatkannya. Sayang, gerakan pria itu kurang cepat saat mendorong Xavier sehingga malah dirinya yang tertabrak.
Berniat menyambut sepupunya, tapi Carol malah justru mengantarkan nyawanya sendiri ke dalam kematian. Ya, dia meninggal tak lama setelah insiden tersebut.
Sebelum meninggal, Carol sempat meninggalkan wasiat pada Xavier. Selain memberikannya sebuah buku diary, dia juga mengajukan permintaan yang tak terduga padanya. Carol menitipkan istrinya pada Xavier untuk dinikahinya karena Greta sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dia yatim piatu, keluarganya telah tiada karena suatu kejadian yang belum sempat dia ceritakan. Rupanya, ada banyak rahasia di sana yang belum terungkap. Dan semua itu berkaitan dengan masa lalu keluarga Xavier juga.
Dan demi sebuah âhutang nyawaâ akhirnya pernikahan pun terjadi setelah masa idah Greta Ilona selesai. Hubungan mereka baik-baik saja sebelumnya kendatipun pernikahan ini bisa dikatakan pernikahan âterpaksaâ. Tanpa sebuah rasa cinta yang seharusnya ada.
__ADS_1
Namun sekarang, sebuah kesalahpahaman terjadi setelah Xavier membaca buku diary milik Carol. Yang menjelaskan bahwa Greta adalah seorang wanita sampah! Wanita yang sama sekali tak layak berada di sisinya; seorang pria yang sempurna dalam segala hal. Dia mempunyai standart yang tinggi untuk itu. Dia merasa dirinya terlalu berharga untuk seorang wanita seperti Greta yang menurut pemahamannya sangat rendah.
Buku diary Carol pun langsung Xavier buang ke tempat sampah saat itu juga. Buku itu sama sekali tak ada harganya seperti nilai wanita itu. Wanita rendahan!
Xavier pun heran, bisa-bisanya Carol memintanya untuk menikahi Greta. Kalau dia sendiri saja mengatakan buruk, kenapa diberikan kepada orang lain? Carol pikir, dia tidak bisa mencari jodohnya sendiri?
Sangat mudah baginya untuk memilih wanita mana saja yang dia inginkan. Masih jomlo di usianya yang ke tiga puluh tahun bukan berarti dia pria yang tidak laku. Xavier hanya masih nyaman sendiri, sebab baginya memiliki cinta itu membuat hidup seorang laki-laki menjadi sedikit ribet.
Kembali kepada mereka berdua.
âVier ....â Entah berapa lama Greta mengumpulkan keberanian untuk memanggil pria itu lagi. Sebab keheningan tidak menyenangkan baginya yang biasa di kelilingi oleh orang-orang yang penuh canda tawa.
Tak kunjung mendapat tanggapan, Greta memutuskan untuk mengajaknya bicara. Batinnya terus meneriaki, âJangan menyerah, Greta. Jangan menyerah! Coba terus sampai dia mau berbicara denganmu. Kamu masih perlu banyak bicara dengannya.â
âKamu mau langsung tidur?â
Pertanyaan yang meluncur dari bibir Greta kali ini sontak berhasil membuat Xavier mengubah posisinya. Matanya menyorotnya tajam, âMaksudmu, kau mau mengajakku tidur, begitu?â
Ah, tidak. Xavier salah paham. Dia hanya bertanya. Tidak mungkin bukan, tidur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu? Gosok gigi, atau cuci kaki misalnya. Kecuali kalau dia memang nyaman begitu ya, terserah. Greta tidak sedang memaksa.
Greta menggeleng. âBukan, bukan gitu maksudnya.â
âHalah, alasan aja. Jangan harap aku akan berbagi ranjang denganmu! Itu nggak akan pernah! Enak aja kamu dapat baru.â
Deg!
Xavier langsung pergi setelah mengatakan hal itu. Tanpa memedulikan Greta yang tanpa sadar telah menjatuhkan air matanya tanpa kedipan mata. Penghinaan ini menyakitkan sekali baginya.
Percayalah, tidak ada seorang wanita mana pun yang mau menjadi seorang janda. Tidak ada. Apalagi dengan keadaan yang Greta alami. Dia tidak bisa memilih. Seandainya bisa, maka Greta lebih baik memilih mati bersama suaminya saja daripada harus menikah lagi dengan orang lain. Carol masih menempati tangga paling atas dalam hatinya. Tidak pernah tergeser oleh kedatangan lelaki manapun.
__ADS_1
Dia kira selama ini hidupnya mudah?
Tidak, Vier ... tidak.