Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Punya Kartu Merah


__ADS_3

109


“Waduh, bawa apaan itu, kok repot-repot segala?” ujar Vita menerima semua oleh-oleh pemberian menantunya.


“Ini oleh-oleh dari Mami. Mami baru aja pulang dari Singapura kemarin, Ma,” jawab Zara, “katanya buat Mama gitu, jadi aku anterin sekalian ada yang mau kami bahas.”


Suara Zara terdengar terengah-engah walau hanya dibawa jalan sekian meter. Kandungannya yang sudah membesar membuat napasnya jadi sedikit sesak. Bahkan lebih besar dari usia seharusnya karena terdapat baby twins di dalamnya.


Keduanya menyalami orang tua mereka sebelum akhirnya duduk di meja makan karena Vita mengarahkan mereka ke sana. Sebab di sanalah terdapat banyak makanan yang baru saja dibuat.


“Ra, aku sama Papa ke belakang,” Ray memberi tahu istrinya, sekaligus meminta tolong kepada adiknya juga, “Dek, nanti tolong buatin dua gelas kopi biasa buat kita, ya!”


“Wani piro?” jawab Mauza. (Berani berapa)


“Kalau nggak mau pecat aja ya, Ra?”


Mauza langsung menyambar, “Eh, jangan dong! Kan, cuma bercanda. Tar aku bikinin, kok.”


Sedangkan Zara hanya tertawa. Dia tahu, Ray juga sedang membalas candaan adiknya.


“Cepet, Dek. Nggak pakai lama!”


“Iya, iya, sabar atuh, Kak. Orang sabar disayang mantan pacar, ceunah!” (katanya)


Rayyan mengkerut saat Mauza menyebut mantan pacar.


Ditatap sedemikian aneh membuat Mauza segera meralat ucapannya agar Ray tak salah paham, “Jangan negatif thinking, Pak. Istri tercinta ini mantan pacarmu, bukan?”


“Kami nggak pacaran,” jawab Rayyan yang tak disangka sontak dibantah oleh sang adik.


“Terus yang peluk-pelukan di belakang rumah waktu zaman baheula? Ketemuan di Cafe sore-sore sama cium-cium tangan?”


Kedua bola mata Ray langsung membola. Beruntung sedang tidak ada dua orang tua mereka di sana. Mereka sudah berlalu sehingga mereka tak sampai mendengar aibnya dari ember bocor ini.


Zara tak dapat menahan gelak tawanya. Ah, ya ampun. Ternyata diam-diam Mauza tukang ngintip. Wah, bahaya nih!


“Itu pengecualian, waktu itu Kakak masih lupa ingatan,” ujar Ray membela diri.


“Whahaha, apa hubungannya? Biar pun lupa ingatan, kalau sentuh-sentuh lawan jenis tetep nggak boleh. Kan udah dikasih tahu kalau itu dosa.” Mauza tertawa mengejek. “Kakak bohong, ih!”


Terlanjur malu, Rayyan pun ngeles dengan cara mencari-cari kesalahan Mauza, “Kamu juga dosa, kenapa kamu ngintip-ngintip orang dewasa?”


“Nggak sengaja lihat.”


“Tapi diterusin?”


“Iya,” jawab Mauza tanpa merasa berdosa.


Sial!

__ADS_1


“Jangan diulangi lagi!” tegasnya.


“Nggak janji.”


Rayyan berdecak, “Usil banget kamu.”


Mauza tersenyum puas. Dia adalah satu-satunya orang yang punya banyak kartu merah kakak-kakaknya. Yang suatu saat bisa ia jadikan senjata jika keuangannya sedang mendesak.


Tetapi mudah-mudahan sih tidak, karena harapannya ... Mauza ingin selalu punya banyak uang agar bisa membeli apapun yang dia mau.


Mauza terlebih dahulu melayani Baginda raja, sebelum akhirnya dia kembali bergabung dengan kakak ipar yang tampaknya akan menyampaikan berita serius.


“Padahal aku juga mau ke sana lho, Kak. Udah mau berangkat malah. Nih udah siap-siap,” ucap Mauza menunjukkan pakaian pergi yang dia kenakan. Dia juga sambil menuangkan minum untuk Zara. “Kerjaanku masih banyak dan deadline nya tepat hari ini.”


“Nanti ikut kita sekalian aja,” jawab Zara. “Harusnya kamu tinggal bareng sama kita biar nggak bolak-balik terus. Bisa ngirit waktu, ngirit tenaga, ngirit ongkos.”


“Nggak enak sama Onti Cantik, ah. Aku orangnya suka riweuh.”


“Nggak enak gimana? Mami aku aja jarang di rumah kecuali weekend. Banyak kamar kosong juga di sana.”


“Coba nanti bilang sama Mama boleh apa engga. Kalau nggak boleh, ya udah di sini aja. Nggak papa bolak-balik juga biar cepet kurus.” Mauza belum bisa memberikan jawaban pasti karena tidak yakin Papa dan Mamanya akan mengizinkannya.


“Jangan dikecilin lagi, Mauza. Segitu mah udah ideal.”


“Iyakah?”


Zara mengangguk, untuk lebih meyakinkannya lagi, dia menambahkan, “Iya, udah bagus begini.”


“Zunaira gimana kabarnya?” tanya Zara karena sudah lama tidak mendengar kabar tentang gadis itu lagi. Tepatnya semenjak tidak ada Sammy di sana.


“Dia udah nggak pernah kedengaran ngeluh-ngeluh lagi. Kayaknya udah betah, deh.”


“Syukurlah,” Zara bernapas lega, “udah berangkat dia ya?”


“Udah dia mah berangkatnya pagi, selalu on time. Supaya nggak pulang terlalu sore juga katanya.”


“Ada apa, kok kelihatannya penting sekali?” tanya Vita menghampiri keduanya setelah menyimpan semua oleh-oleh yang dibawa menantunya ke masing-masing tempat.


Wanita itu menarik kursi dan duduk di sebelah Zara.


Zara menjawab, “Sebenarnya nggak terlalu penting sih, Ma. Hanya mau bahas empat bulanan.”


“Eh, sudah empat bulan, ya? Cepat sekali. Rasanya kayak baru kemarin.”


“Iya, Ma. Zaman sekarang tahu-tahu emang udah begini, udah begitu. Kerasa cepet banget waktunya.”


“Udah terasa bergerak belum?” Vita mengusap perut menantunya.


“Belum terlalu terasa sih, Ma. Baru kayak gelembung air aja.”

__ADS_1


“Kalau empat bulan itu udah bisa tahu jenis kelaminnya belum sih, Ma?” sahut Mauza bertanya.


Vita menjawab, “Sebenarnya sih, sudah bisa. Tapi belum diperiksakan lagi ya, Nak?”


“Belum,” jawab Zara, “sebenarnya aku nggak pengen tahu biar jadi kejutan, tapi Ray udah kepalang penasaran. Kayaknya besok aku cek.”


“Ya sudah, besok Mama anterin. Jam berapa dokter kandunganmu praktek?”


“Jam delapan kayaknya.”


“Biar Mauza yang registrasi in,” sahut gadis itu.


“Rencananya mau di adakan di mana, Nak?” tanya Vita mengenai empat bulanan yang sebelumnya mereka bicarakan.


“Semalem Mami bilang, menjelang akhir tahun ini, beliau lagi sibuk banget. Jadi beliau minta Mama yang mengurus semuanya. Gimana?”


“Kalau begitu, gimana kalau di adakan di sini saja?” Vita menyetujui sekaligus meminta pendapat, “biar Mama sama adik-adik lebih gampang mengurusnya.”


“Boleh, Ma. Aku setuju.”


“Ya sudah, besok Mama mulai persiapkan semuanya, ya.”


Zara mengangguk. Dia sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang begitu pengertian terhadapnya dan menganggapnya sama, layaknya anak kandung sendiri.


Ketiganya membahas rencana tersebut dan apa-apa saja yang mereka perlukan. Dan Mauza lah yang bertugas menuliskan semuanya di kertas.


“Jangan lupa registrasi in aku ke dr. Junita, Mauza,” Zara mengingatkan sekali lagi karena gadis itu lumayan pelupa.


“Oh, iya!” Mauza menepuk kening. Padahal aku yang berjanji aku yang melupai, pikirnya. “Untung Kakak ngingetin. Kalau nggak ... entahlah. Antreanmu besok bakalan panjang.”


Mauza segera mencari ponselnya agar tak lupa lagi. Namun pada saat selesai melakukan pendaftaran, dia tak sengaja menemukan berita terbaru yang lumayan mengejutkan di sosial medianya, tentang kakak ipar.


Zara di katakan tidak amanah oleh salah satu klien yang mengungkap kejelekan sistem jasa endorse nya. Bahkan klien yang bergerak dalam bisnis kuliner itu, menuntut agar uangnya kembali.


“Kenapa, Mauza? Kok mukamu jadi tegang begitu?” tanya Zara karena raut wajah Mauza mendadak berubah pada saat melihat layar ponselnya sendiri, “apa pendaftarannya untuk besok sudah penuh?”


“Bukan itu. Pendaftarannya sudah selesai dan Kakak dapat nomer antrean kedua. Ini ada sedikit masalah lain, Kak,” jawab Mauza seraya menunjukkannya.


“Oh ... udah biasa itu. Dulu juga sering. Dia nggak puas kali sama hasil kerja kita. Ya udah nggak papa, nanti kita kembalikan saja uangnya,” jawab Zara sedang tak ingin ambil pusing. “Berapa sih, jumlahnya?”


“5 jeti, Kak.”


“Ya ampun, cuma lima juta aja ribut. Malu-maluin. Kenapa nggak menghubungi kita langsung?”


“Makanya, aneh kan? Dia malah koar-koar di luar. Bikin emosi aku aja, nih.”


“Balikin secepatnya, ya!”


“Okay, aku beresin sekarang juga.” Mauza gegas menghubungi orang yang mau mencari gara-gara dengan kakaknya itu. Agar masalah berhenti di sini dan tidak berkelanjutan.

__ADS_1


“Tapi kalau masih nggak mau diam juga, fiks dia emang cuma mau pansos!”


__ADS_2