Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Pingsan


__ADS_3

134


“Perempuan, Pa,” jawab Umar setelah beberapa saat.


“Apa katamu? Perempuan?!” kedua bola mata Yudha membeliak, “katakan, orang tua mana yang membolehkan anak perempuannya di datangi seorang pria tengah malam seperti ini?”


Umar diam saja. Sedangkan sang ibu lebih memilih untuk meninggalkan mereka lantaran tidak tega jika harus melihatnya sendiri, bagaimana anak kandungnya di perlakukan, meskipun itu memang kesalahannya.


Dia menyerahkan semuanya kepada sang suami, karena dialah yang lebih tahu bagaimana cara menghukum anaknya yang bersalah. Tak elok jika perempuan juga ikut-ikutan bicara apalagi membelanya. Sebab akan ada banyak akibat jika saja berikut terjadi.


“Jawab Umar?! Anak gadis siapa yang kamu rusak?!” seru Yudha sekali lagi karena lagi-lagi Umar membungkam.


“Kalau kamu menyukainya dan merasa sudah pantas berumah tangga, nikahi perempuan itu! Jangan kamu rusak harga dirinya seperti ini. Memalukan! Kami tidak pernah mengajarimu seperti itu!”


Yudha menegakkan kepala sang anak dengan sedikit kasar, “Ayo, antar kan Papa di mana rumahnya, Papa temani kamu melamarnya!?”


“Paa ....” panggil Mauza di saat yang tidak tepat.


“Apa?” jawab Yudha mengentak. Seharusnya dia tidak bersikap demikian karena Mauza sama sekali tak terlibat. Tetapi dia sedang tak terkendali sehingga pria itu terganggu dengan panggilannya.


“Pa, kasihan Umar, Pa ....” bela Mauza.


“Masuk?!” bentaknya, “jangan ikut campur, Papa sedang mendidik anakku sendiri.”


“Papa kasihan Umar ....” pinta Mauza sekali lagi.


“Sammy, bawa istrimu masuk!” ucap Yudha tak terbantahkan. Tidak ada yang dapat menghentikannya jika dia sedang marah.


Sammy mengiyakan, kemudian memaksa Mauza pergi dari sana. “Ayo, masuk!”


“Sam ....” ronta Mauza menolak.


“Jangan susah dibilangin, Mauza. Tadi udah dengar kan, Papamu bilang apa? Jangan bikin beliau tambah marah.”


Mau tak mau, akhirnya Mauza harus tega membiarkan saudara kembarnya dan melewati mereka.


“Ayo, antar Papa ke sana?!” seru Yudha terdengar memekakkan telinga Umar. Sehingga tak berapa lama, Umar pun mengangguk tanpa ada bantahan dari mulutnya. Bukan dia tak berani, tetapi lebih menghargai bahwa Papa adalah orang tuanya yang harus dihormati melebihi siapapun.


Umar kemudian mengambil kunci mobilnya untuk menuju ke rumah pacar yang selama ini dia datangi.


Setelah beberapa menit mengendara, akhirnya mobil mereka berhenti di depan rumah yang ada di kawasan cukup elite. Tak jauh dari lokasi Cafe V&Y milik mereka. Dan dari sanalah mereka saling mengenal.


“Dengan siapa dia tinggal?” Yudha bertanya saat keduanya turun.


“Sendiri, Pa,” jawab Umar.

__ADS_1


“Pantas,” kata Yudha dan Umar pahami apa maksudnya. Yang jelas, karena perempuan itu tinggal sendiri, maka Umar pun bisa bebas datang kapan saja kapan mau. Tanpa perlu merasa risik.


“Nggak seperti yang Papa pikirkan,” Umar mematahkan anggapan pria itu terhadapnya, “dia jarang pulang, sibuk di tempat pekerjaannya dan ....”


“Siapa?”


“Anaknya,” lanjut Umar membuat Yudha sontak menyela, “apa?! Anak siapa?”


♧♧♧


Kejadian semalam membuat Vita dan Yudha payah hari ini. Pasalnya, mereka berdua harus bersiap-siap untuk menikahkan anak lelaki kedua mereka yang katanya sudah mantap menikah dengan wanita pilihannya.


Tak asal ambil keputusan. Mereka sudah memikirkannya matang-matang dan inilah hasil keputusan paling baik, meskipun harus menikah secara siri terlebih dahulu karena terlalu lama jika harus menunggu semua semua surat-menyurat selesai di urus.


Yudha dan Vita tak ingin terjadi 'sesuatu' yang tak diinginkan di antara mereka yang dapat menimbulkan fitnah dan dapat menyeret nama keluarga. Secara, mereka sudah sering keluar dan bermalam bersama beberapa bulan belakangan.


“Mana peci hitam punya Umar, Ma?” Umar mencari-cari benda itu ke semua tempat, tetapi ternyata tidak ada karena benda tersebut sudah ada di tangan Mamanya.


Umar menghela napas pada saat Mama menunjukkannya. “Kenapa nggak bilang dari tadi, sih? Umar kan nyariin sampai mumet.”


“Sini Mama pakaikan! Bajumu juga kenapa asal-asalan begini? Harus rapi dong, Nak.”


Vita menarik baju yang Umar kenakan untuk dia perbaiki. Sama seperti yang dia lakukan pada Ray ketika anak pertamanya itu menikah.


Ya, Orang tua mana yang tidak terkejut saat mendengar pengakuan anak lelakinya sudah mempunyai kekasih secara diam-diam dan sering bermalam di sana?


Tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menikahkan mereka, kecuali membiarkan keduanya semakin tenggelam dalam kubangan dosa.


“Apa alasan kamu menyembunyikan semuanya dari kami, Umar?” tanya Vita semalam pada saat Umar kembali ke rumah.


Wanita itu sakit kepala. Tak habis pikir dengan perilaku anaknya yang berkelakuan paling random itu.


“Aku takut Mama sama Papa nggak setuju. Sarah nggak seperti keluarga kita. Selain dia sudah pernah menikah, dia juga belum bisa menutup tubuhnya,” jawab Umar akhirnya terpaksa berterus terang.


“Apa kami pernah bicara seperti itu sama kalian? Kalau menurutmu itu baik ya, terserah. Kami nggak masalah. Toh kamu yang akan bertanggung jawab nantinya. Justru dengan kamu sembunyi-sembunyi seperti ini dan selalu mendatanginya tengah malam, itu sama saja kamu merusak harga dirinya. Membuat malu keluarga kita juga kalau orang luar tahu kelakuanmu,” papar Vita dengan uraian panjang.


“Umur berapa anak Sarah?” tanya Vita lagi.


“Kurang lebih tiga tahun, Ma.”


“Anak siapa?”


“Anak dia sama mantan suaminya lah, Ma. Masa sama aku.”


“Udah tahu belum konsekuensinya menikahi seorang perempuan yang sudah punya anak?”

__ADS_1


Umar menangguk. Dia merasa tak terlalu berat menikahi Sarah, sebab hak asuh anak jatuh ke tangan mantan suaminya dan sudah memiliki ibu tiri. Sarah hanya menemuinya saja di waktu-waktu tertentu.


“Mama tanya sekali lagi, Umar. Apa kamu sudah yakin?”


“Yakin,” jawab Umar pasti.


Oleh karena sebab itulah, mereka bersiap-siap pada hari ini. Menuju ke rumah Sarah setelah semalam merencanakan semuanya secara mendadak.


Semua keluarga serentak ikut, terkecuali Abah dan Umi lantaran Umi sedang sakit. Bahkan beliau sudah susah untuk sekadar berjalan.


Zunaira terpaksa mengajukan cuti dadakan, dia duduk bersama Mamanya di tengah. Sammy dan Mauza di belakang, Yudha dan Umar di depan. Mempelai lelaki itu menyetir sendiri. Sementara Zara dan Rayyan sendiri menyusul dengan mobil lain setelah Yudha share lokasinya.


“Pelan-pelan dong, Mar. Mentang-mentang dah nggak sabar mau nikah lu jadi terbang begini. Aku takut,” ucap Mauza mengomentari cara menyetir kembarannya yang asal sruduk.


“Akhirnya ada yang protes,” sahut Zunaira. “Nai tadi mau ngomong supaya Kak Umar lebih ati-ati nyetirnya.”


Vita pun ikut menyahuti, “Pantas kalau setiap mobil yang dipakai sama Umar cepet masuknya ke bengkel. Dah pada tahu kan, gimana cara bawanya? Lagian, Papa malah biarin dia nyetir sendiri.”


“Aku lagi malas,” jawab Yudha, “Sammy ajalah Sam!” titahnya menunjuk Sang Mantu, “anak curut ini lagi kumat kayaknya.”


“Sembarangan kamu, Pa. Aku yang ngelahirin, lho!” Vita memberengut. Sedangkan yang lain menahan tawa setelah mengetahui bahwa Yudha adalah bapak curutnya.


“Canda ....”


Tanpa mengatakan apapun, Umar dan Sammy berganti posisi. Mobil kembali berjalan dengan pembawaan yang lebih halus.


Semua biasa-biasa saja pada awalnya hingga mereka tiba di rumah Sarah. Pun dengan mobil Rayyan dan Zara yang tiba beberapa menit setelahnya.


Namun pada saat mereka tiba, disitulah keanehan mulai muncul.


Sarah tak kunjung menyahuti apalagi muncul dari dalam rumahnya setelah Umar ketuk pintunya selama beberapa kali. Semua nomornya pun sudah tidak aktif lagi saat dihubungi.


Dan yang lebih parah dan membuat Umar lebih panik lagi adalah, saat tetangga sebelah mengatakan jika Sarah sudah pamit pergi subuh-subuh.


“Ke mana, Bu?” tanya Umar segera.


“Katanya sih ke Turkey, ke rumah Papa kandungnya.”


Belum sempat Umar bertanya lagi, wajah Umar sudah memucat dan tubuhnya berangsur-angsur melemah. Detik berikutnya tubuh anak itu limbung dan tak sadarkan diri.


“Umar?!” pekik mereka bersamaan.


Apa ini pertanda bahwa Umar tak berjodoh dengannya?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2