Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Salah Menilainya


__ADS_3

Bab 18.


Zara langsung melempar tas mewahnya dan merebahkan tubuhnya di atas sofa begitu dia sampai rumah. Tak peduli dengan apa pun lagi, dia meminta Grace untuk segera pergi darinya dengan kurang sopan. Kepalanya sangat pening memikirkan ke mana dia harus mencari calon suami yang sesuai dengan kriterianya. Tapi dalam waktu dekat.


“Aku nggak mau nyari asal-asalan. Takut salah pilih terus akhirnya aku malah dimanfaatin sama dia,” Zara memukul-mukul kepalanya yang tengah buntu, “pusing, pusing, pusing.”


“Kenapa toh, Non?” tanya Bi Yati mendekat, “kalau pusing ya minum obat. Bukan malah dipukul kepalanya.”


“Aku mau cari calon suami, Bi. Bibi punya anak atau keponakan yang ganteng, nggak? Tapi yang lulusan sarjana kalau bisa.”


“Boro-boro sarjana, Non. Orang kampung mah masih bisa makan saja sudah bersyukur. Memangnya kenapa sih, kok nyari suaminya dadakan. Sudah ada yang menuntut memangnya?”


“Ada,” jawab Zara, “ada tujuannya maksudnya. Supaya aku nggak perlu susah-susah jadi artis lagi... cavek....”


“Menikah itu yang pertama harus berlandaskan cinta, kedua tujuannya untuk beribadah atau menyempurnakan setengah agamanya, bukan karena harta.”


“Tapi aku terpaksa, Bi. Ada harta Papi yang harus aku selamatkan dengan cara aku menikah.”


“Coba Non tanyakan kepada yang lebih pengalaman. Jangan asal menikah saja tanpa jelas tujuannya, takutnya nanti jadi penyesalan. Menikah itu bukan ajang untuk main-main. Urusannya langsung sama Tuhan karena ini berhubungan dengan dunia dan akhirat.”


Namun Zara yang sulit menerima masukan dari orang lain membuat Bi Yati berhenti berbicara. Sebab dilihatnya, gadis ini malah sudah tertidur dengan mulut terbuka. “Owalah, Non. Bisa cepat banget tidurnya. Padahal belum lima menit saya ngomong.”


Tak ingin majikannya tersebut kepanasan, beliau menyalakan AC dan mengunci pintu utama agar tidurnya tak terganggu.


°°°


“Gimana? Nyaman tidurmu hari ini, Dah?” tanya Umi Tatum pada saat mereka sarapan pagi, “pasti tidak,” kekeh beliau.


Rayyan tersenyum kaku. Meski niatnya hanya bercanda, tetapi ada rasa jengkel di hatinya. Sebab perkara demikian memang tak layak untuk digunakan bahan bercandaan. Hubungan suami istri adalah urusan paling rahasia karena Rasul pun melarang siapa pun mengatakannya—dari satu mulut ke mulut yang lain. Karena itu sama saja sengaja bertelanjang di depan mereka.


Terlihat Kyai Mohd Noor menyenggol istrinya dengan siku tangan, “Sstt.”


“Hanya bercanda saja, Abi,” balas istrinya menanggapi hal tersebut.

__ADS_1


Hamidah sendiri hanya samar tersenyum sembari menaruh makanan ke piring seorang pria yang baru satu hari ini menjadi suaminya.


“Tumben sepagi ini kamu sudah siap, Nak,” kata Abi melihat pakaian tak biasa putrinya. Sebab andai di rumah, Hamidah hanya memakai baju rumah saja. Bukan gamis seperti yang tengah dia pakai sekarang.


“Kami mau beli furnitur untuk apartemen barunya Kak Ray, Abi.”


“Apartemen kita,” Rayyan meluruskan kalimat istrinya.


“Apa kalian tidak mau tinggal di sini lebih lama?” Abi bertanya lagi.


“Mungkin anak kita lebih nyaman tinggal berdua kali, Bi,” sahut Umi Tatum.


Rayyan menyela, “Kami hanya tidak ingin merepotkan kalian. Karena sekarang, Hamidah sudah menjadi tanggung jawabku, Abi, Umi....”


“Sebenarnya tidak ada yang merasa direpotkan karena kalian adalah anak kami. Lagi pula, Hamidah satu-satunya anak perempuan yang Abi miliki. Tapi jika keputusan kalian ingin tetap mandiri, kami akan dukung,” ujar Abi berkata bijak, “tapi kalau kalian butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk meminta tolong.”


“Siap Abi terima kasih. Insyaallah kalau untuk saat ini kami bisa melakukannya berdua saja.”


“Baiklah, semoga kalian dimudahkan dalam hal apa pun.”


Siang itu, keduanya menuju ke sebuah toko furnitur dan dekorasi rumah terdekat, lalu memilah-memilih apa-apa saja yang mereka butuhkan untuk kemudian mereka pindahkan ke apartemennya sendiri.


“Kamu mau ranjang yang ini, atau ini?” tanya Hamidah pada sebuah set ranjang besar yang berukuran king size atau 200x200.


“Jangan terlalu besar, apartemenku kecil. Yang ukuran sedang saja biar kamar kita nanti bisa lebih banyak ruang yang kosong.”


“Tapi daripada kita beli-beli lagi, Kak. Ke depannya pasti kita akan memerlukannya karena kita akan punya anak.”


“Masalahnya, apartemen kita kecil. Ranjang ini terlalu banyak makan tempat.”


“Tapi aku mau yang ini, Kak," bantah Hamidah lalu mengalihkan perhatiannya ke pegawai toko, "Ah, sudahlah, aku pilih yang ini, Mbak. Tolong dicatat.”


Rayyan tertegun, ia merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Oleh karenanya, dia lebih banyak diam karena tidak mau diperlakukan seperti tadi lagi. Rasanya ... jangan ditanya lagi. Ia sangat malu sekali kepada semua orang yang memperhatikannya. Sebab ia sangat dihormati oleh semua orang di mana pun dia berada—namun di sini, dia di tampik oleh istri sendiri.

__ADS_1


“Kamu beli saja semua yang kamu mau. Aku tunggu di sana,” ujar Rayyan menunjuk ke kursi tunggu. Menjauh sejenak adalah cara yang benar untuk meredam emosi.


“Baru sebentar saja kamu sudah capek,” ujar Hamidah membuat Rayyan membatin, lebih tepatnya capek dengan ulahmu. Sebab dia mau mengatur semuanya sendiri tanpa ingin melibatkannya dalam membeli keperluan mereka berdua. “Ya sudah kalau kamu mau ke sana. Pokoknya kamu terima beres, okay?”


Rayyan mengangguk. Lantas pergi ke tempat yang dia inginkan, yaitu duduk di sofa panjang yang disediakan oleh umum untuk mereka yang menunggu seperti dirinya. Membiarkan Hamidah memilih sendiri apa yang dikehendakinya, karena dia menganggap dirinya paling tahu kebutuhan mereka.


Namun tak berapa lama, matanya tertuju ke sebuah televisi yang menggantung di dinding. Sebenarnya, bukan benda itu yang ingin dia lihat—melainkan gambar layar yang menayangkan sosok Zara Angel di sebuah podcast. Di sana, Zara Angel duduk di depan pewawancara dengan kedua bola mata berkilauan. Seperti gelembung air.


“Pada saat kejadian, sedang apa dan bersama siapa Anda pada saat itu?”


“Saya dan manajer saya pada saat itu ada di kamar Hotel. Tapi bukan berada di dalam seperti yang diberitakan ke beberapa media. Karena tepatnya kami sedang mengobrol di ruangan lain, sebab tipe kamar yang disediakan oleh pihak agensi itu adalah tipe presidential suite. Kebetulan baru-baru ini polisi juga sudah mengkonfirmasikannya. Ada, kok videonya,” urai Zara dengan tenang dan sangat gamblang. Pewawancara ini dikenal sangat baik dan tidak terkesan menekan lawan bicaranya sehingga mereka tidak merasa di intimidasi. Mungkin inilah sebabnya Zara mau hadir di tempat ini.


Zara juga menceritakan, di saat waktu yang bersamaan pada saat penggrebekan, mereka justru digelandang ke kantor polisi dengan seorang yang belakangan ini diketahui adalah seorang muncikari. Ya, dia mengetahui setelahnya saat diperiksa oleh tim penyidik.


“Baik. Tapi, apa Anda tahu, kenapa harus bertemu di sana? Bukankah bisa bertemu di kantor atau di tempat lain?”


“Kami pun sudah berkomunikasi dengan pihak sana dan berusaha menolaknya karena kami menganggap, ini terlalu berlebihan kalau hanya untuk mengadakan sebuah pertemuan. Tapi mereka mengatakan, mereka akan tiba lebih lama karena mendadak ada urusan yang sangat penting. Sehingga berinisiatif memesankan kamar tersebut," papar Zara menjedanya sejenak, "yang membuat kami percaya bahwa itu benar mereka—nomor ini sudah sering mereka gunakan untuk menghubungi kami melalui Grace, manajer saya.”


“Lalu setelah kejadian ini, apakah mereka mengakui bahwa itu perbuatan mereka?”


Zara menggelengkan kepala, “Ini yang membuat saya menduga adalah sebuah jebakan.”


“Apa yang ingin Anda lakukan setelah tahu siapa pelaku sebenarnya?”


“Saya nggak tahu dan nggak mau mencari tahu siapa orangnya demi sebuah ketenangan.” Zara tersenyum. “Saya menganggap masalah ini sudah selesai dan nggak perlu ada yang dibahas lagi. Dan saya pikir, saya juga nggak akan menjelaskannya di mana pun kecuali di sini.”


Pewancara itu tersenyum. Terlihat bangga dengan acara yang dibawakannya, “Setelah kejadian itu, bagaimana respon orang-orang di sekeliling Anda?”


“Yang pasti berbeda. Tapi seperti apa pun mereka sekarang, saya nggak peduli karena dia yang mengenal saya, pasti akan tetap berada di samping saya.”


“Saya yakin Anda adalah wanita yang tegar, tegas dan sangat hebat dalam menghadapi suatu masalah.” Pewawancara tersebut memujinya dengan tulus.


Tayangan berganti berita lain, menyisakan kecemasan seorang lelaki yang tengah menatapnya dalam kesukaran. Rayyan mengira apa yang diucapkan oleh Zara barusan adalah sebuah kebenaran—terlihat dari sorot matanya yang menyiratkan kesedihan yang luar biasa perih. Lantas jika demikian, apa selama ini dia salah menilai?

__ADS_1


Salahnya, dia tak pernah menanyakan sendiri berita tersebut sebelum ia ikut menghakiminya juga seperti manusia-manusia yang lain.


__ADS_2