
“Kenapa?” tanya Cici yang heran dengan sikapnya, “ada yang salah sama omonganku barusan?”
“Kamu bodoh,” ujar Fasad tak segan-segan mengatainya.
“Iya, aku bodoh. Bahkan saking bodohnya, aku selalu menerima sepenuhnya kamu yang selalu menyakiti aku,” balasnya tak kalah tajam, “ayolah, kita juga akan bahagia dengan kehidupan kita sendiri. Dia pun udah mengharap kamu lagi dan menyerahkan kamu ke aku sepenuhnya.”
“Yang aku tanyakan, kenapa kamu sampai nggak tahu-menahu berita sebesar ini?!” bentaknya lagi, “ke mana aja kamu selama ini, hah? Punya mata, punya telinga tapi nggak dipake!”
“Kan aku dah jelasin tadi, aku nggak ada urusan lagi sama dia.” Cici tetap tenang menghadapi singa yang sedang menggeram ini, sebab emosi tidak bisa dihadapi dengan sikap yang sama pula. “Ayolah, kita pulang,” Cici mencoba mengulurkan tangannya. Tapi sejurus kemudian, Fasad menepis tangannya.
“Okay, aku mau memberitahu kamu sesuatu yang aku lihat beberapa hari lalu saat terakhir kali kami bertemu, di rumahnya,” kata Cici lagi sesaat setelah menghela napas dalam, “aku memang menemukan keanehan di rumah Zara dan nggak tahu kenapa, dia melakukan briefing dengan teamnya di waktu malam hari. Waktu yang seharusnya sudah digunakan untuk semua orang untuk beristirahat.”
Jeda sejenak, dia melanjutkan, “Ruang tamunya dibersihkan. Mungkin ruangan itu yang akan dijadikan tempat acara lamarannya. Ini hanya dugaanku saja, tapi kemungkinan besar itu memang benar karena sekarang Ustaz Ray sudah menduda.”
“Nggak berguna berita kamu, semua itu sudah terjadi!” lagi, Fasad membentaknya sesuka hati di tempat umum seperti ini seolah tak peduli ada banyak pasang mata yang melihatnya, penuh tanya.
“Lantas apa untungnya buat kamu, Fa? Kamu pun aka bahagia denganku. Aku sudah memberikan semuanya.”
“Tujuanku menikah hanya untuk balas dendam. Supaya Nyonya Miranda tahu yang namanya kehancuran. Tapi rencana itu sudah gagal sekarang, jadi nggak ada gunanya kita melanjutkan rencana pernikahan sialan ini!”
“Fasad! Berhenti!” seru Cici dengan perasaan hancur berkeping-keping. Dia tak ubahnya seonggok daging yang tercabik-cabik oleh kuku sang mangsa. “Kamu nggak bisa seenaknya begini, kita sudah merencanakannya hampir delapan puluh persen ...” dia merendahkan suaranya di akhir kalimat, “bahkan bukan hanya itu, kita sudah tidur bersama.”
“Salah sendiri, kenapa kamu jadi perempuan murahan! Baru di iming-imingin sedikit, langsung mau. Makanya jadi cewek jangan bodoh! Jangan murahan! Zara nggak pernah seperti itu.”
Deg.
Cici merasa hatinya bertambah sakit. Air matanya pun akhirnya menyembur keluar membasahi pipi. Dan dengan sisa keberanian yang dia miliki, Cici kembali berujar, “Aku memang bukan Zara, Fa. Aku seperti ini karena aku mencintaimu dan atas semua yang aku lakukan, kamu akan janjikan sebuah pernikahan. Aku hanya seorang perempuan yang sudah lama seorang diri. Statusku yang sudah menjanda membuatku berpikir kita berada di posisi yang sama. Dengan harapan, bisa sama-sama saling menerima keadaan masing-masing. Ternyata aku salah menilaimu. Kamu hanya seorang pengecut!”
__ADS_1
Uraian panjang Cici menjadi percakapan terakhir mereka. Sebelum akhirnya Cici mengembalikan ponsel Fasad dan lekas-lekas pergi dari sana sendiri.
Cici sudah terlanjur kecewa dengan sikap calon suaminya yang plin-plan itu. Kali ini, dia berjanji untuk tak mengemis agar Fasad tetap melanjutkan pernikahan ini. Sebab Cici yakin, laki-laki yang baik akan bertanggung jawab dengan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Apalagi yang namanya komitmen.
Fasad sendiri pun masih berdiam di tempat. Dia sangat kecewa karena rencananya sudah dipatahkan mentah-mentah oleh kenyataan yang ada. Sial! Batinnya terus merutuki.
Di tempat lain, ada sepasang calon pengantin dan beberapa bridesmaid nya yang tengah melakukan gladi resik.
Tepat di Hotel GH Jakarta Pusat, Zara tengah di latih bagaimana caranya membawa diri di acara pernikahannya nanti. Masih lumayan lama sebetulnya, namun mereka diharuskan datang hari ini. Sebab mumpung semua orang tengah libur karena tanggal merah, ada hal lain yang harus kembali dipastikan mengenai konsep dekorasi yang mereka pilih. Sesuai atau tidak dengan keinginan mereka sebelumnya. Demikian kurang lebih.
“Ya, seperti itu saja. Jadi cukup simpel, kan? Tapi tetap nggak mengurangi maknanya,” ujar calon MC dari Wedding Organizer yang ditunjuk untuk jalannya acara tulat hari nanti.
Zara sangat menyetujui, “Lagi pula aku malas ganti-ganti pakaian. Pengennya sih, serba cepat. Kebanyakan rangkaian acara cuma bikin capek, mana make up nya juga lama banget,” kata Zara setelahnya.
“Benar, Kak. Beda sama laki-laki, mah tinggal sat-set bedak, semprot parfum langsung tampil memukau.”
“Sudah,” jawab Ray mengangguk sopan. Mereka pun memutuskan pulang di saat hari sudah mulai petang. Kala semua tugas sudah selesai.
Keduanya beriringan masuk ke mobil masing-masing sembari sesekali saling lirik dan tersenyum. Ya, hanya seperti itu saja rasanya sudah sangat mendebarkan. Ah, menyenangkan sekali yang namanya jatuh cinta. Rasanya seperti dunia milik berdua hingga ingin cepat-cepat dihalalkan.
0858 777 666 xx: empat hari lagi, Ra.
Zara mendapat pesan saat dirinya sudah berada di perjalanan.
Zara: iya, nggak bakal lupa. Mangnya kenapa?
0858 777 666 xx: gapapa. Lama sekali, ya ampun.
__ADS_1
Zara: Lagian mau ke mana sih, cepet-cepet?
0858 777 666 xx: kalau udah halal bisa lebih tenang rasanya, Ra. Nggak meong-meongan terus.
Zara: kucing-kucingan kali, ah.
Zara senyum-senyum sendiri saat berbalas pesan singkat. Pun sama dengan lelaki yang ada di seberang sana.
Berbeda dengan seorang wanita lain di suatu tempat yang menangis, begitu melihat dan mendengar gosip terbaru menyangkut mantan suaminya.
Yang dari kemarin minta tercyduk. Eh, beneran kena cyduk ama capturan hengpon jadul Minceu.
Btw makasih, ya. Karena udah mau bekerja sama membocorkan kabar bahagia ini. Semoga samawa dengan pernikahan keduanya ya, Mbak Z.
Satu lagi eike lupa. Semoga gak ada kutukan mantan di acara nikahannya nanti ya, aamiin.
Caption tersebut disertai video mereka berdua yang tampak saling menatap satu sama lain penuh cinta. Berjalan di tengah-tengah ruangan besar yang rencananya akan dijadikan tempat acara pernikahan.
“Padahal aku yang menggugat mu, tapi entah kenapa aku tetap sakit hati. Terlebih ternyata, orang yang kamu nikahi adalah dia yang jelas-jelas masa lalu kamu. Semua semakin jelas kalau kamu itu sebenarnya cuma cinta sama dia, bukan aku. Atau mungkin ... kamu emang hanya pura-pura amnesia biar aku menyerah dan berhenti?”
Perempuan yang bernama Hamidah pun ambruk ke lantai. Dia menyerukan nama Ray sembari menertawakan kekalahannya sendiri.
Hamidah pun bertanya-tanya sendiri. Apakah dulu ... dia yang kurang bersabar dalam menghadapi ujian rumah tangganya?
Bersambung.
Jangan lupa like, share dan votenya
__ADS_1