
180
“Lho? Ardito udah nikah ternyata, By?” Zara memberitahukan kabar ini pada suaminya setelah membaca pesan dari salah satu teman perempuannya, Kalila. “Kok dia nggak ngundang kita? Kayak nggak pernah kenal aja,” sambungnya.
Rayyan mengedikkan bahunya. “Mungkin memang cuma ngundang keluarga dekat. Kapan nikahnya?”
“Hari ini.”
“Sama siapa?”
“I don't know. Kayak diam-diam gitu. Soalnya pengantin perempuannya juga nggak dipublikasikan.”
“Ya udah biar aja. Kita doain aja mereka supaya Sakinah.”
“Hmmm.”
Diam-diam, Ray mencari tahu lewat salah satu teman lelakinya yang kebetulan, menghadiri acara itu. Dan pria itu mengusap dadanya lega setelah tahu, bahwa Ardito ternyata menikah dengan mantan istrinya.
“Semoga setelah ini kamu bahagia dan nggak ganggu keluarga kecilku lagi.”
“Non Zara!” panggil Devi dari pintu yang setengah terbuka.
“Iya, Dev masuk aja,” Zara menjawab. “Kami lagi nggak ngapa-ngapain, kok.”
Devi masuk ke dalam. Gadis itu lega karena di saat yang bersamaan, Rayyan juga meninggalkan ruangan membawa si cantik Arsha.
So, Devi sering merasa tidak enak hati jika dia berbicara di depan pria itu, sama seperti dengan Pak Ruben karena mereka jarang sekali bicara. Kecuali dengan istri-istri mereka saja.
“Non, tadi ada Bu Cici di depan. Tapi nggak dibolehin masuk sama Ibu,” Devi mengadu. Sebab dia tidak tega melihat perempuan yang membawa bayi itu dilarang masuk oleh security.
Kening Zara mengerut, “Memangnya dia datang sama siapa?”
“Sama bayinya aja, Non.”
“Mami kok nggak bilang-bilang dulu sama aku,” kata Zara tak habis pikir. “Udah pulang belum dia?”
“Kurang tahu, Non. Orang kejadiannya baru banget. Saya langsung lari ke sini. Tapi Non jangan bilang-bilang ke Ibu kalau saya yang ngasih tahu, ya.”
Zara mengangguk. “Makasih, Dev.”
Devi keluar setelah itu. Zara pun demikian, dia meninggalkan Arka sejenak untuk mengetahui lebih lanjut apa sebenarnya yang terjadi di bawah sana.
“Mau ke mana kamu, Nak?” tanya Miranda begitu memergoki anaknya menuruni tangga, “kalau butuh apa-apa kan tinggal kasih tahu, nanti biar Mami yang ambilin.”
__ADS_1
Zara mengalihkan soal, “Katanya tadi Cici ke sini, Mam?”
Kedua bola mata Devi melebar dan hampir keluar. Dia langsung deg-degan. Takut sekali andai Non Zara mengatakan bahwa dirinya lah yang baru saja melaporkannya. Please, Non. Please. Aku masih ingin hidup. Batin Devi ketar-ketir.
“Orangnya kirim pesan ke aku tadi. Tapi malah di usir.”
Huffttt ... Devi sudah bisa bernapas lega. Gadis itu langsung ngibrit ke belakang. Aman, Dev, aman.
“Mami ngusir Cici bukan tanpa sebab, Sayang. Ini demi kebaikanmu. Mami takut dia datang ke sini untuk berniat jahat. Dia itu pengkhianat,” kata Miranda berterus-terang. “Kamu dikhianati. Mami pernah hampir dibunuh. Jangan pernah lupakan musibah yang pernah terjadi sama kita. Dua-duanya itu sama saja.”
Kedua orang itu adalah Cici dan suaminya, Fasad. Miranda ingin Zara tetap waspada karena tidak ada yang bisa menjamin, kedua manusia tersebut telah benar-benar berubah.
Zara tetap berpendapat lain, “Tapi itu dulu, Mam. Sekarang Cici udah berubah.”
“Siapa yang bisa menjamin dia berubah? Yang tahu dia berubah cuma dirinya sendiri sama Tuhan.”
Jangankan untuk berteman. Wanita ini kalau sudah pernah dikecewakan, dia sudah tidak mungkin bisa menaruh kepercayaannya lagi. Mereka sudah dicoret dari daftar hidupnya dan akan memberinya batas sejauh mungkin. Zara hafal sekali bagaimana sifat maminya itu.
“Kasihlah Cici kesempatan, Mam. Jangan ditekan juga. Kasihan, mereka orang susah. Mereka sekarang hidup di kontrakan sempit. Yang lalu, udah biarin aja berlalu.”
Miranda tampak menghela napas. Meskipun keberatan, dia terpaksa mengiyakannya demi sang anak. Miranda memanggil Devi kemudian.
“Iyaa Buuuu!” jawab gadis itu berlarian.
Gadis itu kembali keluar untuk menjalankan perintah. Namun sayang, saat baru melangkah beberapa meter, Devi kesandung kakinya sendiri hingga terjatuh. Dia sempat menoleh untuk melihat bagaimana mimik muka kedua perempuan itu sekarang, kemudian meringis. “Jatuh, Bu,” ucapnya lantaran tak bisa mengatakan hal lain lagi.
“Iya, yang bilang kamu terbang siapa?” balas Miranda. Huh, kejam.
Zara menahan sakit di jahitannya karena lagi-lagi harus menahan tawa. “Lain kali lebih hati-hati lagi ya, Dev. Jatuh ke marmer itu nggak seindah jatuh cinta.”
Malah dibercandain, pikir Devi.
“Iya, Non. Jatuh ke marmer itu sakit,” gadis itu memperjelas.
Devi berjalan keluar dengan kaki agak pincang. Namun sia-sia saja Devi berlarian ke depan sampai dia terjatuh-jatuh. Sebab sesampai di sana, Cici sudah keburu naik taksi.
Devi kembali ke dalam untuk menyampaikan berita tersebut kepada kedua majikannya. Kali ini Zara saja yang merespon, “Apa mau dikata kalau orangnya udah pergi? Biar aku yang telepon dia aja nanti.”
Zara mengambil makanan di meja sebelum akhirnya dia kembali ke atas. Menemui anak-anaknya yang selalu dia rindukan meskipun ia selalu berada di dekatnya.
♧♧♧
“Kamu habis dari sana?” tanya Fasad kepada Cici pada saat wanita itu baru saja tiba di rumah.
__ADS_1
“Iya, Fa,” jawab Cici.
“Ngapain?” Fasad terlihat tak suka. Untuk apa Cici dekat-dekat lagi dengan keluarga itu?
“Aku cuma ingin menjenguknya saja.”
“Tapi di usir?” tebakan Fasad sangat tepat karena detik berikutnya Cici mengangguk lesu.
Fasad menegaskan, “Sudah berapa kali kubilang, jangan berhubungan lagi dengan keluarga mereka. Urusi saja hidup kita bertiga, Ci!”
“Maaf ... kadang aku juga rindu berteman. Tapi nggak ada yang mau berteman denganku lagi setelah aku jatuh miskin. Aku sedih.”
Fasad mengambil anak lelakinya yang ada di pangkuan sang istri. Berinteraksi dengan sang anak ditengarai dapat menurunkan emosinya yang kini tengah mencuat.
Ya, mereka sudah resmi menikah begitu Cici melahirkan anak mereka kurang lebih satu bulan yang lalu.
Mereka hidup sederhana di sebuah kontrakan setelah rumah ibu Tia terjual untuk membayar pengobatan rumah sakit. Namun sayang, nyawa tak bisa dibayar dengan sebanyak apapun uang yang mereka miliki. Beliau telah tiada.
Fasad sudah jauh berubah setelah dia mempunyai anak. Dia ingin menjadi ayah yang baik. Tidak seperti Apà nya dulu yang sering menyiksa anak dan istrinya sehingga menyebabkannya demikian.
Hanya saja, Fasad tak bisa menghindar total pekerjaan gelapnya. Dia merasa bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya dan apapun akan dia lakukan untuk itu. Sembari menunggu lamarannya diterima.
Beruntung, Cici memahami keadaannya tersebut asalkan Fasad tak melibatkan serta perasaannya. Dan tetap menjadi seorang lelaki seutuhnya.
“Sudahlah, nggak usah sedih. Roda kehidupan pasti berputar.” Fasad mengusap punggung jari Cici. Wanita yang sangat sabar merawat ibunya, setia menemaninya berobat sampai dia dinyatakan sembuh. Dan senantiasa menerima seperti apapun keadaannya. Fasad beruntung mempunyai wanita itu.
Demikianlah yang membuat Fasad berat untuk meninggalkan Cici meskipun belum ada cinta untuknya. Satu hal yang pasti, dia hanya tak ingin, anaknya tumbuh besar tanpa sosok ayah. Fasad tidak mau kesengsaraan dirinya dulu kembali terulang pada anak ini.
Mereka sama-sama tak punya siapa-siapa lagi. Begitulah yang membuat mereka bertekad untuk bersatu agar keduanya saling memiliki.
“Daripada sedih begini, mending kita keluar jalan-jalan, yuk!” ajak Fasad.
“Serius?” kedua retina Cici membesar, menandakan bahwa ia menyukai ajakannya.
“Iya.”
Lihatlah. Sesederhana itu membuat wanita bahagia. Tak perlu mengajaknya ke tempat-tempat yang mewah. Cuma duduk di taman dan jajan di pinggir jalan saja sudah cukup membuat mood wanita berubah ceria lagi.
“Makasih, Fa. Kamu perhatian sekali. Aku jadi semakin mencintaimu.”
“Aku juga,” balasnya berdusta.
Bersambung.
__ADS_1