Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Apa Foto Ini Bisa Menjawab Semua?


__ADS_3

54.


“Iya, Mami lagi di RS,” kata Zara menjawab singkat sederet pertanyaan Cici barusan.


Tadinya dia ingin marah, atau memperlakukan Cici dengan buruk karena telah berani mengambil Fasad darinya secara diam-diam. Tetapi setelah melihat wajahnya seperti ini, entah kenapa niatan itu lenyap begitu saja.


Sangat wajar jika ia merasa demikian, sebab Cici telah merampas kepercayaannya. Mematahkan keyakinannya selama ini, bahwa Cici adalah teman yang paling baik dan mengerti dirinya.


Pantas saja Ardito pernah mengatakan bahwa Fasad tahu semua hal tentangnya. Ternyata Cicilah mata-matanya. Dia yang mengatakan semua kepada pacarnya itu!


Cici kembali berujar, “Maaf, ya. Aku ganggu kamu malem-malem. Mana lagi sibuk lagi. Sorry ya, temen-temen.”


“Gapapa, Ci ....” jawab semuanya serentak.


“Lagi ada pemotretan, atau ada acara apa?”


“Nggak ada. Hanya briefing aja,” jawab Zara segera.


“Gimana kabar Mami kamu sekarang?”


“Em, sebentar ya, Ci. Kita mau selesein urusan kita dulu. Baru setelah itu kita ngobrol. Nggak lama.”


“Oh, okay-okay. Sorry aku ganggu terus.” Cici pamit undur diri. Dia pun menuju ke ruang tengah, duduk di sana untuk menunggu hingga Zara selesai melakukan briefing nya.


“Eh, ada Kak Cici ... kapan datang?” Devi yang tak sengaja melintas lantas bertanya.


“Baru aja sampe, Mbak Dev ....”


“Mau minum apa, tar saya bikinin.”


“Nggak usah ... orang cuma mau mampir bentar doang, kok, Mba.”


“Nanti kalau haus bilang aja, ya. Atau kalau mau ambil sendiri silakan, ada di kulkas sebelah sana. Di situ minuman apa pun ada,” tunjuknya ke arah dapur bersih.


“Iya, gampang. Kan, dah biasa ke sini.” Tapi kini fokus Cici tertuju kepada barang-barang yang berserakan di pojok dekat tangga, “Ini kayaknya bunga-bunga sama guci-guci yang ada di ruang tamu, deh. Sengaja di beresin, Mbak? Atau mau ganti desain ruang tamunya?”


“Oh, ini memang sengaja dibersihkan. Soalnya kata Si Non, ruang tamunya mau dipakai buat acara,” jawab Devi demikian. Sebab ia tidak tahu acara apa yang dimaksud oleh majikannya.


“Acara apa, ya?” tanya Cici keheranan, “pemotretan atau acara syukuran Bu Miranda sembuh kali, ah.”


“Duh, nggak tahu, Kak... tapi kalau acara syukuran, pasti sekarang saya dah disuruh mulai masak-masak.”


“Ya ... siapa tahu katering.” Cici menduga-duga.

__ADS_1


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Zara menyusulnya ke dalam menemui Cici.


“Dah selesai?”


“Udah. Kalau mau nyantai, nyantai aja, Ci. Aku sambil siap-siap otw ke RS soalnya,” kata Zara naik ke atas.


Tak mau tertinggal, Cici pun mengikutinya, “Eh, aku ikut, dong. Aku mau jenguk beliau juga. Lagian kamu dari kemarin di telepon nggak diangkat, di chat juga nggak dibaca. Kenapa? Dah punya temen baru kamu, sekarang?”


Aku salut sama percaya dirimu.


“Aku sibuk, Ci. Banyak kerjaan. Mami juga sakit,” Zara beralasan.


“Ya udah, kamu siap-siap aja. Ada yang mau aku bantu?”


“Nggak usah, barang-barang yang mau aku bawa udah disiapin semuanya sama Devi. Aku cuma mau ganti baju sama touch up doang.”


“Okay....” sembari menunggu, Cici berkeliling kamar yang sangat luas itu untuk melihat-lihat semua barang yang ada di sana, terutama foto-foto yang diletakkan di atas lemari sedang.


Di sana terdapat foto foto Almarhum Om Purnawirawan. Sangat gagah dengan balutan jasnya di masa lampau, tengah menggendong anaknya sewaktu masih kecil. Sudah dipastikan anak itu adalah Zara yang kini telah menjelma menjadi wanita dewasa dengan begitu banyak keindahan. Sehingga acap kali membuatnya merasa iri.


Tak hanya itu, dia juga melihat foto-foto Fasad dalam tampilan Grace berangkulan dengan Zara. Mereka tersenyum menghadap kamera. Ada pun foto pernikahan mereka berdua yang tengah melakukan akad nikah sederhana dan disaksikan oleh hanya beberapa orang saja. Tetapi tampaknya bukan di rumah ini. Mungkin di rumah yang dulu pernah mereka tinggali bersama.


“Kalian kelihatan bahagia sekali.”


Beberapa menit berlalu, akhirnya Zara keluar dari ruang ganti. Wanita itu memakai setelan berwarna hitam dan hijab yang senada. Setelah itu, berlanjut memakai parfum dan lotion di depan cermin. Tak jauh darinya.


Cici berharap Zara menanyainya atau mengobrol seperti biasanya. Mereka bercanda, atau sekadar membahas masalah-masalah yang tidak penting. Namun kali ini, semenjak ia datang, entah kenapa dia merasa ada yang berbeda.


Zara lebih kaku.


Tak banyak bicara.


Dia seperti menjaga jarak dengannya.


“Kamu kenapa, sih, Ra. Kelihatannya nggak semangat gitu. Ada masalah? Cerita aja, kayak sama siapa.” Cici menawarkan telinganya dengan sukarela seperti yang biasa dia lakukan.


“Masalah aku banyak, Ci. Tapi memang ada hal yang nggak bisa aku ceritain,” jawab Zara tanpa menoleh.


“Tentang family? Atau kerjaan?”


“Sahabat.”


Deg....

__ADS_1


Sahabat?


Cici mengulang dalam hatinya. Terus terang dia amat penasaran, tapi Zara telah memberikan poin di awal. Bahwa ada yang tidak bisa ka ketahui lebih jauh.


“Aku doain, semoga masalahmu sama sahabatmu segera selesai. Biar kamu tenang dan happy lagi.” Cici mendekat dan merentangkan tangannya untuk memeluk. Dan ia bersyukur karena Zara mau menyambutnya. Karena berarti, kekesalan perempuan ini tak mengarah padanya.


Sedangkan di belakang punggung Cici, ada beberapa tetes air mata Zara yang jatuh langsung ke lantai. Cepat, tapi sangat deras. Namun sebelum mereka merenggangkan pelukan, Zara cepat-cepat menghapusnya.


“Udah, yuk, berangkat. Aku dah telepon Pak Heru suruh nyiapin mobil,” Zara mengajaknya turun. Tetapi anehnya, wanita itu tak kunjung beranjak karena dia menatap Cici begitu lamat dan berkata serupa orang yang tengah menghakimi.


“Kembalikan Fasadku, Ci.”


Raut wajah Cici sontak berubah pias. Jantungnya seperti lepas dan terjun dari tempatnya. Membuatnya langsung berpikir sangat keras dan memusat. Inikah yang menjadi buntut permasalahan yang tengah Zara alami?


Apa Zara sudah tahu mengenai hubungannya dengan pria yang dia maksud? Batinnya penuh tanya.


“M-maksudmu?” Cici tak dapat menyembunyikan suaranya yang mendadak bergetar.


Namun senyum Zara kini sedikit melegakannya.


“Fotonya,” ucapnya kemudian.


“Oh?” tatap mata Cici beralih ke bawah. Ternyata ... bingkai foto Fasad masih berada di kedua tangannya.


“Nggak mungkin kan, kamu ke RS bawa benda itu,” sambung Zara lagi, “atau kamu suka fotonya? Boleh kok, kamu bawa pulang.”


“Nggak, nggak. Buat apa aku bawa pulang, Ra. Aku nggak sengaja kali....” Cici menertawakan dirinya sendiri. “Kurang minum, nih. Nggak fokus.”


“Ya, barang kali kamu mau bawa pulang. Buat tunjukkin barang itu ke pacar kamu.”


Deg.


Lagi-lagi perkataan Zara membuat tubuh Cici gemetaran.


“Maksud kamu apa, sih, Ra? Kamu itu aneh banget tahu, nggak....” wanita ini berpura-pura.


“Gimana kabar Fasad sekarang?” tanya Zara tanpa basa-basi, “jujur aja kalau kalian ada hubungan. Aku seneng, kok kalau Fasad lebih nyaman sama kamu, Ci. Tapi tolong jangan diam-diam begini.”


“Ra....” Cici berusaha mengelak, tapi langsung disela.


“Apa foto ini bisa menjawab semuanya?” Zara menunjukkan foto dari ponselnya yang menampakkan mereka berdua tengah berada di tengah koridor. Bergandengan dan saling menatap mesra. “Aku dapat foto akun lovagram kamu yang lain,” sambungnya membuat Cici menangis di tempat.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2