
Bab 24.
“Apa yang selama ini Om ketahui?” Zara bertanya setelah beberapa saat kemudian.
Bukannya menjelaskan, Rudi kini malah memberinya saran, “Perbaiki hubunganmu dengan mereka, maka kamu akan tahu.”
“Aku sayang sekali sama Papi, Om,” isak Zara dengan suara tertahan, “Papi adalah cinta pertama dalam hidupku. Nggak ada yang bisa menggantikan posisinya. Sekalipun Om Ruben sudah berubah menjadi baik.”
“Kematian adalah takdir, kehendak yang Maha Kuasa. Contoh misalnya sepertimu yang pernah melakukan percobaan bunuh diri. Kamu masih selamat dan sehat sampai sekarang dan bisa duduk di sini—itu karena Tuhan yang menghendakimu untuk tetap hidup,” jeda sesaat, Ruji melanjutkan, “ya sudah, lupakan semua itu. Kita kembali ke awal dan sekarang—Om ingin sedikit menjelaskan sesuatu padamu.”
Zara terdiam, sebab menyimak penjelasannya.
“Seperti apa yang tadi Mami Zara katakan, memegang perusahaan itu tak mudah. Om saja yang sudah banyak menelan garam, tak yakin bisa melakukannya.
“Bayangkan ini adalah sebuah pesawat sangat besar yang sedang mengudara. Tanpa di duga, di tengah perjalanan tiba-tiba pilot pingsan oleh karena sebab yang tidak kita ketahui. Posisikanlah salah seorang penumpang yang mereka tunjuk untuk menggantikannya adalah dirimu, sebagai seorang anak dari Sang Pilot tersebut.
“Sekarang Om tanya, apa kamu yakin, kamu bisa mengendalikan mesin sebelum kamu belajar terlebih dahulu? Karena bisa jadi, kamu hanya akan duduk panik dan kebingungan. Belum lagi, banyaknya nyawa beberapa orang sedang yang kamu pertaruhkan pada saat itu.
“Kamu bersekolah di Akademi Film New York. Semua pendidikan yang kamu dapatkan dari sana adalah dunia seni dalam hiburan, bukan bisnis. Om tak sedang bermaksud meremehkan kemampuanmu—sama sekali tidak, karena mungkin suatu hari nanti, kamu bisa menjadi pebisnis yang hebat seperti ayahmu, Pak Purnawirawan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya bukan?
“Tapi, coba pikirkanlah, mungkin perkataan Om ini ada benarnya,” papar Ruji dengan sabar, tersenyum dan kembali merapikan semua dokumen untuk kembali dia serahkan kepada Zara, “masih banyak waktu untuk memikirkannya, Zara. Kamu bisa kembali ke sini lagi di lain waktu setelah mengambil kesimpulan. Dan ini ... selain surat kuasa, Zara tetap bisa menandatangani semuanya—supaya mulai sekarang, semua aset bisa berpindah ke tanganmu.”
__ADS_1
Serta-merta, Ruji menjelaskan kenapa dia melarang Zara untuk tidak menandatangani surat kuasa terlebih dahulu, “Berilah kepercayaan kepada Om Ruben untuk mengurusnya sebelum kamu selesai belajar dan merasa mampu, itu lebih baik. Semua akan terjaga dan Om selalu ada di sini jika kamu masih kurang merasa percaya. Ini hanya pendapat Om saja, boleh tidak Zara turuti kalau pendapat kita bertentangan.”
Tanpa mengatakan apa pun, Zara segera menandatangani semua berkas terkecuali surat kuasa tersebut. Dia pun menarik napas dalam dan keluar setelah itu. Berpamitan dengan Ruji dan meminta maaf atas tindakan keburu-buruannya yang di dorong oleh rasa emosi. Dengan besar hati Ruji memaklumi, Zara melakukannya untuk melindungi peninggalan aset Sang Ayah agar tak sampai jatuh ke tangan orang yang salah.
"Aku juga memahami jiwa mudanya yang masih selalu mengedepankan emosi."
°°°°
“Dengan menikah pun, aku masih belum bisa mendapatkannya,” gumamnya saat mobil mulai membelah jalanan ibukota, “lantas untuk apa aku menikah cepat? Sama Fasad lagi. Aku terlalu geli untuk ML sama dia karena aku merasa kita mempunyai selera yang sama. Ah, sial!” Zara memukul setir mobilnya.
Sebagai wanita dewasa, terkadang, Zara ingin melakukannya. Sangat penasaran dengan rasa yang biasa dicari oleh orang-orang. Bahkan sengaja dibeli jika tak merasakan kepuasan di rumahnya sendiri. Tapi ... Zara ingin melakukannya bersama orang yang dia cintai. Bukan dengan pria setengah matang seperti Fasad.
Untuk menghibur dirinya sendiri dan tak mau merepotkan orang, kali ini Zara memutuskan untuk tak langsung pulang. Dia menuju ke Cafe, lanjut berbelanja ke Mall, kemudian ke Cafe lagi dan malamnya, datang ke kelab malam.
Mencegah Fasad mencarinya, Zara mengirim pesan. Jangan cari aku. Aku lagi senang-senang. Aku pulang sendiri kalau udah capek.
Pesan terkirim. Beberapa menit kemudian centang biru tanpa balasan. Zara tak terlalu peduli, karena yang terpenting, ia telah mengabarinya.
Sesampainya di dalam club, dia merasa seperti orang yang tengah tersasar. Duduk sendiri dengan masih mengenakan pakaian kantor, sangat berlainan dengan semua wanita yang ada di sana—yang rata-rata memakai pakaian minim bahan.
“Sepertinya aku salah kostum,” batinnya setelah menegak beberapa teguk minuman mengandung alkohol. Untuk saat ini dia masih berada dalam kesadaran penuh karena tahu di mana batasnya. Namun pada saat di ajak bincang oleh beberapa orang yang dia kenal—dan mungkin saja lantaran merasa tidak enak, Zara terpaksa menenggak lagi minuman yang dituangkan ke dalam gelasnya, sehingga kepalanya mulai terasa berputar.
__ADS_1
“Kayaknya kamu nggak pernah tampil di mana-mana lagi belakangan ini, Zar. Atau barangkali kamu sedang sibuk di belakang layar?” tanya Kalila, salah seorang teman perempuannya.
“Nggak juga, aku cuma lagi vakum sementara waktu. Aku nggak memperpanjang kontrakku dengan management yang lama,” jawab Zara menahan pusing.
“Oh, mau ganti agensi baru, ya?”
“Mungkin begitu. Tapi nanti, nggak sekarang.”
“Memangnya nggak ribet, Ra? Setahuku prosesnya makan waktu yang cukup panjang. Kirim file, wawancara, belum lagi harus casting-casting dulu, itu pun belum tentu keterima.”
“Kalau yang sudah-sudah, artis yang sudah berpengalaman nggak akan sesulit itu, Kalila.”
“Oh, gitu ya? Baru tahu,” ujar Kalila mengangguk-anggukan kepala, “kamu pulang sendiri nanti masih oke nggak?”
“Masih dong....”
Tapi kenyataannya tak demikian. Di perjalanan pulang, Zara mengalami kecelakaan. Mobilnya menyusruk ke pinggir jalan karena hilangnya konsentrasi saat menyetir. Kepalanya terasa semakin berat dan tak bisa lagi diajak kompromi.
Zara sempat sadar selama beberapa saat dan berusaha memundurkan mobilnya sekuat tenaga. Tapi sayangnya gagal dan matanya kembali terpejam. Bukan karena terluka parah, melainkan rasa pusing yang tak tertahankan. Dia hanya berharap ada orang baik yang mau menolongnya dan mengantarkannya pulang.
Siapa yang akan menolongnya?
__ADS_1