
Bab 34.
Hati suami mana yang tega melihat Sang Istri menangis, terlebih karena ulahnya. Demikianlah yang sedang Rayyan rasakan saat ini. Namun dia tetap meninggalkannya agar perdebatan tak semakin melebar luas. Dia berniat kembali ke dalam kamar ini nanti setelah Hamidah bisa merenungi dan menyadari kesalahannya.
Tak seperti yang dipikirkan oleh orang-orang. Menikah dengan orang yang pandai secara agama, pasti akan adem ayem karena mereka lebih paham dalam menjalani pernikahan sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. Tetapi pandangan itu terbantahkan. Lantaran ternyata setiap rumah tangga mempunyai masalah dan cobaannya masing-masing. Sikap Hamidah yang kekanak-kanakan dan maunya menang sendiri membuat Rayyan lelah mengimbanginya. Pendapat yang berbeda juga sering membuat mereka mengalami perselisihan. Bahkan tak jarang, Rayyan pun diam-diam ikut menitikkan air mata. Sebab hanya dengan cara seperti inilah dia bisa meluapkan kekesalannya, seperti sekarang.
“Pasti ada yang salah. Mungkin aku banyak sekali berdosa, jadi Allah membalasnya lewat istriku,” gumamnya sembari menyembunyikan diri di ruangan lain unit apartemen ini. Hingga malam menjelang, mereka pun tidur di kamar terpisah.
Pagi harinya pun lebih menyedihkan. Rayyan tak menemukan makanan apa pun di atas meja walau hanya sepotong roti. Pakaian-pakaian kotornya juga belum di cuci, yang sudah kering juga banyak yang belum di setrika. Padahal dia memerlukan salah satunya untuk mengajar siang nanti. Dan dia tak biasa memakai baju yang kusut. Meski tak bermerek, setidaknya rapi adalah kesan yang seharusnya orang lain lihat. Apalagi, dia sudah diketahui telah beristri.
“Ya, Tuhan ... dari kemarin dia ngapain aja?”
Padahal Hamidah tak pernah pergi ke mana-mana. Selama menikah, wanita itu memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Meninggalkan semua pekerjaannya yang semula juga sama dengannya, tapi hanya di Ponpes.
Rayyan adalah seorang kakak tertua. Selama ini, dia begitu dimanjakan oleh mama dan adik-adik perempuannya dalam hal apa pun—termasuk urusan pakaian. Kalau boleh berterus terang, dia terlalu kaget kalau harus mengurus dirinya sendiri seratus persen. Belum lagi kesibukan yang dimiliki. Oleh karena sebab itu, Ray mencoba menegur Hamidah yang tengah duduk fokus menatap layar ponselnya. “Aku butuh pakaian untuk kupakai nanti siang. Bisakah kamu menyetrikanya satu setel saja?”
Rupanya wanita itu masih marah. Dia sama sekali tak menggubris pertanyaan itu dan menganggapnya seolah angin lalu.
“Ya sudah, kalau kamu nggak mau. Tolong nanti kalau ada pesanan makanan datang, kamu yang terima. Aku mau belajar,” ujar Rayyan lagi setelah beberapa saat menunggu tanpa tanggapan, “uangnya aku taruh di meja.”
Usai berkata demikian, dia masuk ke dalam ruangan yang terdapat banyaknya buku-buku dan peralatannya bekerja. Belajar sangat membutuhkan konsentrasi dan dia tak ingin diganggu jika sedang melakukannya.
“Apa aku yang harus mengalah lagi?” gumamnya setelah ia duduk, “aku nggak bisa terus seperti ini ... aku Cuma manusia biasa yang punya perasaan.”
Sadar tak bisa marah terlalu lama, siangnya sebelum ia berangkat ke Ponpes, Rayyan berusaha mendekati dan menegurnya lagi.
“Kalau marah itu jangan terlalu lama, nggak baik. Apalagi sama suamimu sendiri,” ujarnya yang lagi-lagi tak mendapat jawaban, “perempuan itu aneh, dia yang salah, tapi dia pula yang marah.”
__ADS_1
“Jangan nyindir,” ujar Hamidah akhirnya membuka suara meski masih menghindari kontak mata.
Rayyan tersenyum, “Hanya seperti itu saja kamu marah. Harusnya kamu introspeksi, aku sampai membentak kamu itu karena apa?”
“Aku cuma ingin mencoba cara lain, setelah cara sebelumnya nggak berhasil. Apa itu salah?”
“Salah, kalau kamu mendiagnosis sendiri penyakit apa yang sedang dialami oleh orang lain. Kita nggak bisa mengklaim suatu penyakit kalau belum menjalani suatu pemeriksaan oleh dokter,” jelas Rayyan sambil mengusap kepalanya yang ditengarai dapat meluluhkan hati perempuan, “jangan gampang menyimpulkan kalau aku ini nggak mau ikhtiar juga. Aku mau ikhtiar juga ... tapi ke dokter, bukan minum sembarang obat. Karena obat yang kamu beli kemarin, meski kemasannya meyakinkan kalau itu obat herbal, kita tetap nggak tahu, itu aman atau engga. Sebab kemarin obat yang kuminum, efeknya bikin jantungku berdebar,” jelasnya membuat Hamidah menoleh cepat dengan melebarkan kedua bola matanya.
“Kenapa kamu nggak ngomong dari kemarin, Kak?” tanyanya segera.
“Sekarang kan, udah. Yang penting jangan diulangi lagi.”
“Ya ampun ... kalau gitu aku minta maaf, Kak. Kalau kamu ngomong dari kemarin aku nggak akan marah.” Hamidah segera meraih tangan Rayyan dan menciumnya dengan takzim.
“Sabar aja, nggak usah terburu-buru. Keluargaku nggak pernah menuntut supaya kita cepat punya anak. Lagi pula, usia pernikahan kita juga baru hitungan bulan.”
“Nggak akan ada habisnya orang-orang itu menggunjing, karena sudah menjadi semacam kebiasaan kalau mereka berkumpul," sela Rayan, "capek kalau harus repot-repot kita pikirkan.”
"Solusinya apa biar mereka nggak berani nanyain aku lagi?" tanya Hamidah heran dengan mereka yang seperti tak punya topik lain.
"Jangan terlalu sering pulang. Pastikan kalau pulang, rumah Abi lagi dalam keadaan sepi."
Hamidah mengangguk. Benar apa yang dikatakan oleh Ray barusan. Sebab dalam hidup ini ada yang tidak bisa kita kendalikan, yaitu mulut kotor orang lain. Maka solusinya, kita yang harus menjaga hati kita sendiri dari semua itu.
Keduanya saling bermaaf-maafan dan Hamidah berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Sementara di tempat lain, seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan berambut agak kecokelatan tengah berada di suatu tempat yang luas. Bisa dikatakan tempat itu adalah kebun pembakaran sampah. Di sana, dia menurunkan kardus berisikan barang-barang perempuan yang biasa digunakannya untuk mengubah penampilan. Satu-persatu, ia masukkan barang tersebut ke dalam kobaran api, yang terdiri dari: wig, pakaian, sepatu, tas, lipstik, dan berbagai macam peralatan make up lainnya.
“Aku janji nggak akan memakainya lagi,” gumamnya begitu api mulai melahap satu-persatu barangnya. “Aku akan menjalani kehidupanku secara normal dan mencari pekerjaan yang sesuai.”
Satu-persatu kenangan seketika hadir berputar dalam pikirannya. Di mana ia mulai berani memakai barang-barang itu hingga suatu ketika ibunya marah besar pada saat beliau memergoki dirinya sedang memakai lipstik.
“Apa yang kamu lakukan?” pertanyaan dengan suara keras itu memekakkan telinganya dan sontak membuatnya gelagapan.
“Nggak, Bu. Nggak ngelakuin apa-apa.” Fasad berusaha menyembunyikan benda tersebut ke belakang punggungnya. Meski merah di bibir tak bisa dia tutupi.
Mata Tia mulai menggenang. Wanita itu mulai mencurigainya semenjak SMA, karena pada saat itu dia menemukan sepasang bulu mata di dalam lemari anaknya. “Kamu itu laki-laki, nggak pantas pakai-pakai seperti ini, Fasad ....”
Melihat Ibu tersedu membuat Fasad ikut nelangsa. Dia bersujud untuk meminta maaf atas perbuatannya yang telah mengecewakan hatinya. Fasad mengakui bahwa dirinya berbeda. Dia seperti terjebak pada tubuh yang salah dan berprotes, kenapa dia tidak dilahirkan jadi seorang perempuan saja?
Ibu mengatakan bahwa siapa dirinya adalah takdir. Tidak akan pernah ada yang bisa mengubah kodratnya, bahkan dokter terhebat di dunia sekalipun.
Sebagai seorang ibu, Tia ingin anaknya sembuh. Dia tak hanya berpasrah karena sudah pernah berkali-kali membawanya ke tempat yang berbeda. Dan jawaban mereka selalu sama, bahwa yang dialami oleh Fasad adalah faktor psikologis. Setelah ditelusuri dengan berbagai pertanyaan, Tia pun akhirnya menceritakan kekerasan yang dialami oleh mereka berdua di masa Fasad berusia kanak-kanak.
Pernyataan ini membuat Tia terus menyalahkan diri karena semua yang terjadi akibat ulahnya di masa lalu. Salah memilih lelaki yang baik untuknya, terutama anaknya sendiri.
Demi tak menjaga hati seorang ibu, Fasad tak pernah lagi menampakkan pakaian femininnya di depan wanita itu. Namun diam-diam, Tia tahu bahwa anaknya masih berbohong. Tetapi baginya, demikian tetap bisa dikatakan lebih baik, daripada dia melihatnya secara terang-terangan karena dapat meleburkan perasaannya.
Kembali ke dunia nyata.
Fasad mengakhiri aktivitasnya. Dia berbalik badan menatap seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum menunggunya di sana. Mereka pun pergi dengan saling berangkulan.
Bersambung.Votenya jangan lupa. Biar tambah semangat nulisnya 🤣
__ADS_1