
158
Hari-hari berlalu. Kini Zunaira dan Andrea telah resmi pindah dari rumah Papa Yudha ke rumah mereka sendiri.
Hubungan keduanya semakin lengket dan sedang dalam fase hangat-hangatnya. Aktivitas mereka masih tak jauh dari ranjang dan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan sebelum menikah, yaitu berpacaran.
Kebetulan, Andre juga tipe lelaki yang ngemong dan selalu bersedia mengantarkan ke mana pun istrinya pergi. Pria itu harus bisa memaklumi. Karena di usia-usia muda seperti istrinya, memang masih senang dengan aktivitas demikian. Sama seperti dirinya dulu.
“Aku ikut seneng lihat kalian gini,” ujar Zara mengomentari keduanya yang sangat kompak di dalam berbagai kesempatan.
Dan komentar barusan ditanggapi dengan ucapan terima kasih dari Zunaira serta senyum samar dari pria itu.
“Abis makan siang di mana?” Zara bertanya lagi.
“Biasa, Kak. Di depan. Barusan aku cobain menu mie tek-teknya. Ternyata enak,” jawab Zunaira.
“Iyakah? Jadi pengen nyobain,” timpal Zara hampir ngiler dibuatnya, “eh, tapi sekarang udah nggak boleh makan sembarangan lagi, ding. Berat badan udah semakin mengkhawatirkan.”
“Berapa memangnya, Kak?”
“Delapan puluh ada kayaknya, nggak pernah timbang lagi. Takut stres.”
“Kak Zara kan, tinggi. Kalau delapan puluh menurutku masih tergolong ideal, lah....”
“Suamiku udah nggak bisa gendong, Nai!” celetuk Zara membuat Zunaira sontak tergelak. Maklum, Rayyan jarang sekali berolahraga. Dia juga bukan tipe-tipe pria yang kuat dan berotot liat. Perawakannya sedang dan pas saja seperti papanya.
“Gimana? Udah ada tanda-tanda?” bisik Zara bertanya. Dia hanya iseng saja pada saat itu. Sebab usia pernikahannya memang sudah melewati hitungan beberapa minggu. “Maaf ya, aku tanya gitu ... siapa tahu kan, memang udah, hihi.”
Namun secara kebetulan, anggukkan kepala dan senyum di bibir Zunaira membuat wanita itu hampir melompat karena saking senangnya mendapat kabar bahagia tersebut.
Sangat penasaran, Zara pun menarik adik iparnya masuk ke dalam ruangannya agar mereka lebih leluasa saat bicara. Tak peduli, ada pria yang mereka tinggalkan sendirian di sana.
“Begitu, ya? Kalau cewek-cewek sudah bertemu? Suaminya langsung dilupakan,” Andrea bergumam. Kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka. “Bisa lumutan kakiku kalau nunggu mereka sampai selesai ngerumpi.”
Pria itu cemburu bukan main.
Sementara di dalam ruangan, Zara kembali bertanya kepada adik iparnya. Sudah berapa minggu usia kehamilannya dan bagaimana reaksi Andre, saat pertama kali pria itu tahu bahwa dirinya tengah mengandung.
“Sebenarnya aku nggak terlalu percaya kalau aku hamil secepat ini. Kan, baru kemarin banget. Tapi kupikir kita punya kesamaan, Kak. Langsung isi karena nikah pas setelah selesai haid,” papar Zunaira mengenai apa yang dialaminya.
“Iya, padahal umur pernikahanku saat itu baru sebulan, tapi hamilnya udah lima mingguan,” kata Zara menceritakan kesamaan mereka. “Orang kalau nggak tahu, dikiranya kita emang nabung duluan sebelum menikah.”
Selanjutnya Nai menjelaskan, awalnya dirinya hanya iseng-iseng testpack karena sudah telat dua hari. Suatu hal yang hampir tidak pernah dialaminya karena sebelumnya, jadwalnya selalu maju.
__ADS_1
Perempuan itu sempat ragu saat satu-satunya stik yang dia gunakan menunjukkan garis dua. Tetapi, dia kemudian meminta Andre untuk membelikannya beberapa testpack lagi dengan merk yang berbeda.
Dan alangkah terkejutnya saat mereka tahu, bahwa semua tesnya ternyata akurat.
Mungkin Andrea tidak menunjukkan reaksi berlebih seperti yang pria lain lakukan ketika mendapati istrinya ternyata hamil. Tetapi Nai tahu bahwa pria itu sangat bahagia dan berjanji akan selalu menjaganya lantaran tak ingin, kejadian sebelumnya terulang lagi.
“Jadi kalau menurut perhitungan udah empat mingguan lebih, ya? Udah di cek ke dokter?” Zara bertanya kemudian.
“Belum,” jawab Zunaira, “rencananya nunggu kita libur.”
“Kenapa harus nunggu libur? Kalau urgent tinggal aja dulu kerjaannya. Nggak papa, kok. Tinggal bilang sama aku. Aku pasti ngerti ....”
“Nggak enak sama yang lain, Kak. Aku dah sering libur.” Nai tersenyum. “Takut ada bisik-bisik tetangga,” imbuhnya.
“Nggak usah di dengerin. Siapa kita, cuma kita yang tahu, orang lain kan cuma lihat dari luarnya aja,” ujar Zara tak mau ambil pusing. Dia sudah terlampau kenyang dengan makian, kecaman, dan komentar miring dari banyaknya orang di belahan bumi ini.
Benar, Tuhan memang tak pernah salah dalam memilih. Dia hanya menimpakan ujian kepada seorang hamba yang benar-benar kuat untuk memikul beban masalahnya.
“Tapi kalau hamil muda emang seharusnya nggak boleh kerja berat, sih. Kamu harus lebih hati-hati, ya,” Zara kembali memberinya pesan.
Zunaira mengangguk. Dia juga bertanya banyak hal kepada kakak iparnya itu tentang bab kehamilan awal yang belum dia ketahui. Kenapa dia belum merasakan tanda-tanda yang biasanya di rasakan oleh ibu-ibu hamil lainnya, misalnya mual, pusing, meriang, ngidam dan sebagainya.
“Mungkin belum kali, tapi aku doain semoga jangan. Nggak enak banget rasanya.”
“Aktif boleh, tapi yang penting harus bisa jaga kondisi. Usahain jangan sampai stres, karena perasaan kita akan berpengaruh sama baby. Aku dulu pernah punya pengalaman itu, stres akhirnya pendarahan. Masih inget, nggak? Yang waktu Mauza kabur sama Sammy.”
“Mana mungkin aku lupa, hei!” Zunaira selalu ilfeel kepada dirinya sendiri saat mengingat bagaimana sikapnya jika sudah bucin akut. Karena, dia pasti akan mengejarnya sampai ke mana pun. Memalukan sekali.
“Gimana mau lupa, ya? Kan Sammy itu masa lalumu ....”
“Hus! Udah jadi kakak iparku sekarang, lho,” sela Zunaira.
Zara ikut tertawa mengingat bagaimana masa lalu mereka yang sangat lucu untuk dikenang. Alay kalau kata anak zaman sekarang.
Usai puas mengobrol, keduanya keluar dari ruangan Zara. Lantas menuju pulang ke rumah Mama Vita karena hari ini ada undangan acara makan malam. Sekadar ingin kumpul keluarga, karena sudah lama mereka tak saling bertemu. Sekalian membahas acara pernikahan Umar yang rencananya akan digelar dua hari lagi.
“Aku bantu apa lagi nih, Ma?” tanya Zara.
“Sudah, kalian duduk manis aja. Semuanya udah beres. Toh, Umar cuma mau akad saja. Almanya juga nggak mau resepsi. Malu katanya,” jawab Vita.
“Alhamdulillah kalau udah beres. Semoga acaramu lancar ya, Mar ...” Zara mendoakan.
“Aamiin...” pria itu menjawab.
__ADS_1
“Sekalian aku juga mau ngabarin sesuatu,” ujar Zunaira tersenyum. Tampak bahagia sekali.
“Eh, ada apa ini, ya? Kok anak Mama senyum-senyum?” Vita menanggapi.
“Palingan ngabarin kalau ngadonnya udah jadi,” sahut Umar membuat semua orang tergelak tawa.
“Bener begitu, Nak?” Vita memandangi Andre dan juga putrinya secara bergantian, menanti jawaban mereka.
“Insyaallah ... doain ya, Ma,” jawab Zunaira pasti membuat semua orang mengucapkan hamdalah.
Yudha dan Vita pada saat itu langsung beranjak. Kemudian memeluk anak bungsunya. Mauza pun ikut tersenyum dan memberikan selamat kepada adiknya itu dengan menahan perasaan yang sangat nelangsa.
“Semoga Kakak cepat nyusul, ya!” ucap Zunaira tulus.
“Makasih doanya, Nai. Aamiin,” balas Mauza tersenyum getir.
Beruntung, ada usapan tangan Sammy yang menguatkannya. Ah, seorang pria memang tidak terlalu terbebani dengan ucapan semacam itu meskipun dalam hatinya juga sempat timbul pertanyaan, kenapa kami yang lebih dulu menikah justru belum juga diberikan kepercayaan? Sementara mereka yang terakhir malah dikasih lebih dulu?
Dan di tengah-tengah obrolan mereka berbagi tentang bagaimana pertama kali mereka tahu hadirnya calon-calon anak mereka, Mauza berlalu sejenak ke kamar mandi untuk menyendiri. Di sanalah dia menangis tergugu menumpahkan kesedihannya yang sedari tadi tertahan. Entah kenapa rasanya begitu hancur. Merasai diri yang tak seberuntung mereka.
Apa yang salah dalam dirinya? Apakah aku mandul?
Namun, otak warasnya berusaha menampik dan menyadarkannya agar tetap selalu berpikir positif.
“Maaf Ya Allah ... ternyata seperti ini menjadi Kak Hamidah. Padahal aku nggak ditanya sama mereka, tapi rasanya sudah sesakit ini. Bagaimana dengan perasaan dia yang waktu itu kutanyai soal anak? Ternyata ucapan tentang itu emang nggak bisa dibikin bercandaan.”
Mauza menghela napasnya dalam untuk membuat perasaannya jadi lega. Ya, untuk sesaat dia merasa lega. Namun beberapa detik kemudian, air matanya kembali mengalir, bahkan lebih deras lagi dari sebelumnya.
Tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain membiarkan air mata itu berhenti dengan sendirinya. Hingga beberapa menit kemudian, Mauza pun keluar.
Dia terkejut ketika mendapati mamanya berada di sana dan langsung memberinya sebuah pelukan yang paling nyaman.
“Mama tahu perasaanmu,” ujarnya menunjukkan betapa wanita itu peduli.
“Pernikahan bukanlah ajang untuk siapa yang paling cepat mendapatkan seorang anak. Niatkanlah pernikahan itu untuk sebuah ibadah. Niscaya kamu akan merasa lebih baik,” ujar Vita mengusap-usap punggung sang anak tercinta. “Mama yakin, kalian juga akan punya anak. Allah lebih tahu kapan waktunya. Sabar ya, Sayang. Mama doakan, semoga kalian juga di segerakan.”
Mauza mengangguk. Dia pun segera mengusap pipinya sebelum keduanya merenggangkan pelukan.
“Siapa juga yang sedih. Aku nggak sedih, kok. Biasa aja!” ujarnya memaksakan senyum.
Menyembunyikan kesedihannya adalah hal yang biasa Mauza lakukan, agar selalu terlihat baik-baik saja di depan semua orang.
Bersambung.
__ADS_1
Happy weekend, kesayanganku semua.