Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Syaratnya Harus Menikah


__ADS_3

Bab 16.


“Ini kamarku,” ujar Hamidah begitu mereka sampai di rumahnya. Sebuah unit ruangan dia tunjukkan kepada suaminya—yang rencananya akan mereka tempati sementara. Yakni sampai apartemen barunya mulai di isi berbagai macam furnitur yang dibutuhkan.


“Nggak suka, ya?” tanya Hamidah karena Rayyan hanya berdiri dengan diam saja, “maaf, mungkin nggak sebagus yang biasa kamu tempati.”


“Nggak masalah,” jawab Rayyan masuk ke dalamnya dan membuka peci serta jam tangannya, “aku mau mandi.”


“Mandilah. Aku akan mengambilkan pakaianmu di mobil.”


“Terima kasih Za—,ehm maaf, Mida maksudku.” Rayyan meralat.


Muka Hamidah berubah total pada saat nama itu hampir terlontar. Wajah yang tadinya antusias kini menjadi muram. Tentu saja ia tahu siapa ‘Za’ yang Rayyan maksud, yaitu Zara Angel Purnawirawan. Wah, ini nggak benar, batinnya. Bagaimana kalau Rayyan benar-benar telah jatuh cinta pada wanita itu tanpa dia sadari? Pikirnya sedemikian jauh.


“Maaf, kamu jangan berpikir terlalu jauh, aku hanya salah sebut karena sebelumnya kami sering bekerja bersama,” ujar pria itu seolah memahami apa yang dipikirkan oleh Sang Istri.


Hamidah berujar setelahnya, “Sepertinya kita perlu bicara.”


“Kita akan bicara malam nanti.” Rayyan tersenyum dan menyentuh pipi Hamidah, sekadar untuk membesarkan hatinya. Untungnya, dia bisa segera luluh kembali.


Keesokan harinya.


Zara baru saja meletakkan kitabnya ke saku jok mobil. Buku tebal yang tidak pernah ia tinggal ke mana pun dia pergi. Tak hanya membaca, dia juga sambil menghafal dan memahami isinya. Hebatnya, tak butuh sampai dua minggu Zara sudah hampir menghafal satu jus di tengah-tengah sibuknya bekerja. Hanya saja, cara membacanya masih banyak yang belum benar. Dia masih sangat membutuhkan Rayyan untuk menemaninya belajar—namun sepertinya itu sudah tidak akan mungkin terjadi lagi. Sebab keadaan mereka sudah sangat berbeda.


Ditemani oleh Grace, keduanya kini menuju ke sebuah gedung yang masih berada di kawasan Jakarta Timur. PT Purnawisata Tbk. Perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultasi pariwisata. Termasuk memberikan anjuran, saran, studi kelayakan, perencanaan, pengendalian, manajemen, dan studi di bidang usaha pariwisata. Diketahui, perusahaan ini mulai beroperasi secara komersial kurang lebih 30 tahun yang lalu.


“Sepertinya kita terlalu banyak planning nggak sih?” tanya Grace karena dipikir-pikir, dia merasa demikian, “kita bahkan belum ketemu sama pihak agensi baru lagi.”


Zara sesaat tercenung. Dia baru ingat, kejadian kemarin membuatnya batal memperpanjang kontrak dengan management nya yang lama. Lagi pula, dia merasa management artis tersebut tidak terlalu baik untuknya. Zara merasa berita kontroversi yang melekat padanya itu karena ulah campur tangan mereka.

__ADS_1


“Zar? Kok malah diam.” Grace gemas hingga refleks mencubit tangannya.


“Ih, sakit tahu!” Zara bersungut-sungut.


“Makanya kalau ada orang nanya itu dijawab.”


“Aku lagi mikir,” ujarnya menjeda sesaat, “seperti yang kamu bilang kemarin, bukannya kita bisa mencoba cari jalan lain?”


“Kamu ingin vakum dari dunia hiburan dulu untuk sementara?” tanya Grace memastikan.


“Kalau iya, menurutmu bagaimana?”


“Sebelumnya aku sudah pernah bilang bukan? Aku selalu mendukung apa pun keputusanmu.”


Zara menghela napas dalam, “Sedikitnya aku masih punya sedikit tabungan untuk beberapa bulan ke depan. Sampai perusahaan itu bisa aku perjuangkan.”


Zara mengangguki pertanyaan Grace, “Tapi andai aku gagal dan rencana ini malah jadi ancaman buat aku sendiri, aku mau jual rumah dan mencoba mencari peruntungan di negara lain.”


“Ke mana? Jangan ngarang, deh. Masa kamu mau ninggalin aku sendiri.”


“Kamu tuh kayak buntut aku, ke mana-mana musti ikut.”


“Aku kan bes pren kamu,” kata Grace mencebikkan bibir setelahnya, “lagian kamu mau pergi ke negara mana? Di sana toilet nggak ada selangnya, lho. Warteg juga nggak ada.”


“Astaga,” desis Zara karena Grace malah memikirkan itu. Menyebalkan!


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kantor milik Almarhum Purnawirawan. Papi kandung Zara yang meninggal 15 tahun lalu. Tepatnya pada saat dia masih berseragam putih abu-abu.


Masuk ke dalam, keduanya diperlakukan dengan sangat baik oleh resepsionis. Mengetahui siapa orang yang kali ini menjadi tamu mereka. Keduanya bahkan sampai di antar ke ruangan yang akan mereka tuju.

__ADS_1


“Nah, di sini tempatnya, Bu,” ujar seorang wanita yang mengantarnya ke sana. Dan usai pintu diketuk, keduanya sontak mendengar suara sahutan dari dalam. Pengacara Ruji Rusmana.


“Syukurlah, kamu datang ke sini. Om selalu menunggu-nunggu kedatanganmu,” ucap beliau begitu Zara dan Grace duduk di depannya, “tapi sebelum Om menjelaskan alasannya, Om mempersilakan Zara menjelaskan lebih dulu tujuannya datang ke sini.”


“Om ...” ucap Zara yang kali ini mulai menitikkan air mata. Entah kenapa perasaannya begitu terenyuh mengingat betapa berat perjuangan papinya membangun usaha ini. Celakanya, sebelum beliau menikmati jerih payahnya sendiri—orang jahat justru mengambil semua darinya tanpa ampun. Perselingkuhan Miranda dan Ruben menjadi luka, dendam, dan trauma yang Zara rasakan selama ini. Baru Zara ketahui bahwa cinta tak selalu berakhir membahagiakan. Seperti yang beliau dan dirinya rasakan sekarang.


Lantaran tangisan terdengar mengiris, Grace berinisiatif mengambilkan tisu dan memberikan kesempatan untuk Zara agar bisa kembali tenang.


“Apa aku nggak punya hak atas harta papi aku sendiri?” tanya Zara setelah bisa menguasai dirinya kembali, “aku sengsara, Om. Apa Om nggak melihat gimana aku selama ini mencoba untuk bertahan?”


“Kamu jelas punya,” jawab Ruji segera membuat Zara melebarkan pupil matanya, “ini juga yang akan Om sampaikan padamu. Tapi masalahnya—”


Zara langsung menyela, “Kenapa? Nggak bisa? Karena Papi tiri aku sudah lebih dulu mengambil alih semuanya?”


“Sabar, Zar. Sabar,” Grace mencoba menenangkan dengan mengusap-usap punggungnya, “tunggu sampai Om Ruji selesai bicara.”


“Tidak seperti itu, Zara. Kamu salah. Pak Ruben justru membantu kamu untuk menjalankan perusahaan ini sebelum kamu menikah. Sebab kamu belum memenuhi syarat untuk mengambil alih semuanya.”


“Apa saja syarat-syaratnya?” tanya Zara dengan luapan emosi, “akan Zara penuhi.”


“Sesuai isi surat wasiat, semua aset akan beralih menjadi milik kamu setelah kamu menikah.”


Mendengar hal itu membuat Zara tercenung selama beberapa lama. Menikah? Batinnya menyeru. Jangankan menikah, hanya angan-angan saja belum terpikirkan olehnya. Lalu dengan siapa dia harus menikah? Mengingat calon saja ia belum punya gambarannya. Satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya hanyalah Grace. Itu pun hanya pria setengah matang.


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Kita perlu duduk bersama dengan orang tuamu. "


"Nggak perlu, Om," potong Zara lirih, "Om nggak tahu apa yang terjadi dulu saat aku masih kecil." Zara beranjak berdiri dan mengajak seseorang di sampingnya, "Ayo, Grace. Kita pulang. Aku mau cari calon suami."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2