Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Permata Hati Kami


__ADS_3

179


Semuanya begitu senang melihat bayi-bayi kecil yang lucu nan menggemaskan. Keduanya diberi nama, Arka Ahza Pratama dan Arsha Mauren. Kedua nama itu memiliki makna yang indah apabila di artikan.


Arka Ahza adalah surya yang beruntung. Nama belakang Pratama khusus diberikan Arka karena dia anak pertama.


Sedangkan Arsha Mauren, berarti kebahagiaan dan makna cinta. Ya, buah cinta mereka berdua.


Tak susah membedakan keduanya meskipun mereka terlahir kembar. Sebab Arsha mempunyai rambut lebih panjang dan lebat daripada Arka. Masing-masing memiliki bobot 2,2 dan 2,3 kg. Mereka sehat, normal dan tak kurang suatu apapun.


“Pengin banget yang kayak gini, Za,” Sammy nyeletuk saat istrinya itu menggendong sang keponakan, Arka. Sementara Arsha bersama ibunya yang tengah belajar menyusui.


“Aamiin,” kata semua orang secara bersamaan.


Mauza terlihat memaksakan senyum. “Makasih doanya wahai saudara-saudaraku yang boodeeman.”


“Sama-sama, Za.”


Kini baby Arka berpindah gendongan Alma. Perempuan itu pun tersenyum dan memberikan kode kepada sang suami bahwa dirinya juga ingin segera menyusul.


Tidak ada yang Umar katakan selain mengucapkan aamiin.


“Jangan pipisin Ontinya ya, Dek,” ucap Alma kepada Baby Arka.


“Pipisin aja nggak papa. Kalau bisa yang banyak!” Umar menanggapi tanpa berpikir lebih jauh. Ia tak tahu bahwa balasan Alma lebih menohok.


“Iya, nggak papa. Biar bajuku basah, bau pesing, tapi lebih gampang di cuci daripada mobil, kok.”


“Sial,” makinya pelan. Walau bagaimanapun, Umar tak akan bisa menang adu mulut dengan Alma yang jelas lebih pintar daripada dirinya.


“Tenang, anakku pakai pampers. Jadi anti bocor,” Rayyan menyahuti.


Di saat yang bersamaan, Ray melihat ponselnya berdering. Ada panggilan video dari Zunaira. Dia menyempatkan diri ditengah kesibukannya untuk mengangkat telepon itu karena ia paham, bagaimana Nai mencemaskan keadaan istri dan anak-anaknya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, Dek. Ada apa?”


“Gimana keadaan Kak Zara, sekarang? Aku nungguin kabar dari tadi tapi nggak ada yang mau angkat teleponku huhuhu. Sad.”

__ADS_1


“Iparmu nanyain.” Rayyan mengarahkan kameranya kepada sang istri.


“Nai?” sapa Zara, “maaf belum ngabarin lebih lanjut. Kami belum sempat.”


“Nggak papa yang penting Kakak sehat.”


“Alhamdulillah. Ya, begini adanya. Tinggal ngerasain nyerinya.” Zara meringis.


“Insyaallah akan menjadi pahala untukmu, Kak.”


“Aamiin.”


“Rame banget disitu. Maaf belum bisa dateng ya, Kak. Kepalaku masih nyut-nyutan kalau dibawa jalan.”


“Nggak papa, kami ngerti. Keadaanmu jauh lebih penting.”


“Aku nggak sabar pengen lihat mereka.” Nai bermaksud menanyakan Si Kembar. “Lagi pada ngapain?”


Kini Rayyan mengarahkan kameranya ke arah dua anaknya secara bergantian. Mereka sedang nyenyak tidur.


“Masyaallah lucunya. siapa namanya?”


“Arka sama Arsha,” jawab Rayyan.


Zunaira mencukupkan panggilan pada saat keduanya sudah puas berbicara.


♧♧♧


Empat hari kemudian, Zara sudah diperbolehkan pulang oleh dr. Junita.


Tidak ada masalah-masalah yang berarti pada Zara sendiri. Mulai dari ASI, sakit atau nyeri pada bagian-bagian tubuh yang lain. Dia cukup bisa mengatasi masalah itu dan menjadi seorang ibu yang tenang. Terlebih, banyak keluarga yang mendukungnya secara penuh. Bahkan di hari kedua setelah operasi pun, Zara sudah tampak lincah berjalan.


“Aku tahu kamu ibu yang hebat,” Rayyan memuji wanitanya.


“Ya iyalah,” jawab Zara merasa bangga, “siapa dulu!”


“Siap dibuahi lagi berarti.”


“Enak aja kalau ngomong. Kamu pikir ngelahirin nggak sakit apa? Nunggu dua tahun lagi.”

__ADS_1


“Dua tahun program kembar lagi biar cepat rampung.”


“Emang kamu minta anak berapa?”


“Kalau bisa empat.”


“Doain semoga aku bisa, sanggup hamil dua anak lagi.”


Arka dan Arsha sudah dipersiapkan kamar sendiri meskipun kini masih menyatu dengan orang tuanya. Kamar yang tadinya harum aroma terapi bunga, kini berubah menjadi wangi bayi yang khas.


Sejumlah tamu hilir mudik berdatangan begitu Zara mengabarkan persalinannya di media sosial. Bahkan tak sedikit pula yang mengirimkannya paket kado hingga banyaknya, hampir memenuhi ruang tamu.


Kini keduanya tengah menggendong masing-masing bayi karena keduanya menangis secara bersamaan. Mentang-mentang kembar, jadi mereka lebih sering nyambung satu sama lain.


Arka bersama ibunya, Arsha bersama ayahnya. Mereka kompak berusaha mendiamkan Arka dan Arsha dengan cara mengayunkannya.


“Kenapa?” tanya Miranda langsung masuk begitu mendengar cucunya menangis. “Rewel ya?”


“Paling cuma butuh Nen, Mam. Nggak banyak memang, tapi mereka mintanya sering,” jawab Zara.


“Kamu harus sering pump, biar nggak wara-wiri ngASI. Jadi, nanti sewaktu-waktu kalau kamu istirahat, Mami bisa kasih pakai botol.”


Mereka bekerja sama untuk merawat Arsha dan Arka. Bahkan Vita pun sengaja datang setiap hari untuk ikut membantu menjaga cucunya apabila Miranda dan anaknya tengah sibuk menerima tamu. Atau kadang-kadang malah menginap jika sang suami mengizinkan.


Di tempat lain, ada seorang wanita yang kurang sempurna. Dia sedang tersenyum menatap postingan foto wajah anak kembar yang sengaja di blur oleh si pemilik postingan itu.


...“Permata hati kami seharusnya tak lahir hari ini. Tetapi susunan dan waktu yang Allah atur jauh lebih baik. Hai Arka dan Arsha. Kalian adalah kado spesial buat kami. Menjadikan kami kedua orang tua yang sempurna. Semoga kalian jadi anak yang shalih dan shalihah, Sayang. Aamiin.”...


Tangannya gemetar karena menahan kepedihan yang kian hari kian nyata. Namun, dia sudah jauh lebih ikhlas dari sebelumnya dan sudah siap menyongsong kehidupan barunya bersama lelaki lain.


“Ayo, Nak. Lupakan masa lalumu. Ardito akan menikahi mu dan menerimamu apa adanya,” kata Umi Tatum, Sang Ibunda kepada sang anak.


Hamidah mengangguk, “Minta doanya Ummi. Semoga aku bisa lebih bahagia dari sebelumnya.”


“Hidupmu akan mudah asal kamu ikhlas, sabar dan tawakal,” Ummi Tatum memberikannya sederet nasihat, “kamu masih memiliki banyak hal yang tidak semestinya kamu lupakan. Berbahagialah dengan bersyukur. Ubah kebiasaan mu yang selalu merasa kurang atas apa yang belum kamu miliki. Begitu saja pesan Ummi, Nak. Kami mencintaimu seperti apapun kamu....”


Air mata menetes-netes dari kedua bola mata Hamidah. Dia begitu terharu. Hanya orang tuanya lah yang selalu ada dan menerima seburuk apapun dirinya.


“Ayo, Ummi antar.” Wanita itu menuntun anaknya menuju ke pelaminan. Di sana sudah banyak orang yang menunggu. Terutama Ardito. Bahkan Fasad pun turut datang untuk menjadi saksi atas pernikahan sahabatnya itu.

__ADS_1


Bersambung.


Masih pada ingat sama Ardito?


__ADS_2