Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Bawa Aku Pergi


__ADS_3

127


Zunaira tidur dengan posisi menelentang. Matanya terbuka. Sedang di sudut-sudutnya mengalir air mata. Mengingat, apa yang akan mereka lakukan malam ini. Ya, mereka: Sammy dan Mauza.


Seharusnya dia tak perlu memikirkan itu, tetapi entah kenapa selalu saja terbayang dalam pikirannya!


Sungguh berat memang rasanya menjadi korban harapan palsu seseorang. Lagi pula, siapa yang mau mengalami nasib sama sepertinya? Jelas tak ada.


“Aku ikhlas Mauza bahagia dengan Sammy. Tapi nggak segampang itu aku melupakan semuanya sebelum hari ini terjadi,” gumamnya meratapi kepiluan.


Zunaira mengingat indahnya pertemuan mereka yang pertama kali di rumah Miranda, kemudian saat dia rela berbohong kepada mamanya demi bisa bertemu dengan Sammy.


Walaupun kejadian itu tak berakhir baik, tetapi selang beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu di Mall. Tepatnya pada saat Zara mengadakan acara grand opening keluaran produk terbarunya.


Di sana ... mereka duduk berdua. Berhadapan dan bercerita banyak tentang 'kita'.


Pun hari-hari selanjutnya. Dia rela mengenyahkan rasa malu dan rasa egoisnya pada kakak kandungnya sendiri demi bisa bekerja di kantor yang sama dengan Sammy. Meski hari yang dilaluinya juga tak mudah. Karena di sana Zunaira merasa dibenci oleh banyak orang.


Di kantor, mereka sering makan siang bersama di tempat favorit. Bahkan Sammy sering mengunjunginya di ruangan secara tiba-tiba dan sering membantunya di dalam kesulitan.


Perempuan mana yang tidak terbawa perasaan setelah diperlakukan demikian? Apalagi dari pria yang memperlakukannya itu cukup good looking seperti dia.


Bagi seorang wanita yang mempunyai kesamaan seperti Sammy, mungkin akan terasa biasa saja. Sebab mereka; lelaki dan perempuan sudah sering berbaur bersama, bebas tanpa batasan.


Tetapi bagi Zunaira, ini adalah pertama kalinya. Jadi, dia menganggap semua itu adalah perlakuan yang spesial sehingga timbul perasaan berbeda.


Namun di tengah-tengah sibuknya mengenang masa lalu, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Refleks, Zunaira cepat membuang bekas-bekas kesedihan yang jatuh dari matanya.


“Ngapain Mas Andrea telepon malam-malam begini? Ada apa?” Nai bergumam. Kemudian segera menggeser tanda panggilan.


“Nai, sepertinya dompetku tertinggal di ruangan tempat kita duduk,” ujar Andrea begitu telepon tersambung.


“Ke-kenapa bisa tertinggal?” jawab Nai dengan suara agak serak.


“Mungkin jatuh. Aku udah cari-cari di rumah nggak ada.”


“Ya udah, aku cariin ke bawah sekarang. Tapi kalau memang ada, pasti udah di simpenin sama Bibi,” ujar Zunaira meraba-raba kemungkinan, meski dia sendiri tidak tahu benar atau tidak dugaannya. Namun, dia berharap Andrea bisa sedikit tenang dengan ucapannya barusan.


“Kenapa suaramu serak?”


Tak disangka, ternyata Andrea sebegitu detail memperhatikan suaranya.

__ADS_1


“Kamu nangis?” lanjut Andrea karena Nai tak kunjung memberikan jawaban.


“Nggak-”


“Aku ke balik ke sana sekarang!” selanya tak terbantahkan. Panggilan langsung terputus saat itu juga.


Sangat tidak menyenangkan!


Zunaira gegas ke lantai bawah. Menanyakan kepada salah satu asisten rumah tangganya apakah benar, ada dompet yang tertinggal saat mereka berbenah?


“Ada, Non. Bibi simpenin. Tadinya mau langsung saya kasihkan ke Ibu sama Bapak, tapi takutnya malah ganggu. Soalnya udah pada istirahat di kamarnya,” jawab perempuan tersebut membuat Zunaira tersenyum lega.


“Mana, Bi? Orangnya lagi jalan ke sini soalnya.”


Tak berapa lama, Bibi pun menyerahkannya. “Punya calonnya, Non Nai?” Bibi bertanya.


“Insyallah ... doain, ya.”


“Masyaallah, semoga secepatnya menyusul seperti Non Mauza. Jadi pasangan yang sakinah.”


Nai mengangguk, “Aamiin.”


Sepeninggal Bibi dari hadapannya, dia membuka dompet tersebut.


Hanya saja, terdapat foto anak balita yang terselip di sana. Mungkin fotonya waktu kecil. Menggemaskan. Rambutnya jabrik, berdiri ke atas semua seperti bayi yang baru saja kesetrum listrik.


“Maaf udah lancang buka dompetmu. Cuma penasaran.”


Singkat cerita, kurang lebih tiga puluh menit kemudian akhirnya Andrea Hirata tiba di rumahnya.


Pria itu terpaksa lewat pintu samping demi bisa bertemu dengan Nai. Sebab pintu utama sudah dikunci oleh Si Pria Pengatur Rumah.


Siapa lagi kalau bukan Bapak Yudha Al Fatir? Pria tua bangka yang masih suka banyak tingkah dan sering menjadi bulan-bulanan istrinya.


Andrea datang sendiri menaiki motornya. Pula baru kali ini Nai melihat sisi Andrea yang berbeda, karena biasanya, dia selalu mendapati pria itu memakai pakaian formal. Andrea terlihat lebih santai memakai kaos polo dan celana chino pendek. Meski kesan dingin masih saja membekukan suasana saat mereka bersama.


Nai mengulurkan dompet itu kepada Andrea sembari mengucapkan, “Lain kali kamu lebih hati-hati lagi. Beruntung jatuhnya di sini, jadi masih selamat. Coba kalau di tempat lain ...?”


Andrea menerimanya, kelegaan langsung terpancar di wajahnya yang tegas. Nai memahami seberapa penting benda-benda di dalamnya karena pada zaman ini, semua transaksi sudah menggunakan kartu. Pasalnya penggunaan uang cash sudah ditiadakan di seluruh pusat perbelanjaan kecuali di warung-warung kecil, retail, pasar atau pedagang jalanan. Keadaan dunia saat itu sudah semakin canggih.


“Aku sendiri bisa gila kalau aku mengalami hal yang sama sepertimu. Dompet yang hilang bagiku adalah sebuah bencana,” kata Zunaira yang tak terlalu dipedulikan oleh lelaki di depannya.

__ADS_1


Justru dia mengatakan hal lain, “Kau belum mengganti bajumu.”


Komentar Andrea sontak membuat Zunaira refleks melihat pakaiannya sendiri. Takut ada yang salah atau menyingsing barang kali. Akan tetapi setelah diperhatikan, ternyata aman.


“Oh, iya. Belum. Mungkin nanti.”


“Ku perhatikan kamu terlalu banyak kata mungkin.”


“Iyakah?” Nai bertanya.


“Kamu juga habis menangis, matamu sembab.”


Zunaira tak kuasa menyanggah karena memang demikian adanya.


“Nggak bisa move on?” tanya Andrea samar tersenyum. “Rugi kalau terus memikirkannya.”


Zunaira terkesiap. Tak menyangka sejauh itu Andrea memperhatikannya. Apa berarti selama ini dia juga mengetahui sedekat apa hubungannya dengan Sammy?


Lantas kalau Andrea mengetahui semuanya, kenapa dia mau melamar seorang perempuan yang jelas-jelas belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalunya tersebut?


“Apa saja yang Mas Andre tahu dariku?” tanya Zunaira terdengar menuntut.


“Lupakan!” ucap Andrea enggan memperpanjang persoalan ini.


Nai menggeleng. Gadis itu mengulang pertanyaannya pada sosok yang menjulang di hadapannya sehingga ia harus sedikit mendongakkan kepala, “Apa saja yang Mas Andre tahu dariku?”


Andrea tetap bungkam.


“Kamu membuatku merasa bersalah ...” sambungnya.


“Sampaikan terima kasihku untuk asisten rumah tanggamu,” ucap Andrea sebelum dia berbalik badan. Kemudian melangkah pergi.


“Mas Andrea!”


Seruan Zunaira membuat Andrea berhenti dan menoleh. Melihat kondisi Zunaira yang dia kira sedang tak baik-baik saja karena air matanya mengalir deras. Sepertinya ia tak bisa abai lagi kali ini.


“Tolong cepat bawa aku pergi bersamamu ....” kata Zunaira lagi penuh perasaan.


Pria itu tak mengatakan apapun, selain memberikannya sebuah pelukan.


∆∆∆

__ADS_1


Bersambung.


Semangatin nulis dong hwaa😭


__ADS_2