
194
Siang itu langit ibukota tampak sangat cerah dan terik. Dengan dihiasi awan kapas, membuat langitnya menghadirkan keindahan yang tak habis diperbincangkan. Menghadirkan semangat bagi insan untuk berkarya di kesehariannya.
Buk!
Satu bola kecil meluncur yang disebabkan oleh sebuah pukulan dari alat yang memanjang. Melesat jauh di hamparan rumput hijau yang sangat luas dan asri, kemudian masuk ke dalam lubang yang disebut hole.
Sudah bisa menebak, jenis olahraga apakah itu?
Ya, demikian adalah salah satu jenis cabang olahraga yang disebut golf.
Ke empat pasangan: Sammy-Mauza, Umar-Alma, Ray-Zara, Andre-Zunaira, sedang berada di sebuah lapangan golf yang ada di kawasan Jakarta Timur. Dalam rangka acara holiday bersama.
Momen ini terbilang sangat langka, karena mereka baru kali ini mereka mempunyai waktu luang yang sama. Biasanya, ada saja yang tidak bisa di ajak keluar tiap minggunya. Padahal libur bersama seperti ini sangat perlu, guna untuk mempererat tali persaudaraan.
Semua laki-laki bermain bersama kawan-kawan mereka, kecuali perempuannya yang hanya datang untuk nonton dan makan saja.
Zara dan kedua anaknya, Alma dan Zunaira berkumpul di satu tempat. Sedangkan Mauza mengantuk, sehingga dia memilih untuk ngadem di bawah pohon besar tak jauh dari mereka. Tiduran dengan posisi menelentang di kursi panjang dengan kaki yang dinaikkan ke atas meja. Sudah macam seperti Nyonya Muda.
“Gimana nggak tambah melar tubuhku, Kawan!” ucap Zara karena sebentar-sebentar dia merasa lapar.
Zunaira menimpali, “Jangan mikirin diet dulu, Kak. Kan semua orang tahu kamu lagi ng-ASI. Kasihan Si Kembar kalau Kakak diet, mereka bisa rewel. Nggak papa gitu juga masih enak dilihat, kok.” Perempuan berperut buncit itu sedang mengajak main baby Arsha. Arsha adalah tipe bayi yang harus selalu diajak ngobrol.
Hihihi, sudah layak jadi artis belum? Sepertinya Arsha akan mewarisi profesi mommy nya nih. Sebab bocil ini sangat suka diwawancarai.
“Nggak tahu kenapa, nggak pede aja bawaannya. Makanya nggak suka pakai baju yang agak pas,” balas Zara, lalu dia meralat kata-katanya yang terdengar ambigu, “eh, tapi emang nggak boleh pakai baju yang ngepas-ngepas ding, hehe. Dimarahin sama Pak Ustaz. Enak mah, jadi Alma. Dia punya tipe badan yang nggak berubah walaupun nanti perutnya bakalan gede.”
Alma tersenyum, “Iya, ini keturunan dari Ummi Zul. Walaupun beliau dah lahirin dua anak, usianya juga udah nggak muda lagi, tapi badannya tetep segitu-gitu aja.”
“Kalau kita mana bisa ya, Kak? Kita lahir dari emak yang berbadan XL,” kekeh Zunaira.
Zara mengiyakan, “Apalagi Mami aku. Minum air putih aja ibaratnya udah langsung jadi lemak.”
Alma dan Zunaira tertawa.
“Mamiku diet sepanjang hidupnya. Kasihan punya banyak uang tapi nggak bisa menikmati makanan enak,” sambung Zara.
“Kalau Mama Vita ada tipsnya, Kak.”
“Apa tuh?” Zara segera menanggapi usulan Zunaira.
__ADS_1
“Beliau minum jamu setiap pagi. Memang nggak bikin langsing kayak dulu, tapi setidaknya bisa mempertahankan berat badan yang sekarang.”
“Jamu bikin sendiri?”
“Iya, bikin sendiri. Makanya suka ngomel-ngomel karena tangannya suka kuning kayak dukun bayi. Aku bilang, namanya juga nenek-nenek, eh, Mama malah ngambek.”
“Lihat deh, itu Mauza sama Sammy lagi ngapain?” Alma menunjuk kedua manusia yang entah sejak kapan, tidur berdesak-desakan di kursi sempit.
Pandangan Zara dan Zunaira mengikuti arah telunjuk Alma.
“Sableng!” satu kata Zunaira untuk sepasang suami-istri tergila tersebut.
“Mungkin lagi butuh vitamin,” kata Zara yang sebenarnya juga tak habis pikir.
“Maruk, kalau kata Papa buat orang yang mesra-mesraan nggak tahu tempat,” ujar Nai membuat Alma terkekeh. Sebab suaminya sering dikatakan begitu oleh mertuanya. Padahal yang ngatain maruk, juga sama-sama maruk nya.
Alma sudah pernah melihatnya sendiri secara tak sengaja bagaimana kedua mertuanya yang sangat mesra. Bahkan sering karena dia sering menginap di sana.
Rupanya manjanya Papa Yudha pada sang istri menurun kepada suaminya, Umar. Umar memang garang, tapi kalau lagi manja, dia berubah menjadi pria yang sangat menggelikan melebihi bayi panda.
“Ayang, apa kamu tahu, cuka apa yang manis?” tanya Sammy ngegombalin Mauza.
“Cuka yang manis? Mana ada? Semua cuka asam!” jawab Mauza.
“Apa tuh?” Mauza sangat ingin tahu.
“Cuka sama kamu,” kata Sammy membuat Mauza spontan mendorong tubuhnya sampai terjungkal dari kursi panjang yang mereka tempati. Itu kebiasaan buruk Mauza yang tak bisa diubah kalau dia sedang terlalu senang.
“Eh, maaf-maaf, Sam! Aku ... aku nggak sengaja! Aduh!” Mauza sontak bangkit dan menolong Sammy yang tengah meringis mengusap-usap bokongnya yang terasa sakit.
“Kamu itu kebiasaan deh, Za. Kalau digombalin malah dorong aku. Sakit ini!” kata Sammy kesal bukan main. Bukan hanya sakit, tapi Sammy juga malu karena ditertawakan oleh banyak orang, terutama Umar.
“Maaf Sayang, ini anakmu yang mau,” Mauza beralasan.
“Jangan pula kamu fitnah anakku itu, kamu emang kebiasaan.”
“Ending yang sangat diharapkan,” kata Umar tertawa terpingkal-pingkal.
Ray mengatakan, “Sudah kuduga sebelumnya.”
“Makanya tahu tempat!” imbuh Umar mencibirnya sangat puas. “Lagian orang lagi main malah ditinggal. Kita belum selesai.”
__ADS_1
Semua menertawakan dan mengomentari Sammy dan Mauza terkecuali Andre yang hanya tersenyum samar. Tetap cool di lokasi yang panas sekalipun.
Ray menyenggol lengan Andre, “Kalau mau tertawa, tertawa aja. Nggak usah ditahan-tahan.”
“Takut ilang dibawanya,” Umar yang membalas karena pria itu lagi-lagi hanya tersenyum.
“Aku isi energi dulu,” Ray menuju ke perkumpulan wanita-wanita cantik yang sedang menunggu suami-suami mereka.
“Lihatlah, dia emang nggak bisa jauh dari betina,” kata Umar kepada Andre. Namun sayang sekali, dia tak mendapatkan tanggapan apapun dari pria itu sehingga Umar mengumpat pelan, “Anjay! Kaku perut!”
“Haus, Ra,” Rayyan minta minum. Sedangkan matanya tak bisa lepas dari dua sosok mungil yang bergerak-gerak di kereta nya masing-masing.
“Badan kamu basah, jangan sentuh-sentuh bocil dulu,” Zara melarang Ray saat pria itu hampir mencium pipi anaknya.
“Kalau Mommy nya boleh?”
“Nggak ah, geli.” Wanita itu mendorong tubuh suaminya. Dia memang geli sungguhan melihat pria yang berkeringat. Tidak tahu kenapa, dia beda dengan perempuan lain. Jika biasanya para wanita akan menyebut pria berkeringat itu seksi, namun bagi Zara malah kebalikannya. Pria berkeringat baginya itu bau, jorok, kotor, banyak kuman. Hihhh!
Di kursi lain yang tak jauh dari mereka, Mauza dan Sammy masih saja ribut. Saling menyalahkan. Mereka baru berhenti pada saat Alma membagikan camilannya, namun itu pun hanya sebentar karena setelahnya, keributan kembali berlanjut.
“Debat itu membutuhkan energi, barang kali ini bisa membantu menambah tenaga kalian. Supaya debatnya lebih powerfull,” ujarnya.
“Ini Mauza yang mulai!” Sammy masih saja menyalahkan istrinya yang membuat pantatnya ngilu.
“Aku dah minta maaf lho, Ayang.”
“Cuma maaf nggak bisa membalikkan keadaan.”
“Terus maumu gimana? Aku nggak bisa ngobatin.”
“Plis deh, Za. Ilangin kebiasaan buruk kamu itu. Udah berapa kali coba kamu buat aku terjungkal dari kursi?”
Alma cepat kembali setelah itu. Tahu, ah. Pusing!
“Sini Sayang, jangan dekat-dekat sama orang gila itu. Nanti kamu jadi ikutan gila.” Umar merangkul istrinya.
Alma membatin, padahal Umar juga sama-sama gilanya seperti mereka, kan?
Bersambung.
Pemberitahuan:
__ADS_1
Menuju ke konflik terakhir sebelum akhir bulan.