
Bab 19
Zara bernapas lega. Karena acara televisi yang menayangkan hasil podcast nya kemarin bersama seorang youtuber dengan nama Chanel Sudut Pandang 1, tidak dipotong-potong. Sebab andai demikian, mungkin akan terjadi banyak hal yang tidak menyenangkan.
Baru kali ini, dia juga melihat banyak komentar-komentar positif yang mendukungnya, meski komentar negatif masih tetap ada. Menghujatnya dengan ketikan-ketikan mengerikan seolah tak akan pernah ada waktu penghakiman untuk semua itu.
Benar kata Grace, orang yang membenci akan tetap membenci dan tidak membutuhkan penjelasan apa pun. Namun begitu, dia tetap tersenyum karena setidaknya ... masih ada lebih banyak yang menyukainya daripada membenci.
“Tapi aku nggak peduli lagi sama apa yang ada di dunia hiburan sekarang ini. Aku mau fokus cari suami biar semua aset Papi sah jatuh ke tanganku.” Di saat demikian, Zara melihat Grace menghampiri. Dia pun tercenung sesaat melihat tampilan Grace yang entah kenapa sekarang malah lebih sering menjadi lelaki, sesuai kodratnya.
“Kamu sebenarnya laki atau perempuan sih, Grace?” kata Zara menanyakan rasa penasarannya.
“Aku bilang, aku bisa jadi apa pun sesuai yang kamu butuhkan.”
“Termasuk jadi suami aku?” celetuknya tanpa beban.
“Bhahaha!” Grace tergelak tak percaya mendengar lelucon ini.
“Kamu kan, tahu. Aku nggak gampang percaya sama orang lain. Selain risiko, aku juga butuh waktu yang lebih lama. Sedangkan aku lagi butuh suami secepatnya. ”
“Aku nggak sesuai dengan kriteria pria idaman kamu, Zar.” Grace menunduk dalam menyadari siapa dirinya.
“Tapi kamu baik, pintar, perhatian dan memahami semua hati perempuan, itu rasa sudah cukup.”
“Kamu yakin, membangun sebuah pernikahan hanya demi sebuah keuntungan?" tekan Grace tak habis pikir, "sepertinya kamu kurang memahami konsep pernikahan.”
“Aku butuh batu loncatan untuk bisa meraih apa yang aku inginkan.”
Hening.
Hanya detik jam yang berbicara di sela-sela keheningan mereka. Keduanya sibuk menyelami pikirannya masing-masing. Namun beberapa menit kemudian, Grace angkat bicara.
“Baiklah, kalau itu maumu, aku akan menikahimu,” ujarnya dengan tegas membuat Zara seketika mendongak tak percaya.
“Kamu serius mau nolongin aku?” tanya Zara dengan mata berbinar. Sedang yang ditanya hanya memandang tanpa ekspresi. “Thank you, Grace. Eh, Fasad maksudku.” Zara tak ingin memastikan sekali lagi karena tak ingin orang ini berubah pikiran. Kemudian, menghamburkan diri untuk memeluk lelaki di depannya, “Mulai sekarang kamu Fasad, bukan Grace lagi.”
“Tapi Fasad mempunyai arti yang buruk,” kata Grace akhirnya membuka suara masih ada di dalam pelukan wanita di depannya.
__ADS_1
“Itu kalau dalam bahasa Arab. Kalau dalam bahasa Prancis, Fasad itu adalah muka bangunan, atau bagian depan. Mungkin waktu emak kamu hamil, papa kamu terinspirasi sama tembok cor.”
“Kebetulan waktu muda, bapakku katanya memang tukang bangunan di Prancis,” timpal Grace tak sedang bercanda.
Zara merenggangkan pelukannya dan sontak tergelak tawa, “Wah, pantesan! Untuk nggak dikasih nama semen tiga roda.”
“Iya, sih. Harusnya aku bersyukur.” Grace meringis geli. Candaan Zara memang receh!
°°°
“Nama aku Fasad, namaku berarti muka bangunan,” kekeh Fasad bergumam pada saat dia pulang ke rumah. Dan itu tak luput dari pandangan ibunya yang sengaja menyambut kedatangan anaknya. Mendengar dari kendaraan yang baru saja berhenti di depan.
“Kenapa senyum-senyum?” Ibu Tia bertanya setelah beliau menjawab salam anaknya.
“Aku mau menikah, Bu.” Fasad memasang wajah sungguh-sungguh agar Tia mempercayainya.
“Sama siapa?” tanya Tia segera, pikirannya mendadak keruh mengingat belakangan ini ia ketahui anaknya mempunyai kelakuan yang agak menyimpang. “Laki atau perempuan?”
“Perempuan. Aku mau menikah sama Zara.”
Tia mencubit tangannya sendiri. Takut kejadian ini hanyalah sebuah mimpi. “Ah, yang benar kamu. Bohong kamu, ya?”
“Nggak percaya ya, terserah. Nanti jangan kaget kalau Minggu depan aku benar-benar menikah. Ibu tinggal datang aja, kok. Nggak perlu ngapa-ngapain.”
“Masa iya, Non Zara mau nikah sama pria setengah matang seperti kamu kecuali ada maksud tertentu. Memangnya nggak ada laki-laki lain lagi di dunia ini yang bisa dia pilih? Jangan main-main sama pernikahan, lho.”
Namun Fasad tak peduli. Dia meninggalkan ibunya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan ibunya yang diam-diam sebenarnya bahagia, lantaran melihat perubahan anaknya yang sudah bisa kembali ke setelan pabrik.
°°°
Apartemen yang tadinya kosong kini sudah mulai terisi. Meski belum sampai seratus persen karena terkendala biaya—tapi setidaknya sudah mulai bisa ditempati. Sesuai rencananya, Rayyan dan Hamidah sudah resmi pindah dari rumah orang tuanya.
“Coba kalau kemarin kamu nggak nolak bantuan Abi, pasti rumah kita sudah penuh,” ujar Hamidah sembari melihat-lihat seluruh isi ruangan yang menurutnya masih kurang.
“Bukan bantuan Abi saja yang kutolak, bantuan dari Papa juga aku tolak. Katamu mau mandiri. Jadi semua harus dari nol.”
__ADS_1
“Tapi ... kan ....” keluh Hamidah.
“Nggak boleh ada tapi. Seorang istri harus menghargai setiap keputusan kepala keluarganya.”
Hamidah terdiam. Dia menyadari kesalahannya. Pun dengan kejadian kemarin yang terlanjur membeli ranjang terlalu besar. Sebab karena tak menurut dengan suami, kini kamar mereka terlihat sangat penuh hingga tak bisa muat barang lebih banyak.
“Aku minta maaf soal yang kemarin, ya,” ujar Hamidah memeluk suaminya.
“Nggak papa, yang penting jangan di ulangi lagi,” balas Rayyan dengan menggerakkan tangannya mendekap sang istri.
“Insyaallah, Kak. Tolong bimbing dan selalu ingatkan aku supaya bisa menjadi istri yang baik.”
“Itu pasti karena ini adalah tugasku.”
Keduanya larut dalam dekapan. Apalagi di saat berduaan seperti ini. Tak jarang, sebagai pengantin baru, percakapan atau sentuhan ringan membuat mereka berakhir panas.
°°°
Keesokan paginya, Rayyan menyetir mobil menuju ke Pesantren di mana ia mengajar setiap hari Kamis dan Sabtu. Lokasi sangat dekat sehingga tak butuh waktu lama ia sampai di sana.
Mulanya, tidak ada yang ganjal saat dia turun dari mobil. Tetapi pada saat dia masuk, secara tak sengaja dia berpapasan dengan Zara. Keluar dari sana bersama laki-laki yang sudah ia kenali ternyata adalah manajernya, Grace alias Fasad.
Namun yang membuatnya seperti tercubit keras adalah, Zara yang enggan menatap apalagi menyapanya seperti terdahulu. Dia melewati saja dirinya seolah pria di depannya ini adalah sosok makhluk tak kasat mata.
Setelah beberapa saat kemudian, dia baru menyadari bahwa ternyata, dia sendirilah yang memintanya untuk tak saling mengenal.
“Aku berdosa besar padamu, dengan cara apa aku meminta maaf?” batin Ray sembilu—apalagi pada saat mendengar Ustaz yang lain, menjawab pertanyaannya, untuk apa tujuan Zara kemari.
“Sudah lama mereka itu jadi donatur paling besar di Pesantren ini. Hanya saja, Zara minta disembunyikan namanya. Tapi kali ini, mereka datang sekaligus minta doa restu, karena katanya ... minggu depan keduanya mau menikah. Alhamdulillah, saya doakan semoga acaranya berjalan lancar dan menjadi keluarga yang bahagia. Seperti Ustaz Rayyan juga.”
Entah bagaimana raut wajah Rayyan pada saat itu. Tapi bila diperhatikan, mukanya berubah jadi aneh dan tak ramah saat dipandang.
•••
Bersambung.
Visual Zara ada di instagram ya.
__ADS_1
@ana_miauw.
di video terbaru.