Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Alma Harus Lebih Cantik


__ADS_3

160


Demi menutupi matanya yang bengkak, Mauza memakai kacamata hitam pagi hari ini, sehingga membuat orang yang pertama kali dia temui sontak bertanya, “Kenapa kamu, Za? Dah kayak orgil aja kamu di dalem pake kaca mata hitam begitu.”


Orang tersebut adalah Umar. Pria itu sengaja bangun pagi-pagi sekali karena hari ini, ia harus pergi ke Tangerang Selatan. Ada urusan dengan kliennya.


“Lagi sakit mata, takutnya nular ke kamu,” jawab Mauza enggan mengatakan yang sejujurnya. Takut terdengar orang lain karena di sini sudah banyak makhluk yang berkeliaran mengerjakan pekerjaannya masing-masing.


“Alesan ae kamu, Za.” Umar memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian mengambil kunci. “Aku pergi dulu.”


“Kamu mau ke mana?”


“Ke Kota Tangsel.”


Ke Tangsel? Mauza sesaat berpikir. Sepertinya ikut pergi bersama Umar adalah ide yang cukup bagus untuk mood nya yang kini sedang lumayan buruk. Dia bisa merefresh otaknya sejenak dengan melihat dunia luar supaya bisa kembali dalam keadaan lebih baik.


“Aku ikut!” kata Mauza kemudian.


“Yang bener kamu, Za. Ini masih pagi banget. Izin dulu sana sama suamimu!” titah Umar. “Kamu kira Tangsel itu dekat apa?”


Namun, Mauza tak peduli. Perempuan itu malah mendahuluinya keluar, lalu masuk ke dalam mobil setelah merebut kunci dari tangan saudara kembarnya.


Umar yang panik lantas segera menyusulnya, “Kamu itu apa-apaan sih, Za? Ntar aku juga yang disalahin sama Papa gara-gara aku pergi bawa kamu seenaknya. Turun!”


Umar tidak takut kepada Sammy, bahkan siapapun di rumah ini kecuali papanya saja.


“Plis aku pengen refreshing. Yuk, bawa aku, yuk!” Mauza ngeyel.


“Nggak, ah. Aku mau pergi sendiri. Males banget bawa orang jadi nggak bebas.” Umar menolak. Tapi tubuhnya ditahan untuk tak beranjak dari sana.


“Plis, Mar ....”


“Habis di apain kamu sama Si Semut, ha?” pria itu baru menyadari hidung Mauza yang memerah.


“Aku nggak di apa-apain sama Sammy, Mar. Aku cuma lagi pengen refreshing aja,” Mauza menjawab.


Umar tak segampang itu percaya pada ucapan Mauza barusan yang dia yakini hanyalah sebuah alasan untuk menutupi sesuatu. Dia sangat mengenali siapa Mauza yang paling pandai menyembunyikan kepalsuan.


Umar lantas menarik paksa kaca mata hitam yang bertengger di hidung Mauza. Dan di saat itulah pria itu mendapati pemandangan tak biasa dari wajah Mauza yang biasanya ceria.


“Kan, aku udah pernah bilang, jangan nikah sama Sammy! Dia itu cowok brengsek yang bisanya cuma nyakitin perempuan!” ujar Umar menggebu-gebu, mengingatkan pesannya dulu sebelum pernikahan mereka terjadi.

__ADS_1


“Lagian ngapa, sih? Kalian berdua kok, tergila-gila banget sama Sammy. Ganteng enggak, kaya enggak, bobrok iya kelakuannya! Begini akibatnya kalau nggak percaya sama aku kan, Za?” Umar mengguncang tubuh Mauza sampai tubuhnya bergetar.


“Mar, plis! Kamu nggak tahu apa-apa soal kita berdua. Jadi tolong jangan ngata-ngatain Sammy sembarangan. Aku cuma lagi sedih aja karena aku ... aku nggak seberuntung mereka. Kamu ingat apa yang disampaikan Nai semalam?”


Umar langsung nyambung.


“Wajar kalau aku sedih,” lanjut Mauza. “Sebenarnya, aku nggak perlu sedramatis itu. Kedengarannya juga lebay karena seperti itu aja di bawa perasaan. Tapi sebagai perempuan, kadang aku cuma butuh di dengar aja saat aku butuh tempat cerita. Sayangnya, Sammy nggak bisa melakukannya karena dia juga punya alasan. Mungkin capek setelah seharian dia berkutat di tempat kerja.” Dia juga menyebutkan alasannya agar Umar tak salah paham pada suaminya.


“Cuma pasang telinga saja dia nggak bisa. Bilang sama aku, seberapa mahal telinganya!” Kemarahan Umar malah justru semakin mencuat mendengar penjelasan Mauza. “Ini nggak bisa dibiarkan!?”


“Umar?!” Mauza menahan tubuh Umar yang hendak beranjak untuk menggarapnya. “Jangan gegabah, Umar! Apa yang mau kamu lakukan?”


“Dia harus diberi pelajaran!”


Ah, iya. Mauza lupa bahwa Umar adalah orang yang paling tidak bisa mendengarkan dirinya terluka. Oleh karena siapa pun itu.


“Nggak perlu, Umar. Kamu nggak perlu melakukan apapun,” Mauza memohon. “Justru dengan kamu ke sana, masalahku yang kecil bisa jadi makin besar dan runyam.”


“Kecil kamu bilang?” Umar mengulanginya, “masalah kecil?”


“Ya, hanya masalah kecil, Mar.” Mauza mengangguk.


“Kalau masalahmu kecil kenapa matamu membengkak sebesar ini? Aku geli melihatmu, Za. Kamu kayak jombi.”


“Zombie, Mar,” Mauza membantu meralat pengucapan nya, “nggak bisa bahasa enggres kamu, ya?”


Umar melirik tajam. Orang lagi emosi malah di cari-cari kesalahannya untuk dijadikan bahan ledekan. Huh, KZL!


“Udahlah, cepet jalanin mobilnya! Nanti keburu ada yang keluar!” desak Mauza.


Umar mendecak kan lidah. Demikian juga dirinya yang sudah ditunggu oleh klien. Maka dari itu, mobil pun melaju ke alamat tujuan.


“Kamu nggak sampai dipukul kan, sama Si Semut?” tanya Umar lagi setelah beberapa saat pria itu mengemudi.


“Ya nggak, lah.”


“Dah sering kalian kayak gini?”


“Namanya juga rumah tangga, pasti kejadian seperti ini bakalan sering terjadi. Besok kalau kamu dah nikah, kamu juga pasti bakal ngalamin kayak aku, Mar. Salah paham, beda pendapat, sama-sama ego, itu dah hal biasa. Harus siap karena masalah-masalah begini akan jadi makanan sehari-hari kalau salah satunya yang waras nggak mau ngalah. Kadang kalau lagi begini, kita emang butuh pisah sebentar untuk menenangkan diri. Supaya masing-masing sadar, kalau kita itu sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain.”


“Lebay kamu, Za,” Umar menanggapi.

__ADS_1


“Biar aja,” balas Mauza tak peduli.


Beberapa saat kemudian, Mauza mengalihkan topik, “Oh, iya. Gimana hubunganmu sama Alma? Apa sejauh ini udah ada kemajuan?”


“Biasa aja,” jawab Umar.


“Masa sih, Mar? Emangnya belum tumbuh sedikit perasaan buat dia gitu?”


“Pernah lihat wajahnya juga engga.”


“Lagian disuruh lihat ngapa waktu itu kamu nolak, Mar? Itu sama aja beli kucing dalam karung.” Mauza menyalahkan sikapnya yang kadang membingungkan dan sulit dimengerti.


“Ya, kali aku mau maksain Alma buat buka cadarnya sekarang.”


“Besok lho, Mar. Sebenarnya kamu udah nggak boleh jalan-jalan begini. Ini demi keselamatan calon pengantin.” Mauza mengingatkan masa lajangnya yang akan berakhir hari ini.


“Ini udah jadi tugasku. Aku nggak bisa dan nggak mungkin nyuruh orang. Lagian cuma sebentar. Kalau ada apa-apa kan, ada kamu yang bisa jadi pahlawan.”


“Kok malah aku yang dijadikan jaminan?” Mauza tak habis pikir.


“Hei, siapa tadi yang nyuruh kamu ikut?”


“Nggak ada,” jawab Mauza segera tanpa berpikir terlebih dahulu.


“Ya udah, makanya diam!”


Namun, Mauza tak mau tinggal diam. Dia sedang banyak yang ingin dia tanyakan saat ini, “Kalau kabar Sarah gimana, Mar?”


Yang ditanya malah terdiam. Bahkan tak menoleh sedikit pun. Padahal Mauza bertanya dengan suara yang cukup jelas. Masa iya Umar nggak dengar sama pertanyaannya?


“Aku harap kamu udah move on dari dia, ya Mar? Rasanya nggak enak banget tahu, jalin hubungan sama orang yang masih belum bisa ngelupain masa lalunya.”


“Sarah itu perempuan paling nggak tahu di untung,” kata Umar kembali tersulut emosi. “Dia pikir dia siapa? Secantik apa berani nolak gue!”


“Oh, jadi kamu emang ditolak sama dia, Mar?” Mauza memang belum mengetahui hal ini karena Umar tak pernah bercerita dengan siapapun, tentang pertemuan terakhirnya dengan Sarah. Dan ke mana sebenarnya wanita itu pergi.


Umar mengangguk. “Belum lama ini kami ketemu, Za. Tapi dia melarang aku menemuinya lagi.”


“Bagus dong!” Mauza justru senang mendengar saudaranya tak lagi terikat dengan wanita tersebut. “Kamu harus bisa buktikan, bahwa kamu juga bisa lebih bahagia tanpa dia, Mar. Seenaknya aja kelakuannya. Orang mau diajak nikah kok, malah kabur.”


“Alma harus lebih cantik dari Sarah,” ucap Umar kemudian. Demikian agar Umar bisa bisa menjadikannya sebagai alat untuk pamer, jika suatu saat, dia bertemu dengan wanita itu lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2