Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Welcome Baby


__ADS_3

177


Telah banyak masa-masa yang terlewati selama beberapa bulan ini. Dan kini hari itu telah tiba. Hari di mana dua manusia baru akan terlahir ke dunia. Anak dari pasangan suami-istri Ray dan Zara.


Sebenarnya hari perkiraan masih lama, hanya saja, kedua bayi itu mungkin sudah tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Hingga terjadilah hari ini.


Sudah dari kemarin malam, Zara mengalami tak nyaman di sekitar perutnya dan beberapa bagian tubuhnya yang lain. Dan itu sangat menyiksanya sehingga ia berulangkali menumpahkan air mata.


Kini Zara sudah berada di rumah sakit menanti pemeriksaan lebih lanjut. Dia berada di ruang perawatan khusus yang sudah Miranda pesan lebih awal.


Kontraksi hebat sedang terjadi, Zara meringis dan mengejan merasakan sakit yang sedemikian hebatnya. Bak seperti beberapa tulang yang dipatahkan secara bersamaan.


“Atur pola napas, Sayang. Jangan nyerah,” ucap Miranda yang selalu setia menemani dan menyemangati anaknya. Dia di sebelah kanan, sementara Ray di sebelah kiri dan terus membisikkan kalimat istighfar, agar Zara terus mengingat-Nya.


Zara mendengar interupsi Miranda untuk terus mengatur pola napasnya. Sedangkan satu tangannya terus berpegang kuat pada sang suami, seolah tengah menyalurkan rasa sakit yang di deritanya. “Hufft ....”


“Mami aku takuuut,” ucap Mike tak tega melihat kengerian itu. Dia adalah orang yang paling tidak bisa diam melihat Zara demikian. “Mami aku takut!” ulangnya membuat Miranda berdecak sebal.


“Di ajak keluar nggak mau, tapi di dalam juga berisik terus. Bikin kami pusing aja kamu, Mike,” sungut wanita itu, “Pi bawa dia keluar, Pi!”


“Nggak mau, maunya sama Kakak ....” Akhirnya Mike menangis pilu. Dalam keadaan demikian, Mike sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang biasanya dingin dan galak.


“Beli coklat, yuk. Katanya kamu suka coklat?” bujuk Ray akhirnya mendapatkan ide. Meskipun dia harus rela meninggalkan istrinya barang sejenak.


“By, jangan pergi, By. Aku nggak mau kamu tinggal ....” Zara tak mau melepaskan tangannya dari genggaman Rayyan. Tidak ada orang yang lebih dia butuhkan selain suaminya di saat-saat seperti ini.


“Mike pergi sama Papi, ya.” Ruben mencoba membujuknya, namun langsung ditanggapi oleh bocah itu dengan gelengan kepala.


“Takut Kakak mati,” rengeknya sembari terus menatap sang kakak.


Tak punya cara lain lagi, Ruben membawa paksa anak lelakinya keluar karena dia sudah sangat mengganggu. Tak peduli bocah itu memberontak.


“Nah, gitu lebih baik,” gumam Miranda.


Hingga tak berapa lama, beberapa tim dokter pun datang untuk menanganinya, termasuk dr. Junita. Tiba pada tahap ini, hanya Ray saja yang boleh menemaninya ke dalam ruang operasi.

__ADS_1


“Untung nggak jadi pergi kamu, Ray. Kalau pergi, kamu nggak bisa masuk.”


“Iya, Mam. Alhamdulillah.”


“Mami nitip Zara, ya?” Miranda berkaca-kaca.


Peka akan kecemasan sang mertua, Rayyan memeluknya untuk memberinya rasa aman, “Minta doanya saja, Mam.”


“Pasti, pasti Mami doain.” Mau tak mau, Miranda harus rela melepaskan mereka. “Ya Allah, permudahkan lah semuanya. Selamatkan ketiganya. Anakku, cucuku ....”


Sementara itu, empat orang laki-laki dan perempuan berlarian ke ruang operasi. Mereka adalah Yudha, Vita, Sammy dan Mauza. Di sana, mereka langsung menemui Miranda yang tengah duduk cemas. Wanita itu langsung beranjak begitu mengetahui bahwa keluarga besannya telah datang. Mereka saling berpelukan dan saling menguatkan.


“Sudah lama mereka di dalam?” Yudha bertanya.


“Baru sepuluh menitan,” jawab Miranda.


“Coba kalau tadi nggak macet, pasti kita nggak telat,” Vita begitu menyayangkan hambatan ini yang membuatnya terlambat menemui Zara dan Rayyan sebelum keduanya masuk ruang operasi.


“Nggak papa, Zara sama Rayyan pasti tahu kalian sudah ada di sini sekarang,” Miranda menimpali.


“Iya, orang masih dua minggu lagi. Kita dari kemarin masih ngantor terus. Yang mau melahirkan juga nggak bilang apa-apa. Ray apalagi? Anggapnya mungkin istrinya cuma nyeri-nyeri biasa kali, ya?”


Vita lantas terkekeh, “Dia mah, nggak paham begituan.”


Miranda melanjutkan, “Zara cuma bilang pagi-pagi, bayinya udah jarang gerak. Wah, panik saya. Langsung kami bawa ke sini. Mana lagi hari libur. Untung dr. Junita nya mau aku paksa datang,” jelas Miranda.


“Pak Ruben sama Mike nggak ikut?” Yudha menanyakan mereka karena keduanya tak terlihat.


“Lagi di ademin dulu, Pak. Geger anakku. Takut lihat kakaknya kesakitan,” Miranda menjawab.


“Oh, takut dia.”


“Iya, sayang banget ternyata dia sama kakaknya. Padahal kelihatannya gelut terus.”


Ketegangan sedikit mencair setelah mereka mendengar pernyataan barusan.

__ADS_1


Hingga beberapa puluh menit berlalu, akhirnya mereka mendengar kabar baik. Ray baru saja mengabarkan di grup keluarga, bahwa kedua anaknya telah lahir ke dunia dengan selamat.


Ya, hanya seperti itu saja karena pria itu langsung off kembali. Kendati demikian, kabar singkat tersebut sudah bisa membuat semua orang yang semula harap-harap cemas, lantas bernapas lega dan tersenyum bahagia.


“Alhamdulillah,” ucap semua orang yang ada di ruang tunggu.


“Kita udah resmi jadi nenek kakek, Mas!” ungkap Vita menangis haru memeluk sang suami.


Yudha tersenyum. Meski tak mengatakan apapun, namun terlihat jelas dari ekspresinya betapa pria itu bangga dan bersyukur telah menjadi seorang kakek.


Sammy menggenggam tangan sang istri. Dia paham, Mauza sedang kurang baik-baik saja saat ini.


Bukannya Mauza tak suka melihat orang lain bahagia, dia hanya sedang menyelami nasibnya sendiri yang masih kurang beruntung soal anak.


Ada yang sedang bahagia karena lahirnya anak mereka. Ada pula yang sedang bahagia karena kehamilannya. Dan mungkin lainnya pun sebentar lagi akan menyusul.


Sementara dirinya?


Sampai sekarang, dia tak menunjukkan tanda-tanda apapun. Apa dan kenapa penyebabnya, mereka masih belum tahu. Padahal keduanya merasa tubuhnya sama-sama sehat.


Aku ini sebenarnya kenapa? Begitu yang menjadi pertanyaan Mauza setiap hari. Apakah dia mandul? Atau justru Sammy lah yang mandul?


“Apaan sih, Sam?” Mauza memalingkan wajahnya. Ia tak suka Sammy terlalu mengkhawatirkannya begitu.


“Mungkin semua orang bisa kamu bohongi dengan wajahmu yang selalu ceria, tapi nggak denganku, Za. Kalau kamu mau nangis, ayo kita nangis sama-sama,” kata Sammy begitu tulus saat mengucapkan.


“Aku udah janji nggak akan nangis lagi. Jadi aku nggak nangis,” Mauza membantah bahwa dirinya tengah bersedih. Padahal tampak jelas di matanya dia menyimpan banyak kesedihan.


“Bohong, itu buktinya!” Sammy menunjuk matanya yang sudah mengembun.


“Ihh, apaan sih!” Mauza mendorong Sammy hingga pria itu hampir terjungkal. Suatu kebiasaan buruknya yang tak bisa di ubah.


“Kebangetan kamu, Za. Untung nggak kukutuk jadi Malin kondang.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2