Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Salah Mengira


__ADS_3

Bab 23


Zara membuka seatbeltnya pada saat posisinya kini sudah dekat dengan PT Purnawisata Tbk.


“Akhirnya sampai juga di sini.”


Setelah turun, ia pun menyerahkan kunci mobilnya terhadap salah serang security untuk memarkirkan mobilnya ke tempat khusus. Sebab ia malas untuk memarkirkan sendiri.


“Ya, ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya salah seorang resepsionis yang ditemui oleh Zara. Masih orang yang sama seperti saat dia bertandang lain hari lalu.


“Saya mau bertemu dengan Pak Ruji. Apa beliau ada di ruangannya?”


“Sebentar, saya pastikan dulu ya, Bu.”


Zara berdiri di depannya selama beberapa menit sembari menunggu wanita tersebut menghubungi orang yang akan ia temui. Sebelum akhirnya, orang itu kembali mengajaknya bicara, “Bu, Pak Ruji ada di ruangannya. Mari saya antar,” ujar wanita tersebut disertai gerakan tangan.


“Oh, nggak perlu. Saya bisa ke sana sendiri.” Usai berujar demikian, gadis itu langsung pergi menuju ke lift. Hal tersebut tak lepas dari banyaknya pasang mata yang menyaksikan. Mengagumi paras sekaligus penampilannya yang tak pernah gagal di mana pun dia berada. Rambutnya, kulitnya, make up nya, pakaiannya, tasnya, aksesorinya dan semuanya yang menempel di tubuhnya. Benar-benar wanita yang mahal. Mereka seperti melihat uang sedang berjalan. Apa saja yang di pakainya, memiliki label dunia.


“Apa dia pernah mendengar listrik berbunyi?” bisik resepsionis tadi kepada teman-temannya, sekaligus memperagakan bunyinya yang nyaring saat tak kunjung di tekan nomor token.


“Sepertinya nggak, Kak. Cuma kita doang yang kadang, botol sampo abis aja masih dikocok pakai air berkali-kali,” timpal yang lain.


“Hahaha!”


Kembali ke atas, Zara masuk ke dalam ruangan Ruji setelah ia dipersilakan masuk, kemudian mengambil tempat duduk.


“Untung Om belum pergi, jadi Zara masih punya kesempatan untuk bicara sama Om sekarang.” Ruji menyerahkan kartu nama kepada Zara, “Simpanlah. Zara bisa menghubungi Om terlebih dahulu kalau mau datang supaya hal ini nggak sampai terjadi.”

__ADS_1


“Terima kasih, Om,” ujar Zara saat menerimanya. Setelah situasi kembali tenang, Zara kembali berujar untuk mengutarakan maksud kedatangannya, “Langsung saja, Om. Kedatangan Zara ke sini kali ini ialah untuk memperjelas tentang pengalihan aset yang beberapa waktu lalu pernah kita bahas.”


Tak hanya itu, Zara juga mengeluarkan buku nikahnya, “Zara pikir, Zara sudah memenuhi persyaratan ini. Menikah, bukan?”


Ruji tak dapat menyembunyikan raut wajah terkejutnya. Bagaimana mungkin, tak ada angin, tak ada hujan, tak ada badai, tahu-tahu ia diperlihatkan oleh Zara sepasang buku pernikahan?


Untuk memastikan keasliannya, Ruji mengambil dan memperhatikan secara saksama buku tersebut. Namun sepertinya tidak ada yang aneh. Buku ini asli dan sah dikeluarkan oleh negara. “Lalu di mana suamimu?”


“Dia di rumah, Om. Atau mau Zara panggil ke sini?” kata Zara tak sedang bersungguh-sungguh. Dia hanya menantang saja. Sebab dia merasa Ruji tak benar-benar mempercayainya.


“Om harap pernikahanmu ini dilakukan bukan untuk mencapai sesuatu. Soalnya Om nggak pernah mendengarmu berpacaran sebelumnya. Semoga saja dugaanku salah.”


“Apa maksud Om?” tanya Zara meninggi, “bukan urusan Om juga andai memang begitu tujuannya.”


“Zara ... Om adalah teman baik Papi kamu. Mengerti bagaimana sikap beliau semasa hidup. Om yakin, beliau akan sangat sedih jika mengetahui semua ini. Kamu telah mempermainkan pernikahan dan ini sangat buruk—terlebih untuk dirimu sendiri. ”


“Baiklah, tunggu sebentar. Om memang sudah mempersiapkannya,” balas Ruji, lantas mengeluarkan semua dokumen yang harus Zara tanda tangani sekarang ke atas meja. “Baca dulu dan periksa lagi semua isi-isinya. Kalau ada yang belum kamu pahami, tanyakanlah.”


Zara menerimanya dan membaca dokumen tersebut. Sesekali ia membolak-balikkannya untuk kembali meneliti, barulah kemudian bergerak untuk menandatangani. Namun sebelum ia benar-benar melakukannya, pintu tiba-tiba terbuka dengan paksa yang sontak menghentikannya. Bersama Ruben, Miranda langsung masuk ke dalam sini setelah mendapat laporan dari seorang sekretaris. Bahwa Zara baru saja memasuki ruangan Pak Ruji.


“Jangan kamu tanda tangani ini dulu sebelum kamu paham isi-isinya!” ujar Miranda dengan cepat menarik dokumen di depan Zara saat ini.


“Kenapa?” tanya Zara dengan dada yang bergemuruh, “takut suami Mami jadi miskin karena semua aset akan pindah ke tangan aku? Ini milik Papi aku, bukan dia!” sembari menunjuk Ruben.


“Dengar dulu penjelasan Mami, Zara. Buang pikiran-pikiran kotor itu dari dalam pikiranmu,” Miranda menjawab dengan tegas, “perusahaan ini, termasuk semua aset yang bergerak mau pun tidak, sangat butuh pengawasan secara detail dalam menjalankannya. Bukan hanya sekadar punya ilmu, tapi juga harus mempunyai strategi. Dan nggak sembarang orang bisa melakukannya. Kalau kamu tetap mengeyel seperti ini—kamu bisa mempertaruhkan masa depan perusahaan dan banyak orang di dalamnya,” papar Miranda disertai dengan uraian air mata yang tak dapat lagi dibendung karena saking kesalnya, “kamu pikir memimpin perusahaan itu mudah?”


Ruben berusaha mengendalikan amarah istrinya dengan mengusap punggungnya.

__ADS_1


“Jangan apa-apa kamu anggap sepele. Om Ruben saja, yang berpengalaman sampai jatuh bangun untuk mempertahankan semua ini. Apalagi kamu yang masih awam?


“Kamu akan bersaing dengan banyak sekali perusahaan di luar sana yang lebih besar dan hebat. Apa bisa kamu melakukannya dengan otak kosong dan modal nekat saja, ha? Menghadapi kami saja kamu masih arogan seperti ini, bagaimana mungkin kamu bisa menghadapi semua orang? Bisa-bisa semua investor akan menarik sahamnya. Bukan nggak mungkin dalam hitungan hari perusahaan ini juga akan gulung tikar,” jeda sebentar Miranda melanjutkan, “biarkan Om Ruben yang menjalankannya untuk sementara waktu. Kalau kamu mau apa dari Mami, Mami akan berikan. Tapi kamu pulang ke rumah dan hentikan semua pekerjaan harammu itu!”


Zara ikut-ikutan terisak, “Aku nggak percaya sama kalian.”


Miranda sontak menarik napas dalam mendengar pernyataan barusan. Pun dengan Ruben yang melakukan hal serupa. Sungguh berat perjuangannya untuk diterima sebagai ayah tiri Zara. Kelak hanya dirinya dan istrinya sajalah yang tahu betapa mereka sangat merasa bersalah.


“Baiklah, kalau kamu masih tak percaya juga.” Dengan tatap wajah nelangsa, Miranda menyerahkan dokumennya kembali kepada putrinya, “Tanda tanganilah, sesuai dengan apa yang inginkan. Orang-orang sepertimu nggak akan percaya sebelum mengalaminya sendiri.”


“Ini lebih baik daripada jatuh kepada orang yang nggak punya hak sama sekali,” balas Zara singkat tapi begitu menyakitkan. Meski kenyataannya adalah benar.


“Kamu itu nggak paham, tapi keras kepala,” ujar Miranda menahan kesal yang memuncak, “sudahlah, kita pulang saja, Pih. Percuma ngomong sama anak ini,” Miranda mengalihkan pandangan kepada Ruji yang sedari tadi hanya terdiam, menyimak perdebatan antar anak dan orang tua tersebut, “kamu uruslah anakku yang satu ini. Kami mau mengosongkan ruangan, karena sekarang dialah pemimpinnya.”


Usai keduanya pergi, Zara kembali duduk di depan Ruji dan kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda. Namun setelah kejadian ini, Zara justru ragu dengan apa yang seharusnya akan dia lakukan.


“Sepertinya kamu salah menilai kedua orang tuamu. Om nggak bisa membayangkan bagaimana buruknya hubungan kalian sebagai seorang anak dan ibunya. Kamu durhaka terhadap ibumu, Zara. Kamu berdosa.”


Deg.


Zara terdiam. Merasa tertampar dengan pernyataan Ruji barusan. Apa benar, dia salah mengira selama ini?


Demikian batinnya berpikir.


To be continued.


Jangan lupa votenya.

__ADS_1


__ADS_2