
Bab 15
Genggaman erat tangan Zara semakin erat Grace rasakan ditangannya pada saat akad mulai dilakukan. Dengan satu tarikan napas, Rayyan akhirnya dapat mengucapkan ijab kabul dengan lantang, menggunakan bahasa Arab. Grace masih saja melihat raut wajah Zara yang ia ketahui mati-matian menahan air matanya, “Inilah definisi sesungguhnya mencintai seseorang.”
Samar, Zara menanggapinya dengan tersenyum. Kemudian menundukkan pandangannya pada saat melihat pasangan baru suami istri tersebut—saling bersentuhan untuk pertama kali. Yakni cium tangan dan cium kening.
Keduanya menyaksikan semua prosesi sampai selesai—hingga tiba saatnya waktu bersalam-salaman untuk mengucapkan selamat kepada yang sedang berbahagia. Di tempat terpisah. Laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan.
“Apa kamu juga akan menemuinya?” tanya Grace.
“Why not?” balas Zara pasti, “aku nggak terlalu polos-polos amat. Aku yakin Si H ngirimin undangan ke aku karena ada tujuannya. Mungkin dia pikir ... aku bakal terpancing sama apa yang dia lakukan. Tapi sayang, dia salah cari orang.”
“Jadi ....” kata Grace meminta Zara menjelaskannya lebih lanjut.
“Aku mau buktikan ke dia sekarang, kalau aku bisa berdiri tegak di hadapannya.”
Grace tahu persis watak sahabatnya itu yang keras kepala, susah menerima masukan, dan tidak mau terlihat lemah di mata orang lain.
“Ya sudah. Memangnya siapa yang bisa melarangmu?” kata Grace akhirnya membiarkan Zara memasuki area para perempuan.
Kini Zara sudah berada tepat di hadapan Hamidah yang berdiri menanti setiap orang yang menghampirinya.
“Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang, Kak,” ujar Hamidah menyambut uluran tangan Zara, “suatu kehormatan besar karena bisa dihadiri oleh orang penting seperti Anda.”
“Your welcome, Kak Hamidah. Kebetulan kalau weekend aku memang free,” balas Zara seolah tak ingin terlihat datang dengan sengaja. “Selamat, ya. Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah.”
“Aamiin, terima kasih doanya. Semoga cepat menyusul.”
Zara ikut mengaminkannya juga. Dia pun tak bisa berlama-lama di sana mengingat masih ada banyak orang yang menunggu gilirannya.
Saat melangkah keluar, ada tetes air matanya yang mengalir jatuh ke lantai. Tapi tidak terlalu dipedulikan dan langsung masuk ke dalam mobilnya lebih dulu sembari menunggui Grace kembali. Sebab lelaki gemulai itu masih berada di sana karena antrean laki-laki lebih banyak.
Dia menyandar di kursi mobil dan membuka purdahnya, “Untung aku pakai pakaian ini, jadi nggak banyak yang ngerti kalau ini aku. Malas di candid.” Meski Zara tak pernah berhijab, tetapi bukan berarti dia tak bisa menyesuaikan. Dia tahu mana tempat harus berpakaian lebih tertutup. Namun kelak, bukan tak mungkin dia akan memakainya, sebab ia sudah mempunyai niat.
Di tempat lain, Grace sedang mengkhawatirkan artisnya, “Zara pasti udah nungguin aku di mobil.”
Kini posisi antreannya sudah semakin dekat dengan pengantin pria. Betapa tatapan Grace penuh kebencian kepada pria ini telah berani mempermainkan perasaan sahabatnya dan menilainya dengan sebelah mata. Namun menjelaskannya pun percuma. Nggak guna!
“Males Gue sebenarnya. Tapi daripada malu nggak nyamperin.”
__ADS_1
Hanya jabatan dan ucapan selamat singkat saja yang Grace katakan sebelum ia kembali turun. Sebab ia lebih memikirkan keadaan Zara sekarang. Ditakutkan, Zara kembali melakukan percobaan bunuh diri lagi seperti kemarin. Kan, repot!
“Namanya juga orang muak, ye, kan?”
Tiba di mobil, Grace pun langsung menemuinya dan bertanya, “Are you ok?”
“Apaan, sih. Nanya kayak gitu berkali-kali. Nggak bosen apa?” sembur Zara tak suka Grace terlalu mengkhawatirkannya.
“Aku begini karena aku peduli sama kamu, Dodol!”
“Ayok!” ajak Zara ingin Grace bergerak lebih cepat.
“Ke mana?”
“Pulanglah, masa ke toko matrial.”
“Siapa tahu mau ke rumah sakit jiwa.”
“Kamu tuh yang sakit jiwa. Obatin di sana, yang lama, kek biar nggak belok.”
“Sembarangan. Gini-gini aku masih berguna bagi Nusa dan Bangsa,” kekeh Grace mulai menginjak pedalnya dan lekas pergi dari tempat tersebut. “Apa rencana busuk kita selanjutnya, Zar?”
“Ya, kali. Masa kita mau main dukun santet. Nggak elegan banget,” balas Zara menanggapi kata gila Grace barusan, “cukup tampar mereka pakai prestasi biar dia menyesal."
"Bodo mamat," ucap Zara tak mau ambil pusing, "tapi aku kepikiran sama perusahaan Papi aku, Grace.”
“Kamu mau memperjuangkannya?” tanya Grace segera.
Zara mengangguki, “Tapi gimana caranya?”
“Gampang. Kita harus temui pengacara almarhum Papi kamu. Kamu tahu siapa orangnya? Apa jangan-jangan, kamu nggak tahu juga?”
“Tahu! Om Ruji.”
“Ada di mana beliau sekarang?”
“Di kantor Papilah....”
“Kalau kamu sungguh-sungguh, aku mau bantu kamu. Tapi proses ini akan panjang dan melelahkan. Selain itu, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Sebab kita akan menghadapi banyak sekali tantangan. Apa kamu sanggup?”
__ADS_1
“Justru aku sangat menyukai tantangan,” jawab Zara sangat yakin.
°°°
Semua rangkaian acara sudah selesai. Berikut dengan acara makan bersama dan sejenak berkumpul dengan keluarga. Kini satu-persatu keluarga meninggalkan mereka sehingga menyisakan keluarga inti saja. Namun itu pun, sudah mulai berpamitan.
“Kami pulang dulu, ya, Kak,” pamit Mauza dan Zunaira undur diri. Sedangkan Umar sudah kabur lebih dulu dijemput oleh teman-temannya.
“Mama sama Papa juga,” sahut Vita, “kalian sendiri mau pulang ke mana?” wanita itu menatap anak dan menantunya secara bergantian. Sebab dia belum pernah mendengar mereka membahas di mana setelah ini mereka akan tinggal.
“Kami ....” Hamidah menggantungkan kalimatnya menunggu Rayyan membuka suara, “aku terserah Kak Ray saja, Ma.”
“Ray?” tanya Vita karena putranya tak kunjung menyahuti.
“Kita belum membahasnya,” jawab Rayyan mendadak gelagapan karena sedang sedikit melamun.
“Atau kamu mau mengajak istrimu ke Hotel?” goda Vita lagi yang sontak ditanggapi Rayyan dengan gelengan kepala.
“Kami belum bawa pakaian ganti. Jadi sementara kita pulang dulu.”
“Gimana sih, kalian! Masa masalah sepenting ini belum kalian bahas. Boleh, kok, komunikasi asal beralasan,” ucap Vita disertai gelengan kepala. “Jangan seperti hidup di zaman baheula, dong. Sekarang alat komunikasi sudah canggih.”
Tak mau istrinya berkomentar lebih banyak yang dapat menyinggung hati anak-anaknya, Yudha segera menarik Vita masuk ke dalam mobil, dengan beralasan ia mempunyai banyak urusan. Maklum, semakin bertambahnya usia seorang perempuan—mereka akan lebih banyak berbicara. Dan itu sudah sangat umum terjadi.
“Mas, aku kan, masih ngomong sama Kakak,” ucap Vita begitu mereka masuk ke dalam mobil dan menjauh.
“Biarkan dia menyelesaikan sendiri masalahnya.”
“Kamu pasti mau melarangku bicara sama mereka. Kamu takut aku cerewet?” dia menyadari sebelum Yudha mengatakannya.
Sementara Rayyan dan Hamidah sendiri masih berdiri di sana untuk melanjutkan bahasan.
“Sebenarnya aku sudah membeli unit apartemen, hanya saja ... belum ada isinya. Jadi sementara kita tinggal di rumah Abi kamu dulu. Kalau kamu setuju.” Dia tak mungkin mengajak istrinya tinggal di rumahnya karena sudah banyak sekali anggota keluarga yang tinggal di sana.
“Baik, Kak. Tapi besok kalau sudah siap, aku minta kita langsung pindah. Aku ingin mandiri.”
“Ya, sudah. Kita pulang sekarang. Aku capek banget. Mau cepat-cepat istirahat.” Rayyan beranjak dari tempatnya berdiri dan meninggalkan istrinya. Padahal wanita itu berharap Rayyan menggandengnya serta—atau paling tidak, mengajaknya masuk ke dalam mobil sama-sama. Tapi nyatanya....
Ah, padahal dari awal bertemu, dia sudah tahu bahwa Rayyan bukan tipe pria yang romantis. Tetapi ia masih saja berharap dapat diperlakukan seperti itu. Huh, jangan banyak berharap biar nggak kecewa! Batinnya merutuk.
__ADS_1
Bersambung.
Thank you buat votenya ya. terutama buat kak disyah. Insyaallah akhir bulan nanti dapat hadiah dari aku.