Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Meluluhkan Hati Mike


__ADS_3

Pencet like bab sebelumnya dulu, plis.


...Bab 73...


Zara terus menggulir layar ke bawah, di sana ada pesan-pesan lain yang belum ia baca, satu di antaranya adalah Kalila; teman keluar malamnya dulu.


Kalila: gila. Lu dikabarin ngerebut suami orang, lho. Bener nggak, nih? (Menyertakan link berita yang berisi sama dengan barusan Zara baca).


Zara yang gemas pun lantas membalas.


Zara: gue nggak seburuk itu kali, Kal. Biar pun aku perawan tua, tapi aku juga gak asal menikahi orang biar kelihatan cepet laku. Kita sama-sama single.


Beberapa detik pesan terkirim, Kalila terlihat mengetik balasan.


Kalila: makanya kalau ada apa-apa itu konfirmasi. Adain konferensi pers atau live di mana, kek, biar orang nggak naruh prasangka buruk sama elu.


Zara: kamu pikir dengan aku konfirmasi masalah bisa langsung selesai, gitu? Enggak, Kalila.


Kalila: ya, minimal dugaan orang bisa sedikit berkurang.


Zara: mana mungkin. Yang benci akan tetap benci, Kal. Aku di terjun di dunia ini bukan sebulan dua bulan. Aku paham banget gimana jari orang di negara kita seperti apa.


Kalila: terus apa yang mau lo lakuin sekarang? Kalau butuh bantuan aku siap bantu sebarin chat ini ke publik, kok.


Zara: eh, jangan gila, Kal. Cuma isi chat ginian doang mah, nggak akan bisa ngubah isi pikiran mereka. Yang ada nanti aku malah semakin di bully. Apa pun menurut penilaian orang saat ini aku nggak peduli karena kesalahannya bukan dari aku, tapi mantannya yang kurang bahagia sama hidupnya. Dia menyesal sama keputusannya sendiri. Gagal move on.


Kalila: seharusnya lu nggak usah nikah sama dia, tar cerai lagi. Soalnya baru di awal aja udah dapet masalah.


Zara: walaupun di awal dapat masalah, nggak mungkin selamanya seperti itu, Kalila.


Kalila: tapi cari yang masih bujangan kan, banyak, Zara. Minimal gak punya masa lalu yang bisa nyandung jalan pernikahan kalian ke depannya. Dah bener sama Ardito malah kamu tolak.


Zara: kamu nggak tahu apa-apa, plis. Berhenti nasihatin aku.

__ADS_1


Kalila: ya udah gue cuma mau ngabarin gitu doang. Maaf dah ganggu waktu, lo. Lain kali lebih update sama kabar terbaru. Tapi ada baiknya kalau kalian ketemu secara langsung biar masalahnya clear. Tantangin dia, maunya apa.


Zara: aku lagi nggak ada waktu buat ngeladenin orang & ngurusin masalah beginian, Kal. Udah, biar aja. Entar kalau capek juga tenggelem sendiri gosipnya.


Kalila: trending lho, Zar. Lu perebut suami orang.


Zara: anggap aja begitu. Aku nggak butuh pengakuan orang lain dan aku nggak akan pernah bisa memaksa mereka buat suka sama aku. Karena mereka yang sayang sama aku, dia akan tetap di sini.


Zara tak menanti balasan lagi. Dia meletakkan ponselnya dan langsung baring menelentang tanpa melepas apa pun yang melekat di tubuhnya. Yang jelas dia sangat lelah hari ini dan ingin segera bermimpi.


...♤♤♤...


“Seharusnya apartemen ini di jual saja,” batin Rayyan ketika dia selesai mengosongkan kembali seluruh ruangan seperti sediakala.


Hanya tersisa beberapa barang besar yang tak mungkin ia pindah dan mungkin, akan ia jual bersama dengan unit apartemen ini.


Tentu lebih baik demikian, sebab Zara tak mungkin bisa ia bawa ke tempat ini.


Selain jauh, ada sisa-sisa kenangannya bersama mantan istri yang tidak akan bisa diterima oleh istrinya yang lain.


Walaupun dari awal Zara sudah mengatakan bahwa dia tak mempermasalahkan apapun apalagi soal penghasilan, mungkin karena merasa dirinya mampu. Namun bukan berarti Ray akan memberikan nafkah alakadarnya dengan alasan mereka telah tercukupi.


Karena harga diri seorang laki-laki adalah bekerja!


Justru sebisa mungkin dia akan memberikannya yang lebih melimpah daripada ini agar Zara tak perlu bekerja lagi.


Usai mempick up semua barang-barang Hamidah, dia pun mengirim pesan kepadanya bahwa akan ada barang kiriman yang akan ke rumahnya. Agar nanti ketika sampai, ada orang yang menerima barang-barang itu.


Ray: jangan ke mana-mana, ada barang-barangmu yang harus kukembalikan. Apartemen aku kosongin karena sebentar lagi aku lepas.


Dalam satu detik, pesan tersebut bercentang dua. Yang artinya telah terkirim. Melihat hal itu, Rayyan merasa lega. Dia kemudian kembali mengemudi ke rumah Zara tanpa memedulikan balasannya.


Di perjalanan, Ray mencoba menghubungi Zara sekadar ingin tahu, apa yang sedang istrinya lakukan sekarang. Namun pada saat tersambung, jawabannya malah setengah menggumam. Mungkin pria itu telah menganggu tidurnya yang dia perhatikan sering menganga.

__ADS_1


“Ada apa, sih? Dah jam berapa ini?”


“Jam tiga, kamu udah zuhur belum?”


“Hmmm....”


“Sebentar lagu aku sampai.”


Niat ingin mengobrol lebih lama Ray urungkan mengingat sedang apa Zara saat ini. Sepertinya Zara mengantuk berat dan yang pasti ... dia juga sangat kelelahan. Demikian akibat dari perayaan cinta indah mereka semalam.


Di depan rumah besar Miranda, semua pekerja menyambutnya. Mereka tampak sangat senang dengan kehadiran anggota keluarga baru di sini. Yang di gadang-gadang akan banyak mengubah keadaan.


Ray sempat berkenalan dan mengobrol dengan mereka sebentar, sebelum akhirnya dia masuk dan mendapati Mike ada di sana, bermain sendirian. Dengar-dengar, Mami dan Ruben memang langsung berangkat ke kantor pagi tadi.


Ray mencoba mendekatinya dan mengucap salam.


“Salam!” jawab Mike ketus membuat Ray terkekeh.


“Nggak boleh seperti itu, Mike,” ujar Rayyan lagi, kemudian duduk di sebelahnya. Dia juga tak kecewa meskipun Mike menjauhkan tubuhnya selangkah. “Kamu tahu apa artinya assalamualaikum?”


Karena Mike tak menjawab dan tetap fokus ke ponselnya yang sebenarnya tak terdapat gambar apa-apa, Ray kembali melanjutkan, “Assalamu'alaikum artinya, semoga keselamatan terlimpah untukmu, yang harus Mike balas dengan doa yang sama juga, Waalaikumsalam, semoga keselamatan juga terlimpah atasmu.”


Mike hanya melirik sekilas. Masih gengsi.


“Lain kali harus lengkap, ya?”


“Hem.”


“Mike anak soleh ....” Ray mengusap rambut Mike setelah dia bacakan doa agar anak ini dilembutkan hatinya. Kemudian, meninggalkannya ke atas.


Namun diam-diam, Mike mengikuti di belakangnya sampai bawah tangga. Sebenarnya Ray juga tahu, tapi dia pura-pura tak melihatnya.


“Dasar bocah....”

__ADS_1


Ray pun menutup pintu kamar Zara dan menguncinya dari dalam. Demi menjaga keamanan kisah cinta yang sedang ada di dalam fase hangat-hangatnya.


__ADS_2