
Miranda tidak bisa mengalihkan pikirannya dari anaknya yang kabarnya, sudah terlanjur melihat berita terkutuk itu. Oleh karenanya, Miranda segera menghubungi Mauza untuk mengetahui lebih jelas bagaimana keadaan Zara sekarang.
“Tenang aja Onti, ternyata Kakak Ipar nggak selemah yang kita bayangkan. Dia baik-baik aja, kok. Sekarang orangnya malah lagi sibuk bantuin Mama bikin kue,” jawab Mauza membuat Miranda bisa bernapas lega.
“Syukurlah, Onti lega dengernya. Memang seharusnya begitu, dibikin sibuk supaya dia nggak terlalu mikirin masalahnya. Tapi nggak minta pulang ke sini, kan?”
“Tadinya iya, tapi sekarang udah enggak.”
“Tolong kamu tahan di situ dulu ya, Moza. Rumah Onti belum aman sama wartawan.”
“Ya ampun, nggak capek apa mereka nungguinnya?”
“Mereka juga sama-sama lagi kerja kan, Nak.”
“Ternyata begini ya, risiko jadi orang terkenal hehehe. Sabar ya, Onti. Mungkin Allah lagi pengen liat kesabaran kita ....”
“Oh, udah panjang banget sabarnya, Nak. Udah dua kali ini lho, kita dikepung begini gara-gara jarinya Hamidah, dan kita selalu membiarkan. Moza pasti paham kakak iparmu itu tipe orang yang seperti apa. Yang setiap kali disenggol selalu bilang, ya sudahlah biarin aja, lagi males mikir.”
Gelak tawa Mauza menandakan bahwa dia membenarkan fakta tersebut.
“Lagian perempuan itu kenapa sih, Nak? Sakit nggak dia? Moza pasti udah kenal lah, namanya juga mantan ipar.”
“Ini hanya sekedar dugaanku aja sih, Onti. Aku nggak tahu ini benar apa enggak. Kemungkian, Hamidah itu merasa cemburu karena Kak Zara lebih dicintai sama Kak Ray. Terlebih, Kak Zara juga langsung bisa hamil setelah menikah. Sementara, dia yang berumah tangga selama setahun, nggak dikasih-kasih juga. Padahal dari yang keluarga tahu, berbagai cara udah mereka lakuin. Cobain obat ini, obat itu, belum lagi ke dokter.”
Mauza juga menjelaskan, bahwasannya Hamidah juga menyesal telah menggugat cerai Kak Rayyan karena Kyai Mohd Noor sempat datang ke rumah untuk meminta agar anaknya di rujuk.
Sayangnya, Ray menolaknya karena merasa perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk mereka. Ini terjadi sebelum Ray menikah dengan Zara dan tidak ada orang luar pun yang tahu.
“Nyambung!” sahut Miranda segera. “Apa solusinya sekarang, Moza?”
“Enaknya sih ketemuan, Onti. Soalnya kalau ngobrol langsung bisa lebih jelas. Lagian kan hari ini ....”
“Ah, iya, iya,” sela Miranda mengerti ada apa dengan Mauza hari ini, “nanti sore Onti usahakan datang ke sana lagi sama Om, ya.”
__ADS_1
Panggilan ditutup setelah pembicaraan keduanya selesai. Tepat pada sore harinya, Miranda dan Ruben akhirnya berhasil keluar rumah.
“Mami ...” Zara langsung menubruk maminya begitu wanita itu tiba di sana.
“Udah ... anggap aja taik lewat,” ujarnya sebagai bentuk penghiburan, “kan berita itu nggak benar. Jadi nggak usah repot-repot dipikirin. Rugi.”
Sembari menunggu keluarga Sammy datang, semua anggota keluarga perempuan kecuali Rayyan, berkumpul membahas masalah tersebut untuk mencari solusi. Apakah akan dibiarkan, atau di datangi ke rumahnya langsung, menanyakan apakah maunya.
“Bisa aja kita datang ke rumahnya untuk bicara empat mata, Mi. Tapi masalahnya, dia nggak nyebut nama. Ini bisa jadi boomerang buat kita sendiri kalau nanti Hamidah ngeles, walaupun sudah jelas kalau sindiran itu ditujukan untuk siapa,” kata Rayyan berpendapat dan melemparnya lagi sebagai diskusi.
“Benar, Bu Miranda,” sahut Vita menyetujui, “Hamidah nggak menyebutkan nama di postingannya.”
“Gimana kalau Kak Zara konfirmasi langsung aja?” ujar Mauza. “Soalnya ini udah menggiring opini banget. Ngeri loh, kata-katanya. Coba kalau yang disenggol itu aku, pasti udah das-des, sat-set, bak-buk, end!”
“Entar dikira lagi ngeladenin dia,” jawab Zara merasa serba salah.
“Mami ajak ketemuan di luar aja kalau begitu,” sahut Miranda yang langsung disela oleh Zara.
Zara berpikir, tanpa mereka melalukan apapun, pasti Hamidah sudah merasa terpojok sekarang akibat emosi sesaatnya. Zara paham, sebab dia juga pernah berada di posisi itu saat dirinya masih cukup labil. Ya, walaupun tak seharusnya Zara memikirkannya. Toh, Hamidah juga tidak berperikemanusiaan padanya.
Namun Miranda berpendapat lain, “Nggak semua masalah bisa kamu biarin, Sayang. Adakalanya kita harus keluar untuk membela diri. Kalau enggak, ke depannya dia pasti begini lagi.”
“Entahlah aku bingung ....”
Perbincangan harus terhenti saat mereka mendengar laporan dari luar, bahwasannya, mobil tamu sudah mulai berdatangan di area kompleks.
Semua orang bangkit dari duduknya untuk bersiap-siap menyambut tamu istimewa tersebut.
∆∆∆
0858 xxxx xxxx : ternyata nyalimu besar juga, Hamidah. Jangan salahkan saya kalau saya akan bertindak lebih tegas. Bukannya waktu itu kamu dudah saya peringatkan: hidupmu akan jauh lebih tenang kalau kamu juga nggak mengganggu ketentraman hidup orang lain?
0858 xxxx xxxx : Masih ingat siapa saya?
__ADS_1
Hamidah membaca pesan tersebut yang ia ketahui dari Ibu Miranda. Adalah ibu kandung dari Zara Angel Purnawirawan, wanita yang sudah dia sindir di media sosialnya karena emosi sesaat.
Sebenarnya, dia sama sekali tak berniat untuk berbuat demikian. Tetapi, hatinya sangat panas ketika mendengar kehamilan Zara. Mengapa begitu mudahnya wanita itu hamil, sementara dirinya?
Bahkan berbagai macam usaha telah dilakukan selama satu tahun berumah tangga dengan Ray. Namun, tak pernah sekalipun keinginan terwujud. Jadi ... apakah aku yang mandul? Begitu pertanyaan yang terus melintas di pikirannya.
Dia begitu cemburu dengan segala keberuntungan yang didapatkan oleh Zara. Karir, suami yang baik, mertua yang baik serta seorang anak. Berbanding terbalik dengan dirinya yang justru diceraikan dan menjadi janda tak punya anak.
“Dari mana dia mendapatkan nomor ponselku?” gumam Hamidah.
Ah, tapi itu tidak penting untuk dipikirkan. Karena sekarang yang harus dia lakukan adalah, harus mengumpulkan keberanian untuk membalas pesannya.
Hamidah: ancaman ini bisa saya laporkan ke polisi. Apa Anda pikir saya takut?
0858 xxxx xxxx : yakin? Coba jelaskan bagian mana pesan saya yang terdapat unsur kejahatan? Jangan begini, kamu jadi kelihatan bodohnya.
0858 xxxx xxxx : kita langsung ke inti saja, kenapa saya menghubungimu sekarang. Jawab saya, Hamidah: apa maksud kamu mengunggah sebuah kata-kata tak pantas yang kamu tujukan untuk anak saya?
Hamidah : oh, Anda merasa tersindir? Tersinggung? Berarti benar dong, anak Anda adalah pelakor. Atau jangan-jangan, memang Anda sendiri yang menjadikannya seorang pelakor?
0858 xxxx xxxx : anak saya tidak sehina yang kami tuduhkan ya, Hamidah?!
Hamidah: haha. Saya baru tahu ada seorang ibu seperti Anda. Menyodor-nyodorkan anak sendiri untuk dinikahi oleh lelaki yang sudah diikat dengan perempuan lain. Keterlaluan sekali.
0858 xxxx xxxx : kamu yang keterlaluan, bebal! Otak kamu di taruh di mana, hei?! Kan, kamu yang menceraikan mantan suamimu? Anak saya menikah dengan Rayyan setelah kalian bercerai, bukan merebutnya sewaktu kalian masih berumah tangga.
0858 xxxx xxxx : ngerti arti pelakor nggak sih, bebal? Ya ampun bebal ... bebal.
0858 xxxx xxxx : Hamidah, saya ini seorang pebisnis, bukan seorang religius yang baik hatinya. Ada rasa kasihan di hati saya, tapi itu hanya sedikit. Jadi jangan salahkan saya kalau ....
Bersambung.
Ana ngantuk genks. Jadi nggak cross check ulang. Seperti biasa, kalau ada typo sila di komen langsung di paragraf aja, ya!
__ADS_1