Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Memaksa Sarah


__ADS_3

154


Zunaira dan Andre berkemas tiga hari kemudian. Sebelum mereka keluar, mereka kembali menoleh pada sofa yang berbentuk cukup aneh itu. Kemudian tertawa geli saat keduanya mengingat apa yang berkali-kali mereka lakukan di sana.


“Apa perlu, aku sediakan juga di rumah kita?” Andre menawarkan.


“Nggak ah, bikin malu kalau ada yang masuk kamar,” jawab Zunaira terkekeh membayangkan apa yang akan terjadi apabila demikian. Pasti nanti bakal jadi bahan gosip panas, terlebih jika orang yang masuk itu adalah Si Ember Bocor, siapa lagi kalau bukan Mauza.


“Belum tentu juga mereka tahu,” pria itu menanggapi.


“Apa yang nggak diketahui sama semua orang di zaman kemajuan seperti ini? Internet mudah di akses buat siapa aja.”


“Kalau punya kuota.”


“Kayaknya nggak mungkin. Bahkan emak-emak sekarang, mereka lebih susah kalau nggak punya kuota daripada nggak punya beras.”


Andre menahan tawa. Sebuah fakta barusan memang ada benarnya.


Keduanya mampir terlebih dahulu mampir ke TPU untuk mengunjungi makam Fero dan almarhumah istri Andrea. Barulah kemudian menuju ke rumah baru mereka yang kebetulan cukup dekat dari arah kantor. Berniat memastikan apa saja yang harus mereka lengkapi.


Tetapi ternyata menurut Nai semuanya sudah hampir lengkap. Hanya ada beberapa peralatan masak yang kurang di dapur rumah itu, namun tak perlu dikhawatirkan karena semua barang tersebut sangat mudah di dapat.


“Gimana?” Andre meminta pendapat setelah Zunaira berkeliling.


“Overall aku suka,” jawab Zunaira masih melihat-lihat ke arah tempat berkreasi nya kelak. Tempat memasak makanan untuk suami dan anak-anaknya. Ah, pasti menyenangkan sekali.


“Sekarang kamu ratu di rumah ini, jadi kamu bebas melakukan apapun.”


Zunaira mengangguk. “Ya, aku akan membuat rumah ini jadi lebih hidup.”


“Aku percaya mudah bagimu melakukannya. Buktinya, bagian utama yang tersulit saja sudah berhasil kamu capai. Yaitu menghidupkan hatiku yang sudah mati.”


Andrea berharap. Kelak, Zunaira tak mempermasalahkan suatu fakta, andai suatu saat dia mengetahui bahwa rumah ini sebenarnya adalah rumah impiannya bersama 'dia'. Sebelum takdir ditetapkan dan memisahkan keduanya di tempat yang sangat jauh.

__ADS_1


Setelah cukup melihat-lihat sekeliling rumah baru mereka, keduanya kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Mama Vita.


Namun, ada yang mengejutkan ketika mereka melewati jalan raya Bogor. Mereka melihat Umar tengah berdebat dengan seorang perempuan di pinggir jalan.


“Apa itu Umar?” Andre menepikan mobilnya sejenak agar Zunaira dapat memastikan lebih jelas.


“Eh, iya itu Kakak Umar,” Nai membenarkan. “Ya udahlah jalan lagi aja. Aku lagi nggak mau punya urusan sama Kak Umar. Nggak tahu kenapa dia jadi nyebelin sekarang.”


“Ya sudah!” Andre melanjutkan perjalanannya tanpa mau mengetahui urusan mereka lebih lanjut.


Sementara itu, Umar masih mendebat Sarah. Dia sengaja menemui wanita itu di kantornya untuk memaksanya melakukan tes kehamilan di rumah sakit. Padahal, sudah jelas-jelas Sarah menolaknya dan mengatakan jika dia tak sedang mengandung anaknya. Akan tetapi, Umar tetap memaksanya untuk pergi ke sana.


Sarah pun bertanya-tanya, apa Umar sudah gila?


Atau dia hanya ingin mencari-cari alasan supaya dia bisa bertemu dengannya?


Entahlah.


Anehnya, jika pria lain akan kabur setelah dia menodai pacarnya-karena takut dimintai pertanggungjawaban, yang terjadi pada mereka justru berkebalikan. Lelaki lah yang mengejar perempuannya karena tak mau perempuan itu lari darinya.


Sesungguhnya, Umar hanya ingin menggertak nya saja. Dia kira Sarah akan menyadari perasaannya yang sesungguhnya, atau mungkin menyesali keputusannya telah menjauhinya selama ini. Tetapi ternyata tidak sama sekali. Dugaannya salah besar. Sebab Sarah justru menamparnya kembali dengan benturan yang lebih keras.


“Nggak, Mar. Enggak. Lamar saja Alma, aku nggak peduli. Kalau misalkan hamil pun, aku juga tetap nggak akan pernah menuntut apa-apa darimu. Aku cukup tahu diri.”


“Sarah!” bentak Umar. Tak terima ditekan sedemikian rendahnya oleh wanita itu.


“Aku udah bilang, jauhi aku. Aku nggak mau kamu terluka, Umar ...” jelas Sarah yang bosan karena harus terus mengulang kata-kata itu agar Umar mengerti.


Rahang Umar mengeras. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan emosi yang melanda.


“Aku nggak tahu kenapa ada manusia yang sangat keras kepala sepertimu. Aku itu punya salah apa sih sama kamu, Mar? Kenapa kamu nggak bisa biarin hidup aku tenang? Lepaskan aku, Mar. Lupakan aku ...,” jeda sesaat, Sarah melanjutkan, “seharusnya kamu takut dan menghindar setelah kamu ....” isak Sarah pada akhirnya.


Masih untung, Sarah tak melaporkan Umar ke polisi. Padahal bisa saja dia melakukannya. Tetapi, Sarah masih punya hati untuk dia yang begitu mencintainya. Walaupun cara yang digunakan salah.

__ADS_1


“Maka dari itu aku mau tanggungjawab,” sela Umar. “Ayolah, jangan alihkan pembicaraan kita ke mana-mana. Aku hanya ingin kamu ikut aku ke rumah sakit, itu saja! Apa itu sulit?”


“Baiklah,” jawab Sarah akhirnya terpaksa mengalah demi menjaga kewarasannya. “Aku akan menuruti kemauan mu kali ini. Tapi ingat! Setelah kamu tahu sendiri hasilnya kalau aku nggak positif, kamu harus janji nggak akan pernah temui aku lagi. Kalau perlu selamanya.”


“Ya, kamu bebas melakukan apapun setelah itu,” keputusan Umar terdengar pasti.


Sarah pun masuk ke dalam mobil Umar. Namun di perjalanan, mereka kembali berdebat karena Sarah menolak untuk di antar kan ke rumah sakit besar. Sebab berlebihan sekali menurutnya jika hanya untuk melakukan USG saja. Lagipula, dia tak mau membuang waktunya lagi bersama Umar di sana.


“Gimana cara melupakan Sarah, jika setiap hari bayangannya selalu menghantuiku?”


Sarah adalah cinta pertama Umar. Pria itu baru tahu yang namanya jatuh cinta setelah selama ini bermain-main dengan banyak wanita.


Mungkin inilah yang dinamakan pembalasan. Giliran Umarnya yang serius, malah perempuannya yang main-main. Sampai hati pula dia menyakitinya. Kasihan sekali. Sadboy.


Tak berapa lama keduanya sampai di klinik terdekat. Sarah mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan nomor antrean. Keduanya masuk setelah nomor urutnya dipanggil.


“Ya, gimana, Bu?” tanya Dokter perempuan tersebut. “Mau periksa kehamilan?”


“Iya, Dok ...” jawab Sarah.


“Baik, kita periksa sekarang, ya!” Dokter mempersilahkan Sarah untuk naik ke brankar. “HPHT nya kapan?”


“Saya lupa, Dok.”


“Oh, nggak papa ....”


Seharusnya Sarah menandai tanggal itu, setelah apa yang pernah dilakukan Umar terhadapnya satu bulan yang lalu. Namun wanita itu mengabaikannya karena sangat yakin, benih pria itu tak akan bisa tumbuh di rahimnya.


Suster pun menyingkap atasan yang Sarah kenakan untuk mengoleskan gel di permukaan kulit perutnya.


Sedangkan Umar yang sedang duduk di depan meja dokter, mendadak jadi panas dingin. Anehnya dia justru berharap, apa yang selalu Sarah tampik adalah sebuah kebenaran.


Agar dia bisa kembali menguasainya. Menikahi wanita itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2