Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Vonis Dokter


__ADS_3

188


Seminggu kemudian.


Dua bayi merah sedang di jemur oleh Miranda dan Zara. Kedua wanita itu sangat gemas melihat Arka dan Arsha yang bergerak-gerak di pangkuan mereka, sesekali mengeluarkan suara gemasnya.


Ugh, jangan sampai Zara hilang kesadaran, lantas menggigit anaknya sendiri. Ingat, Zara! Dia bayi, bukan boneka.


“Uluh, uluh, anak Mommy ngulet. Biar cepat gede, ya?” Zara mengecup pipi Arsha yang ada di pangkuannya. Lalu menyatukan hidung mereka yang sama-sama mancung.


“Mami mau dipanggil apa sama mereka, Mam?” tanya Zara setelah beberapa saat kemudian.


“Apa, ya? Kalau dipanggil Oma atau Nenek, berasa ketuaan.” Miranda terdiam sesaat untuk berpikir.


“Mami kan emang udah tua,” celetuk sang anak.


“Usia emang udah tua. Tapi secara tampilan masih muda, dong.” Miranda adalah wanita yang menolak tua. Beragam perawatan dan juga olahraga dia lakukan agar selalu mempunyai tubuh yang cantik, sehat dan bugar.


“Jadi mau dipanggil apa?”


“Panggil aja Nena.”


“Nena ....” Zara berpikir sesaat. Tak berapa lama, dia pun menyetujui. “Terus kalau Daddy dipanggil siapa dong?”


“Si Engkong,” Miranda tertawa sendiri setelah itu. Membayangkan gagahnya Ruben dipanggil Engkong oleh dua anak bayi ini.


“Hallo baby!” tiba-tiba saja om kecil keluar menghampiri kedua keponakannya dan menciumnya bergantian. Mike, anak SMP itu sudah siap dan sudah menggendong tas ranselnya.


“Dede ikut antar Om sekolah, yuk!” ucap Mike ingin maminya membawa keponakan bayi itu mengantarnya.


Semenjak Arka dan Arsha lahir, Mike seperti mempunyai dunia baru dalam hidupnya. Tidak ada lagi top up game ratusan ribu perhari karena dia sudah sibuk dengan keponakan kembarnya. Dia justru suka diberi tugas menjaga bayi-bayi itu. Terkadang, malah belajar menggendongnya. Dan yang paling Mike sukai adalah Arsha, cewek kecil yang mempunyai rambut tebal.


“Belum bolehlah, Nak. Nanti nunggu agak gedean. Baru bisa kita ajak mereka jalan-jalan,” jawab Miranda.


“Yaah ....” Mike sempat kecewa, namun dia sudah bisa memahami.


“Mau berangkat sama siapa kamu, hmm?”


“Sama Si Itu ....”


“Sama Si Itu siapa? Nggak boleh kamu begitu. Kalau panggil nama orang harus sopan.” Miranda menegur anak bungsunya karena sampai sekarang dia masih saja demikian.


Bukan berarti dia tak suka, Mike suka dengan Rayyan. Pria itu tak pernah aneh-aneh. Singkatnya, Mike tahu bahwa kakak iparmya itu orang baik. Hanya saja ... dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.


“Sama Om-Om,” jawab Mike acuh.


“Om-Om itu kakak iparmu, panggil dia dengan sebutan yang baik.”


Mike terdiam. Semua kata-kata itu masuk ke dalam pikirannya. Tetapi dia memilih untuk tidak menanggapi.


Beberapa menit kemudian, Rayyan keluar. Dia mencium kedua anaknya dan istrinya, lalu mencium tangan ibu mertuanya sebelum akhirnya mereka pergi bersama.


Rayyan terlebih dahulu mengantarkan Mike sekolah, baru kemudian dia menuju ke Bekasi karena ada rapat dengan para guru baru.


Dan secara kebetulan, Rayyan juga bertemu dengan Sammy di sana yang tengah berbenah di ruangannya yang biasa dia tempati selama bekerja.

__ADS_1


“Assalamualaikum.”


Sejurus kemudian Sammy mendongak dan menghentikan aktivitasnya. “Eh, Kak? Waalaikumsalam.”


“Kamu sama Mauza dah balik?” Rayyan mendekat.


“Iya, tadi pagi banget. Jam tiga an kayaknya. Terus langsung ke sini.”


“Seger habis liburan.”


Sammy tersenyum, “Iya, lumayan.”


“Kamu kelihatan beberes mau ke mana?”


Sammy terdiam. Pria itu malah bingung saat ditanya demikian. Bukannya tugasnya sudah selesai? Sekolah ini sudah berdiri dengan kokoh dan sudah beroperasi sebagaimana mestinya. Lantas apalagi?


Memang tidak ada perjanjian tertulis sebelumnya bahwa dia akan diberhentikan setelah selesai melakukan tugasnya. Tetapi Sammy sudah tidak mempunyai kegunaan lagi di sini.


Hello, apa ada yang kulewat kan?


“Tugasku sudah selesai, Kak,” jawab Sammy setelah terdiam beberapa saat.


“Iya, tugasmu memang sudah selesai. Tapi memangnya kamu mau pergi ke mana?” Rayyan mengulang karena Sammy belum menjawab pertanyaan yang dia maksud.


“Mau cari kerjaan di tempat lain, Kak. Kebetulan udah ngirim lamaran ke berbagai tempat. Mohon doanya ya, semoga cepat diterima,” Sammy menjawab dengan lugas.


“Kami nggak pernah nyuruh kamu pergi, Sam.”


Sammy memperjelas pendengarannya. Barang kali dia salah dengar. “Maksudnya?”


Untuk beberapa saat Sammy ternganga. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


Di tempat kediaman Al Fatir, Mauza sedang membagikan oleh-olehnya. Di sana sudah ada Alma dan Zunaira. Mereka menginap di sini semalam atas permintaan Vita lantaran dia khawatir, anak-anaknya yang tengah mengandung itu tak ada yang menjaganya. Sebab jika siang suami-suami mereka sibuk di tempat kerja.


“Memangnya Mama nggak ke rumah Kakak ipar?” tanya Mauza mengingat sebelumnya mamanya selalu datang ke sana.


“Kakakmu sudah punya baby sitter sekarang, jadi nggak terlalu kerepotan lagi,” Vita menjawab.


“Oh ....” Mauza membulatkan bibirnya.


“Za, makasih ya, oleh-olehnya. Repot-repot segala, sih. Orang tinggal liburan aja yang tenang,” ucap Alma. Perempuan yang tengah hamil enam mingguan itu tampak sangat senang menerima baju batik sepasang.


“Nggak papa Al, lagian aku seneng belinya.” Mauza tersenyum. Dia mengemas lagi sisanya untuk yang belum mendapatkan bagiannya. Kemudian membuka ponselnya sejenak karena mendengar benda itu berbunyi.


Semut: aku di depan, Za. Tapi aku nggak turun. Kamu siap-siap sekarang, ya.


Mauza: penampilan aku dah oke, jadi nggak perlu siap-siap.


Usai membalas, Mauza berpamitan kepada mamanya, Alma dan Zunaira.


“Mau ke mana? Kami lagi nginep di sini, lho Kak? Kok malah ditinggal pergi?” tanya Zunai keheranan.


“Maaf ya, semuanya. Pak Misua ku nungguin di depan. Kami mau jalan-jalan duluu!” Mauza menjawab sambil berlalu. Dia enggan mengatakan yang sejujurnya ke mana dia akan pergi. Sebab dia pikir, mereka memang tidak perlu tahu tentang itu.


“Yaah ....” Zunaira tampak sangat kecewa. Padahal dia masih rindu dengan kakaknya itu yang sudah semingguan ini tak dia temui. Tetapi Zunai merasa Mauza telah berbeda. Seperti ada jarak di antara mereka yang dia tidak tahu apa penyebabnya.

__ADS_1


“Kak Mauza begitu bukan karena dia nggak suka sama kamu, atau punya masalah denganmu, Nak,” ujar Vita saat Zunaira menanyakan hal ini.


“Tapi ...” Vita mengusap kepala sang anak yang ada di pangkuannya, “dia hanya sedang menjaga hatinya yang sebenarnya lemah karena belum bisa seberuntung kalian. Dia juga manusia biasa yang punya rasa sedih ....”


Zunaira terdiam sebab menyimak pembicaraan mamanya.


“Mama paham sekali perasaannya. Ini nggak mudah untuk dia. Meskipun dia terlihat kuat, nggak pernah mengatakan apapun. Doakan yang terbaik untuk kakakmu, ya.”


“Selalu, Ma.”


♧♧♧


Mauza dan Sammy baru saja keluar dari rumah sakit tempat mereka memeriksakan kesuburannya.


Kedua manusia itu keluar dengan wajah-wajah yang lesu setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, bahwa Mauza di vonis PCOS. Sel telur wanita itu kecil-kecil yang menyebabkannya susah hamil. Sedangkan Sammy sendiri masih menunggu hasil lab cek sp*rmanya besok hari.


“Udah, nggak usah sedih begitu. Senyum ngapa, Za?” Sammy menarik garis senyum di wajah Mauza yang agak gosong karena beberapa hari kemarin terus dijemur di pinggir laut.


Mereka liburan sepuasnya bersama keluarga Alif di dataran tinggi, kebun teh, pantai, curug dan masih banyak lagi. Liburan mereka sangat berkesan karena Alif dan Dara terus mengajaknya bercanda seperti orang gila.


“Kamu nyuruh aku senyum. Orang kamu sendiri aja nggak bisa senyum kan?”


“Aku bisa,” Sammy menunjukkan senyumnya yang dia paksakan, “aku dah bilang, apapun yang terjadi aku nggak akan kecewa. Ini udah jadi jalan takdir hidup kita.”


“Tapi tetep aja ....” Mauza memeluk Sammy. Tangisnya pecah pada akhirnya.


“Yang sabar, Miauw gosongku ....” Sammy mengusap-usap punggung Mauza.


“Ihhh!” Mauza melepaskan diri dan memukul dada Sammy. Lagi serius-serius malah dibercandain.


“Aku bicara fakta,” katanya percaya diri.


“Kamu bilang aku gosong kayak kamu dah paling putih aja.”


“Bagus lah kalau kita sama-sama gosong. Jadi adil,” Sammy tak mempermasalahkan hal itu. “Jalan lagi, yuk. Mau ke mana kita habis ini?”


“Mau ke ....” Mauza mencari tempat yang seru, “mau nonton.”


“Come on!”


Mereka menuju ke bioskop terdekat.


Baiklah, memang tidak ada cara lain untuk tersenyum di tengah-tengah kesengsaraan, selain kita sendiri yang memaksakannya.


Ujian hidup memang akan selalu ada selama napas masih berhembus, jantung masih berdetak dan tubuh masih bergerak.


Ujian bukan hanya menimpa pada orang yang sakit, atau orang yang miskin saja.


Karena sesungguhnya sehat adalah ujian; apakah kamu akan mensyukuri kesehatan itu, atau justru kamu kufur akan nikmat-Nya. Pun sama seperti kekayaan yang dititipkan, Tuhan akan menanyakan harta itu kelak dan bagaimana cara mereka menggunakannya.


Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang penuh rasa syukur.


Bersambung.


Ini akan sedikit sakit ... tapi tenang, happy end.

__ADS_1


__ADS_2