
168
Flashback
Pagi itu sebelum Umar menuju ke kantornya, dia terlebih dahulu mampir ke rumah papa karena ada hal yang ingin dia bicarakan. Sengaja datang pagi-pagi sekali mumpung pria tua manja itu belum berangkat.
“Datang ke sini kok Alma nya nggak di ajak,” ujar Vita mendapati putranya sendirian. “Ke mana Alma?”
“Lagi nyuci baju,” jawab Umar serampangan. “Mana Papa? Aku mau ngomong sama Papa.”
“Ada di ruangannya. Ketuk aja pintunya.” Vita menunjukkan ruangan kecil yang terletak di bawah tangga.
Sahutan terdengar dari dalam setelah Umar mengetuk pintu. Dia pun gegas memasukinya.
Umar langsung bertanya begitu ia duduk. “Sibuk nggak?”
Yudha menyudahi aktivitasnya dan melepas kacamatanya, “Sebentar lagi mau berangkat.”
“Cuma mau ngomong sebentar.”
“Kamu punya waktu sepuluh menit,” tegas Yudha.
“Aku dah DP rumah Zara yang lama. Tapi masih kurang banyak banget, Pa. Bisa bantu aku?” kata Umar langsung ke poin utama.
“Berapa dia jual?”
“Dua M. Aku baru DP 400. Mana aku juga lagi butuh banyak modal.”
“Nggak bisa diturunin lagi?”
“Itu rumah harga aslinya 2,5 Pa. Udah di turunin sama mereka banyak banget.”
“Kenapa harus rumah itu? Yang lebih murah, bagus, kan banyak.”
“Terlanjur cinta, Pa. Sayang kalau di lepas sama orang lain.”
“Apa perlu Papa yang negoisasi?”
“Negoisasi udah selesai, Papa tinggal nambahin uang aja.”
“Aku perlu bicara sama Mamamu dulu. Jadi lain waktu saja.”
“Panggil aja sekarang, jangan besok-besok.”
“Mama kamu sedang sibuk.”
“Aku akan jarang datang ke sini. Ayolah, panggil wanita cantik itu, Pa. Cepat sedikit! Waktu kita tidak banyak.” Umar semakin mendesak orang tuanya.
Yudha mendecak kan lidah. Anak ini kalau sudah ada maunya, apapun pasti akan dia lakukan. Bahkan dengan cara-cara yang mustahil sekalipun. Dia begitu ambisius untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Persis seperti adiknya, Alif. Yang memper kosa wanita di malam pertamanya demi bisa mendapatkan wanita pujaannya itu kembali.
__ADS_1
“Umar tidak akan pergi kalau keinginannya belum dituruti.” Yudha terdiam memikirkan. Selang beberapa detik, dia pun memanggil istrinya agar wanita itu memasuki ruangan ini.
Vita menatap keduanya secara bergantian, “Ada apa? Mau minta uang?”
Mahkluk yang bernama wanita memang paling pandai menebak soal.
“Kok kamu bisa tahu, Moy?” Yudha bertanya.
“Habisnya apalagi kalau bukan uang?”
“Ini, anakmu minta bantuan kita buat bayarin rumah Zara. Dia sanggup, tapi kalau bayar sendiri, tentu keberatan. Mahal sekali harganya.”
“Berapa, Nak?”
Umar menjawab pertanyaan mamanya. Dia pun menjelaskan serta, kenapa rumah yang tak terlalu besar itu dihargai sekian. Sebab selain berada di kawasan elite, Zara juga melepaskan rumah itu bersama isi-isinya. Dan yang pasti, barang-barangnya itu tidak main-main. Semuanya mewah dan berkelas.
Vita menghela napasnya setelah mendengarkan anaknya berdongeng.
“Jadi gimana?” Yudha bertanya setelah itu.
“Kami bantu kamu 500, sisanya kamu bayar sendiri.”
“Nggak bisa nambah?” Umar mencoba melakukan negoisasi. “Jualin warisan nggak papa kali. Aku masih banyak utang, nih.”
“Warisan apa? Jangan pula suruh kami jual rumah ini, Mar. Aneh-aneh saja permintaanmu.”
“Plis, Ma. Tambah lagi ....”
“Kok gitu?” tanya Umar tak habis pikir.
“Memangnya anak kami cuma kamu saja? Anak kami ada empat.”
“Tapi kalau yang kaya kan nggak mungkin minta,” Umar tak mau kalah.
“Bukan masalah minta atau nggak minta. Ini bentuk keadilan. Walaupun ada yang kaya, mereka harus tetap mendapat bagian yang sama, sesuai syariat. Berat pertanggungjawaban kami di akhirat kelak, Umar.”
“Ma ... plis....” Umar mengatupkan tangannya. Memasang wajah semelas mungkin.
“Sudahlah, santai aja, Nak. Toh, Kakakmu juga nggak minta harus dilunasi sekarang. Di cicil aja semampunya. Lama-lama juga pasti lunas.” Vita menepuk pundak putranya kemudian langsung pergi.
“Keputusan tidak bisa dinganggu gugat,” Yudha mengakhiri percakapan. Mereka pun berpisah.
Menghindari adanya penyelewengan, Vita mengirim dana itu langsung ke rekening menantunya. Ya, meskipun sebenarnya hal tersebut tidak mungkin terjadi. Umar tidak sepicik itu dengan perkara uang meskipun dia dikenal sebagai anak yang paling pelit di antara tiga saudaranya.
Mendengar demikian, Umar pun langsung mengonfirmasikannya kepada penerima melalui panggilan telepon.
“Iya, bener, Mar. Emang udah nyampe. Makasih, ya!” kata Zara usai sejenak meneliti mbanking nya. “Kamu nggak usah merasa buru-buru, Mar. Santai aja. Nggak harus lunas sekarang, kok. Dicicil aja seadanya.”
Sudah menjadi semacam kebiasaan, Umar seperti enggan mendengar masukan dari orang lain. “Jadi sisanya tinggal 1,1 kan?” tanyanya untuk memperjelas. Mengalihkan topik.
__ADS_1
“Enggak, dong. Tinggal 1M pas. Kan Alma tadi pagi ngirim aku seratus.”
“Apa!?” Umar terkejut. Raut wajahnya berubah tidak suka.
Dan Zara pun menyadari kalau dirinya barusan keceplosan. Namun begitu, untuk apa pula jika dia harus berbohong?
Justru harusnya Umar senang dan bersyukur mempunyai istri yang baik hatinya. Membantunya meringankan bebannya yang amat berat. Jarang ada istri yang seperti Alma, karena biasanya, harta istri milik istri. Mereka akan menyimpannya rapat-rapat.
“Alma bantu kamu 100 juta, Mar,” Zara mengulanginya lebih jelas. “Kamu jangan marahin dia, ya. Maksudnya baik, kok. Dia cuma mau bantu kamu.”
Flashback off.
Masih di kamar Umar dan Alma.
“Apapun alasanmu, aku nggak suka Alma! Apa sesepele itu aku di matamu?” Umar melepaskan tangannya dari bahu Alma.
“Bukannya aku tadi udah bilang, kalau nggak suka, kita bisa bicarakan baik-baik, atau Abang bisa mengembalikannya,” balas Alma dengan segenap kesabaran yang dimiliki. “Salahku juga, aku nggak bilang dulu.”
Umar tak mengindahkan ucapan Alma. Pria itu membanting keras pintu kamar mandi hingga Alma amat tersentak dibuatnya.
“Sabar, Al ... sabar ...” Alma mengusap-usap dadanya yang begitu nyeri.
Di dalam kamar mandi Umar tak juga mengguyur tubuhnya. Pria itu duduk di atas closet. Merenungi sikapnya barusan yang dia pikir sangat keterlaluan. Padahal sebetulnya, dia bisa membicarakannya baik-baik.
Entah apa yang mendorongnya berbuat seperti tadi. Ia pun tidak tahu, kenapa bawaannya sedang sensitif sekali. Yang pasti darahnya begitu mendidih saat mengetahui bahwa Alma telah membantunya membayar rumah ini.
Apa yang dilakukannya, telah merendahkan harga dirinya sebagai lelaki dan seorang suami. Dan dia sangat tidak menyukainya. Mentang-mentang dia ada? Mentang-mentang dia anak orang kaya?
“Arrgh!” Umar mengacak rambutnya. “Aku ini kenapa, sih?”
Lamunan Umar terhenti pada saat dia mendengar suara lemari yang ditutup dan resleting tas yang digeser. Curiga, dia pun segera beranjak untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Alma di sana.
“Alma!” seru Umar pada saat ia mendapati perempuan itu menarik koper. Dia pun secepat kilat menahan koper itu dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. “Kamu mau ke mana?”
“Untuk sementara, sebaiknya kita pisah dulu, Bang. Ini demi kebaikan kita.”
“Nggak, Al. Kamu harus tetap di sini!”
“Nanti Abang boleh datang kalau udah nggak marah lagi.”
Umar meraih tangan Alma dan berujar dengan suara yang lebih rendah, “Aku minta maaf, okay?”
Alma menggeleng, “Nggak, Bang. Ini demi kesehatan mentalku juga. Aku harus jaga itu.”
“Al, apa kata orang tuaku nanti? Baru hitungan hari menikah sudah pisah rumah?”
“Seharusnya kamu pikirin perasaanku juga sebelumnya,” kata Alma membuat Umar merasa tertohok. “Aku nggak tahu kenapa, sepertinya Abang benci sekali melihatku dan apapun yang aku lakuin. Mungkin aku memang harus pergi dulu biar Abang sadar.”
“Tapi aku tetap nggak mengizinkanmu pergi, Almahyra! Sekali saja kamu keluar ....”
__ADS_1
“Jaga bicaramu, Bang!” sela Alma. “Jangan sampai kamu mengucapkan kata bahaya yang membuatmu menyesal.”
Bersambung.