
143
Flashback
Sore itu saat Yudha dalam perjalanan pulang dari suatu tempat, dia mendapati laporan dari Cafe V&Y dan beberapa unit rumah sewaannya dalam keadaan kacau.
Ada beberapa barista yang keluar namun tak kunjung mendapatkan penggantinya, sehingga Cafe itu mendapatkan komplain pedas dari beberapa pembeli karena saking lamanya proses pelayanan.
Belum lagi beberapa penghuni rumah sewa yang mengeluh karena permintaan perbaikan, belum juga kunjung mendapatkan penanganan. Dan masih banyak permasalahan lainnya yang sebenarnya sagat membutuhkan perhatian khusus. Tetapi tak begitu ditanggapi oleh Umar karena sudah beberapa hari terakhir, anak itu sudah jarang keluar rumah.
Umar masih meratapi nasibnya yang baru saja ditinggal kabur oleh sang kekasih di hari pernikahannya, tanpa sebab dan alasan yang jelas.
Sementara dirinya, sudah tak lagi dapat mengurus karena selain sibuk mengajar, semua usahanya yang tersisa sudah diserahkan kepada Umar untuk sepenuhnya dia kelola. Yudha tak paham seluk-beluk Cafenya lagi karena semua peraturan termasuk standar operasional sudah di ubah oleh anaknya. Agar lebih mengikuti zaman masa kini.
Tak paham lagi caranya mengingatkan anaknya yang satu itu, Yudha terpaksa menggunakan cara yang keras. Dia sudah tidak bisa lagi di didik secara halus. So, paling susah memang menasihati orang yang sedang jatuh cinta. Matanya buta, telinganya tuli, pikirannya beku, tidak dapat di ajak kerjasama.
“Kamu itu maunya apa sih, Umar?!” Hardik Yudha karena Umar tetap tak mau bangun dari tempat tidurnya. Padahal mulut Yudha sudah hampir berbuih menceramahi nya panjang lebar. Tetapi ucapannya sedari tadi hanya dianggap seperti angin lalu.
Sedangkan Vita yang melihatnya memilih untuk menjauh. Wanita itu benar-benar tak tega melihat kengerian ini secara langsung. Keduanya mempunyai sifat yang sama-sama keras dan dia takut andai ada benda yang tiba-tiba melayang mengenai dirinya.
“Kamu itu bukan lagi anak kecil, kamu itu sudah dewasa! Jangan terus kekanak-kanakan!”
Umar tetap abai. Dia terus berpura-pura sibuk memainkan ponselnya. Padahal Yudha tahu, tidak ada apapun di sana yang terus dia sibukkan.
“Umar?!” hardik Yudha sekali lagi.
__ADS_1
Tak tahan lagi diperlakukan demikian oleh anaknya sendiri yang dia besarkan dengan keringat dan air mata, Yudha merebut ponselnya kasar dan membantingnya ke lantai hingga layarnya pecah dan baterainya tercecer. Melihat hal itu, Umar mengepalkan tangannya dan menatap Papanya sendiri dengan sangat kesal.
“Apa maksudmu menatapku begitu?” tanya Yudha dengan suara baritonnya. “Berani kamu menentang orangt tua? Papa ini sedang mendidikmu baik-baik. Nggak mikir kamu!”
“Lakukan apapun yang kalian mau?!” sembur Umar pada akhirnya mau membuka suara. “Cuma anak-anak Papa saja yang kalian perhatikan seperti emas, sementara aku ... kalian mendidik ku dengan cara kasar seperti ini!” kedua bola mata Umar merah. Menahan tangis, marah, kesal dan kecewa secara bersamaan.
“Jangan pula kamu merasa kami yang pilih kasih di sini. Barang itu pecah,” Yudha menunjukkan ponsel Umar yang ada di lantai, “karena barang itu yang membuat telingamu tuli! Kau tak mau mendengarkan orang tua bicara?!”
“Aku sudah mendengarnya dari tadi. Papa mau aku seperti apa lagi? Apa perlu aku berlutut di bawahmu?” tantang Umar, “Apa sebegitu tidak sabarnya kalian aku tidur, sampai Papa gedor-gedor pintu kamarku setiap hari? Nggak capek memangnya, Pa? Takut rugi?”
“Jaga cara BICARAMU?!” Yudha mere mas dagu Umar, lalu menghempasnya lagi secara kasar. “Kami nggak pernah takut miskin. Buka pikiranmu! Kamu sudah tidur setengah bulan di kamar ini, mau latihan meninggal? Mereka membutuhkanmu?!” tegasnya.
Yudha menarik anak itu ke depan cermin, dan menunjukkan wajah dia di sana, “Lihat kamu lihat! Kamu sudah seperti mayat hidup, gembel! Patah hati boleh saja, tapi pakai otak!!”
“Bukan urusan kalian,” balas Umar pelan menahan isak. Ya, untuk pertama kalinya setelah dewasa, dia menangis.
“Itu karena kalian! Kalau kalian nggak paksa kami nikah secepatnya, Sarah pasti nggak akan kabur.”
“Ya Allah Umar ...!” kesal Yudha sampai giginya gemeretak. “Harus dengan cara apa kami memberitahumu? Kalau dia wanita yang baik, dia tidak akan menolak di ajak menikah. Lagipula kalau jodoh nggak akan ke mana. Tidakkah kamu lihat kisah kakakmu supaya kamu jadikan pelajaran?!”
“Selalu Ray, Ray dan Rayyan. Aku bosan mendengarnya!” seru Umar tak suka Rayyan terlalu di dewa kan dalam keluarga ini.
“Minggu besok Papa kenalkan kamu pada seseorang,” kata Yudha tak mengalihkan topik daripada menanggapi ucapan anaknya barusan. Dia pun muak mendengarkan Umar yang terus mengira bahwa dia membeda-bedakan nya. Diberi tahu pun tak juga masuk di pikirannya yang bebal, jadi percuma. Sia-sia saja.
“Aku nggak mau?!” tolak Umar mentah-mentah.
__ADS_1
“Kalau begitu, pergilah kamu dari rumah ini. Kejarlah Sarah sampai kamu bisa, sampai kamu dapat. Tapi ingat, jangan anggap kami orang tuamu lagi,” ucap Yudha yang sebenarnya tidak sedang bersungguh-sungguh.
Pria itu hanya sebatas mengancamnya saja karena dia ingin tahu, bagaimana reaksi Umar setelah itu. Tetapi, dugaannya lagi-lagi justru malah di luar dugaan.
“Oke, baik! Dengan begini sudah semakin jelas semuanya, kalau Papa memang nggak sudi punya anak sepertiku,” jawab Umar putus asa, lalu melangkah pergi.
“Ya, pergilah!” balas Yudha tak peduli.
Di saat itulah Vita mengejarnya sampai ke depan. Berbeda dengan Yudha yang tenang karena sudah pasti anak curut itu akan balik lagi.
Jangan salah, dia akan pergi ke perbankan besok hari dan memblokir semua kartunya. Biar dia merasakan bagaimana hidup tanpa fasilitas dan uang orang tua.
“Heran. Pakai susuk apa sebenarnya Sarah itu?” gumam Yudha tak habis pikir. Padahal perempuan cantik di dunia ini sangatlah banyak. Tetapi anaknya malah tergila-gila sama janda yang kurang jelas asal-usulnya.
Belum lagi kabar yang terdengar, perempuan ini pernah menjadi simpanan pria kaya dan jadi ibu pengganti. Entah benar atau tidak.
Kalau boleh berterus terang, sebenarnya Yudha memang sangat menyayangkan pilihan Umar untuk yang satu itu. Tapi apa boleh buat kalau dia sudah mencintainya?
Yudha tak kuasa melarang karena bisa semakin dianggap sosok orang tua yang pilih kasih. Dia harus tetap menerima siapapun pilihan Umar andai anak itu memang tetap memilih Sarah untuk menjadi istrinya.
Yudha hanya berharap, Sarah adalah sosok wanita yang baik hatinya, dan kelak dapat membuat Umar menjadi manusia lebih baik lagi.
Demikianlah terkadang kesabaran orang tua di uji.
Flashback off.
__ADS_1
Bersambung.
Ayo tebak, siapa jodoh Umar? wkwkwk