Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Bab 12.


Zara kembali sendirian setelah kepergian Grace dari rumahnya. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari memikirkan bagaimana kehidupannya nanti ke depan.


Rasanya, Zara ingin pergi jauh dari tempat ini dan semua masa lalunya untuk memulai hidupnya dari awal lagi. Tetapi, ke mana dia harus pergi?


Zara telah hancur, baik karir mau pun kisah percintaannya yang selalu kandas—jadi wajar kalau dia tak lagi mempunyai gairah hidup. Lagi pula, belum tentu orang lain menerima kedatangannya.


Sepinya job membuat hari-hari Zara selanjutnya terasa suram. Selain menghabiskan waktunya di rumah untuk tidur dan segala aktivitas membosankan, dia juga kerap nongkrong di Cafe untuk sekadar melepas penat--walau tatapan benci orang-orang di sekelilingnya tak pernah bisa dihindari. Huh, andai dia bisa mencolok mata mereka, sudah pasti akan Zara lakukan.


Grace pun sudah jarang sekali datang karena dia sibuk di rumah mengurus ibunya. Entah benar atau hanya sebuah alasan—Zara tidak tahu persis. Gadis itu berusaha mengerti andai Grace pun akhirnya ikut pergi darinya. Sebab ia tak lagi dapat memberikannya jaminan upah yang sesuai.


Sementara di tempat lain, keluarga Al Fatir sedang mempersiapkan pernikahan cucu pertama dalam keluarga, yakni Rayyan Eshan Altair—yang berlokasi di Masjid Al Furqon. Kebetulan, tidak terlalu jauh dari tempat ini. Sedangkan, Rayyan sendiri tengah berada di kamarnya. Sudah berulang kali dipanggil, tetapi tak terdengar sahutan dari dalam sehingga Vita mengira putra pertamanya itu tengah beristirahat.


“Sudah, biarkan saja, Sayang. Mungkin Kakak semalam belajar sampai terlalu larut,” ujar Vita kepada Mauza, anak ketiganya.


“Niat nikah nggak, sih?” celetuk Umar asal ceplos dengan kakaknya yang seperti tak pernah punya niat untuk menikah, “kalau nggak niat mending sama aku aja sini!”


“Hus!” sergah mamanya agar putranya itu tak asal bicara, “tidak boleh bicara seperti itu, Nak. Bicara yang baik-baik saja.”


“Habis dari tadi dipanggil nggak mau keluar. Padahal Papa mau ngomong penting.”

__ADS_1


“Kan, bisa nanti.”


“Masalahnya bukan Cuma itu, Ma. Ini Kak Hamidahnya juga nelepon ke sini terus nanyain kabar calon suaminya, kenapa pesannya belum dibalas dari semalam. Lah, memangnya apa urusanku? Pusing,” kata Umar lagi setengah bersungut-sungut.


“Jawab saja nggak tahu. Tapi jangan sampai omong kasar, ya.”


“Hamparan, seserahan, mahar, semuanya sudah ready, Ma?” Mauza menyela pembicaraan mereka sambil menatap satu-persatu semua barang yang akan mereka bawa hari Ahad besok.


“Tinggal mahar aja yang belum ditata,” jawab Vita yang tengah menghias seserahan di wadahnya. "Seperangkat alat salat sama cincin emas."


“Kenapa nggak pakai jasa orang aja sih, Ma?”


“Kalau Mama bisa, kenapa harus orang lain?” jawab Vita menanggapi saran anaknya, “lagian hasil keterampilan tangan Mama juga nggak kalah bagus. Ini kan, hobi Mama dari dulu. Pernikahan Om Alif sama Onti Dara juga dulu Mama yang bikin.”


“Nggak, Nak. Mama justru senang melakukannya. Ini spesial dan berlaku untuk semua anak-anak Mama nanti.”


Di tempat lain, Hamidah sedang harap-harap cemas menunggu balasan dari Rayyan yang sudah berulang kali ia hubungi lewat pesan mau pun panggilan.


“Aku hanya khawatir kamu sakit, itu saja,” gumam Hamidah menatap layar ponsel. dia kemudian kembali kepada keluarganya yang juga sama-sama sedang sibuk seperti keluarga Rayyan. Yakni mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari Ahad besok. “Semoga dengan mempercepat pernikahan kami, Ustaz Rayyan bisa cepat mencintaiku.”


Sebagai perempuan biasa, Hamidah mempunyai rasa takut dan cemburu. Gosip yang beredar membuatnya merasa marah, terlebih tidak ada pembelaan apa pun yang terdengar dari calon suaminya tersebut. Hal itulah yang membuatnya menghilang selama beberapa lama. Semua itu tuduhan itu sempat terbantahkan ketika dia menghubungi Zara secara langsung melalui dirrect message. Namun bukannya merasa tenang, Hamidah malah semakin takut Rayyan benar-benar jatuh cinta pada Zara Angel yang lebih menarik darinya. Oleh karena itu, mereka kembali bertemu untuk membicarakan hubungan mereka agar semuanya jadi lebih jelas.

__ADS_1


“Kemarin kamu blok aku sampai aku berhenti berharap, tapi sekarang kamu malah minta bertemu untuk meminta kejelasan,” ujar Rayyan begitu mereka duduk berdua di suatu tempat yang mereka janjikan. “Kamu membuatku sempat berpikir bahwa kamu akan mengakhiri hubungan ini.”


Hamidah menyela segera, “Wajar kalau aku sempat marah kemarin. Kamu diduga mempunyai hubungan dengan Zara, tapi kamu sendiri malah menikmati dan enggan menginformasikannya. Seolah hubungan itu memang benar terjadi. Apa salah, kalau sebagai perempuan aku punya rasa cemburu?”


“Lalu sekarang?” tanya Rayyan menaikkan kedua alisnya.


“Aku sudah mencoba menghubungi Zara kemarin dan menanyakannya secara langsung seperti apa sebenarnya hubungan kalian. Dan aku minta maaf sama kamu karena ternyata ... kalian tidak ada hubungan apa-apa. Tapi ....” Hamidah menjeda kalimatnya dan menunjukkan cincin di jari manisnya, “sekarang aku takut kamu semakin lupa bahwa kita sudah pernah saling memutuskan untuk menikah. Yang lebih fatal lagi, kamu sampai benar-benar jatuh cinta padanya. Tahu, kan, perempuan yang kumaksud?”


Rayyan hanya diam saja. Namun matanya terus menelisik ke bola mata gadis itu yang tengah melanjutkan uraian panjangnya. “Aku harap itu nggak akan pernah terjadi karena kamu nggak mungkin menyukai wanita seperti dia. Aku kira kamu bisa menilai siapa dia dan siapa aku.”


Kali ini Rayyan angkat bicara, “Kamu nggak boleh sombong, karena bisa jadi, suatu saat nanti dia akan berubah lebih baik darimu, Hamidah. Karena itu sangat mungkin bisa terjadi asalkan orang itu punya kemauan.”


“Semoga saja begitu. Dia berubah jadi lebih baik dariku dan akhirnya bisa mendapatkan laki-laki yang demikian juga,” kata Hamidah akhirnya.


Rayyan mengaminkan. Keduanya lanjut membicarakan hubungan mereka yang akan segera disahkan secara agama dan negara. Rayyan yang pada saat itu sedang kecewa dengan siapa Zara sebenarnya, mendadak menjadi semakin yakin—bahwa Hamidahlah jodohnya sesungguhnya. Perempuan terbaik yang dia pilih. Bukan seperti Zara yang notabenenya adalah seorang artis dengan skandal prostitusi. Tak sedang membenci orangnya, tetapi kelakuan buruknya.


Hari kedua setelah pertemuan, kedua keluarga kembali bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan. Keluarga sangat menyetujui anak-anak mereka mempercepat pernikahannya yang sempat tertunda selama beberapa lama ini.


Tidak ada undangan yang dicetak pada saat itu karena semua dilakukan cepat dan disebar secara virtual. Tetapi diam-diam, Hamidah mencetak sendiri beberapa lembar undangan untuk dikirim secara langsung kepada Zara dan manajernya. Sekadar untuk menandai bahwa Rayyan hanyalah miliknya seorang. Ya, hanya itu saja tujuan Hamidah sebenarnya. Dia pikir, tidak ada salahnya bersikap tegas demi mempertahankan apa yang dia miliki.


 ***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2