Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Sangat Serius


__ADS_3

Bab 43.


“Kakak tahu? Mama itu hampir gila cari kamu di sana. Tanya sama orang sana-sini, bolak-balik dari lantai satu ke lantai paling atas, belum lagi wara-wiri minta tolong ke bagian informasi sampai Mama sesek napas,” omel Vita panjang lebar kepada anak pertamanya begitu wanita itu sampai di rumah. Napasnya memburu, jantungnya masih berdetak kencang dan perasaannya masih belum karuan karena mengira anaknya itu memang sudah benar-benar hilang.


“Mama tidak akan mengizinkanmu keluar lagi kalau caramu seperti ini, Ray!” kecamnya dengan mata lebih tajam membuat Ray menunduk segan. Jangankan melawan, bersuara saja tak berani.


“Sstt, sudah!” Yudha menghentikan istrinya agar selesai marah-marah, “ke kamar sekarang. Nanti baru boleh bicara lagi kalau sudah tenang.”


Vita menatap suaminya, “Kasih tahu anakmu itu supaya ngerti.”


“Apaan, sih, Ma. Nanti kalau Mama terus melarang Kakak keluar rumah, kondisi Kakak jadi nggak ada peningkatan. Biarkan instingnya bekerja. Nanti kalau Kakak merasa jalan ini salah, dia akan mencari caranya sendiri,” kata Umar mempunyai pendapat yang beda dengan mamanya yang sebenarnya hanya takut. Beliau terlalu sayang kepada Ray dan tak ingin terjadi apa-apa padanya sebab karena sakitnya itu.


"Diam Umar! Kamu nggak tahu Mama itu hampir saja mati jantungan dibuatnya."


“Apa kata Umar ini ada benarnya, Moy. Sudahlah, jangan kekang dia terus. Kasihan. Biar dia mengenal dunia luar,” Yudha membela anak keduanya.


“Ah, Papa sama aja sama mereka.” kesal, Vita pun melenggang ke kamar. Tapi masih terus menggerutu memperingatkan Umar, agar anak itu tak mengajarkan kakaknya macam-macam. Sebab baru ia ketahui belakangan ini, kelakuan Ray jadi agak mirip dengannya. Suka menggombal, menggoda, dan merayu kalau sedang dihukum.


“Awas, ya, Umar!” sebuah peringatan kembali terlontar sebelum pintu kamar Vita tertutup rapat. Disusul oleh suaminya karena merasa ada yang harus mereka selesaikan hanya berdua.


“Siapa yang mengantar Kakak pulang?” Umar bertanya kepada Ray di sebelahnya.


“Namanya Angel, cantik sekali,” jawabnya sangat jujur. Kepolosan dan keluguannya membuat Rayyan kembali seperti anak remaja lagi. Karena dia yang sekarang adalah seumpama memori yang kembali kosong.


Umar tersenyum meledeknya, “Ciyaaa, ketemu cewek cantik.”


“Tapi sungguh, bukan karena itu aku pergi. Tadinya memang cari Mama karena aku bosan menunggu Mama terlalu lama.”


“Terus gimana cewek itu bisa antar Kakak ke rumah?”


“Aku minta tolong sama dia.”


“Nggak dimintain nomornya?”


Ray menggeleng, “Dia itu galak.”


“Whoaaa! Seru, nih pasti buat ditaklukin.”


“Jangan, nggak boleh. Dosa.”


"Nggak papa, asal jangan dipegang. Kakak hapal nggak mobilnya?"


"Iya, mobilnya bagus. Warna merah," Rayyan menyebutkan no pelat dan tipe model mobil gadis yang mengantarkannya pulang itu kepada Umar. Dan dengan senang hati, tentu anak baik itu juga mengajarkan cara untuk mencari dan mendekatinya, jika Rayyan memang merasa tertarik.


Oh, Ya Lord ... dialah suhu yang sebenarnya!


Sementara di dalam kamar, sepasang suami istri tersebut masih mendebat tentang Ray yang sengaja meninggalkan ibunya sendiri.


“Kalau mau belain jangan di depan mereka langsung, dong, Mas. Gimana pun mereka harus tahu letak kesalahannya. Kalau kamu bersikap seperti tadi, itu sama saja kamu menjatuhkanku di depan anak-anak. Dan itu bisa membuat mereka hilang rasa percaya.”

__ADS_1


“Iya, aku tahu. Aku minta maaf, tapi tolong! Mulai sekarang jangan perlakukan Ray seperti anak kecil lagi. Aku setuju apa kata Umar tadi karena dia juga memperhatikanmu selama ini. Biarkan Ray berkembang dengan segala pola pikirnya. Tugas kita sebagai orang tua hanyalah mengarahkan. Bukan menentukan.”


Vita terlihat membuka mulutnya untuk bicara, namun sebelum itu terjadi, Yudha lebih dulu menahannya, “Untuk kali ini saja, jangan ada lagi kata tapi.”


Pria itu sontak menutup pintu. Membiarkan istrinya menelaah kata-katanya.


Vita menghempaskan tubuhnya di pinggiran ranjang. Memejamkan matanya dan membiarkan air matanya mengalir. Betapa dia nelangsa memikirkan nasib masa depan putra pertamanya. Ia tak ubahnya mempunyai anak kecil lagi yang harus mengajarkannya berbagai hal. Dari nol.


Lelah sudah pasti. Tapi Vita harus tetap melangkah hingga Ray bisa menemukan kebahagiaannya. Agar ia tak terus merasa bersalah padanya.


Andai anaknya itu tak pernah menikah dengan Hamidah....


Andai anaknya itu tak kecelakaan.


Tapi di sesali pun tidak akan ada gunanya.


Semua sudah terjadi dan waktu tak mungkin kembali, apalagi mengajaknya mengubah masa sekarang.


🌺🌺🌺


Di perjalanan balik, Zara tak henti-hentinya memikirkan pria yang baru saja di antarkannya pulang. Tak habis pikir apalagi menyangka Ray bisa jadi seperti itu sekarang. Kesibukannya sebagai seorang influencer dan pengusaha membuatnya tak terlalu memedulikan lingkungan di sekitarnya.


Lagi pula, apa yang akan Zara pedulikan mengenai pria itu? Toh, dia bukan siapa-siapanya. Jangankan memikirkannya, mendengar berita tentangnya pun rasanya enggan.


Setelah Ray dikabarkan menikah, sudah tak ada lagi kasrak-kusruk berita yang mengait-ngaitkan mereka berdua. Dengan sendirinya, eksistensi Ray yang pada saat itu mulai naik daun pun, perlahan kembali tenggelam. Sirna. Seiring berjalannya waktu.


“Ada apa ini, Mam?” tanya Zara, “jangan marah-marahlah, Mam. Nanti tensinya naik lagi, loh.”


“Ini, tanaman Mami kok sampai pada kering gini nggak disiram,” adunya mengarah ke anak dan bapak tua itu secara bergantian. Sedang matanya menyorot tajam seperti hendak menerkam mangsanya, “Ngapain aja dia selama ini. Makan gaji buta? Ini tanaman mahal, loh.”


“Mam, sabar, Mam. Udah, maafin aja, kalau mati berarti bukan rezekinya.”


Miranda melotot terhadap anaknya, “Sabar, sabar, sabar. Kamu tahu, nggak? Harga anggrek hitam Papua ini? Ini seratus juta harganya. Kalau mati gimana?”


“Lagian Mami, sih, beli tanaman mahal-mahal. Beli janda bolong aja yang murah, kan, banyak.”


“Makanya itu, karena mahal, jadi Mami pekerjakan tukang kebun. Eh, ini malah begini hasilnya.” Miranda melihat tanaman kesayangannya dengan penuh penyesalan, "Saya beli-beli seperti ini juga buat di jual lagi nanti kalau sudah pada besar, Mang. Bukan cuma untuk senang-senang."


“Maaf, Bu, Non. Mungkin karena tanamannya banyak, jadi anggreknya ada kelewat sama saya. Nanti saya siram ya, Bu. Saya usahakan nggak akan mati tanamannya,” Si Bapak Tua itu baru berani bicara sembari menundukkan kepalanya, “lain kali saya akan lebih teliti.”


“Nggak papa, Mang. Toh masih hidup juga tanamannya.” Zara tersenyum, kemudian masuk ke dalam membawa kantong belanjaan sekaligus menggandeng lengan Maminya agar perempuan itu ikut masuk serta. Mengajaknya bicara dan menanyakan hal-hal yang tidak penting demi mengalihkannya dari penyebab amarah yang sedang menyeruak dalam dadanya.


“Itu apa, Mam?” Zara menanyakan benda yang Miranda  pegang. Kemudian, Miranda menjawab bahwa ini adalah paket yang diterimanya dari luar. Serta merta dia menjelaskan bahwa karena benda itulah penyebab dia melihat tanaman mahalnya gersang.


“Banyak banget ya, kiriman yang belum aku post.” Zara melihat tumpukan paket yang ada di ruang tengah. Ya, banyak sekali.


“Udah pada DP belum?” kali ini Miranda sudah mulai bisa menurunkan nada bicaranya.


“Itu dia, masalahnya mereka udah pada DP. Jadi nggak bisa aku tunda-tunda lebih lama lagi. Bisa marah owner-nya. Entar, aku diviralin influence yang nggak amanahlah, nggak bertanggungjawablah. Susah jadi orang kayak aku ini, Mam. Napas aja mungkin salah di mata mereka.”

__ADS_1


Miranda merengkuh tubuh anaknya dan mencium kepalanya yang tertutup hijab.


“Siapa yang nyatat uang keluar masuknya?” tanya Miranda sangat ingin tahu.


“Sammy. Dia yang ngurus semuanya sekarang. Kapan aku harus shoot, dia juga yang jadwalin.”


“Kamu kasih dia berapa persen?”


“Dua puluh lima. Banyak, kan?”


“Kebanyakan lima persen.” Miranda terlihat amat menyayangkan.


“Nggak papa, supaya dia pikir-pikir kalau mau pindah ke bos lain.”


“Ini kamu dari mana aja, hampir setengah hari, hmm?” wanita tua itu memijat-mijat pundak putrinya.


“Makan sama Cici, terus belanja di bawah beli pembalut,” jawab Zara kemudian mencari-cari asisten rumah tangganya, “Devi ke mana, Mam?”


“Ada di belakang, kenapa? Mau minta tolong apa?”


“Minta tolong bukain paketnya satu-persatu. Biar nanti setelah aku ganti baju langsung bisa nge-review.”


“Ya, udah. Berhubung Mami lagi nggak sibuk, biar Mami yang bukain,” ujarnya membuat Zara merasa sangat terbantu.


“Eh Mami belum ngasih tahu soal ini sama kamu, ya? Ada tamu lagi tadi. Ya... sekitar umuran 35 tahunanlah.”


“Ta’aruf lagi?” Zara menebaknya yang ternyata itu benar.


Miranda mengangguk, sebelum kemudian beliau memberikan petuah, “Sayang Mami cuma mau cerita aja ... bukannya Mami lagi nyuruh kamu cepet-cepet nikah.


"Tapi alangkah baiknya kamu coba buka hati buat menerima salah satu dari mereka. Ini demi kebaikanmu, demi kebaikan kita semua."


Napas Miranda berubah menjadi sesak. Nadanya pun semakin tercekat.


"Mami sudah tua. Gula darah Mami udah tinggi, tensi Mami selalu tinggi kalau di cek. Badan Mami gampang capek. Walaupun cita-cita Mami masih banyak, tapi fisik Mami udah nggak kuat lagi...


"Mami takut ... takut sekali andai Mami kenapa-kenapa, tapi kamu masih sendiri. Minimal, sekarang kamu sudah ada calon. Mami lebih tenang kalau kamu ada yang jagain. Mami ....” belum sempat Miranda menyelesaikan ucapannya, wanita itu sudah keburu banjir air mata sehingga ia tak lagi mampu melanjutkan.


Sepertinya, dia mengalami ketakutan yang sangat serius. Luar biasa.


Namun masalahnya, pria seperti apa yang harus dia terima sekarang?


Siapa?


Yang mana?


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2