
121
Pagi hari itu Zara terbangun dalam keadaan lemas lesu. Niat ingin menyusul Rayyan hanya karena ingin tahu apa yang akan dia lakukan di rumah mantan istrinya, malah berakhir demikian. Terkurung di sini dan harus berkali-kali pasrah di bawah kungkungan nya.
Rayyan bahkan tak memberinya kesempatan untuk sekadar berdiri selain untuk mandi, makan, dan beribadah. Seolah setiap detik waktu yang Zara punya adalah miliknya seorang.
Sempat ada rasa cemburu yang menyala-nyala, saat Hamidah memeluk tubuh Ray hingga sempat terlintas dalam benaknya sebuah bayangan, semesra itukah mereka dulu?
Dan kenapa dia harus menjadi wanita yang kedua sehingga ia harus mengalami keadaan semacam ini?
Selalu dibayang-bayangi mantan istri sang suami yang tidak bisa move on dan terus membuat keributan dalam rumah tangganya. Mengesalkan memang.
Keduanya masih dalam keadaan polos dan saling menyatukan kulit masing-masing yang ditengarai dapat meningkatkan ikatan emosional dengan pasangan. Sesuai kesepakatan mereka kemarin, tidak ada satu pun yang keluar kecuali jika pakaian telah kering.
“By ...” Zara membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi.
Rayyan hanya merespon melalui bahasa kedua bola matanya, seolah sedang balik bertanya, ada apa?
“Kamu nggak ngumpetin semua hape aku lagi, kan?”
“Hape kamu nggak aku bawa. Aku taruh di laci lemari paling ujung, tapi di non aktifkan,” jawab Rayyan.
“Berarti aku bisa minta tolong ke Mama supaya dikirimkan ke sini sekarang. Boleh ya?” Senyum Zara semringah. Penuh harap.
Ray menghela napas keberatan. “Nggak bisa nunggu dua atau tiga hari lagi memangnya?”
Senyum Zara sontak memudar saat mendengar responnya. Wanita itu cemberut dan kembali membelakangi Ray lagi.
__ADS_1
“Gampang banget ngambeknya sekarang. Nggak boleh begitu sama suami ...” Rayyan menasihati istrinya yang sekarang gampang moody an karena hormonnya. “Aku nahan kamu pegang benda itu karena ada alasannya. Aku paham, banyak notifikasi penting yang mungkin belum kamu lihat. Tapi penting mana sama kesehatanmu sendiri sama anak-anak? Kamu harus belajar dari pengalaman sebelumnya, Ra.”
Meskipun diam, namun Rayyan tahu bahwa Zara sedang mendengarkannya. Maka tak masalah baginya karena sudah sebagai mana biasanya dia begitu.
Demikian benar adanya karena selang satu menit kemudian, Zara kembali membuka suara, “Aku lapar, mau makan nasi goreng, plis ....”
“Baiklah. Aku pesan sekarang.”
Rayyan beranjak dari tidurnya, kemudian membersihkan diri sembari menunggu petugas Hotel mengantarkan pesanan mereka.
Semenjak itu, Rayyan aman dari rengekan Zara yang terus meminta ponselnya. Meski tayangan yang memberitakan masalah keduanya, tetap tak bisa mereka hindari.
Untuk ke sekian kalinya, Miranda muncul di layar televisi untuk membersihkan nama anaknya yang sempat keruh karena omong kosong atau sindiran dari seseorang yang tak menyukainya.
Lain hal itu, Miranda juga sudah sumpek dan risik lantaran rumahnya selalu dipagang oleh beberapa media. Dia berharap semua orang ini lekas-lekas hengkang dari halaman rumahnya setelah dia keluar untuk meladeni mereka dengan sedikit suara.
Miranda pun menjawab apa saja yang ditanyakan oleh para wartawan. Bahkan yang paling mengejutkan, wanita itu membawa serta mereka masuk ke pelataran untuk dibagi-bagikan makanan dan minuman biar kuat menghadapi kenyataan, katanya. Amazing!
“No, anak saya hamil kembar. Makanya lebih besar dari usianya, kan? Boro-boro nabung duluan. Punya waktu buat diri sendiri aja bisa dibilang sangat langka,” jelasnya menjeda sesaat.
“Zara itu orang sibuk. Mana sempet dia pacaran? Kan, selalu ada yang bantu handle akunnya. Jadi daily aktivitasnya selalu di post. Kayaknya nggak mungkin kalau kalian nggak tahu.
“Bukan bermaksud sombong, memang begitu kenyataannya. Saya orang tuanya, jadi saya lebih tahu anak saya seperti apa,” sambungnya.
“Bener nggak, kalau Ustaz Rayyan bercerai karena lebih mencintai anak Anda?” salah satu wartawan berjenis kelamin perempuan bertanya.
“Mana saya tahu? Memangnya saya indigo yang bisa baca pikiran orang?” jawab Miranda tak habis pikir, “nggak ada urusannya sama saya, jadi tanyain aja sama mereka yang punya hubungan.”
__ADS_1
“Satu lagi pertanyaan dari saya, Moms. Apa tanggapan Anda kalau anaknya dikatain pelakor, Moms?”
“Pelakor itu singkatan dari: perebut laki orang. Zara menikah setelah menantu saya berstatus duda. Mereka mulai dekat lagi, jauh setelah menantu bercerai dengan istri sebelumnya. Jadi anak saya bukan pelakor, ya.”
“Apa benar, karena masalah tersebut, salah satu dari mereka pergi dari rumah?”
“Itu hoax. Nggak benar. Karena mereka justru lagi pergi babymoon sekarang. Sudah, ya? Semuanya sudah jelas, jadi wawancara sudah selesai.”
Sebenarnya, masih banyak serangkaian pertanyaan wartawan yang belum Miranda jawab, namun wanita itu menolak untuk dimintai waktu lebih lanjut. Sebab selain sibuk, Miranda mengatakan bahwa dia hanya bisa menjawab pertanyaan inti saja. Tak lain dari masalah yang sedang ramai kemarin.
Sementara di tempat lain, Hamidah sedang mengetik sesuatu untuk dia unggah melalui media sosialnya.
Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi kecuali meluruskan berita yang sudah dia buat karena tak mau terus di desak oleh Miranda dengan semua acaman-ancamannya. Meski apa yang akan dia lakukan, tidak akan pernah bisa menarik lagi berita yang sudah terlanjur beredar dan berakibat menyudutkan dirinya sendiri.
Surat terbuka.
“Ya, saya mengaku salah karena telah membuat suasana yang tenang menjadi riuh.
“Sebagai seorang Muslim, semestinya kita memang tidak ada hak untuk menghukum niat seseorang apabila mereka sedang mencoba memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.
“Seharusnya saya juga bisa memberikan reaksi yang lebih baik dari itu. Tapi ... saya mempunyai alasan tersendiri untuk merasa sedih. Sekali lagi, saya katakan, ini adalah kesilapan saya.
“Sebagian dari kalian, sudah mengeluarkan kata-kata yang tak pantas di dengar dengan memberitahu, bahwa saya bukan yang terbaik untuknya. Ingat, kalian bukan pemeran utamanya dan hanya saya saja yang tahu bagaimana saya menjalani kehidupan yang sangat berat.
“Tapi ... saya berharap semua baik-baik saja. Saya mau mulai hidup baru untuk kebaikan saya sendiri. Namun, satu yang harus mereka tahu, saya tidak pernah menyesal telah mengenalinya. Kegagalan rumah tangga saya memang bermula karena saya yang menyalahinya. Meski sangat disayangkan, dia tidak berusaha memperjuangkan saya kembali sebagaimana keinginan saya karena dia lebih memilih menemui wanita lain.
“Teruntuk Zara dan keluarga, saya minta maaf kalau hal yang sempat saya tuduhkan tidaklah benar. Saya hanya manusia biasa, sama seperti yang lain dan dengan segala prasangka yang saya miliki.”
__ADS_1
Dalam beberapa menit, unggahan itu sudah dibaca oleh banyak orang termasuk Rayyan, tanpa sepengetahuan istrinya.
Ray pun geleng kepala membacanya. Di saat sedang meminta maaf pun, wanita itu masih saja menunjukkan kesombongannya dan menganggap dirinya adalah korban. Oh Tuhan ....