Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Anak VS Menantu


__ADS_3

Bab 36


Hampir satu bulan telah berlalu semenjak Zara melakukan egg freezing di salah satu rumah sakit besar yang ada di Jakarta Pusat.


Seperti yang sudah mereka rencanakan pada waktu itu, maka malam ini mereka sedang bersiap-siap mengumpulkan segala pernak-pernik yang harus mereka bawa ke tanah suci—selain membawa seragam yang diberikan oleh Travel Umrah.


Jam penerbangan sebenarnya tidak terlalu pagi. Namun karena harus briefing terlebih dahulu dan semacamnya, Mutawwif atau Tour Guide sangat menyarankan agar para jamaah mereka datang dua jam lebih awal. Bertujuan agar tak terjadi suatu hal yang kurang menyenangkan. Misal terjebak macet, ada barang yang tertinggal atau lain sebagainya.


“Bulan ini di sana nggak musim penghujan kan, Mam?” tanya Zara saat orang tuanya itu tengah mempacking barang-barang mereka.


“Coba kamu cari tahu,” jawab Miranda belum mengerti maksud pertanyaan anaknya.


“Maksudku kalau nggak sedang musim hujan, ini nggak usah dibawa, jadi bisa menghemat bagasi,” Zara menyingkirkan perlengkapan musim hujan yang hendak dimasukkan ke dalam koper besar. Kini Zara meminta pendapat kepada ayah tirinya yang duduk diam mengawasi keduanya, “Iya, kan, Om?”


“Iya, Nak, kamu benar.” Ruben tersenyum. Kebanggaan sendiri bagi pria itu karena Zara sudah mulai mau melibatkannya di dalam banyak hal, walau pun anak tirinya tersebut masih tetap memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Ruben sangat mengerti, memang tidak ada yang bisa menggantikan Papi Purnawirawan dalam hidupnya. Jadi dia harus menerima keadaan ini daripada bersikap tidak tahu diri.


Selama hari-hari bersama Zara, pria yang usianya hampir sama dengan Miranda tersebut memang tak banyak bicara. Dia hanya akan membuka suara apabila ada yang bertanya atau mengajaknya bicara. Selain itu, dia akan menghukum dirinya di ruangan yang berbeda dengan dalih; merampungkan sisa pekerjaan. Sebab ia masih terus merasa bersalah dan merasa tak pantas berada di sana, apalagi ikut haha-hihi bersama mereka setelah apa yang dia lakukan di masa lalu.


Kalau bukan karena Miranda yang memohon-mohon untuk tetap bertahan, maka sudah sedari dulu dia tinggalkan rumah ini beserta kedudukan yang dia miliki. Tapi sayang, Ruben seperti terbelenggu rantai besi. Dia telah membuat Purnawirawan harus meninggalkan banyak sekali tanggungjawab yang belum selesai. Pun dengan ketidakmampuan Miranda memegang nasib banyak orang yang menggantungkan hidup di perusahaan, sehingga dia merasa harus menebus kesalahan ini dengan mengabdikan dirinya di sini, di tempat ini.


Mungkin di mata orang dia adalah seekor parasit. Tapi kenyataannya tak demikian karena Ruben tak pernah menikmati kekayaan ini. Ditandai dengan gaya hidupnya yang cenderung sederhana dan tidak adanya barang-barang mewah yang melekat pada tubuhnya. Sebaliknya, oleh karena merasa bersalah itu, Ruben rendah diri dan menganggap dirinya hanyalah seorang pekerja.


“Sabuknya, Om, Mam. Jangan sampai lupa.” Zara mengingatkan sabuk pengait kain ihram yang nanti akan dipakai ayah tiri dan adiknya di sana.


“Tolong kamu ambilkan di dalam kamar Mami, Sayang,” titah Miranda.


“Yang lain, obat-obatan, ciput, kaos kaki wudu, atau manset lengan untuk kita?”


“Udah semua ... tinggal sabuk aja.”


“Tukar uang udah?"

__ADS_1


"Udah...."


"Kain Ihram buat Mike juga udah?” kekeh Zara merasa banyak sekali bertanya, “cuma ngingetin, takut kelupaan. Di sana mungkin memang banyak, tapi kan nggak mungkin kita beli-beli lagi. Ribet kalau belanja di negara orang. Belum lagi cuaca panasnya.”


“Iya, ya? Di sana kan, panas banget,” Miranda langsung terpikirkan sesuatu, “sunblock jangan lupa!”


“Bener, Mam. Ada pengalaman dari teman Zara baru-baru ini pulang dari Umrah ... kulitnya yang putih bersih itu jadi hitaamm. Hitam banget! Sampai aku pangling. Kayak habis dijemur dua bulan di pinggir Pantai,” ceritanya menggebu-gebu.


Miranda tercengang, “Kalau gitu pesan sunblock yang spf nya 200, online aja sekarang!”


Rupanya wanita darah campuran Tionghoa dan Indonesia tersebut juga takut kulitnya menjadi lebih gelap.


“Tapi kalau sunblock spf 200 mana ada?” Zara tertawa mendengar perintah yang terdengar agak ngawur itu, “kalau ada, itu pasti bukan hanya untuk melindungi kulit, tapi melindungi tubuh kita dari badai bencana.”


Ketiga orang itu ikut-ikutan terbahak mendengar candaan receh macam ini.


“Ah, sudah-sudah, bercanda melulu kita. Kapan selesainya kalau begini,” ujar Miranda menyadarinya.


“Zara ke kamar Mami, ya. Ambil apa tadi? Hmm sabuk.”


“Mau ibadah aja masih ingat make up.”


“Alah, kayak kamu engga,” jawab Miranda tak mau kalah, “katanya mau ada dokumentasi? Kalau foto harus cantik, dong!”


“Mami dah tua masih aja ganjen. Ingat umur, Mam,” gerutu Zara masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian mengambil barang-barang yang diperlukan sebelum akhirnya kembali keluar dengan tangan penuh.


Keduanya bekerja sama untuk mempersiapkan keperluan mereka. Begitu pun dengan Mike yang nggak kalah ribet—karena semua barang-barang kesayangannya minta dibawa. Termasuk kamera drone yang bobotnya lumayan berat dan cukup menyesakkan. Sehingga kembali terjadi keributan lagi di rumah ini selama mereka berpacking. Sungguh mengenyangkan perut!


Sementara di tempat lain.


Tak jauh beda dengan rumah ini. Keluarga Vita juga sedang ramai dengan suara riuh anak-anaknya yang selalu mempunyai pendapat yang berbeda. Ke semuanya sedang berkumpul di acara makan malam bersama, tak terkecuali Rayyan dan istrinya. Mereka sengaja di undang karena sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumah ini.

__ADS_1


“Iya ... dah lama loh, Kakak nggak ke sini. Jangan-jangan kalian lupa, ya, sama adik-adiknya. Awas, loh, nanti lupa ingatan beneran,” ujar Mauza kepada Ray dengan menunjukkan bibirnya yang maju lebih dari satu senti.


"Jangan omong sembarangan," Zunaira mengingatkan kakaknya yang agak sedikit ceplas-ceplos.


“Bukan lupa ... tapi memang lagi agak sibuk,” Rayyan menjawab.


“Sibuk apa?” entah polos atau memang sedang pura-pura Mauza bertanya seperti itu.


Umar, saudara kembarnya yang gemas lantas ikut berbicara, “Jangan pura-pura nggak tahu, deh! Mereka itu sibuk ibadah. Bikin keponakan buat elu!”


“Huss, bicara yang sopan, Umar,” sahut Vita mengingatkan anak kembarnya yang mulutnya sama-sama seperti ember dekolit bocor.


“Mana? Sampai sekarang belum jadi,” canda Mauza membuat Hamidah sangat terkejut.


“Masih disuruh sabar sama Allah, Dek ...” jawab Ray dengan suara pelan dan sabar. Dia sedang dicontoh oleh adik-adiknya dan tak mungkin menjawabnya dengan perkataan semena-mena.


Namun suasana jadi mengenakkan lagi bagi Hamidah karena wanita itu langsung merasa tersinggung. Kenapa lagi-lagi dia harus disenggol dengan pertanyaan seperti ini?


“Memangnya aku sengaja nunda-nunda? Kamu pikir, keadaan kita sekarang ini, kami yang mau?" ujar Hamidah yang akhirnya membuka suara setelah dari tadi hanya diam membisu, "aku juga udah usaha kali, Za. Mana mungkin cuma pasrah dan diam aja menunggu rezeki jatuh sendiri.”


“Jangan baper, Kak. Aku ngomong juga nggak sungguh-sungguh. Jadi jangan terlalu diambil hati, bisa capek ...,” sahut Mauza segera. Dia merasa tak ada yang salah dengan perkataannya barusan.


"Kamu juga kalau ngomong jangan sembarangan. Nggak semua orang bisa menerima candaan kamu itu." Hamidah tak mau kalah.


“Kenapa jadi panjang lebar begini? Aku mah, udah biasa bercandaan sama Kak Ray begitu. Bukan bermaksud lagi menghina atau apa. Coba deh, tanya sama yang lain, emangnya aku ngomong apa?”


“Mauza!” seru Yudha menghentikan keduanya, “minta maaf dan masuk ke kamar!”


“Menantu Papa yang baperan, kok, malah nyalahin aku?”


Suasana makan malam tiba-tiba jadi kacau karena kesalahpahaman mereka berdua.

__ADS_1


bersambung


Jangan lupa like & komennya gais


__ADS_2