
56.
Saat sampai, keduanya pun turun dan menuju ke lantai di mana Miranda sedang di rawat. Ini adalah malam kedua wanita itu menginap di klinik terdekat.
Awalnya, Zara berniat untuk memindahkan maminya ke rumah sakit tempat beliau rutin melakukan check up. Agar sekiranya bisa diperiksa oleh dokter yang biasa menanganinya. Sebab dokter itulah yang tahu rekam medisnya selama ini. Namun Ruben melarang. Lantaran menurutnya, pelayanan di sini juga sudah sama-sama bagus.
“Di sini aja biar nggak repot pindah-pindah. Mami juga kelihatannya sudah nyaman,” ujar pria itu saat Zara mengeluarkan pendapatnya.
“Ya udah kalau maunya Om sama Mami di sini, aku sih setuju-setuju aja. Cuma menurutku, alangkah baiknya....”
“Ini sudah lebih dari cukup, Sayang,” sahut Miranda ikut meyakinkan anaknya.
Kini keadaan wanita itu sudah lebih baik meski masih lemas. Wajahnya tak setegas biasanya dan tubuhnya yang awalnya berisi, kini lebih mengecil. Mual dan muntah hampir tiga malam menyiksanya hingga menyebabkan Miranda tak bisa menelan makanan. Kecuali bantuan dari alat dokter yang disambungkan melalui pembulu darah vena.
“Maafin Mami, Sayang. Kamu pasti sangat kerepotan mengurus semua acaranya sendiri....” Miranda menyentuh tangan putrinya.
“Nggak papa... ada banyak temen yang bantuin aku, Mam.”
“Mami usahakan, besok bisa pulang ke rumah supaya bisa menyaksikan acara lamaranmu.”
“Jangan pikirin apapun, yang penting Mami cepat sehat dulu.”
“Mami udah sehat, kok. Mami udah seger banget hari ini.”
“Mami bohong....”
“Nggak... ngapain Mami bohong,” dia tetap saja mengelak.
▪▪▪
“Capek ... Kak,” keluh Zunaira kepada Mauza setelah mereka berkeliling mengitari sejumlah pertokoan. Di sinilah mereka saat ini. Salah satu Mall besar yang terletak di kawasan Jakarta Timur. Berbelanja keperluan besok.
“Sabar, bentar lagi selesai, kok.” Mauza menanggapi beberapa kali keluhan adiknya dengan jawaban yang sama, sehingga Zunaira menggerutu.
“Daritadi gitu terus jawabannya.”
“Masih lebih baik aku jawab begitu, daripada aku jawab besok. Lagian parah banget Kak Ray ini. Perasaan baru nikah kemarin, sekarang dah mau nikah lagi. Ngerepoti kita melulu. Kita aja belum sekalipun.”
“Kakak dah pengin nikah?”
__ADS_1
“Pengen, tapi... ada nggak, ya? Laki-laki mau nikah sama aku yang minim akhlak ini.” Mauza menyadari dirinya yang berbeda. Dia tak sesabar dan tak selembut saudaranya yang lain seperti Ray dan Zunaira. Padahal mereka satu titisan. Kenapa bisa seperti ini, ia pun tak tahu.
“Hus! Kakak ni, omong apa, sih?” Zunaira menyergahnya, “pasti ada laki-laki baik yang mau menerima Kakak apa adanya. Tapi walaupun begitu, Kakak juga tetap harus terus memantaskan diri. Sebab semua laki-laki juga nggak mungkin nerima adanya gitu aja. Kakak masih percaya petuah ini: laki-laki baik akan disandingkan dengan perempuan baik-baik begitu juga sebaliknya.”
“Sok bijak, lu,” cibir Mauza, “terus kalau yang baik sama yang baik, sisa yang jahat, mereka dipasangin sama siapa dong?”
“Sama Mang Udin,” celetuk Zunaira.
“Ngawur,” cetus Mauza.
“Hihihi....”
“Ini size pakaian dalamnya no berapa, Za? Aku ngga tahu ukuran dada calon kakak ipar kita.”
“Tanya aja sama Kak Ray.”
“Emangnya dia pernah nyobain?” tanya Mauza konyol.
“Astaga, otak Kakak, ni sengklek. Ya belumlah... nikah aja belum,” Zunaira geleng-geleng kepala, “maksudku, Kak Za tanyain Ke dia, kan cuma dia yang tahu nomornya... are you mudeng?”
“Oh, yayaya,” kata Mauza ketika sampai berpikir. Dia pun mengambil ponselnya di tas dan segera menghubungi sang kakak.
0858 777 666 xx : maaf sebelumnya kalau kali ini aku kurang sopan. Tapi Mauza menanyakan size your underware untuk seserahan yang mau kami bawa.
“Ya Tuhan....” perut Zara terguncang menahan tawa hingga mukanya memerah. “Aku harus jawab apa?”
0858 777 666 xx: kamu bisa kirimkan ke no Mauza langsung. Ini nomornya 0858 3xx xxx xx. Sekali lagi i'm so sorry....
Belum sempat Zara membalas, nomor tersebut kembali mengirim pesan.
0858 777 666 xx: love u.
Lagi-lagi Zara kebingungan. Tak tahu, balasan kalimat seperti apa yang hendak ia kirim. Namun demi membesarkan hati sang pengirim, dia pun membalasnya dengan satu emoji jatuh cinta yang matanya ditutup oleh dua gambar hati dan ia anggap cukup.
0858 777 666 xx: sampai ketemu besok, calon istri.
“Ih, apaan, sih.” Zara sontak menutupi wajahnya yang kembali terasa memanas. Sebab menghindari sampai Mami dan Om Ruben melihatnya.
Zara: iya, sampai ketemu juga....
__ADS_1
▪▪▪
Di bawah langit kota Bandung, sepasang kekasih sedang saling terhubung dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Saling menanyakan kabar, menanyakan hal-hal sepele, hingga membahas masalah-masalah penting yang telah mereka lalui. Termasuk masalahnya dengan wanita yang bernama Zara.
Cici: hubungan kita sudah diketahui oleh Zara. Aku nggak tahu entah sejak kapan. Tapi siang tadi, kita sempat sedikit berdebat soal hubunganku sama kamu. Pantas saja dia agak beda sama aku belakangan ini. Ternyata itu alasannya.
Fasad yang membaca pesan tersebut, sontak membalas....
Fasad: ya, sudah. Mau gimana lagi. Nggak mungkin juga kita bohongin dia. Jawab aja yang sejujurnya.
Cici: kasihan, dia merasa kita mengkhianatinya.
Fasad: dia pun sudah mengkhianatiku berulang kali. Kalau mau banding, ya lebih sakitan aku daripada dia.
Cici: hubungan kita udah nggak baik lagi. Aku nggak tahu gimana nasib kerjasama usaha kita nanti. Apakah masih berjalan atau enggak. Aku belum siap kalau harus kembali tenggelam. Banyak cita-citaku yang belum tercapai. KPR ku juga belum lunas.
Fasad: jangan bergantung sama orang lain. Kamu ada aku, kita akan bangun usaha sama-sama. Kamu tenang aja.
Cici: tapi tetep aja rasa terancam itu ada. Selama ini dia yang udah banyak banget bantuin aku dari marketing, modal dan lain-lain. Ya Allah, aku gak nyangka secepat ini semuanya terjadi. Aku salut, ternyata mantan istri kamu tegas banget. To the point dan sangat mengintimidasi, sampai aku nggak bisa ngelak apa pun. Kalau kamu bilang dia orang yang sangat berpengaruh bagi orang lain, aku bisa jawab IYA.
Fasad: kalau dalam hal-hal seperti ini dia memang pintar. Tapi kalau soal cinta dia bego. Ngeselin, kan.
Cici: jujur aja aku takut. Takut banget.
Fasad: dah, mundur aja. Jangan dekat-dekat dia lagi kalau memang kamu merasa terpojok. Aku pun udah nggak peduli dan kamu nggak usah cari tahu tentang dia lagi. Karena mulai sekarang aku cuma mau serius sama kamu.
Fasad: Besok aku ke Jakarta, kamu persiapkan aja semuanya.
“Anggap aja ini sedikit pembalasan dariku melalui putrimu, Nyonya Miranda....”
Fasad mencukupkan kegiatannya berbalas pesan dengan Cici. Kemudian memberitahu Ibunya tentang keputusannya besok.
“Are you sure, anakku?” Tia meyakinkan sekali lagi.
“Ya, aku sangat yakin.”
“Baiklah. Berdoalah untuk besok. Kita akan melamarnya.”
▪▪▪
__ADS_1
Bersambung....