
Bab 8.
Zara sedang mempelajari script yang baru saja diberikan oleh Grace.
“Pahami adegan apa saja yang harus kamu perankan di script ini. Ingat, hati-hati di depan kamera nanti,” pesan Grace tak pernah bosan berulang kali memperingatkannya, “jaga hubungan baikmu dengan sesama artis lain yang syuting sama kamu. Ini sangat penting untuk keberlangsungan kariermu ke depan. Nggak apa-apa kalau mereka nggak suka akibat berita kontroversialmu akhir-akhir ini. Yang penting kamu harus tetap bersikap netral dan rendah hati.”
“Aku nggak pernah nyenggol mereka, mereka yang selalu nyinyir duluan. Jadi aku—”
“Nggak usah kepancing,” potong Grace segera dan kembali menceramahinya panjang kali lebar, “jangan buang-buang energi kamu buat ngurusin otak miring mereka. Biarin semua berjalan sesuai dengan porosnya. Kelak kalau berita itu memang nggak benar dan kamu tetap diam, mereka akan berbalik pro sama kamu tanpa kamu minta. Pokoknya nggak usah koar-koar, deh. Nggak guna.”
Zara mengangguk meski lain dengan hatinya yang membumbung sangat ingin meluruskan berita simpang siur mengenai dirinya tersebut. Betapa dunia entertainment ini sangat kejam bagi mereka yang mengetahuinya.
Usai berkata demikian, Zara memastikan sendiri make up nya agar ia lebih percaya diri saat tampil nanti. Grace pun tak bisa jauh darinya dan terus mengawasi sampai artisnya benar-benar siap seratus persen.
“Kamu mau nunggu di ruangan ini?” ujar Zara sebelum ia masuk ke dalam lokasi syuting.
“Ya iyalah, memangnya mau nunggu di mana lagi. Kamu itu gadis yang ceroboh, jadi harus terus di dampingi.”
“Kirain mau langsung pulang.”
“Terus yang nungguin kamu nanti siapa? Orang lewat?” tegas Grace melototkan matanya.
“Biasa saja kali, Grace. Mata nggak usah kamu lebar-lebarin juga sudah kelihatan besar,” Zara memberengut melihat bentuk muka Grace yang menyeramkan. Seperti inilah raut wajah Grace jika sedang berada di ruang lingkup pekerjaan. Menyebalkan sekali.
“Aku begini supaya kamu lebih takut dan mau dengar ucapanku. Kalau nggak begitu, kamu nggak bakal terarah. Bikin aku pusing.”
“Grace, kalau boleh terus-terang, sebenarnya kamu itu maco, lho,” kata Zara bermaksud meledeknya saja, tapi malah justru mendapat tanggapan yang mengerikan.
“Nggak perlu dijelasin juga aku tahu. Aku cuma takut, kalau misalnya aku kembali ke kodratnya, kamu bisa hamil.”
“Astaga! Amit-amit!” sontak Zara mendelikkan mata kengerian, “jangan-jangan kamu memang nggak banci.”
“Aku normal karena lagi butuh duit aja.”
“Yang bener?!” pekik Zara tak lagi dapat menahan keterkejutannya.
“Nggak percaya? Mau Gue buktiin?” Grace beranjak berdiri mendekatinya dan membuat Zara jadi semakin takut.
“Ogah!” Zara buru-buru meninggalkan Grace di sana lantaran takut lelaki gemulai ini khilaf. Sebab terkadang, Grace masih bisa menyukai perempuan juga. Jadi potensi untuk bisa kembali normal itu memang sangat mungkin. Tetapi andai dia mempunyai kemauan.
__ADS_1
🌺🌺
“Kemarin aku habis ketemu Ustaz Ray lagi,” kata Zara membuka obrolan di saat mereka dalam perjalanan pulang. Kali ini hujan membasahi sebagian kota yang membuat hawa menjadi lebih dingin dan jalan menjadi lengang. Lagi pula, ini jam salat tarawih juga. Hampir semua umat muslim tengah menjalankan rutinitasnya di dalam masjid atau musala-musala yang mereka kehendaki.
“Di mana?” Grace bertanya.
“Di rumah Mami. Kemarin Michael ulang tahun dan Mami mengundangnya jadi pengisi kajian.”
“Oh, jadi ternyata dia ustaz?”
Zara mengangguki pertanyaannya barusan, “Aku juga baru tahu kemarin.”
“Kamu mau datang ke sana?”
“Mau gimana lagi, Grace. Semua orang mengenal mereka orang tua aku. Aku nggak mau dicap sebagai anak yang durhaka. Padahal mereka yang durhaka sama aku.”
“Itulah, orang memang lihatnya dari luarnya saja,” ujar Grace sangat mengerti keluh kesah teman sekaligus musuhnya tersebut, “kalian ketemuan lagi, ngobrol apa engga sama Si Doi?”
“Nggak,” ketus Zara.
“Kalau dia suka sama kamu, dia pasti ngajak kamu ngobrol.”
“Ya, iyalah. Atau kalau nggak, dia punya hati lain yang harus dijaga.”
“Namanya juga belum terlalu kenal, masa mau SKSD (sok kenal sok dekat).”
“Kan, ibaratnya kamu tuan rumah!”
“Masalahnya aku perempuan, Grace. Dia memang terlihat menjaga batasan karena larangan agamanya.”
“Terserah kamu, deh,” ujar Grace tak mau ambil pusing dengan opini mereka yang berbeda. Dia sangat mengenali Zara yang mempunyai karakter sulit mendengar perkataan orang lain.
“Supaya dia suka sama aku gimana?”
Grace sontak menoleh karena terkejut mendengar ucapan gila Zara barusan, “Seandainya kamu punya rencana, apa kamu siap dengan segala risikonya?”
“Boleh nggak aku percaya diri?” tanya Zara, “selama ini belum ada satu pun laki-laki yang menolakku. Pasti dia juga bisa suka sama aku tanpa aku terlihat mengejarnya. Itu bisa saja. Iya, kan?”
“Mungkin dia nggak nolak pesona kamu, tapi gimana dengan keluarganya?” kata Grace dengan nada tinggi seolah menampik bahwa pria itu mustahil untuk Zara miliki. “Orang yang dekat dengan Tuhan, akan mencari sekumpulan manusia yang sama sucinya seperti mereka.”
__ADS_1
“Aku bahkan bisa berubah untuk mengikuti.”
“Kamu nggak bisa melupakan sesuatu. Berubah itu nggak untuk seseorang, tapi untuk diri sendiri dan Tuhannya. Dan satu lagi, ah, ini lebih berat.”
“Apa?” tanya Zara segera.
“Kamu terjebak ke dalam permainanmu sendiri dan akhirnya jatuh cinta lebih dulu sebelum dia mencuri garis start.”
‘Kenapa aku meyakini bahwa aku sudah merasakannya. Apalagi di saat dia melingkarkan jaket di tubuhku. Memang sebuah perlakuan biasa. Tapi tubuh ini menerima dan telah menganggapnya spesial.’
“Tahan sedikit dirimu, Zar. Aku yakin kamu hanya sekadar obsesi karena pria itu lain daripada yang lain. Aku tahu karena aku punya hati yang hampir sama seperti kamu.”
“Aku nggak akan ngejar dia kalau kamu bilang jangan, Grace.”
“Bagaimana pun perempuan harus terlihat mempunyai harga diri yang tinggi.”
“Ya, kamu benar makasih sudah mau mengingatkan.”
Grace mengangguk, “Itulah gunanya seorang teman.”
“Kamu memang teman aku satu-satunya yang paling gila.”
Grace melirik tajam. Dia pikir Zara akan mengatakannya teman baik. Ternyata dugaannya salah. Dia mengatakannya teman paling gila?! Hah, yang benar saja! Tetapi beberapa saat kemudian, entah apa yang menyebabkannya, wajah Grace kembali ceria, “Besok kita ke salon bareng mumpung jadwalmu lagi kosong. Sekalian di massage biar badan kita jadi lebih segar.”
“Kamu reservasi saja di tempat yang biasa,” kata Zara akhirnya menyetujui.
Pergi ke salon adalah kebiasaan rutin yang wajib mereka sempatkan demi menjaga diri dari ketidakwarasan.
🌺🌺🌺
Minggu kedua, Zara kembali di undang oleh maminya ke rumah untuk buka puasa dan berkumpul lagi dengan orang-orang yang kemarin. Tetapi kali ini lebih ramai lagi karena mereka juga mengundang staf-staf penting dari kantor. Kalau soal beginian, memangnya siapa yang bisa menolak?
Makan gratis dan menikmati momen bersama tanpa mengeluarkan biaya, bukankah itu menguntungkan?
Awalnya, Zara ingin menolak. Tetapi setelah mendengar bahwa Rayyan kembali hadir di sana untuk mengisi kajian, tiba-tiba semangatnya mendadak bangkit untuk datang ke rumah maminya.
Bersambung.
Komen dong, biar aku lebih semangat nulisnya🤣
__ADS_1
Ada yang baca nggak sih? novelku kali ini sepi🤭