Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

118


Miranda: cepat perbaiki semuanya sebelum terlambat! Mumpung saya masih bisa menarik kembali kata-kata saya. Saya tunggu 1x24 jam dari sekarang.


Miranda tersenyum puas setelah selesai selesai membalas pesan Hamidah berupa sebuah ancaman untuk sekadar membuat wanita itu ketakutan dan menyesali perbuatannya.


Selain itu, Miranda juga berharap setelah adanya ancaman ini, Hamidah meminta maaf kepada anaknya dan mau memberikan pernyataan kepada media untuk membersihkan nama baiknya lagi, setelah kemarin diserang oleh banyak orang dengan berbagai kecaman dan huru-hara.


“Ada apa senyum-senyum?” tanya Ruben duduk di sebelahnya.


“Nggak Papa, Pi. Cuma lagi seneng aja abis ngerjain orang. Udah lama nggak perang soalnya,” jawabnya.


Ruben hanya mengerutkan dahi. Ya sudahlah, terserah dia saja. Pria itu sedang tidak ingin mengikutcampuri urusan istrinya selama tak ada masalah-masalah yang berarti.


Sementara di depannya, pria yang diketahui adalah Om Sammy, sedang memperkenalkan semua anggota keluarga yang mereka bawa. Pria itulah yang menjadi perwakilan dalam acara ini lantaran kakaknya: ayah Sammy sudah lama berpulang.


“Sebenarnya saya kaget karena acaranya mendadak sekali, Pak Yudha,” ucapnya disertai dengan gelengan kepala, “semalam, keluarga dibuat seperti ayam mau bertelur. Sammy meminta kami untuk segera mempersiapkan semuanya dalam satu malam. Sudah seperti jin candi saja.”


Semua tertawa mendengar pengakuan H. Sueb sebelum mereka sebelum datang kemari.


“Maaf kalau saya terkesan merepotkan, Pak Haji,” ucap Yudha tidak enak hati.


“Tak apa ... tapi terus terang saya penasaran, kenapa begini kejadiannya. Apa keponakan saya sudah berbuat macam-macam kepada putri kalian?”


H. Sueb bertanya demikian karena paham seberapa nakalnya sang keponakan.


Yudha menjawab setelah menghela napasnya sejenak, “Ya, Sammy sudah membawa kabur anak saya, Mauza dua kali,” sepintas kedua bola mata Yudha mengarah kepada anaknya tersebut, kemudian kembali memfokuskan kepada lawan bicaranya, “saya pikir mereka saling suka sudah lama, jadi ... tunggu apalagi? Niat baik, sebaiknya memang harus disegerakan. Kami hanya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi anak saya perempuan. Sesama seorang ayah, pasti Anda paham seperti apa perasaan saya.”


H. Sueb mengetuk kepala Sammy dengan ketiga jarinya. “Malu-maluin kamu. Kalau suka mbok ya langsung dilamar, bilang sama Bundamu iku, lho. Jangan sampai diminta dulu. Memalukan.”


Sammy yang ada di sebelahnya meringis kesakitan dan berusaha meredam suara kesakitannya.


Yudha menyahuti, “Sebelumnya Sammy memang sudah pernah datang ke sini sendiri, Pak Haji. Tapi ada sesuatu hal yang membuat niatan ini tertunda. Dan mungkin baru sekarang ini waktunya.”


Yudha berusaha sedikit menutupi kenyataan yang ada agar Sammy tak terlalu malu. Lagi pula, cerita ini juga berkaitan dengan Mauza. Dia tak mau orang lain berpikir macam-macam tentang anaknya tersebut.


Sementara yang dibicarakan hanya menunduk malu. Di depan banyak orang, Mauza tidak bisa berkicau untuk membela diri bahwa dia hanyalah korban penipuan semut gatal.


“Atas nama keluarga, kami minta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh anak kami, Pak Yudha,” ujar H. Sueb.

__ADS_1


Yudha menerima maafnya. Dia tidak ingin memperpanjang masalah tersebut karena Sammy sudah tahu cara meminta Mauza darinya.


Kini pembicaraan sudah mulai masuk ke permasalahan inti. H. Sueb, mulai menyampaikan niat baiknya bahwa dia, datang kemari untuk melamar Adinda Mauza untuk keponakannya, Sammy. Yang insyaallah juga akan menjadikannya seorang istri.


Pandangan semua orang tertuju kepada Mauza untuk menanti jawabannya.


“Gimana, Za? Diterima nggak? Kalau nggak mau buat anakku aja,” celetuk Dara yang seketika di tertawa kan oleh semua orang. Wanita itu jadi gemas karena Mauza terlalu lama menyuarakan jawaban.


“Si Mami, ih!” Sakira mencubit Maminya yang kadang suka selebor begini. Semakin tua bukannya semakin tobat, malah semakin malu-maluin.


“Bercanda ya, Pak. Jangan dibikin tegang. Biar nggak darah jangkung,” sambungnya berkelakar.


“Tinggi ...?!” hampir semua orang bersorak untuk meralat.


“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Mauza setelah suasana kembali kondusif. Dan dia segera memberikan jawaban berupa kepastian sebelum salah satu anggota keluarga kembali mendesaknya. “Atas nama Allah ... Mauza terima lamaran Sammy, yang kelak akan menjadi istrinya juga.”


“Alhamdulillah ...” ucap semua orang.


Cincin pun melingkar di jari Mauza yang dimasukkan oleh Bunda Utami. Keduanya berakhir saling memeluk.


Bisa ditebak, siapa yang punya senyum paling lebar?


Di lantai dua, Zunaira sedang tersenyum menyaksikan acara lamaran kakak perempuannya.


Gadis itu sengaja tak berbaur di sana agar Sammy atau Mauza tak harus merasa canggung padanya. Mengingat ada apa di antara mereka sebelum hari ini.


Ada setetes air mata haru. Zunaira merasa sedikit berguna untuk saudaranya. Walaupun tak banyak yang bisa dia lakukan kecuali satu, ikhlas.


Beberapa jam kemudian.


Zara keluar dari kamar mandi. Handuk putih masih melilit di tubuhnya. Tubuhnya jauh lebih segar setelah sebentar saja berendam. Namun begitu ia mengedar ke ruangan, Rayyan tidak ada di sana. Ponsel, dompet, kunci mobil juga tidak ada.


Tidak salah lagi, Rayyan pasti pergi dan sengaja tidak mengatakan padanya karena tak ingin dirinya ikut.


Meyakini semua itu, Zara gegas memakai pakaiannya, lalu berlarian ke bawah.


“Ma!” panggil Zara menemui wanita yang sudah melahirkan lelaki yang dicintainya itu.


“Eh, jangan lari-lari, Nak,” jawab Vita buru-buru menghampiri.

__ADS_1


“Ya ampun, Kak. Kalau ada apa-apa bilang sama aku, biar aku aja yang naik,” sahut Mauza dan Zuniara pun begitu. Mereka mengkhawatirkan cara berjalan Zara yang dinilai cukup membahayakan.


“Ada apa, Nak?” Vita mengulang karena belum mendapat jawaban.


“Rayyan ke mana? Aku tinggal mandi sebentar kok udah nggak ada?”


Mauza, Zunaira dan Vita saling pandang.


Zara panik. Dia bisa stres beneran lama-lama kalau begini. Jujur saja, saat ini ... Zara sedang tidak ingin jauh dari suaminya, ingin selalu membuntutinya ke mana pun pergi dan dia pun sudah mengatakan demikian padanya. Akan tetapi, kenapa Rayyan melanggar janjinya sendiri? Kenapa harus kabur-kaburan?


“Ray lagi pergi sebentar,” jawab Vita setelah beberapa saat.


“Ke mana, Ma?” desak Zara. “Aku nggak percaya dia pergi sebentar. Kasih tahu aku, aku mau nyusul.”


Vita menghela napas, dia bukan wanita yang pandai berbohong untuk menutupi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditutup-tutupi. Karena yang ada, justru bisa menimbulkan kecurigaan. Dan ini cukup bahaya untuk keberlangsungan rumah tangga anaknya.


“Rayyan lagi membereskan masalahnya, Sayang. Tapi kamu tidak perlu ikut. Ray berpesan sebelum pergi, supaya kamu tetap di sini. Ya?”


“Nggak, Ma,” Zara menggelengkan kepala, “aku mau ikut. Ayo antar aku ke sana, Mauza ....” wanita itu mengangguk, berharap Mauza dapat mengabulkan permintaannya.


“Tapi-”


“Mauza plis,” sela Zara, “atau kamu bisa kasih tahu di mana alamat rumahnya. Aku bisa datang ke sana sendiri kalau kamu takut kena marah.”


“Eh, jangan!” sanggah Mauza, “bahaya, kalau kakak pergi-pergi sendiri.”


“Mauza, antar Kakak iparmu menyusul suaminya,” kata Vita pada akhirnya.


“Aku belum terlalu bisa nyetir mobil, gimana dong?”


“Minta anterin orang depan. Pak Security juga bisa bantu kita kalau kita lagi darurat.”


“Oh, oke oke.”


Mauza berlarian ke depan. Menyiapkan mobil.


Sementara di tempat lain, Rayyan sudah sampai di rumah mantan istrinya. Dia sedang menunggu Hamidah yang tak kunjung keluar walau kamarnya sudah diketuk oleh Umi Tatum selama beberapa kali.


Hingga beberapa menit kemudian, wanita itu keluar. Menatapnya sejenak, kemudian menunduk. Dia menangis.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2