
155
Ternyata Sarah hamil, Umar sangat senang dan akhirnya mereka pun menikah. Keduanya menjadi pasangan yang saling mencintai, kompak dalam membesarkan anak-anak mereka.
Apakah itu nyata?
Tentu saja tidak karena itu semua hanya khayalan Umar saja. Khayalan yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan sesungguhnya.
Saat diperiksa, Dokter tersenyum menatap Sarah dan Umar secara bergantian. Agaknya, dokter itu memang sedikit sungkan menyatakannya, karena mengira bahwa kehamilan wanita itu tengah begitu di harapkan oleh lelaki yang dianggapnya suaminya.
Namun begitu, sebenarnya Umar sudah paham. Sebab tak ada tanda-tanda apapun di layar sana tak kecuali rahim yang kosong.
Dan dengan berat hati, dokter tersebut terpaksa mengatakan, “Mohon maaf sekali, tapi ... Ibunya belum hamil, Pak.”
Gurat kecewa Umar semakin kentara saat dokter memperjelas ucapannya. Oleh karena itu, dokter mencoba memberikan keduanya sebuah penawaran, “Apa mau program hamil aja biar bisa mendapatkan kabar baik lebih cepat? Nanti saya bantu, gimana?”
“Oh, nggak usah, Dok.” Sarah cepat-cepat menjawab penawaran yang terdengar gila di telinganya itu.
“Barang kali suaminya ingin Ibu hamil lebih cepat.”
“Sebenernya kita santai aja kok, Dok. Hitung-hitung, menikmati masa pacaran dulu,” kata Sarah lagi terpaksa berdusta. Tak mungkin juga dia mengatakan yang sejujurnya bahwa mereka bukanlah sepasang suami istri. Akan terdengar membingungkan di telinga mereka dan bisa menimbulkan banyak spekulasi.
“Apa mau saya kasih multivitamin?”
Penawaran dokter terkesan semakin mendesak. Membuat Sarah akhirnya terpaksa mengiyakan setelah dia berpikir sesaat. Dia tak tahu lagi bagaimana cara menolak dokter itu. Tenang, Sarah. Itu hanya multivitamin. Murah dan bisa di konsumsi siapa dan kapan saja meskipun tak sedang menjalani program.
Umar dan Sarah keluar dari klinik tersebut setelah membayar tagihannya. Namun, Umar dikejutkan oleh arah jalan Sarah yang justru bertentangan dengannya. Wanita itu menjauhi mobilnya, menoleh ke kanan dan kiri seperti hendak menyeberang jalan.
“Bisa-bisanya dia mau pergi dariku tanpa mengatakan sepatah kata pun. Keterlaluan sekali. Apa begini caranya mentang-mentang dia nggak suka?”
Enggan membiarkan semua itu terjadi, Umar segera menarik tangannya. “Hei kamu mau ke mana?”
“Ya, aku mau pulang lah, memangnya mau ke mana?” jawab Sarah. “Urusan kita sudah selesai kan?”
__ADS_1
“Nggak punya etika lagi kamu, Sarah?” ucap Umar terdengar berang, “dengan siapa kamu berangkat, maka pulanglah kamu dengannya! Atau paling tidak, ucapkan dulu sesuatu!”
“Memangnya harus?” tanya Sarah segera karena menurutnya tak begitu penting.
Umar semakin gemas dengan respon Sarah barusan. “Pertanyaan macam apa itu? Kamu itu sebenarnya hanya pura-pura, atau memang benar-benar bodoh? Tentu saja aku yang harus memastikan mu sampai di tempat semula.”
“Nggak Umar!” Sarah menolak dengan tegas. “Ingat perjanjian kita di awal. Urusan kita sudah selesai karena kamu sudah tahu kebenarannya, okay?”
“Aku hanya akan mengantarmu pulang, Sarah. Aku bertanggungjawab dengan keselamatanmu karena akulah orang yang membawamu ke sini. Tapi ya sudah kalau kamu memang nggak mau, nggak masalah. Pergilah!” Umar mempersilakan Sarah yang tak sabar ingin segera menjauhinya. Seolah dia benda menjijikkan yang tak layak untuk di dekati. Dan ini sangat menyinggung perasaannya yang sedang sangat sensitif.
“Tunggu apa lagi?” tanyanya kembali karena Sarah masih mematung di tempatnya. Sangat aneh bukan?!
“Maaf, Mar. Aku nggak bermaksud begitu. Aku hanya ... aku hanya trauma sama apa yang pernah kamu lakuin sama aku. Aku takut kamu mengulanginya lagi. Sakit di fisik nggak seberapa, tapi sakit di hati susah sembuhnya, Mar. Aku nggak sedang berbohong, memang begitu kenyataannya ....”
Sunyi. Umar tak mengatakan apapun. Dia lantas masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.
Anehnya, saat ia hendak menginjakkan pedal, Sarah justru menghentikannya seketika. Wanita itu mengatakan bersedia pulang dengannya. Serta meminta maaf karena sudah bersikap keterlaluan.
Alhasil, Umar pun membiarkan wanita itu berlari kecil memutari mobilnya, duduk di sampingnya untuk pulang bersama.
Sarah kira Umar sedang sangat terpukul saat terpukul saat ini karena kejadian tadi. Mulai dari hasil pemeriksaan dan semua perlakuannya yang menyinggung.
Tetapi demikianlah yang harus Umar terima. Lelaki itu harus menerima kenyataan bahwa mencintai tak harus memiliki. Seperti dirinya yang tak bisa memiliki Axel dan Damian.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan kantor Sarah. Namun sebelum mereka berpisah, Sarah terlebih dahulu mengajak Umar bicara.
“Maafin aku, Mar ... maaf karena nggak bisa balas perasaanmu.”
Sarah mencoba menggenggam tangan Umar. Nahasnya, langsung di hempas kan seketika oleh Si Pemilik.
“Maaf, maaf, maaf terus yang kamu katakan. Maaf saja tidak akan pernah bisa mengubah keadaan! Membuatku lebih baik!” ujarnya dengan nada sewot.
“Enam bulan lebih aku mengharapkan mu. Memperlakukan mu dengan baik selayaknya pasangan lain dalam hubungan mereka. Memberikanmu perhatian yang tak pernah kurang. Ternyata aku salah. Kamu hanya mau menjadikanku sebuah pelarian. Cih! Perempuan tak tahu di untung!”
__ADS_1
“Aku nggak tahu gimana caranya mengusir mereka dalam hatiku. Padahal aku sudah berulang kali mencobanya,” sahut Sarah.
“Kita ada di posisi yang sama, Sarah.” kali ini nada suara Umar memelan. “Tapi kamulah yang paling bodoh di sini. Karena terus saja melihat masa lalu tanpa mau melihat orang yang lebih mencintaimu di depan matamu sendiri. Padahal dengan kamu melihatnya, kamu akan membuka lembaran baru. Perasaanmu terbalas, kamu bisa bahagia bersama pasangan dan anak-anakmu kelak. Tapi kalau begitu maumu, terserah! Hiduplah dengan masa lalumu. Sampai kamu muntah darah!” ujarnya serampangan.
“Umar ....”
“Jangan katakan maaf lagi, aku bosan mendengarnya!” sela Umar menyentak.
“Banyak yang aku khawatirkan seandainya kita menikah. Dan yang paling menonjol adalah perbedaan kita.”
“Sudahlah!” tukas Umar. Jeda sesaat, dia kembali berkata, “Aku nggak mau mengingkari janjiku. Kamu aman sekarang. Aku nggak akan pernah menemuimu lagi apalagi mempedulikanmu. Puas?!”
Umar keluar dari mobilnya. Pria itu berdiri sendu melihat mobil yang berlalu lalang.
Dia ingin menangis, tapi tak pantas dilihat.
Ingin mengeluh, tak mungkin karena perempuan itu adalah pilihannya sebelumnya.
Ingin marah, tapi tidak tahu siapa yang harus dia salahkan.
Namun tanpa di duga ....
Grbbb!
Sebuah pelukan, melingkar di pinggangnya. Tak berapa lama, Umar merasakan punggungnya basah oleh air mata.
“Aku sedih melihatmu seperti ini, Umar.”
“Jangan pedulikan aku lagi kalau hanya sekedar memberiku harapan palsu,” Umar membalas. “Masuklah. Aku sudah mantap melamar Alma sore ini dan akan menjadikannya istriku.”
Sarah mengangguk dipunggungnya. “Lamarlah dia. Aku akan jadi orang pertama yang paling bahagia atas pernikahan kalian.”
Namun apa yang sedang saat ini mereka lakukan, tak sengaja terlihat dari mobil seseorang yang tak tengah melintas. Dan orang itu kecewa sekali dengan perbuatan mereka.
__ADS_1
Bersambung.
Genks. Kak Ana lagi sibuk jadi mohon maaf kalau gak bisa dobel hari ini. Maapin yaa