
77
“Berani nyenggol-nyenggol juga dia. Kupikir orangnya pendiam, ternyata banyak omong. Dari kemarin ke mana aja, Cuy?” gumam Miranda melihat potongan video Hamidah yang lantang berbicara demikian ketika di wawancarai. “Ini sih, menggiring opini banget.”
Wanita yang sedang melakukan rapat dengan staf-staf pentingnya itu, tak peduli bahwa dirinya sedang diperhatikan.
“Kepanasan, ya? Atau mau pansos? Mau terkenal juga?”
Miranda menyudahi membaca berita tersebut lantaran dikhawatirkan tidak terlalu baik untuk jantung dan darahnya yang gampang meninggi.
Namun diam-diam Miranda memperhatikan, akan sampai di mana usahanya menyerang keluarga yang damai ini.
“Eh, sorry-sorry, Bapak-Ibu sekalian. Silakan dilanjut lagi. Tadi sudah sampai mana?” tanya Miranda menatap semua orang yang memutari meja tersebut.
Salah seorang staf bagian keuangan angkat bicara, “Kenaikan gaji karyawan, Bu. Kita harus ....”
“Ya, ya, kamu atur saja,” potong Miranda, “saya rasa kamu paling tahu apa yang terbaik demi perusahaan ini. Yang lain, cepat lanjutkan! Waktu kita nggak banyak.”
Mereka kembali melanjutkan rapat. Huh, semua staf mengeluh dalam hati. Padahal dia sendiri yang mengulur waktu, tapi bawahannya yang dilempari kesalahan. Fakta sekali kalau bos memang selalu benar dan karyawan selalu salah.
Pun dengan Vita dan Yudha yang mengetahui kabar tersebut. Wanita itu langsung mengelus dada.
“Tega-teganya dia ngomong seperti ini sama anak kita, setelah apa saja yang dia lakukan.” Vita berbicara di depan suaminya.
“Pikirannya belum matang. Nggak sesuai sama usianya,” Yudha menanggapi.
“Apa yang bisa kita lakukan, Mas?”
“Yang disinggung saja masih santai, Moy. Mereka lagi senang-senang menikmati honeymoon. Ya sudahlah, baiknya kita biarkan saja dulu. Mungkin pikir mereka ini belum terlalu mengganggu,” jawab Yudha tak mau ambil pusing, “aku yakin menantu kita lebih berpengalaman menghadapi situasi ini. Apalagi besan kita yang perempuan. Bukan nggak mungkin, nanti kalau sudah keterlaluan, dia juga akan bertindak. Turun tangan.”
“Memangnya Kyai Noor belum paham-paham kalau anaknya sebenarnya seperti ini?”
“Kalau tahu, pasti sudah di didiknya.”
“Tidak mencerminkan sekali, anak Kyai tapi seperti itu wataknya. Padahal biasanya anak Kyai itu cenderung pemalu dan tak pernah nampak di depan banyak orang.”
“Lagi khilaf mungkin.”
__ADS_1
“Khilaf kok setiap saat,” sahut Vita segera, “jangan lupa dia yang menyebabkan anak kita kecelakaan lho, Mas. Tapi tidak pernah mau mengakui.”
Yudha berusaha meredam emosi istrinya dengan mengalihkan perhatian, “Tolong matikan televisinya.”
Karena Vita masih bergeming dengan ponselnya, Yudha langsung mengambil langkah to the point. Meraih benda tersebut dari tangan istrinya untuk diletakkan di atas nakas. “Sudahlah, jangan dilihat-lihat lagi. Istirahatlah, ini sudah malam!”
“Apa semua laki-laki seperti ini? Nggak berperasaan. Seolah semuanya nggak terlalu penting.”
“Bukan gitu ... aku tak mau kamu terus memikirkannya. Padahal yang disinggung lagi baik-baik saja.”
Yudha berusaha menyangkal. Namun Vita membantahnya.
“Kan, aku ibunya. Pantaslah kalau aku memikirkan mereka.”
Yudha terdiam karena tak ingin membuat masalah ini menjadi lebih panjang. Pikirannya sudah sangat lelah memikirkan pekerjaan dan anak-anak didiknya sepanjang hari.
Oleh karenanya, pria itu terlebih dahulu pergi untuk melakukan sesuatu. Sebelum meyakini bahwa istrinya sudah jauh lebih baik.
“Anak kita lagi ngapain, ya, Mas?” Vita kembali bertanya saat Yudha kembali. Dan pria itu malah menganggap pertanyaannya sebuah kode, sehingga pria itu segera bertanya, “Kenapa? Kamu mau juga?”
“Kamu kali yang mau!” ketusnya menarik selimut hingga menutupi kepala.
♧♧♧
Di kota hujan, Zara dan Rayyan tak melulu hanya melakukan honeymoon. Mereka juga menggunakan kesempatan ini untuk melakukan foto pasca wedding. Sebab mereka tak melakukan prawedding sebelumnya.
Zara mempunyai keinginan ini setelah mendapat racun dari teman-temannya yang mengatakan bahwa tempat ini cukup bagus untuk melakukan hal tersebut. Lagi pula mumpung mereka sedang mempunyai kesempatan. Zara meyakini hari-hari selanjutnya tidak akan bisa sesantai ini.
Hari ini, di sebuah Hotel yang halamannya di belah oleh aliran sungai, mereka menahan rasa kantuk. Beberapa jepretan telah di ambil dengan berbagai macam pose.
Keduanya tampak sangat serasi mengenakan pakaian hitam ke ala Arab. Lengkap dengan Zara yang memakai cadar dan Ray yang menggunakan penutup kepala seperti turban khas orang-orang sana.
Khusus untuk ini, Zara mengundang Sammy langsung ke sana karena dia tak mau menggunakan orang lain selagi orang terdekat masih mampu melakukannya. Toh, hasilnya juga tidak kalah keren seperti kameraman handal lainnya.
“Udah dapat gambar yang bagus belum, sih?” tanya Zara kepada ke empat orang itu, “aku ngantuk. Pengen cepet selesai.”
Ada yang nyeri di dada Sammy saat Zara bertanya demikian. Ngantuk? Pasti habis begadang semalam. Oh, hatiku! Batinnya menjerit.
__ADS_1
“Sammy?” ucap Zara sekali lagi karena Sammy malah melamun.
“Oh, i-iya. Udah kok, Zar,” jawab Sammy tergagap. Apa yang dibayangkan buyar dalam sekejap mata.
“Mana coba lihat?” Zara mendekati Sammy untuk melihat hasil fotonya satu-persatu. Wanita itu terdengar cerewet karena ada hasil angel yang menurutnya kurang pas dan bagian-bagian lemak berlebih yang seharusnya dihindari, malah terekspose.
Sedangkan Rayyan hanya pasrah saja. Pria memang selalu lebih percaya diri daripada perempuan. Dan entah kenapa dia begitu yakin kalau foto-fotonya memang selalu tampan dengan gaya apa pun. Oh, my God.
“Yang ini hapus aja, lah. Ini kurang bagus.”
“Oke,” jawab Sammy, “yang ini juga nggak mau?” dia memastikan lagi.
“Nggak.”
Saat semuanya rampung, Sammy dan teman-teman meminta izin untuk beristirahat. Lapar dan lemas setelah beberapa jam berdiri melakukan prepare berikut kerja nyata.
“Kalau udah di edit, tolong di posting terus tag aku,” Zara kembali berpesan.
“Baik, Zar.” Sammy juga sedikit membungkukkan tubuhnya kepada Ray yang lebih dia segani karena statusnya.
Sekembalinya dari sana menuju ke tempat ngopi, semua teman Sammy mengejeknya. Jika orang lain yang sedang sakit hati akan menjauhkan diri dari sosok tersebut, Sammy malah mengabadikan momen pasca wedding nya.
Demi apa?
Ah, uang memang selalu merajai segalanya. Ya, demi uang. Dia tidak mau kehilangan pekerjaan ini meskipun harus patah hati berulangkali.
Untungnya ada seorang gadis pelipur lara. Gadis yang ia temui malu-malu di acara lamaran Zara beberapa waktu lalu.
Sammy tidak tahu apakah mendekati seorang gadis polos, agamis dan lugu ini adalah sebuah kesalahan? Namun sejauh ini, gadis itu selalu membalas direct message nya dengan sopan.
Karena menurutnya, meluluhkan hati gadis seperti dia adalah sebuah tantangan.
“Maaf Ustaz, Ray. Aku mendekati adikmu. Semoga kalian nggak akan marah kalau tahu soal ini. Aku janji nggak akan berbuat macam-macam.”
♧♧♧
Bersambung.
__ADS_1
Siapa yang dideketin sama sammy? Ayo tebak!