
Bab 27.
“Semenjak punya istri, Ustaz Ray jadi kurang sopan. Biasanya dia selalu basa-basi walau pun sekadar nyapa senyum sama orang yang dia kenal. Tapi sekarang, sudah nggak ada anggah-ungguhnya sama sekali. Entah benar atau salah, semoga ini hanya perasaan Mami aja.
“Mungkin benar apa kata orang, seorang lelaki yang sudah menikah, pasti lama-kelamaan akan mengikuti tabiat istrinya. Semoga suatu saat kamu bisa menjadi istri yang baik ya, Nak. Istri baik yang mendapat suami baik juga.”
Entah apa yang sedang maminya bicarakan. Zara tak terlalu mendengar karena dia sibuk menata hatinya sendiri yang mudah sekali berantakan jika melihat mereka berdua. Apalagi tadi, saat mendengar Hamidah mengatakan mual. Ya, dia mual, di rumah sakit, pengantin baru. Ah, sudah pasti Hamidah sedang hamil.
Sementara dirinya?
Alur hidupnya pun, belum jelas ke mana arahnya.
“Wah, ada Kak Zara,” ucap suara dua orang anak gadis remaja mendekat, “boleh minta foto, Kak?”
“Gak punya etika ya, kalian!? Nggak lihat anak saya lagi sakit?” sembur Miranda membuat kedua anak remaja itu agak berjingkat kaget, kemudian berlari cepat.
“Mam, jangan gitu, dong. Kita bisa kasih tahu baik-baik,” lirih Zara menanggapi hal tersebut.
“Bocah kalau nggak pernah makan bangku sekolahan kan, gitu,” ujarnya yang sontak disahuti oleh Mike dengan polos, “Mike juga nggak pernah makan.”
“Nah, cobalah kamu makan.”
“Memangnya kalau coba makan bangku sekolahan jadi punya etika, Mi?”
“Apalah kamu ini? Semua ucapan dianggap sungguh-sungguh. Itu cuma kiasan saja.”
Mike membuat Zara cukup terhibur. Ternyata cara untuk bahagia itu sederhana. Yaitu bergurau dengan orang terdekat. Tidak harus masuk ke kelab mewah dan minum alkohol seperti yang dia lakukan semalam.
“Itu Papi, ayo pulang!” tunjuk Mike pada seorang lelaki paruh baya tampan yang tengah berjalan mendekat.
Ruben pun menyahuti, “Kalian langsung keluar saja, kita ketemu di depan.” Karena dia harus mengambil mobilnya terlebih dahulu yang terparkir agak jauh dari lobby.
Ke empatnya pulang dalam keadaan suka cita, apalagi Miranda yang sedikit-sedikit sudah bisa mengambil hati anak pertamanya.
Malamnya pun, Miranda memutuskan untuk tidur bersama dengan alih-alih, supaya Zara lebih gampang apabila dia membutuhkan sesuatu. Tak ketinggalan, Mike juga membawa selimut kesayangannya untuk berbagi dengan kakaknya tersebut.
“Tidur, Sayang. Sudah malam. Biar obatnya bekerja lebih maksimal. Besok kamu bangun dah segar lagi.”
__ADS_1
“Sebentar, Mam,” jawab Zara tanpa menoleh. Sebab ia tengah berkirim pesan dengan Fasad.
Zara: aku di rumah Mami. Baru aja pulang dari RS Medika.
Fasad: akhirnya kamu balas pesanku. Aku nggak mau apa-apa, cuma mau dengar kabarmu doang. Tapi syukur, deh, kalau kamu baik-baik aja.
Zara: maaf baru sempat balas. Semalam aku pingsan dan baru siuman pertengahan siang. Leherku juga susah digerakkin. Kadang kalau buat nunduk masih sakit.
Fasad: nggak ada yang fatal, kan? (emoticon cemas)
Zara: nggak ada. Cuma di gips. Tar tiga atau empat hari juga dilepas.
Fasad: siapa yang jemput kamu?
Zara: Mami sama Om.
Fasad: balik ke sininya kapan, wey?
Zara: Mami nyaranin nanti kalau aku dah benar-benar sembuh. Beliau yang mau merawat katanya. Ya udah, ada benarnya juga, sih. Daripada aku ngerepotin kamu.
Fasad: makanya jangan mabuk-mabukan lagi. Gaya-gayaan, ngirim chat nggak mau ditemenin. Cepat sembuh, ntar healing kita ke Bogor bareng temen-temen.
Fasad: kagak kalau ke sana selain hari minggu. Tumben Mami kamu perhatian. Dah baekan kalian?
Zara: perasaanku nggak bisa bohong, Sad. Meski aku benci, aku kangen sama mereka.
Fasad: sudahlah, damai aja. Capek tahu. Kita cerita pahitnya aja, kalau memang kamu nggak bisa mendapatkan apa yang kamu mau, itu artinya kamu belum dipercaya sama Tuhan untuk menjaga amanah sebesar itu. Seperti yang pernah aku bilang, masih banyak peluang atau pintu di luar sana.
Zara: semua sudah ada di tanganku, Fasad. Hanya saja, aku belum bisa memegang kendalinya sendiri karena belum punya pengalaman. Jadi untuk sementara waktu, Om Ruben yang menjalankan.
Di tempat lain, Fasad tersenyum getir, “Kamu sudah mendapatkan semuanya sekarang. Itu artinya ... kita akan bercerai. Meski dari awal aku tahu niatmu. Tapi terus-terang aku sedih, Zar. Aku sendiri nggak paham apa alasannya.”
🌺🌺🌺
Satu minggu kemudian, Zara sudah berhasil sembuh total. Ia sudah bisa beraktivitas lagi dan ceria seperti biasa. Bisa berolah raga, berenang, menonton, memasak, makan di luar—bahkan hari ini ia berencana untuk mendatangi salon langganannya. Zara merasa wajahnya perlu perawatan setelah satu minggu, tepatnya semenjak insiden kecelakaan itu, dia abaikan.
“Mau Mami temenin?” ujar Miranda begitu anaknya berpamitan.
__ADS_1
“Mami mah, nemenin Kakak melulu. Adiknya dicuekin,” protes Mike tak senang di abaikan semenjak kedatangan kakaknya. “Mami pilih kasih, Kakak juga jelek.”
“Katanya suka kalau Kakak tidur di sini? Bohong kamu, Mike,” ujar Zara.
“Ke laut aja sono!” Mike merajuk dan meninggalkan mereka.
“Ada yang cemburu, Mam. Zara pergi sama Fasad aja. Sekalian nanti mau pulang bareng.”
“Pulang ke mana?” sahut Miranda segera.
“Pulang ke rumah sendiri lah.”
“Ini rumahmu juga. Sudah benar kamu tinggal di sini, kami ini keluargamu. Kami akan menjaga kamu di sini, mencukupi semua kebutuhanmu selayaknya orang tua pada umumnya. Jangan sia-siakan waktu kita lagi. Mami sudah tua.”
“Salah Mami sendiri,” katanya berterus-terang. Zara yakin maminya tak akan menampik atau membantahnya karena itulah kenyataan yang ada.
“Nak ....”
“Mam, aku mau pergi sekarang, ya,” Zara menyela pembicaraan yang kini sudah mulai mengarah ke masa lalu. Dia sedang tak ingin berdebat dengan siapa pun. Sebab kepalanya sudah cukup dipenuhi dengan berbagai macam masalah.
“Tunggu dulu,” Miranda menahan Zara yang hendak keluar rumah dan seperti kemarin, membawa mobil sendiri. “Kalau benar memang kamu mau pergi sama Fasad, biar dia yang jemput kamu ke sini. Mami nggak izinkan kamu pergi sendirian, takut-takut kejadian kemarin terulang lagi. Kamu anaknya agak sedikit ceroboh.”
“Nggak usah berlebihan, Mam. Nggak mungkin juga Zara bakal kecelakaan terus. Nanti kita ketemu di salon. Tenang aja, Fasad nggak pernah ingkar janji, dia selalu on time.”
“Ya udah kalau gitu dianterin sama sopir.” Miranda memberikan opsi lain demi keselamatan putrinya.
“Nanti yang bawa mobilnya siapa? Mobil Zara Cuma satu-satunya. Fasad juga nggak punya.”
“Alasan aja kamu, bikin Mami pusing. Ya, sudah. Pergilah!” kata Miranda akhirnya memutuskan.
“Okay, pergi dulu, ya, Mam,” Zara mencium tangan Miranda dan memeluknya.
“Besok Mami sama Mike ke sana.”
“Hmmm.”
Mobil melesat dengan kecepatan rata-rata hingga akhirnya Zara tiba di salon yang dituju. Namun hingga satu jam berlalu, Fasad tak kunjung datang. Pesan dan panggilannya pun, dia abaikan.
__ADS_1
“Ada apa sama kamu, Fasad?” batin Zara tak habis pikir. Tidak biasa-biasanya Fasad seperti ini. Padahal kemarin-kemarin, mereka masih setia berkabar dan saling bergurau dalam pesan.
Bersambung.