Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Aku Hanya Terobsesi


__ADS_3

101


Luka Sammy yang nampak itu disadari oleh Zunaira pada keesokan harinya. Gadis itu sengaja menemui pria itu di restoran dekat kantor biasa mereka makan siang bersama.


“Kamu habis kecelakaan?” tanya Nai menatap serius, “kok jidatmu agak benjol?”


“Ini demi nyelamatin Mauza. Emangnya dia nggak bilang ke kamu?” Sammy malah bertanya balik sembari menunjuk luka tersebut.


Zunai menggelengkan kepala. Dia pun bertanya-tanya sendiri, kenapa Mauza tak menceritakan kejadian sepenting ini padanya?


Padahal dia nyaris kecelakaan kalau saja Sammy tak menyelamatkannya.


Tapi untungnya, kakak kandungnya itu masih selamat karena semalam, tak ada tanda-tanda aneh yang ditunjukkan oleh Mauza. Dia terlihat baik-baik saja. Sehat walafiat.


Kendati demikian, Zunaira tetap bertanya kepada kakak perempuannya di malam hari, “Katanya Kakak kemarin kecelakaan dan Sammy yang nyelametin?”


Mauza yang sedang mengeringkan rambutnya lantas berhenti. “Oh ... iya kemarin Kakak hampir aja kena tabrak,” jawab Mauza tersenyum, “tapi Alhamdulillah nggak papa, cuma agak pegal-pegal dikit. Sammy juga gitu.”


“Kok kalian nggak bilang-bilang?”


“Memangnya harus?” tanya Mauza tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya. Apa semua hal tentang Sammy harus semuanya dia ketahui? Sedemikian cintanya dia kah kepada pria itu, ya ampun. Dek, cinta tak selamanya indah, Dek. Baru juga pacaran.


Eh, kok Mauza jadi gemas sendiri.


“Yang penting kita nggak papa kan?” sambung Mauza lagi dengan hati-hati lantaran takut menyinggung perasaannya.


“Bingung aja, masa aku sampai nggak tahu sama sekali.” Zunaira menunduk.


“Kakak cuma nggak mau kamu sampai salah paham ...” kata Mauza lagi agar Zunaira tak berpikir macam-macam tentangnya. Kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi menggosok rambut basahnya dengan handuk.


Namun bukannya pergi, Zunai justru duduk di ujung ranjangnya. Dari wajahnya terlihat sangat gelisah, serupa orang yang sedang menyimpan beban masalah penuh di kepalanya, namun kebingungan harus ke mana untuk mengungkapkan. Nai selalu demikian karena rasa trauma yang pernah di alaminya.

__ADS_1


“Kenapa wajahmu lesu begitu? Cerita sama Kakak, Nai. Jangan di pendem. Nanti jadi penyakit, lho,” ujar Mauza menakut-nakuti agar dia mau bercerita dengannya.


“Sampai sekarang, Sammy belum nunjukkin tanda-tanda seriusnya, Kak,” ucap Zunai setelah terdiam selama beberapa saat.


“Maksudnya?” tanya Mauza tak mengerti, “biar aku lebih tua usianya dari kamu, aku ini jomlo, Nai. Aku nggak terlalu paham sama yang namanya sebuah hubungan. Ehm, betewe, kamu mau Sammy lamar kamu gitu?” Mauza mengerucutkan bibirnya. Terus terang, ada rasa aneh yang sedikit menyiksanya setelah menebak-nebak sendiri kemungkinan ini, namun Mauza sendiri juga tak paham apa arti dari perasaan ini. “Ya udah deh, gapapa kalau kamu mau duluan. Aku terakhiran aja nikahnya gapapa.”


“Jangankan dilamar, ngomong lebih serius dari sekadar temenan aja dia nggak pernah,” jawabnya pelan. Nampak bahwa Nai telah lelah menjalani kesehariannya untuk menunggu kepastian.


“Eh, jadi selama ini kamu sama dia cuma temenan doang?” Mauza terkaget-kaget. “Tuh kan, aku juga bilang apa? Dia itu playboy!” katanya lagi bersungut-sungut. “Semoga aku dijauhkan dari modelan cowok kek gitu, nggak guna! Ih, amit-amit jabang pororo.”


“Dia sama semua cewek juga begitu, Mauza,” kata Zara keesokan harinya pada saat mereka berada di kantor, “jadi kamu hati-hati aja. Tapi mudah-mudahan kalau Sammy cinta sama Nai, dia bisa berubah dan segera mengatakan niat baiknya ke Papa.”


“Kasihan juga Nai kalau jadi korban. Dia ke sini kan, karena Sammy. Bukan karena siapa-siapa lagi,” kata Mauza menanggapinya.


“Kita ambil hikmahnya saja.”


“Bener juga sih, kalau dipikir-pikir, Nai jadi semakin mandiri sekarang. Punya semangat yang tinggi dan udah jarang sakit juga karena dia. Tapi ya, gitu. Cuma kasihan aja kalau akhirnya di PHP in.”


“Ini pelajaran buat Nai supaya ke depannya, dia nggak gampang naruh hati dan lebih berhati-hati lagi sama semua laki-laki,” kata Zara tak mau ambil pusing.


“Toh, dia sudah pernah aku ingatkan dan aku wanti-wanti siapa Sammy sebenarnya, jauh sebelum hari ini. Jadi risiko silakan ditanggung sendiri.”


Zara juga tahu Sammy pernah menyukainya. Namun secara diam-diam itu pula, dia membentengi diri agar tak ada celah untuk Sammy mendekatinya.


Demikian karena Zara tahu, Sammy kurang serius untuk dia ajak serius, meski tak selamanya dia akan begitu. Ada kalanya Sammy bisa berubah menjadi seperti yang wanita idamkan.


Tapi Zara rasa ... semua orang bebas memilih pasangan yang terbaik menurutnya, bukan?


Pada suatu kesempatan, di acara yang mengharuskan Mauza dan Sammy ikut bersamaan, keduanya pun saling berbicara.


“Mau sampai kapan kamu gantungin adik aku?” tanya Mauza menyinggung hubungan mereka tanpa mau menatap pria di sampingnya. Seolah pandangan di depannya lebih menarik daripada itu.

__ADS_1


“Setelah aku kaji-kaji berulang kali, ternyata selama ini aku nggak cinta sama dia. Aku cuma terobsesi,” jawab Sammy sangat terbuka untuk mengakuinya karena dia menyimpan rasa percaya kepada perempuan ini. “Secara dia fisik dia memang menarik. Tapi secara kepribadian, ternyata dia biasa saja.”


“Brengsek,” umpat Mauza dengan suara pelan. Darahnya mendadak mendidih saat mendengar pengakuannya.


“Kupikir gadis lugu dan polos seperti dia sulit di dapatkan. Penuh tantangan. Ternyata sangat mudah. Jangan lupakan, hampir semua laki-laki justru lebih menyukai gadis yang lebih sulit untuk mereka dekati,” sambung Sammy lagi.


“Dia nggak paham karena dia baru pertama jatuh cinta, Sammy!” ucap Mauza dengan nada intonasi penekanan.


“Aku nggak mau memaksakan diriku.” Sammy berbicara dengan mudahnya tanpa peduli perasaan anak gadis orang yang sudah dibuatnya tergila-gila.


“Kamu benar-benar brengsek.” Mauza mengulang umpatannya, hal yang tidak pernah ia lakukan, sama sekali seumur hidupnya.


“Ini lebih baik dari pada aku melanjutkannya. Karena kelak dia akan lebih terluka daripada sekarang.”


“Pikirkan perasaan adikku, Sammy. Berikan dia kepastian!” Mauza semakin meradang.


“Aku selalu memikirkannya, karena itulah aku menjauhinya. Bodoh sekali kalau dia tak mengetahui maksudku.”


“Dia bahkan hanya menunggumu selama ini,” Mauza mendadak nelangsa, kecewa dan sakit sekaligus. Kenapa dia harus menjadi orang pertama yang mengetahui semua fakta semenyedihkan ini?


Ah, kasihan sekali Zunaira. Zunaira adiknya. Mauza menyayanginya. Perempuan mana yang tega melihat saudaranya sendiri di sakiti?


“Kamu jahat! Kamu memainkan perasaannya!” Mauza mendorong tubuh Sammy, lalu pergi dari hadapannya dalam keadaan menangis.


Tak peduli kakak iparnya mencari setelah itu.


“By, Mauza sama Sammy pergi nggak tahu ilang ke mana. Aku bingung.” Zara menghubungi suaminya ketika dia mulai lelah mencari mereka.


“Kok bisa?” tanya Ray dari seberang, “kamu pulang saja berdua sama Pak Heru. Biar nanti aku yang cari gimana pun caranya.”


“Aku khawatir ... takutnya ....”

__ADS_1


“Mauza bisa menjaga dirinya, Ra!” sela Rayyan menenangkan istrinya.


bersambung.


__ADS_2