
198
“Eh, Bu Utami?” ucap Vita tergagap. Sementara ponselnya belum sempat ia matikan sehingga Yudha masih bisa mendengarkannya.
“Maaf saya kurang sopan karena saya sudah menyela pembicaraan kalian. Silakan dilanjut lagi, Bu.” Utami malu sendiri setelah menyadari kelancangannya. Ia tersenyum dan mengangguk, lalu kembali ke dalam ruangan. Wanita itu hanya penasaran karena tadi sempat mendengar besannya berteriak di luar.
“Ada apa, Bun?” tanya Mauza yang keadaannya sudah mulai membaik. Di sana tak hanya ada Utami, tetapi ada Zunai juga yang setia menemani kakak perempuannya selama sakit.
“Nggak tahu, Mama kamu lagi bicara sama orang di telepon,” jawab Utami kembali bergabung duduk di sebelah Zunaira.
“Oh....”
Vita sendiri, ia langsung menuju ke IGD menyusul anak-anaknya yang sudah mendahuluinya di sana.
Bukan hanya Umar dan Alma, tetapi sudah ada Ray, Zara dan sang suami yang nampak baru saja tiba.
“Ma!” Umar segera memeluk mamanya begitu ia melihat wanita itu. “Sammy, Ma. Sammy. Dia kecelakaan parah.”
Vita membiarkan sang anak mengadu padanya.
“Mama belum tahu yang sejelas-jelasnya, apa kamu bisa jelaskan sekarang sama kami, Nak?”
Ray menyahuti, “Iya, Mar. Aku juga baru dengar sepotong dari Papa. Jadi aku mau dengar langsung darimu.”
Yang lain ikut mengangguk.
“Begini ....” Umar menjelaskan bahwa sepulang dari makam, Sammy mengatakan kepadanya bahwa dia ingin memberikan hadiah kepada Mauza, setidaknya supaya istrinya itu bisa tersenyum lagi. Oleh karena itu, Sammy pun meminta pendapatnya, hadiah apa kira-kira yang pantas diberikan untuk Mauza, namun bisa menunjukkan kesan romantis.
Ide terlintas dalam benak Umar pada saat dia melihat banyaknya toko bunga di deretan kawasan tersebut, dan Sammy pun menyetujuinya untuk membeli.
Namun setelah barang itu berhasil di beli, tepatnya pada saat Sammy menyeberang, mobil sedan dengan kecepatan tinggi menabrak tubuhnya hingga terpental ke trotoar sebelum pria itu berusaha menghindarinya. Kaki kiri adalah objek yang pertama kali saat tabrakan itu terjadi, sehingga Umar menduga jika Sammy mengalami patah tulang kaki.
“Ya Allah ....” Zara dan Vita saling berangkulan saat mendengar penuturan Umar yang menurut mereka begitu mengerikan.
“Kalian ngeri, aku lebih ngeri lagi. Aku melihat kecelakaan itu di depan mata kepalaku sendiri. Lihat ini ...” ucap Umar menunjukkan bajunya yang terkena darah, “ini darahnya. Kalian harus tahu gimana traumanya aku.”
“Ini gimana, sudah satu jam kok belum ada yang keluar?” Yudha bertanya.
“Sabar, Pa. Nggak sesingkat itu tim dokter melakukan penanganan,” Vita menjawab. “Sekarang, gimana caranya ngasih tahu mereka?”
Mereka yang dimaksud adalah Utami dan Mauza.
“Iya, padahal keadaan Mauza baru aja membaik,” sahut Zara.
“Tapi kita harus tetap jujur walaupun ini terdengar pahit bagi mereka,” timpal Rayyan. “Kita kasih tahu Mauza sama Bundanya pelan-pelan.”
Umar angkat tangan, “Maaf, jangan aku. Aku nggak sanggup kalau harus jadi orang pertama yang memberitahu mereka.”
__ADS_1
“Tapi sehalus apapun kita menyampaikan, musibah ini tidak akan bisa diterima baik oleh mereka berdua,” Yudha berpendapat.
“Lantas gimana, Pa?” kata Ray lagi. Sebelum akhirnya suasana menjadi hening. Semuanya terdiam, bingung harus memulainya dari mana. Tampaknya mereka butuh lebih banyak waktu untuk berdiskusi.
♧♧♧
“Assalamualaikum ....”
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang ada di ruangan itu, begitu serombongan orang masuk ke dalam sana. Orang-orang tersebut adalah: Yudha-Vita, Umar-Alma, dan Ray-Zara.
“Ma, Pa?” ucap Mauza saat kedua orang tua itu menghampiri dan mencium kepalanya.
“Gimana keadaanmu sekarang?” tanya Yudha. “Maaf Papa tinggal sebentar karena ada urusan tak kalah penting yang harus di urus.”
“Nggak papa, Pa. Aku baik aja, kok. Nggak sakit,” jawab Mauza. Sakit di fisik memang tidak seberapa, karena sakit yang sesungguhnya bertempat di dalam rongga dada yang tak nampak.
“Iyalah, anak Papa kan calon ibu yang hebat,” puji Yudha kepada sang anak yang tak mau melepaskan dirinya dari pelukannya.
Hanya kepada orang-orang tertentu saja lah, Mauza mau menunjukkan sisi lainnya yang begitu manja. Yaitu Papa dan suaminya; Si Semut.
Tapi omong-omong, di mana pria itu sekarang? Kenapa dari tadi Mauza tak melihatnya di antara mereka?
Kedua bola mata Mauza tampak mencari-cari keberadaan suaminya. Huh, bukannya nungguin istrinya yang sakit malah pergi-pergi melulu, batin Mauza kesal.
“Sammy ke mana?”
“Nah, iya tuh. Sammy mana, Pa? Kak Za udah nanyain terus dari tadi,” sahut Zunaira.
“Wajar dong, kan kangen ...” balasnya terkekeh malu. “Di mana Sammy, Mar? Kok kamu diam aja? Kan tadi pagi perginya sama kamu.”
Umar lantas mendekat dan menyerahkan sesuatu yang sedari tadi dibawanya. Yaitu bunga yang dipungutnya dari jalanan. Buket bunga mawar yang rencananya diberikan untuk Mauza. Umar merasa, dia harus menyampaikan benda berharga ini padanya. “Ini ada titipan dari suamimu.”
Mauza tersenyum, “Apaan, sih? Pakai titip-titipan segala kayak lagi terpisah di benua mana. Orang kita ketemunya tiap hari.” dia mencium bunga itu. “Oh, iya! Aku tahu. Pasti Sammy mau bikin kejutan buat aku, ya? Ah, dia emang so sweet!”
Hampir semua orang yang baru saja datang menahan napas. Sesungguhnya mereka semua senang karena Mauza sudah bisa banyak bicara lagi. Namun, tetap saja. Mereka sedang ketar-ketir karena mereka dituntut untuk harus menyampaikan berita buruk ini.
Mauza menerima bunganya dari tangan Umar. Dan yang membuatnya heran adalah, kenapa bunganya sudah layu dan berantakan?
“Ini Sammy mungut kembang di mana? Bunganya jelek banget. Pasti nggondol punya tetangga!” katanya serampangan. Hanya Zunaira dan Utami yang tersenyum karena mereka belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Di mana Semut itu, Mar? Panggil dia ke sini, ini kenapa bunga jelek begini dikasih-kasih ke aku? Sembarangan aja, huh.”
“Dibaca dulu kartu ucapannya, Za. Nanti kita kasih tahu kamu, di mana Sammy sekarang,” jawab Umar.
“Ok ....” Mauza pun mengambil kartu itu dan membacanya.
To Mauza, my chubby:
“Mauza, jangan sedih lagi, ya. Aku tahu ini berat buat kita, terutama buat kamu, ibunya.
__ADS_1
“Tapi, Za ... ada satu hal yang harus kamu tahu. Sesungguhnya yang paling sedih di sini adalah aku. Karena kamu mungkin hanya akan merasa kehilangan 'dia' aja.
“Sedangkan aku?
“Aku bahkan kehilangan dua dua hal dalam satu waktu sekaligus. Yaitu anak kita dan kebahagiaan kamu. Namun lihatlah, aku masih tetep bisa senyum kan? ;-)
“Jadi, kamu harus tetap kuat seperti aku, ya! Janji nggak akan nangis lagi, okay? Senyum, plis ... love you.”
Mauza tersenyum setelah membaca kartu ucapan tersebut dan berkata, “Iya, deh iya. Aku nggak akan sedih lagi.”
Seolah Sammy ada di sana dan mendengarnya.
“Udah aku baca, Mar. Sekarang ada di mana dia? Suruh masuk aja,” kata Mauza lagi sambil menatap kembarannya itu.
“Kamu naik kursi roda, ya? Nanti Papa kasih tahu,” sela Yudha mengulurkan tangannya, meminta Mauza untuk turun.
Mauza kebingungan diperlakukan seperti ini. Dia menatap hampir semua orang yang baru dia sadari, tidak ada yang mampu tersenyum untuknya semenjak tadi. Selain menatapnya dengan rasa iba.
“Tunggu, tunggu!” Mauza menjauhkan tangan papanya. “Ini sebenarnya ada apa, sih? Kok muka kalian tegang-tegang banget?”
“Mauza, Bu Utami ... ada yang ingin saya sampaikan,” ucap Yudha berniat menyampaikannya sekarang juga, “kamu harus kuat ya, Nak.”
“Iya, Pa. Aku dah nggak papa, kok. Aku baik-baik aja sekarang,” kata Mauza begitu polosnya.
“Sammy baru aja mengalami kecelakaan saat menyeberang jalan, tepatnya pada saat dia membelikan bunga ini untukmu,” papar Yudha. Pandangannya mengarah ke bunga yang kini masih ada di tangan anaknya tersebut. “Itu kenapa sebabnya bunga yang kamu terima ini sangat jelek.”
Raut wajah Mauza sontak berubah pias. Begitu juga Utami, wanita itu langsung memegangi dadanya yang terasa sesak.
“Dia ada di IGD sekarang,” sambung Yudha lagi.
“Ngapain di IGD?” Mauza hampir tertawa, namun bukan tawa yang sesungguhnya. Tawa itu mengandung banyak sekali beban dan masalah. “Kalau kalian mau nge-prank, jangan kebangetan begini lah. Aku ini lagi kena musibah loh, jangan kalian tambah-tambah juga berita bohong yang bikin kondisiku jadi makin drop.”
“Dek, suamimu kecelakaan, dia ada di IGD sekarang,” sahut Ray juga ikut meyakinkannya, bahwasannya ini adalah sebuah berita yang pasti.
Belum sempat Mauza merenungi kemalangan nya yang kemarin, kini dia harus kembali tertimpa tangga lebih berat.
“Nggak, kalian bohong! Kalian bohong!?”
“Sabar, Sayang ... sabar ....” Vita mendekati anaknya yang kini berteriak. Menampik segala kenyataan yang ada.
“Nggak! Kalian bohong!”
“Maaf, Sayang. Tapi kami harus jujur ....”
Mauza tak terkontrol. Dia bangkit dari tempat tidurnya secara paksa hingga infusnya harus terlepas. Sedangkan Utami, wanita itu terjatuh pingsan. Dia tak kuat menghadapi kenyataan bahwa sang anak satu-satunya mendapati berbagai penderitaan yang begini rupa.
To be continued.
__ADS_1
Like like like👇