Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Bukan Seperti Ini Caranya


__ADS_3

“Nai!” panggil Mauza sontak mengejarnya sampai ke atas. Mencegah gadis itu agar dia tak sampai melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab pikiran yang kalut bisa mengacaukan akal sehatnya. Ya, semoga ini hanya sebatas kekhawatirannya saja. Mauza yakin Zunaira lebih pandai mengendalikan dirinya sendiri.


“Bagus, memang seharusnya begitu,” sahut Abah Haikal kepada semua orang. Dan kali ini, beliau menatap Sammy, “sebaiknya kau memang tidak usah menikahinya satupun karena dapat menyakiti cucuku yang lain. Urusanmu sudah selesai sekarang, jadi silakan pergilah!”


Tidak satu orang pun yang berani membantahnya jika pria tua itu sudah mulai marah.


“Baik, kalau begitu, saya permisi ...” Sammy beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.


Tuan rumah sudah mengusirnya, jadi tunggu apalagi kalau ia tak segera pergi?


Merasa iba sekaligus bersalah membuat Ray mengikutinya. Tanpa sepengetahuan keluarga, keduanya sempat mengobrol di depan selama beberapa lama. Ada sesuatu hal yang ingin Ray sampaikan. Demikian untuk kebaikan Sammy juga.


Kembali ke dalam, Abah masih saja menyembur anak pertamanya dengan sederet cercaan.


“Dan kau,” ujar Abah menunjuk Yudha dengan sorot mata dingin, “jangan main ambil keputusan sembarangan begini. Pikirkan dulu semuanya matang-matang. Kalau memang sudah jelas mereka tak pernah berbuat, lantas kenapa kalian repot-repot menikahkannya? Kau pikir pernikahan itu sebuah permainan? Belajarlah dari pengalaman sebelumnya!”


“Aku memikirkan masa depan Mauza, Bah,” jawab Yudha menurut sudut pikirnya, “aku tidak punya kapasitas untuk melindunginya dari cemoohan orang yang kelak akan mengungkit-ungkit masa lalunya. Fitnah sudah menyebar. Kita semua sedang di olok-olok, disebut sebagai keluarga seorang pengajar, tapi tidak bisa mengajari anaknya sendiri. Apa itu tidak memalukan?”


“Kita masih memiliki kedua tangan untuk menutupi telinga. Lebih baik begitu daripada kau dicap sebagai orang tua pilih kasih. Belum tentu bungsumu mau mengerti dengan keputusanmu. Kalau tidak, niscaya ini bakal menimbulkan masalah baru. Bukan begini caramu menyayangi mereka!” tegasnya.


Semua diam. Tidak ada satupun yang berani membuka suara.


“Belum tentu nanti Mauza akan bahagia. Karena yang hadir setiap saat justru rasa bersalah yang selalu timbul seumur hidupnya, apalagi jika Nai belum menemukan penggantinya,” sambung Abah, lalu gegas meninggalkan ruangan itu membawa serta amarahnya.


Sementara di atas, Mauza mengejar adiknya untuk membuatnya berhenti.


“Nai, dengerin Kakak, Nai ... plis ...” ujar Mauza memohon padanya.


Nai menoleh dengan linangan air mata. Marah, benci, kecewa, sedih, semua perasaan itu bercampur menjadi satu dan membuat dia mempunyai sedikit keinginan untuk mengakhiri saja hidupnya.


“Maafin Kakak, ya. Kakak benar-benar nggak tahu kalau Sammy justru malah punya perasaan sama aku,” ucap Mauza langsung ke inti setelah sekian lama mereka tak saling berbicara.


“Maaf udah bikin kamu kecewa. Tapi kamu harus tahu, sedikitpun Kakak nggak pernah bermaksud nyakitin kamu. Aku berani bersumpah nggak pernah menggodanya, atau bahkan membuatnya suka sama aku, Nai. Apa yang aku katakan sekarang ini adalah kejujuran. Aku nggak pernah berkhianat seperti yang ada dalam pikiranmu. Itu sebabnya kami membenciku, kan?”


Zunaira diam saja.


“Kamu jangan terus-terusan marah begini ... kita ini saudara, apa yang terjadi bisa kita omongin baik-baik supaya cepat selesai. Masih banyak jalan keluar yang bisa kita lewati, Nai. Malu kalau masalah ini sampai terdengar ke telinga orang. Kakak adik bertengkar karena berebut satu orang laki-laki. Mending kalau ganteng, kaya, soleh, lha, wong Si Sammy biasa aja,” ujarnya sedikit berdusta.


“Ayo ngomong, Nai. Jangan diam terus. Apa yang Nai mau dari Kakak supaya kamu nggak marah lagi. Kakak sayang sekali sama Nai ... apapun bakal Kakak lakuin demi Nai ....”


Zunaira terlebih dahulu menelan ludahnya sebelum ia membalas Mauza tak kalah tajam.


“Apapun, Kak?” tanya Zunaira yang tak Mauza pahami apa maksudnya.

__ADS_1


Namun, ia tetap menjawab, “Ya, apapun. Bahkan saat kamu dulu pernah memecahkan guci kesayangan Mama, aku yang mengakuinya supaya kamu nggak kena marah sama Mama ...” Mauza tersenyum dan mengingatkan adiknya pada kejadian tersebut. “Alhasil, aku yang dipukul Mama karena aku yang dianggap nakal dan pecicilan. Sesayang itu aku sama kamu, masa kamu belum sadar juga?”


“Lalu? Sampai kapan kamu akan mengalah terus?!” tanya Zunaira dengan nada menyentak sembari mengguncang bahu Mauza, “sampai kapan?!”


“Sampai kapanpun aku mau,” jawab Mauza akhirnya ikut menitikkan air mata.


“Sampai kamu mati? Lalu kamu jadi lupa sama diri kamu sendiri yang juga butuh bahagia?”


Seperti inikah marahnya orang pendiam? Batin Mauza keheranan dengam sisi lain adiknya yang tiba-tiba mendobrak keluar.


“Kenapa Kakak begitu bodoh, ha? Lawan aku, Kak. Lawan! Kenapa kamu harus terus mengalah sama aku yang udah begitu jahat dan egois sama kamu, Kak ... kenapa?!” tanyanya menuntut jawaban. “Aku nggak marah kalau kalian menikah, aku nggak akan mati kalau kalian menikah. Jadi kenapa Kakak mengkhawatirkan aku? Kamu pikirin dong kebahagiaan kamu sendiri. Kalau kamu begini terus, ngalah terus, kapan bahagianya? KAPAN?!” Zunaira kembali mengguncang bahunya kuat hingga getarannya terasa ke dalam jantung.


“Bahagia nggak harus bikin orang nangis, Nai. Nggak berkah hidupnya. Bahagia juga nggak harus di dapatkan dengan cara memaksa. Karena aku bisa mendapatkannya dari arah mana pun kalau kita pandai bersyukur.”


“Bagaimana dengan masa depanmu nanti?” tanya Zunaira lagi.


“Aku diam bukan berarti tak memikirkannya. Tapi aku percaya, takdir sudah Tuhan persiapkan sebelum aku sama crocodile lahir ke dunia.”


“Crocodile?”


“Iya, Umar kan crocodile darat.”


Kini Zunaira tak kuasa lagi menahan senyum, tapi menangis. Keduanya tertawa dan bertangis-tangisan bersama. Kemudian berakhir saling memeluk.


“Kakak sayang sama Nai.”


“Mari kita lupakan opa-opa resek itu, Nai.”


“Sepakat, Kak!” balas Zunaira antusias, “memangnya siapa dia berani mainin cewek-cewek seperti kita? Dasar cowok sempakk!”


“Eh, kok kamu jadi ketularan Umar?” Mauza mengerjap tak percaya adik bungsunya bisa mengatakan kalimat itu dengan sedemikian menggebunya.


“Sammy sempakk!” Zunaira mengulanginya lagi.


♧♧♧


Sekembalinya Ray dari rumah Papa, Ray langsung menuju ke atas menuju ke kamarnya. Namun saat di pintu, dia berhenti karena tak sengaja mendengar obrolan dua perempuan yang ada di dalam kamar mereka.


“Kamu lagi sibuk nggak, Dev?” tanya Zara kepada gadis itu yang baru meletakkan susu untuk dan camilan untuk majikannya.


“Sebenarnya agak sibuk sih, Non. Soalnya saya mau masak setelah ini. Tapi kalau Non ada perlu, Non yang harus saya prioritaskan dulu. Ini perintah dari Nyonya utama.”


“Berat sekali bahasanya, Dev, Dev ....” Zara sampai geleng-geleng kepala mendengar gaya bicara Devi yang sangat formal campur logat Jawa kental.

__ADS_1


Devi terkekeh dan bertanya, “Jadi mau minta tolong apa Nona?”


“Pijitin aku dong, Dev. Punggungku pegel.” Zara menunjuk bagian tubuhnya lalu bersiap untuk memutar posisi.


“Oke, Non. Duduk aja menghadap ke sana biar lebih enak.”


Zara menuruti saja apa perkataannya, kemudian melepas baju.


Sudah beberapa hari ini Zara di dera sakit punggung karena sudah terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk menelentang di ranjang.


Situasi ini sama sekali tak menyenangkan baginya karena Zara bukanlah salah satu kaum rebahan. Seperti ada yang hilang darinya jika dia harus berdiam diri di rumah, bahkan yang lebih menjenuhkan lagi, sekadar memegang ponselnya pun tak boleh. Ah, ya ampun, bukankah ini sangat membosankan sekali?


“Apa pijitan saya terlalu keras, Non?” tanya Devi mendengar Zara mengaduh.


“Enggak, kok. Mungkin badan saya yang emang lagi pada sakit,” jawab Zara sambil meringis, “sebenernya pengen sekali-sekali dipijitin sama suami. Tapi tiap pulang, dia selalu kelihatan lesu, belum lagi harus belajar, jadi nggak tega mau nyuruh orang capek. Ya udah, aku nyuruh Devi aja. Maaf ya, Dev?”


“Nggak papa, Non. Santai aja.”


Mendengar hal itu, Ray sontak mendekat dengan sehati-hati mungkin agar telapak kakinya tak sampai terdengar oleh istrinya.


Devi terkesiap begitu melihatnya, namun Ray segera meletakkan jarinya ke bibir supaya gadis itu jangan sampai mengeluarkan suara.


Mengerti apa yang harus dilakukan, Devi mengangkat jempolnya, lalu beranjak keluar dan menutup pintu pelan-pelan.


“Dev, kok tanganmu jadi lebih berat?”


Ternyata Zara langsung bisa membedakannya.


“Bau parfumnya juga be ....” Zara menoleh dan seketika terkejut karena ternyata, bukan Devi lagi yang ada di belakangnya, melainkan Rayyan.


Hah? Apa Devi bisa berubah wujud?


“Ini kamu kan, By?” Zara bertanya, siapa tahu matanya lagi bermasalah. Gimana kalau pria yang ada di depannya ini bukan manusia? Gerandong misalnya?


Rayyan tak menjawab.


“Kapan kamu masuk?”


“Dari tadi, semenjak kamu ghibahin aku.”


“Ih curang!” Zara menutup wajahnya dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Tidak bisa di ukur seberapa malu dirinya karena sudah kepergok ghibahin suaminya sendiri.


“Sini, katanya sakit punggung, pengen dipijitin sama suami?”

__ADS_1


Muka Zara terasa memanas.


Bersambung.


__ADS_2